KABARBURSA.COM - Pasar modal Indonesia bersiap menghadapi fenomena window dressing menjelang akhir tahun yang umumnya terjadi pada November dan Desember.
Fenomena window dressing dapat diartikan ketika manajer investasi dan institusi keuangan melakukan penataan portofolio guna memperindah kinerja investasi di akhir tahun.
Pengamat pasar modal, Wahyu Laksono mengatakan window dressing di pasar modal dalam negeri terutama didorong oleh aksi manajer investasi, meskipun emiten juga memiliki motif untuk mempercantik laporan keuangannya.
"Strateginya meliputi menjual saham-saham yang berkinerja buruk dan membeli kembali saham-saham blue chip (berkapitalisasi besar) atau saham-saham yang telah berkinerja baik sepanjang tahun," ujar dia kepada Kabarbursa.com dikutip, Selasa, 11 November 2025.
Menurut Wahyu, strategi tersebut bertujuan agar portofolio yang disajikan kepada nasabah, pemegang saham, atau calon investor terlihat unggul dan meyakinkan, yang pada akhirnya dapat membantu mereka mempertahankan atau menarik dana kelolaan serta mendapatkan bonus.
Ia menerangkan, perusahaan terbuka juga memiliki kepentingan untuk menampilkan laporan keuangan yang cantik di akhir tahun buku. Meskipun aksi ini lebih berupa pengaturan waktu, pengakuan pendapatan atau pengelolaan neraca yang sesuai dengan standar akuntansi, dampaknya bisa memicu sentimen positif di pasar.
"Terutama jika laporan keuangan kuartal IV atau akhir tahun diproyeksikan baik," katanya.
Di sisi lain, Wahyu menjelaskan pengaruh window dressing terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Ia menilai fenomena ini dapat dibilang cukup signifikan, terutama di bulan Desember—fenomena yang sering juga disebut December Effect.
Secara historis, kata dia, bulan Desember sering mencatatkan kinerja bulanan yang positif bagi IHSG.
"Data historis menunjukkan bahwa rata-rata return investasi saham di bulan Desember cenderung paling besar dibandingkan bulan-bulan lainnya," jelasnya.
Wahyu menerangkan aksi pembelian saham oleh manajer investasi dan investor institusi lainnya yang dilakukan serentak, khususnya pada saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar (blue chips), akan secara langsung mendorong naiknya IHSG.
Meskipun mendorong IHSG naik, perlu diingat bahwa kenaikan harga saham akibat window dressing bisa bersifat sementara atau semu, tidak selalu didukung oleh perbaikan fundamental yang substansial.
"Investor ritel yang ikut terdorong membeli (efek fomo) harus tetap waspada terhadap potensi koreksi setelah periode pelaporan berakhir (January Effect yang bisa negatif). Walaupun January Effect juga biasanya bursa menguat di hari hari awal pembukaan tahun," tandasnya.
Saham Apa Saja yang Terdampak?
Wahyu menjelaskan, saham-saham yang menjadi target window dressing biasany memiliki kinerja baik sepanjang tahun atau merupakan saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar yang memiliki bobot signifikan dalam perhitungan IHSG, misalnya saham-saham yang masuk dalam indeks LQ45.
Meskipun dapat bervariasi setiap tahun tergantung kondisi pasar, sektor-sektor yang secara tradisional sering menjadi tujuan dari aksi window dressing, salah satunya keuangan atau perbankan.
"Karena saham-saham perbankan besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, BBNI memiliki kapitalisasi pasar terbesar dan bobot dominan di IHSG," ungkapnya.
Sektor barang konsumen primer dan sekunder juga bisa terimbas positif fenomena window dressing. Wahyu menyebut, saham-saham unggulan di sektor ini sering diburu karena dianggap stabil dan berfundamental kuat.
Sektor teknologi dan energi dinilai juga terkena efek, namun tergantung tren tahunan. Wahyu menilai saham di sektor ini yang memiliki kinerja outperform (mengungguli pasar) sepanjang tahun akan menjadi incaran untuk "mempercantik" tampilan portofolio.
"Secara umum, fokus utama window dressing adalah pada saham-saham penggerak indeks (index movers) yang memungkinkan manajer investasi menempatkan dana besar tanpa volatilitas harga yang ekstrem, sekaligus memastikan return portofolio sejalan dengan atau melampaui indeks acuan," pungkasnya.
IHSG Dibayangi Historis Buruk di Bulan November
BRI Danareksa menyebut secara historis, IHSG cenderung bergerak kurang positif jika memasuki bulan November. Berdasarkan data seasonality, probabilitas IHSG naik di bulan ini hanya sekitar 33 persen,menjadikannya salah satu bulan dengan peluang penguatan terendah sepanjang tahun.
"Rendahnya peluang ini menunjukkan bahwa pasar sering kali menghadapi tekanan menjelang akhir kuartal IV, baik karena aksi ambil untung maupun penyesuaian portofolio menjelang akhir tahun," tulis BRI Danareksa.
Meskipun demikian, BRI Danareksa menjelaskan November tetap bisa menjadi fase transisi sebelum potensi year-end rally di bukan Desember mendatang.
"Investor dapat memanfaatkan periode ini untuk mencermati sektor-sektor yang mulai menunjukkan akumulasi dan potensi di akhir tahun," tulis BRI Danareksa.
Adapun Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat selama periode 3—7 November 2025 data perdagangan saham ditutup bervariasi. Peningkatan tertinggi tercatat pada kapitalisasi pasar BEI.
"Sebesar 3,09 persen menjadi Rp15.316 triliun dari Rp14.857 triliun pada sepekan sebelumnya," ujar Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Permadi dalam keterangannya.
Peningkatan turut dialami oleh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yaitu sebesar 2,83 persen dengan ditutup pada level 8.394,590, naik dari posisi 8.163,875 pada pekan lalu.
"Hal tersebut, menjadikan rekor tertinggi IHSG sepanjang sejarah," kata Kautsar.
Akan tetapi, Kautsar menyampaikan rata-rata frekuensi transaksi harian mengalami penurunan sebesar 6,85 persen menjadi 2,16 juta kali transaksi, dari 2,32 juta kali transaksi pada pekan sebelumnya.
Lebih jauh Kautsar membeberkan, rata-rata volume transaksi harian bursa pada pekan lalu turut mengalami penyusutan sebesar 14,37 persen.
"Menjadi 27,06 miliar lembar saham, dari 31,61 miliar lembar saham pada pekan sebelumnya," ujarnya.
Kemudian, rata-rata nilai transaksi harian BEI turut berubah sebesar 22,46 persen menjadi Rp17,54 triliun, dari Rp22,63 triliun pada pekan sebelumnya.
"Adapun investor asing hari ini (Jumat, 7 November 2025) mencatatkan nilai beli bersih Rp920,24 miliar dan sepanjang tahun 2025 ini, dan investor asing mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp38,33 triliun," pungkas Kautsar. (*)