Insight Daily 09 Sep 2025 Penulis: KabarBursa.com

FOMO Emas United Tractors (UNTR): Cerdas Cari Peluang, Segini Target Selanjutnya

UNTR kian jadi sorotan usai saham tembus Rp27.000, momentum emas dan ekspansi ke nikel-EBT menopang prospek, Macquarie angkat target harga ke Rp31.200.

Harga saham United Tractors (UNTR) kembali menjadi sorotan pelaku pasar setelah mencatat pergerakan impresif yang memicu fenomena fear of missing out (FOMO) di kalangan investor. Sentimen positif terhadap emiten alat berat dan pertambangan ini kian menguat, seiring kombinasi fundamental yang solid, prospek bisnis jangka panjang yang menjanjikan, serta moment...

Ilustrasi - Escavator PT United Tractors Tbk (UNTR). Foto: AI untuk KabarBursa.
Ilustrasi - Escavator PT United Tractors Tbk (UNTR). Foto: AI untuk KabarBursa.

Insight Navigator

  1. 01 UNTR Mengejar Peluang “Emas”
  2. 02 UNTR Berada di Jalur Bullish Sehat, Seperti ini Strateginya
  3. 03 Macquarie Berikan Target Harga UNTR Rp31.200

KABARBURSA.COM - Harga saham United Tractors (UNTR) kembali menjadi sorotan pelaku pasar setelah mencatat pergerakan impresif yang memicu fenomena fear of missing out (FOMO) di kalangan investor. 

Sentimen positif terhadap emiten alat berat dan pertambangan ini kian menguat, seiring kombinasi fundamental yang solid, prospek bisnis jangka panjang yang menjanjikan, serta momentum harga komoditas yang relatif terjaga. 

Di tengah derasnya arus minat beli, investor kini menanti ke arah mana langkah UNTR berikutnya, termasuk seberapa jauh potensi penguatan yang masih bisa diraih.

UNTR Mengejar Peluang “Emas”

Harga emas kembali menorehkan rekor bersejarah setelah menembus level USD3.600 per ons untuk pertama kalinya pada Senin waktu setempat, 8 September 2025. Kenaikan tajam ini dipicu oleh data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan, sehingga memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan segera memangkas suku bunga pada pertemuan berikutnya.

Momentum penguatan ini sekaligus menegaskan tren bullish emas yang telah berlangsung sejak awal tahun. 

Sepanjang 2025, harga emas sudah melonjak 37 persen, melanjutkan reli 27 persen pada tahun sebelumnya. Faktor utama pendorongnya meliputi pelemahan dolar AS, aksi beli bank sentral global, kebijakan moneter longgar, serta ketidakpastian geopolitik yang terus membayangi pasar keuangan.

Analis pasar menilai reli emas masih memiliki ruang untuk berlanjut. Peter Grant dari Zaner Metals memperkirakan harga bisa merangkak menuju kisaran USD3.700–USD3.730 dalam waktu dekat. Ia menekankan bahwa setiap koreksi singkat justru berpotensi dilihat sebagai peluang beli, mengingat fundamental pasar masih sangat mendukung. 

Sementara itu, Fawad Razaqzada dari City Index menambahkan bahwa tren bullish akan tetap kuat selama pelemahan data ekonomi AS berlanjut, karena hal ini akan menekan dolar dan imbal hasil obligasi. 

Namun, ia juga mengingatkan bahwa bila data AS menunjukkan ketahanan yang mengejutkan, emas bisa menghadapi tekanan koreksi dari level puncaknya.

Dalam lanskap logam mulia lainnya, pergerakan turut menguat. Harga perak naik 0,8 persen ke USD41,29 per ons, menyentuh titik tertinggi sejak 2011. Platinum bertambah 0,6 persen ke USD1.381,49, dan paladium melonjak 2,1 persen ke USD1.132,87. 

Performa ini memperlihatkan bahwa pasar logam secara keseluruhan tengah mendapat dorongan positif dari kombinasi kebijakan moneter global dan tingginya permintaan sebagai aset lindung nilai.

Di tengah tren emas yang semakin bersinar, langkah United Tractors (UNTR) semakin relevan. Emiten yang berada di bawah naungan Astra Group itu telah mengumumkan rencana ekspansi agresif mulai 2026 dengan memperluas portofolio bisnis ke tambang emas, nikel, hingga energi baru terbarukan (EBT). 

Direktur UNTR Iwan Hadiantoro, menjelaskan bahwa perusahaan sedang aktif mencari peluang akuisisi tambang emas baru, memperbesar kapasitas bisnis nikel, dan membuka ruang investasi baik di dalam maupun luar negeri.

