Harga saham NCKL masih tertahan di level Rp675 per 18 Juli 2025, meski mencatat kenaikan tipis 3,05 persen dalam sepekan terakhir. Berdasarkan data Stockbit, pergerakan ini terjadi di tengah tekanan jual dari investor asing yang melepas bersih Rp410 miliar dalam satu hari perdagangan di seluruh pasar. Meski begitu, sentimen analis justru menunjukkan arah sebaliknya, yakni 24 dari 25 analis yang mengulas NCKL memberikan rekomendasi beli dengan target harga rata-rata Rp1.068, bahkan ada yang mematok potensi hingga Rp1.500 per saham.
Dominasi investor domestik masih menjadi penopang utama transaksi, mencakup lebih dari 72 persen total nilai perdagangan. Hal ini menunjukkan adanya kepercayaan lokal terhadap fundamental emiten nikel ini, setidaknya dalam jangka pendek. Namun, stagnasi harga di tengah rekomendasi positif mengindikasikan bahwa faktor-faktor non-keuangan mulai diperhitungkan pasar. Di luar soal produksi nikel dan hilirisasi, reputasi keberlanjutan dan komitmen ESG tampaknya mulai menjadi elemen penting yang ikut menentukan arah harga saham ke depan.
Ambisi Hijau NCKL
NCKL sedang membangun citra baru di lanskap industri nikel Indonesia. Di tengah tekanan global terhadap praktik pertambangan, emiten milik Harita Group ini menampilkan strategi jangka panjang yang berfokus pada dekarbonisasi, efisiensi air, dan perlindungan biodiversitas.
Di tengah tuntutan pasar global yang makin ketat soal keberlanjutan, perusahaan yang berbasis di Pulau Obi ini mulai membangun narasi bahwa profitabilitas dan tanggung jawab lingkungan bisa berjalan beriringan. Presiden Direktur NCKL, Roy Arman Arfandy, menyebut kemampuan bersaing perusahaan kini sangat ditentukan oleh kepatuhan terhadap standar ESG internasional.
"Kami menerapkan nilai-nilai keberlanjutan di setiap aspek usaha, memastikan bahwa kegiatan operasional tidak hanya memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat, tetapi juga mempertahankan stabilitas finansial," tulis Roy dalam dokumen Sustainability Report NCKL 2024.
Dalam dokumen setebal 240 halaman itu, NCKL menargetkan transformasi operasional berbasis ESG, termasuk pasokan produk nikel yang kompetitif secara keberlanjutan dan berkontribusi pada pertumbuhan nasional.
Salah satu aspek paling disorot adalah tata kelola limbah. Tailing, yang diklasifikasikan sebagai limbah berbahaya, dihasilkan dari proses ekstraksi nikel bertekanan tinggi (HPAL). NCKL mengklaim tailing tidak dibuang ke laut, tetapi dikelola menggunakan fasilitas Dry Stack Tailings Facility (DSTF).
“Tailing dinetralkan, disaring dengan filter press untuk menurunkan kadar air, lalu dipadatkan di bekas area tambang,” tulis manajemen dalam dokumen resminya. Sistem drainase ganda memisahkan limpasan air hujan dan leachate dengan pengujian kualitas air yang dilakukan secara berkala.
Sepanjang 2024, perusahaan menginvestasikan lebih dari Rp708 miliar untuk pengelolaan lingkungan dan inisiatif keberlanjutan. Dampaknya antara lain penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 1,52 juta ton CO₂e dan peningkatan pemanfaatan energi berkelanjutan hingga 29,8 persen dibanding tahun sebelumnya. Di sisi konservasi, ribuan bibit mangrove telah ditanam di pesisir Obi dan Kayoa.
Pengelolaan air menjadi perhatian berikutnya. NCKL mencatat penarikan air sebesar 867.835 juta liter (ML) sepanjang tahun, dengan porsi terbesar—89 persen—berasal dari air laut untuk pendinginan pembangkit listrik. Namun, hanya 12,4 persen dari total penarikan itu yang benar-benar dikonsumsi dalam proses, sisanya dilepas kembali ke lingkungan setelah digunakan. Sistem DSTF dan kolam pengendapan air hujan menjadi instrumen utama mitigasi risiko pencemaran.

