KABARBURSA.COM – Saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) melesat 17 persen ke level Rp1.510, menjadi lonjakan harian tertinggi sepanjang tahun ini. Tapi di balik selebrasi grafik, data teknikal dan valuasi justru mengirim sinyal peringatan: jangan-jangan, euforia ini hanya jeda sebelum koreksi?
Pada perdagangan Kamis, 5 Juni 2025, saham BRPT mencatat kenaikan paling tajam dalam setahun terakhir. Harga ditutup di level Rp1.510, melonjak 17,05 persen hanya dalam satu hari. Secara mingguan, lonjakan harga bahkan tembus 19,84 persen. Euforia ini juga didorong oleh derasnya aliran dana asing yang mencetak net buy sebesar Rp204 miliar dan menyumbang lebih dari 20 persen dari total transaksi hari itu.
Namun di balik angka-angka gembira itu, data teknikal mulai mengirim sinyal waspada. Indikator RSI menembus 80,208—level yang menandakan kondisi jenuh beli. Berdasarkan data Investing, harga saham juga berada jauh di atas rata-rata pergerakan 200 hari terakhir (MA200) yang berada di kisaran Rp950. Secara teknikal, situasi ini menempatkan BRPT di zona rawan koreksi jangka pendek.
Di sisi lain, pembacaan teknikal dari MNC Sekuritas menunjukkan BRPT sedang memasuki fase koreksi alami setelah kenaikan yang cukup agresif. Mereka menilai posisi saat ini berada dalam gelombang keempat dari pola besar wave C, yang artinya pasar tengah mengatur napas sebelum melanjutkan tren berikutnya. Area Rp1.060 hingga Rp1.225 dinilai sebagai titik akumulasi yang lebih aman jika tren koreksi benar-benar terjadi.
Sementara itu, Algo Research punya pandangan berbeda. Mereka justru melihat BRPT sebagai saham alfa yang sedang undervalued. Katalisnya berasal dari rencana IPO anak usaha Barito Group, PT Chandra Daya Investasi (DCI), serta program buyback senilai Rp500 miliar yang digulirkan di kuartal kedua tahun ini. Kombinasi dua faktor ini dinilai cukup untuk menarik arus masuk baru, terutama dari investor yang mencari saham dengan potensi rerating valuasi.
Lonjakan harga BRPT dalam sepekan terakhir bukan sekadar respons teknikal. Kenaikan yang mencapai hampir 20 persen itu terjadi sejak saham ini menembus level psikologis Rp850 pada akhir Mei. Secara teknis, level tersebut menjadi titik picu yang memperkuat momentum beli, seiring dengan peningkatan volume yang signifikan. Pergerakan ini menciptakan persepsi bahwa tren naik sudah dikonfirmasi.
Siapa yang Pegang Kendali?
Aktivitas perdagangan BRPT pada 5 Juni 2025 menunjukkan akumulasi besar oleh sejumlah broker asing maupun domestik. Dari sisi asing, data Stockbit menunjukkan broker UBS Sekuritas Indonesia (AK) tercatat sebagai pembeli terbesar dengan nilai transaksi mencapai Rp87,3 miliar (626,8 ribu lot) di harga rata-rata Rp1.430. Disusul oleh broker lokal Mandiri Sekuritas (CC) dengan pembelian Rp78,1 miliar (541 ribu lot) di harga Rp1.450, dan Kiwoom Sekuritas (AG) sebesar Rp10,9 miliar. Ketiganya menunjukkan kecenderungan akumulasi dalam volume besar di area bawah dari range intraday.
Di sisi penjualan asing, broker CGS International Sekuritas Indonesia (YU) menjadi penekan terbesar dengan distribusi senilai Rp2,7 miliar pada harga rata-rata Rp1.483, diikuti oleh UOB Kay Hian Sekuritas (AI) dan Samuel Sekuritas Indonesia (IF), meski nominalnya relatif kecil dibanding nilai akumulasi. Ini memperkuat indikasi tekanan jual dari pihak asing masih jauh lebih kecil dibanding arus beli yang masuk.
Untuk broker domestik, akumulasi terbesar selain dari CC, juga diikuti oleh MNC Sekuritas (EP) dan Supra Sekuritas Indonesia (SS) yang mengakumulasi masing-masing Rp19,4 miliar dan Rp10,3 miliar. Ketiganya konsisten masuk di harga rata-rata antara Rp1.406 hingga Rp1.479.
Sebaliknya, tekanan distribusi domestik berasal dari tiga broker yang membukukan penjualan besar di harga tinggi: masing-masing Rp23,4 miliar, Rp23,1 miliar, dan Rp21,8 miliar di kisaran harga Rp1.438–1.459.