Lebih jauh, UNTR juga menaruh perhatian besar pada pengembangan energi terbarukan. Strategi mereka mencakup proyek PLTA, solar photovoltaic (Solar PV), serta peningkatan kapasitas geothermal melalui PT Supreme Energy Rantau Dedap. 

Langkah ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya mengandalkan alat berat dan pertambangan batubara, melainkan juga menyiapkan diversifikasi yang selaras dengan tren global menuju ekonomi hijau.

Kombinasi antara momentum harga emas yang tengah berada di puncak historis dan strategi diversifikasi UNTR menjadikan prospek perusahaan semakin menarik. Dengan cadangan modal yang kuat dan dukungan grup besar seperti Astra, UNTR berada di posisi yang solid untuk memanfaatkan tren kenaikan harga emas sekaligus memperluas jejaknya di sektor nikel dan EBT. 

Ke depan, konsistensi kebijakan moneter global, arah harga komoditas, dan keberhasilan eksekusi strategi ekspansi akan menjadi faktor kunci yang menentukan apakah UNTR mampu mengonversi peluang emas ini menjadi pertumbuhan berkelanjutan.

UNTR Berada di Jalur Bullish Sehat, Seperti ini Strateginya

Saham United Tractors (UNTR) kembali menarik perhatian investor setelah pada perdagangan Selasa pagi, 9 September 2025, menguat +1,66 persen ke level Rp27.175 per saham. Kenaikan ini ditandai dengan candle hijau yang solid, menembus resistance penting di Rp25.925 (R1) dan kini bergerak mendekati resistance berikutnya di Rp27.475 (R2). 

Lonjakan volume perdagangan yang mengiringi penguatan harga menjadi sinyal tambahan bahwa momentum bullish tengah mendapat dukungan kuat dari pasar. Selama harga mampu bertahan di atas Rp26.000, potensi penguatan lanjutan diyakini tetap terbuka.

Riset pasar modal yang disampaikan pengamat Rita Efendy menyoroti dua strategi utama yang bisa dijadikan acuan investor. Pertama, strategi buy on breakout dapat dipertimbangkan apabila harga berhasil menutup perdagangan di atas Rp27.500, yang akan membuka ruang bagi UNTR untuk melanjutkan reli ke target berikutnya. 

Kedua, strategi buy on weakness dinilai layak dilakukan jika terjadi koreksi wajar menuju area Rp26.000–Rp26.500, di mana area tersebut berpotensi menjadi titik akumulasi baru sebelum tren naik berlanjut. 

Dengan demikian, investor memiliki opsi fleksibel untuk masuk, baik menunggu konfirmasi breakout maupun memanfaatkan pelemahan terbatas.

Dari sisi target, Rita Efendy menempatkan level Rp28.500 dan Rp30.000 sebagai proyeksi harga jangka pendek hingga menengah, dengan batas risiko atau stop loss dipasang ketat di Rp25.500 dan Rp24.600. Pendekatan ini mencerminkan disiplin manajemen risiko, terutama di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi.

Hasil analisis teknikal harian Investing juga memperkuat sinyal positif tersebut. Rangkuman indikator teknikal menempatkan UNTR dalam posisi “Sangat Beli”, dengan 7 indikator memberi sinyal beli tanpa ada satu pun sinyal jual. 

Relative Strength Index (RSI) berada di level 70,6 yang menunjukkan momentum kuat meski sudah mendekati area jenuh beli. Indikator Stochastic dan Williams %R bahkan sudah masuk zona overbought, yang menandakan potensi koreksi jangka sangat pendek tetap ada, namun tren dominan masih condong ke arah positif.

Dukungan tren jangka menengah hingga panjang juga jelas terlihat dari indikator moving average. Semua garis MA mulai dari MA5, MA10, MA20, hingga MA200 mengonfirmasi sinyal beli, menggambarkan kekuatan tren naik yang konsisten. 

ADX di level 27 mengindikasikan tren yang cukup kuat, sementara MACD yang bergerak di area positif mempertegas dominasi pembeli. Bahkan indikator volatilitas ATR menunjukkan kondisi pasar yang aktif, sehingga peluang pergerakan harga signifikan masih terbuka.

Dengan dukungan teknikal yang kompak serta strategi yang disiplin, saham UNTR saat ini berada dalam posisi yang atraktif bagi investor yang berani mengambil peluang. Prospek jangka pendek terbuka untuk pengujian level psikologis Rp28.500, dan jika momentum tetap terjaga, bukan tidak mungkin target Rp30.000 akan menjadi tujuan berikutnya. 

