KABARBURSA.COM – Harga sejumlah saham retail modern masih terlihat murah meski kinerja fundamental perusahaan mulai membaik pada awal 2026. Kondisi itu terlihat pada saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), hingga PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA).
Saham AMRT saat ini diperdagangkan di kisaran Rp1.485 per saham. Meski masih menjadi salah satu emiten retail dengan kapitalisasi besar di Bursa Efek Indonesia, pergerakan saham perusahaan pengelola Alfamart itu masih terkoreksi sekitar 24 persen secara year to date dan turun sekitar 37 persen dalam setahun terakhir.
Tekanan serupa juga terjadi pada saham MIDI. Saham emiten pengelola jaringan Alfamidi tersebut berada di kisaran Rp344 per saham. Dalam setahun terakhir, saham MIDI melemah sekitar 18 persen, sementara secara year to date turun sekitar 12 persen.
Sementara itu, saham ERAA diperdagangkan di level sekitar Rp398 per saham. Dalam satu tahun terakhir, saham perusahaan distribusi dan retail gadget tersebut turun sekitar 25 persen meski perusahaan mencatat pertumbuhan pendapatan dan laba yang cukup agresif pada kuartal pertama tahun ini.
Koreksi harga saham tersebut terjadi di tengah kondisi fundamental perusahaan yang justru mulai membaik. Sejumlah emiten retail modern masih mencatat pertumbuhan penjualan dan laba, bahkan mempertahankan ekspansi bisnis di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya stabil.
Pelaku pasar masih cenderung berhati-hati terhadap sektor konsumsi domestik. Kekhawatiran terhadap daya beli masyarakat setelah periode Ramadan dan Lebaran, arah suku bunga, hingga ketidakpastian global masih menjadi faktor yang membatasi pergerakan saham consumer dan retail.
Di tengah kondisi itu, sebagian investor mulai melihat koreksi saham retail modern sebagai area yang menarik untuk dicermati kembali, terutama pada emiten yang masih mencatat pertumbuhan laba dan diperdagangkan pada valuasi yang mulai turun dibanding rerata historisnya.
Konsumsi Rumah Tangga jadi Penopang
Di tengah tekanan pada harga saham retail modern, kondisi konsumsi domestik sebenarnya masih menunjukkan pertumbuhan. Data ekonomi kuartal pertama 2026 memperlihatkan konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Konsumsi rumah tangga Indonesia tumbuh 5,52 persen secara tahunan pada kuartal I 2026. Pada periode yang sama, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61 persen, menjadi salah satu yang tertinggi dalam beberapa kuartal terakhir.
Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas belanja masyarakat masih cukup kuat, terutama selama momentum Ramadan dan Idulfitri. Konsumsi rumah tangga juga masih menyumbang lebih dari separuh produk domestik bruto (PDB) nasional, sehingga menjadi indikator penting bagi sektor retail modern.
Bagi AMRT dan MIDI, pertumbuhan konsumsi domestik menjadi faktor utama yang menopang bisnis minimarket. Karakter bisnis yang menjual kebutuhan harian membuat kedua emiten tersebut relatif lebih defensif saat kondisi ekonomi melambat.
Sementara itu, pertumbuhan konsumsi juga ikut mendukung penjualan ERAA, terutama pada segmen perangkat komunikasi dan elektronik yang mengalami peningkatan permintaan selama periode Ramadan.
Meski demikian, pasar masih belum sepenuhnya yakin tren konsumsi tersebut dapat bertahan hingga semester kedua tahun ini. Sejumlah pelaku pasar mulai mempertanyakan apakah pertumbuhan konsumsi pada awal tahun lebih banyak didorong faktor musiman dibanding pemulihan daya beli yang benar-benar kuat.
Kondisi itu menjadi salah satu alasan mengapa saham retail modern belum sepenuhnya mengalami rerating valuasi, meski sejumlah emiten mulai mencatat pertumbuhan laba dan penjualan yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya.
Sementara itu, indikator konsumsi domestik hingga awal 2026 sebenarnya masih menunjukkan pertumbuhan. Data Bank Indonesia memperkirakan penjualan retail pada Maret 2026 tumbuh 9,3 persen secara bulanan, didorong peningkatan belanja masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri.
Sementara itu, Retail Sales Index Februari 2026 tercatat tumbuh 6,5 persen secara tahunan, lebih tinggi dibanding periode sebelumnya yang berada di level 5,7 persen.
Pertumbuhan penjualan terutama terjadi pada kelompok makanan dan minuman, sandang, serta perangkat komunikasi. Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa konsumsi masyarakat, khususnya di sektor retail modern, masih bergerak cukup kuat pada awal tahun.
Bagi AMRT dan MIDI, tren tersebut menjadi penopang utama bisnis minimarket yang bertumpu pada konsumsi harian masyarakat. Produk kebutuhan pokok dan barang konsumsi cepat saji masih menjadi segmen yang relatif stabil meski kondisi ekonomi belum sepenuhnya pulih.