Di sisi reklamasi, luas area bekas tambang yang telah direvegetasi secara kumulatif mencapai 231,5 hektare pada 2024. Pohon-pohon yang ditanam didominasi oleh jenis perintis (9.775 pohon), lokal (6.127 pohon), dan serbaguna (6.968 pohon), meningkat hampir empat kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Namun demikian, laju pembukaan lahan tambang masih lebih besar dari laju reklamasi, dengan tambahan area terbuka 2.688 hektare sepanjang 2024.
Dengan kombinasi investasi lingkungan, perbaikan sistem tailing, dan keterlibatan sosial, NCKL berupaya menyeimbangkan antara ekspansi industri dan tuntutan keberlanjutan.
Kepuasan Tinggi, tapi Ketimpangan Masih Terlihat
Di tengah ekspansi besar-besaran industri nikel di Pulau Obi, NCKL mencatat peningkatan signifikan dalam aspek sosial dan ketenagakerjaan sepanjang 2024. Perusahaan melaporkan indeks kepuasan masyarakat sebesar 89 dari 100, yang dikategorikan “sangat baik.” Tak hanya berhenti pada angka persepsi, efektivitas program sosial mereka juga ditunjukkan lewat rasio Social Return on Investment (SROI) sebesar 2,62. Artinya, setiap Rp1 investasi sosial menghasilkan manfaat senilai Rp2,62 bagi masyarakat.
Namun, di balik skor tinggi itu, sejumlah persoalan tetap muncul. Sepanjang tahun, NCKL menerima 240 aduan dari internal dan eksternal dengan sebaran kasus tertinggi perihal persoalan tanah dan bangunan (42 kasus), lingkungan (21), serta pelaksanaan program CSR (21). Perusahaan mengklaim seluruh keluhan tersebut telah ditindaklanjuti. Mayoritas pengaduan justru berasal dari karyawan sendiri (147 kasus). Hal ini menunjukkan bahwa isu internal belum sepenuhnya tuntas.

Dari sisi tenaga kerja, NCKL menyerap lebih dari 12 ribu pekerja—naik 27 persen dibanding 2022. Namun, mayoritas masih berstatus kontrak (7.418 orang) dibanding yang tetap (4.956 orang), memperlihatkan pola kerja yang belum sepenuhnya stabil. Komposisi usia tenaga kerja sangat muda, dengan hampir 48 persen berusia 18–29 tahun dan 49,5 persen berada di rentang usia produktif 30–49 tahun.
Masalah ketimpangan gender juga belum terpecahkan. Dari total karyawan, hanya 6,6 persen adalah perempuan. Tingkat pendidikan mayoritas pekerja juga masih rendah, dengan 73,2 persen hanya berijazah SMA atau di bawahnya. Di saat bersamaan, perusahaan mencatat peningkatan jumlah manajer dan general manager. Ini mengindikasikan ada peluang mobilitas ke atas, tapi belum tentu merata bagi semua lapisan karyawan.

Meski tampil dengan lanskap pertambangan yang hijau dan jargon keberlanjutan di garis depan, skor ESG resmi NCKL justru tergolong tinggi—yakni 33,92 per 18 Juli 2025, menurut papan pemeringkat ESG Bursa Efek Indonesia. Dalam metodologi ini, makin tinggi skor, makin besar pula eksposur risiko lingkungan, sosial, dan tata kelola yang dihadapi perusahaan.
Sebagai pembanding, emiten nikel lain, yakni PT Vale Indonesia Tbk (INCO) tercatat dengan nilai ESG 28,61 dan Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG)—yang notabene juga bergerak di sektor batu bara—memperoleh skor lebih rendah lagi, yakni 31,83. Adapun PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), perusahaan tambang emas dan nikel milik negara, berada sedikit di atas NCKL dengan skor 35,18.
Laba Fantastis dan Citra Hijau NCKL
Lompatan laba Harita Nickel dalam dua tahun terakhir tak bisa dikesampingkan. Sepanjang 2024, perusahaan membukukan pendapatan Rp26,96 triliun, melonjak hampir tiga kali lipat dari posisi 2022 yang masih Rp9,56 triliun. Laba bersihnya pun ikut meroket ke Rp7,71 triliun. Di saat bersamaan, liabilitas menyusut ke Rp15,8 triliun, sementara total aset mengembang menjadi Rp52,25 triliun.
Pertumbuhan ini sebagian besar ditopang oleh ekspansi agresif pada fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL), yang menghasilkan nikel sulfat (NiSO₄) dan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP)—dua bahan utama baterai kendaraan listrik. Kinerja finansial ini membuat NCKL berada di posisi yang cukup istimewa dalam lanskap tambang nikel domestik, apalagi di tengah tren dekarbonisasi global yang semakin mendorong permintaan logam hijau.

Namun di luar angka-angka itu, Harita juga aktif memoles citranya lewat berbagai penghargaan yang beraroma ESG. Setidaknya ada 19 pengakuan nasional yang dikantongi selama 2024, mulai dari Indonesia Corporate Sustainability Award untuk kepemimpinan di bidang keberlanjutan, Tamasya Award ESDM untuk program pemberdayaan masyarakat, hingga Green Economy Award dari Detikcom dan ICSR Award dari Merdeka.com.


Penghargaan-penghargaan ini memang bisa menjadi legitimasi atas komitmen keberlanjutan perusahaan. Tapi, dalam industri ekstraktif yang reputasinya kerap dicurigai karena jejak ekologis dan konflik sosial, pengakuan semacam itu tetap layak dibaca secara kritis.(*)