Meski begitu, disiplin terhadap batas risiko tetap krusial mengingat posisi harga sudah mendekati area resistance penting.

Singkatnya, UNTR kini sedang berada di jalur bullish yang sehat. Kombinasi antara sinyal teknikal yang kuat, strategi akumulasi yang terukur, serta momentum pasar yang mendukung menjadikan saham ini salah satu pilihan utama bagi pelaku pasar yang tengah memburu peluang di sektor tambang dan alat berat.

Macquarie Berikan Target Harga UNTR Rp31.200

Saham United Tractors (UNTR) kembali mendapat sorotan setelah lembaga riset Macquarie menaikkan target harga saham emiten alat berat dan pertambangan ini menjadi Rp31.200 per saham, atau naik 29 persen dari proyeksi sebelumnya. 

Kenaikan target ini didasari tiga alasan utama:

  1. Penyesuaian positif terhadap proyeksi pendapatan dan margin setelah rilis kinerja semester I-2025
  2. Skenario potensi divestasi unit tambang batubara termal yang sedang dikaji sebagai bagian dari strategi induk usaha Astra International (ASI)
  3. Serta posisi keuangan yang kokoh dengan kas mencapai Rp25 triliun. 

Likuiditas yang kuat tersebut memberi ruang bagi UNTR untuk mempercepat diversifikasi ke aset non-batubara, termasuk tambang emas, mineral, dan proyek energi baru terbarukan (EBT).

Secara valuasi, saham UNTR saat ini diperdagangkan pada forward PE ratio hanya 5,96 kali, jauh di bawah median PE IHSG di level 8,95 kali. Dengan earnings yield sebesar 17,75 persen dan price-to-book value 1,07 kali, valuasi UNTR masih relatif murah dibandingkan dengan fundamental yang solid. 

Rasio utang terhadap ekuitas hanya 0,22 kali, ditopang kas melimpah dan net cash position senilai Rp4,7 triliun. Kondisi ini memperkuat daya tahan neraca perusahaan sekaligus menambah fleksibilitas untuk ekspansi ke sektor non-batubara yang tengah digarap.

Dari sisi profitabilitas, UNTR mencatat Return on Equity (ROE) 18,9 persen dan Return on Capital Employed (ROCE) 19,9 persen, yang mencerminkan efisiensi pengelolaan modal di tengah diversifikasi bisnis. 

Kinerja semester I-2025 menunjukkan pendapatan konsolidasian Rp138,4 triliun dengan laba bersih Rp18,1 triliun, sementara margin laba bersih stabil di kisaran 14,4 persen. Pencapaian ini relatif kuat meski industri batubara global tengah menghadapi tekanan harga.

Sinyal menarik juga datang dari kebijakan dividen. Dengan payout ratio hampir 50 persen dan dividend yield mendekati 8 persen, saham UNTR tetap menjadi primadona bagi investor yang memburu pendapatan pasif, sembari menunggu katalis dari ekspansi jangka panjang di emas, nikel, dan energi hijau.

Macquarie menilai, kombinasi potensi pertumbuhan dan imbal hasil dividen yang tinggi membuat valuasi UNTR di Rp31.200 masih sejalan dengan standar historisnya, yakni 6,9 kali estimasi EPS inti 2026 atau selevel dengan rata-rata jangka panjang minus satu standar deviasi.

Data historis yang dihimpun Stockbit juga menunjukkan performa harga UNTR bergerak positif dalam beberapa bulan terakhir. Dalam tiga bulan terakhir, saham ini melonjak hampir 28 persen dari Rp20.900 ke Rp27.375, sementara dalam satu bulan terakhir naik lebih dari 13 persen. 

Meski kinerja jangka panjang tiga tahun terakhir masih tertekan 20 persen akibat volatilitas harga batubara, pergerakan jangka menengah mengindikasikan tren pemulihan. 

Target Rp31.200 yang dipatok Macquarie memberi ruang kenaikan lebih dari 14 persen dari posisi terakhir Rp27.375, dengan potensi tambahan katalis dari berita divestasi batubara dan diversifikasi ke sektor non-komoditas fosil.

Dengan neraca keuangan yang kuat, valuasi yang relatif murah, serta prospek ekspansi ke emas, nikel, dan energi terbarukan, saham UNTR kini dipandang sebagai salah satu kandidat unggulan di sektor alat berat dan pertambangan. 

Meski risiko tetap ada, terutama dari fluktuasi harga batubara global, strategi diversifikasi yang konsisten dan dukungan keuangan yang solid menempatkan UNTR pada jalur yang menjanjikan untuk menembus target barunya.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com