Di sisi lain, peningkatan penjualan perangkat komunikasi ikut memberi ruang pertumbuhan bagi ERAA. Permintaan smartphone dan gadget masih tumbuh, terutama pada periode promosi dan momentum hari besar keagamaan.
Namun, di balik pertumbuhan tersebut, pasar mulai menunjukkan sikap lebih hati-hati. Sejumlah ekonom melihat mulai muncul tanda perlambatan konsumsi setelah periode Lebaran berakhir.
Perbedaan karakter bisnis itu membuat pasar mulai membedakan valuasi antar emiten retail modern. AMRT dan MIDI masih dipandang lebih defensif karena bertumpu pada kebutuhan sehari-hari, sementara ERAA dinilai lebih sensitif terhadap perubahan daya beli masyarakat dan kondisi pembiayaan konsumsi.
Situasi tersebut ikut menjelaskan mengapa valuasi ERAA masih bergerak relatif murah meski pertumbuhan laba perusahaan meningkat signifikan pada kuartal pertama tahun ini.
Inflasi Melandai jadi Angin Segar bagi Retail
Di tengah kehati-hatian pasar terhadap sektor konsumsi, kondisi inflasi domestik justru mulai menunjukkan perbaikan. Laju inflasi yang lebih terkendali menjadi salah satu faktor yang memberi ruang bagi daya beli masyarakat untuk tetap terjaga.
Inflasi Indonesia pada April 2026 tercatat sebesar 2,42 persen secara tahunan, turun dibanding Maret 2026 yang berada di level 3,48 persen. Sementara itu, inflasi inti berada di level 2,44 persen dan masih dinilai terkendali oleh Bank Indonesia.
Tekanan harga pangan juga mulai mereda dibanding awal tahun, meski beberapa komoditas seperti minyak goreng masih mengalami kenaikan seiring penguatan harga crude palm oil atau CPO global.
Bagi sektor retail modern, kondisi inflasi yang lebih rendah umumnya menjadi sentimen positif. Ketika tekanan harga mulai turun, ruang belanja masyarakat cenderung membaik karena pendapatan tidak terlalu banyak terserap untuk kebutuhan pokok.
Kondisi tersebut memberi keuntungan bagi emiten seperti AMRT dan MIDI yang mengandalkan volume transaksi harian masyarakat. Inflasi yang stabil biasanya membantu menjaga frekuensi belanja konsumen di jaringan minimarket modern.
Sementara bagi ERAA, inflasi yang lebih terkendali ikut membantu stabilitas konsumsi pada segmen gadget dan elektronik. Produk elektronik cenderung lebih sensitif terhadap perubahan daya beli dan cicilan konsumsi dibanding kebutuhan primer.
Meski demikian, pelaku pasar masih belum sepenuhnya agresif kembali masuk ke saham retail. Investor masih menunggu apakah inflasi yang lebih rendah benar-benar diikuti pemulihan konsumsi yang berkelanjutan pada semester kedua tahun ini.
Karena itu, meski kondisi makro mulai terlihat lebih mendukung, pergerakan saham retail modern sejauh ini masih cenderung tertahan.
Fundamental Emiten Justru Menguat
Di tengah tekanan pada harga saham, sejumlah emiten retail modern justru mulai menunjukkan perbaikan kinerja fundamental pada awal 2026. Pertumbuhan laba dan penjualan masih tercatat positif, bahkan beberapa perusahaan mampu menjaga kondisi neraca tetap sehat di tengah ketidakpastian pasar.
AMRT misalnya, masih membukukan kinerja yang relatif stabil. Emiten pengelola Alfamart itu mencatat rasio utang terhadap ekuitas atau debt to equity ratio (DER) sekitar 0,15 kali yang menunjukkan tingkat leverage yang rendah. Perusahaan juga mencatat free cash flow atau FCF positif sekitar Rp2,1 triliun dengan interest coverage yang tetap tinggi.
Kondisi tersebut membuat AMRT masih dipandang sebagai salah satu saham consumer defensif di tengah volatilitas pasar. Sementara itu, MIDI juga mencatat pertumbuhan laba yang cukup kuat pada kuartal pertama 2026. Laba perusahaan tumbuh sekitar 39 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan bisnis minimarket modern masih mampu menjaga ekspansi dan konsumsi harian masyarakat tetap bergerak di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
Di sisi lain, ERAA menjadi emiten dengan pertumbuhan paling agresif di kelompok retail modern. Perusahaan mencatat pertumbuhan pendapatan sekitar 41 persen secara tahunan pada kuartal pertama 2026.
Tidak hanya itu, laba perusahaan juga melonjak lebih dari 122 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut didorong pertumbuhan bisnis distribusi dan retail perangkat komunikasi serta elektronik.
Meski demikian, pertumbuhan fundamental tersebut belum sepenuhnya tercermin pada pergerakan harga saham masing-masing emiten. Kondisi itu membuat sebagian pelaku pasar mulai melihat adanya jarak antara kinerja bisnis perusahaan dan valuasi saham di pasar.
Perbedaan karakter bisnis juga membuat pasar memberi penilaian berbeda pada masing-masing emiten. AMRT masih dipandang sebagai saham retail defensif dengan kualitas laba yang stabil, sementara MIDI mulai dilihat sebagai alternatif growth stock dengan valuasi lebih rendah.