Secara keseluruhan, arus dana investor pada hari ini memperlihatkan akumulasi asing bersih sebesar Rp204 miliar. Total pembelian asing mencapai Rp373 miliar, sedangkan penjualannya hanya Rp169 miliar. Dominasi beli asing pada momen ketika BRPT melonjak mencapai 17,05 persen.
Namun dominasi asing itu tetap kecil secara proporsional. Dari total nilai transaksi, investor asing hanya menyumbang 20,28 persen, sementara sisanya 79,72 persen dikuasai investor domestik. Ketimpangan ini juga tercermin dalam volume dan frekuensi. Asing hanya mencatatkan 258 juta saham dibeli dan 14,27 ribu kali transaksi, jauh di bawah investor domestik yang membukukan pembelian 660 juta saham dengan frekuensi 65 ribu kali.
Volume jual domestik bahkan lebih tinggi, yakni 802 juta saham dengan frekuensi 72 ribu kali. Artinya, meski asing terlihat agresif membeli, justru investor domestik yang paling aktif keluar dari posisi—baik untuk profit taking atau menghindari risiko koreksi pasca kenaikan cepat.
Fundamental Belum Sekencang Harga
Di tengah sorotan teknikal dan aksi korporasi, kinerja fundamental BRPT masih belum cukup kuat untuk menopang euforia pasar. Laba bersih perusahaan memang tumbuh dari Rp139 miliar pada kuartal I 2024 menjadi Rp264 miliar di periode yang sama tahun ini. Tapi lonjakan itu belum banyak mengubah struktur profitabilitas secara menyeluruh.
Margin laba bersih BRPT masih tergolong tipis dan ini berpengaruh pada efisiensi operasional secara umum. Return on Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE) keduanya berada di bawah 4 persen, level yang tergolong rendah untuk emiten sebesar Barito Pacific. Artinya, perusahaan belum mampu mengubah pertumbuhan pendapatan menjadi pengembalian yang optimal bagi pemegang saham.
Yang lebih mencolok adalah valuasinya. Price to Earnings ratio (PER) BRPT kini menembus angka 130 kali, sementara Price to Book Value (PBV) mendekati 5 kali. Bandingkan dengan rerata sektor energi dan petrokimia yang umumnya bermain di kisaran 10–15 kali untuk PER dan 1–2 kali untuk PBV. Dengan rasio setinggi ini, BRPT sudah berada dalam wilayah premium yang tinggi, bahkan bisa dibilang berisiko jika tidak diimbangi kenaikan kinerja yang signifikan dalam waktu dekat.
Kuat di Harga, Rawan di Sinyal
Kenaikan BRPT sejauh ini sah-sah saja. Pasar merespons sentimen yang kuat: rencana IPO anak usaha dan program buyback senilai setengah triliun rupiah. Namun di luar euforia itu, ada hal-hal yang tetap perlu dicermati. Dari sisi teknikal, sejumlah indikator utama mulai menampilkan sinyal yang layak diwaspadai. RSI yang menembus angka 80 menandakan kondisi jenuh beli yang cukup ekstrem. Bahkan indikator Stochastic dan Williams %R menunjukkan hal serupa—harga bergerak terlalu cepat tanpa jeda konsolidasi.
Kondisi ini diperparah oleh munculnya pola-pola candlestick bearish jangka pendek yang tumpang tindih dalam time frame 30 menit hingga harian. Ini bukan sekadar gejala lewat, tapi bisa berkembang menjadi koreksi minor jika volume tidak lagi mengonfirmasi arah. Di sisi lain, perbedaan antara harga saat ini dengan MA200 yang terlalu lebar juga memperbesar risiko pembalikan arah dalam waktu dekat.
Secara valuasi, BRPT juga diperdagangkan di zona yang lebih menggambarkan spekulasi daripada kinerja. Rasio PE di atas 130 dan PBV mendekati 5 membuat saham ini jadi lebih mirip kendaraan momentum ketimbang cerminan fundamental yang mapan. Situasi ini membuat BRPT jauh lebih sensitif terhadap perubahan arah pasar. Dibandingkan dengan saham big caps lain yang tumbuh berkat lonjakan laba atau margin sehat, BRPT masih sangat ditopang oleh ekspektasi.
Buat investor jangka panjang, cerita BRPT belum usai. Jika IPO anak usaha terealisasi dan restrukturisasi grup berjalan mulus, rerating valuasi bisa saja terjadi. Tapi untuk pelaku pasar jangka pendek, koreksi ke kisaran Rp1.200–1.300 bukan hanya mungkin terjadi, tapi justru lebih sehat sebagai fase konsolidasi. Mengejar harga di puncak euforia seringkali berakhir sebagai pelajaran mahal—dan BRPT bukanlah pengecualian.(*)