Adapun ERAA mulai masuk radar sebagian investor sebagai saham retail dengan valuasi murah, tetapi tetap memiliki risiko yang lebih sensitif terhadap perubahan daya beli dan kondisi konsumsi masyarakat.
Valuasi Mulai Terlihat Menarik
Di tengah tekanan harga saham sektor retail modern, valuasi sejumlah emiten mulai turun ke level yang dinilai lebih menarik dibanding periode sebelumnya. Kondisi tersebut terutama terlihat pada saham ERAA dan MIDI yang diperdagangkan pada rasio valuasi lebih rendah dibanding pertumbuhan kinerja perusahaannya.
ERAA misalnya, saat ini diperdagangkan dengan price to earnings ratio (PE) sekitar 4,39 kali dan price to book value (PBV) sekitar 0,66 kali. Valuasi tersebut tergolong rendah untuk emiten yang masih mencatat pertumbuhan pendapatan dan laba dua digit pada kuartal pertama 2026.
PBV di bawah satu kali juga menunjukkan pasar masih menghargai saham perusahaan di bawah nilai bukunya. Kondisi itu membuat ERAA mulai dilihat sebagian investor sebagai saham deep value di sektor retail modern.
Meski demikian, pasar masih memberi diskon valuasi terhadap ERAA karena karakter bisnis perusahaan yang lebih sensitif terhadap daya beli masyarakat dan pembiayaan konsumsi. Pergerakan nilai tukar rupiah dan suku bunga juga masih menjadi perhatian investor dalam melihat prospek bisnis gadget dan elektronik.
Sementara itu, MIDI diperdagangkan pada PE sekitar 13,26 kali. Valuasi tersebut masih berada di bawah AMRT meski perusahaan sama-sama bergerak di bisnis minimarket modern.
Sebagian pelaku pasar mulai melihat MIDI sebagai saham growth retail dengan valuasi yang relatif lebih murah dibanding emiten sejenis. Pertumbuhan laba perusahaan yang masih positif ikut memperkuat pandangan tersebut.
Di sisi lain, AMRT masih diperdagangkan pada valuasi premium dengan PE sekitar 17,56 kali dan PBV sekitar 3,34 kali. Meski lebih mahal dibanding emiten retail lainnya, pasar masih menempatkan AMRT sebagai saham consumer defensif dengan kualitas bisnis yang relatif stabil.
Perbedaan valuasi tersebut menunjukkan pasar mulai membedakan karakter masing-masing emiten retail modern. AMRT dipandang sebagai quality compounder, MIDI mulai dilihat sebagai growth stock dengan valuasi lebih rendah, sementara ERAA berada di kelompok saham value dengan risiko yang lebih tinggi.
Kondisi itu membuat sektor retail modern mulai menarik perhatian sebagian investor yang mencari kombinasi antara pertumbuhan laba dan valuasi yang mulai turun setelah koreksi harga saham dalam beberapa waktu terakhir.
Asing Mulai Kembali Masuk ke Saham Consumer
Di tengah tekanan yang masih membayangi sektor retail, aliran dana asing di pasar saham mulai menunjukkan perbaikan dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut ikut memberi harapan terhadap peluang pemulihan saham consumer dan retail modern.
Pada awal Mei 2026, investor asing tercatat melakukan net buy sekitar Rp12,26 triliun di pasar saham domestik. Meski pada beberapa sesi perdagangan masih terjadi arus keluar dana harian, saham consumer mulai kembali masuk radar investor institusi.
Sektor consumer selama ini kerap dipandang sebagai cerminan konsumsi domestik Indonesia. Ketika kondisi global tidak stabil, saham berbasis kebutuhan domestik biasanya kembali dilirik karena dianggap lebih defensif dibanding sektor yang bergantung pada ekspor komoditas.
AMRT menjadi salah satu saham consumer yang masih mempertahankan daya tarik di mata investor asing. Karakter bisnis yang berbasis kebutuhan harian membuat perusahaan dinilai lebih tahan menghadapi perlambatan ekonomi maupun gejolak eksternal.
Di sisi lain, MIDI mulai dilihat sebagai alternatif saham retail dengan valuasi yang lebih rendah dibanding AMRT. Jika aliran dana asing ke sektor consumer terus berlanjut, sebagian pelaku pasar menilai saham MIDI berpotensi mengalami rerating valuasi.
Sementara itu, ERAA masih berada dalam posisi yang lebih sensitif terhadap perubahan sentimen pasar. Saham perusahaan retail gadget tersebut cenderung bergerak lebih agresif ketika pasar berada dalam kondisi risk-on, tetapi juga lebih cepat tertekan saat investor mengurangi eksposur pada aset berisiko.
Karena itu, arah foreign flow masih menjadi faktor penting bagi pergerakan saham retail modern dalam beberapa waktu ke depan. Selama dana asing belum masuk secara konsisten ke sektor consumer, pasar diperkirakan masih akan bergerak selektif dalam memberi valuasi terhadap saham-saham retail. (*)