Insight Daily 29 Jul 2025 Penulis: KabarBursa.com

Enam Saham Potensial yang Lagi Disoroti oleh Sekuritas

CGS dan MNC Sekuritas menyebut enam saham berpotensi naik 3–8 persen pada perdagangan 29 Juli 2025, termasuk SMRA, BRMS, PTRO, PGEO, MBMA, dan SSIA.

KABARBURSA.COM – Perdagangan Selasa, 29 Juli 2025 akan dibuka dengan optimisme pasar yang tetap terjaga di tengah rotasi sektor yang kian dinamis. Setelah indeks harga saham gabungan (IHSG) mencetak penguatan 0,94 persen ke level 7.614 pada hari sebelumnya, pelaku pasar kini mencermati pergerakan sejumlah saham yang menunjukkan pola akumulasi teknikal jangka...

Layar utama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menampilkan beberapa nama emiten terdaftar. (Foto: Dok. KabarBursa)
Layar utama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menampilkan beberapa nama emiten terdaftar. (Foto: Dok. KabarBursa)

KABARBURSA.COM – Perdagangan Selasa, 29 Juli 2025 akan dibuka dengan optimisme pasar yang tetap terjaga di tengah rotasi sektor yang kian dinamis. 

Setelah indeks harga saham gabungan (IHSG) mencetak penguatan 0,94 persen ke level 7.614 pada hari sebelumnya, pelaku pasar kini mencermati pergerakan sejumlah saham yang menunjukkan pola akumulasi teknikal jangka pendek.

Peningkatan volume pada saham-saham tertentu mulai memicu spekulasi adanya pengalihan minat investor ke sektor-sektor yang sebelumnya kurang diperhatikan. 

Di tengah sinyal koreksi terbatas, muncul pertanyaan: saham mana yang kini menjadi incaran dan memiliki peluang teknikal untuk rebound dalam waktu dekat?

Dalam riset terbarunya, CGS International Sekuritas Indonesia dan MNC Sekuritas menyoroti enam saham yang masuk kategori beli spekulatif (speculative buy). 

Saham-saham tersebut dinilai memiliki peluang kenaikan antara tiga hingga delapan persen jika level support mampu dipertahankan. Keenam saham itu adalah SMRA, BRMS, PTRO, PGEO, MBMA, dan SSIA.

Sementara itu, pandangan teknikal menyeluruh terhadap IHSG dikemukakan oleh MNC Sekuritas melalui publikasi Daily Scope Wave. Analis mereka menilai indeks saat ini masih berada pada fase akhir wave v dari wave (iii) dari wave [c], yang berarti penguatan masih mungkin berlanjut ke 7.675–7.699, meski risiko koreksi ke 7.604–7.564 juga tetap terbuka.

Saham PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) menjadi salah satu yang masuk radar. Dengan support di Rp406 dan level cut loss di bawah Rp398, saham ini berpeluang rebound ke kisaran Rp422 hingga Rp430. 

Artinya, ada potensi return sekitar 3,9 sampai 5,9 persen jika tidak turun dari zona support. SMRA ditutup di Rp410 dengan volume perdagangan mencapai 31,8 juta saham. 

Optimisme pasar properti terjaga setelah Bank Indonesia (BI) membuka sinyal pelonggaran moneter menjelang akhir tahun.

Di sektor tambang logam, saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) direkomendasikan spekulatif beli pada level Rp432, dengan batas cut loss di Rp422. Target harga berada di Rp452 hingga Rp462. BRMS ditutup di Rp440 pada perdagangan sebelumnya, menguat 1,1 persen dalam sehari, dengan nilai transaksi Rp36,5 miliar. 

Sepanjang pekan keempat Juli, investor domestik tercatat melakukan pembelian bersih sebesar Rp11,2 miliar di saham BRMS. Perusahaan tengah memasuki tahap akhir pengembangan tambang emas di Palu dan Dairi, dua proyek andalan yang diproyeksi menghasilkan lebih dari 60.000 ons emas pada 2026.

Lonjakan terbesar justru datang dari saham PT Petrosea Tbk (PTRO) yang menguat 8,29 persen ke Rp3.920 dalam satu hari. Volume pembelian yang tinggi menjadi sinyal positif bagi investor teknikal. 

“Posisi PTRO berada pada bagian wave 2 dari wave (1). Kami melihat potensi kenaikan lanjutan menuju Rp4.000 hingga Rp4.110,” ujar Herditya Wicaksana, Kepala Riset Teknikal MNC Sekuritas dalam riset hariannya, Selasa, 29 Juli 2025.

Level spekulatif beli berada di kisaran Rp3.710–Rp3.870, dengan cut loss di Rp3.550. Katalis utama berasal dari sentimen harga batubara global yang kembali menguat ke atas USD 140 per ton, serta proyek ekspansi tambang di Kalimantan Timur yang mulai berproduksi komersial pada kuartal III.

Sementara itu, saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) juga menjadi perhatian pasar. Dengan support di Rp1.655 dan level cut loss di Rp1.620, saham ini ditargetkan naik ke Rp1.725–Rp1.760, mencerminkan potensi return 4,2 hingga 6,3 persen. 

PGEO saat ini fokus pada ekspansi dua proyek utama: Hululais dan Lumut Balai, yang akan menambah kapasitas listrik panas bumi hingga 110 MW pada akhir 2025. Pada perdagangan Senin, PGEO ditutup menguat tipis di Rp1.665 dengan nilai transaksi harian Rp27,8 miliar.

Dari sisi hilirisasi baterai, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) direkomendasikan beli spekulatif di level Rp515. Cut loss disarankan jika harga menembus di bawah Rp500. 

Jika skenario teknikal berjalan, saham ini berpeluang naik ke Rp545–Rp560. MBMA stabil di Rp518 dengan volume perdagangan 19,2 juta saham. Emiten ini merupakan bagian dari ekosistem industri kendaraan listrik, bekerja sama dengan Huayou dan Tsingshan di kawasan industri Konawe. 

Sentimen tambahan datang dari harga nikel yang rebound ke USD 17.600 per ton dalam sepekan terakhir.

Saham terakhir dalam radar CGS adalah PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA), emiten pengembang kawasan industri dan konstruksi. Saham ini memiliki support di Rp2.620 dengan batas cut loss di Rp2.560. Target harga jangka pendek berada di Rp2.740 hingga Rp2.800. SSIA ditutup di Rp2.640 dengan net buy asing Rp3,2 miliar selama dua hari. 

Proyek Subang Smartpolitan seluas 2.000 hektare menjadi andalan pertumbuhan jangka panjang, dengan klaster pertama seluas 300 hektare telah selesai land clearing dan akan masuk tahap penjualan kuartal IV tahun ini.

Secara keseluruhan, keenam saham tersebut dipilih dengan pendekatan teknikal dan momentum sektoral yang kuat. Laporan Relative Rotation Graph (RRG) milik MNC Sekuritas menunjukkan sektor energi, bahan baku, dan konsumer sedang bergerak ke kuadran leading, mengindikasikan tren menguat dalam siklus perputaran sektor. 

Sektor teknologi dan komunikasi masih berada di zona lagging, sejalan dengan tekanan pada emiten-emiten digital dan tingginya volatilitas valuasi.

Kondisi makro juga mendukung aliran dana ke sektor riil. Data Bank Indonesia mencatat cadangan devisa per Juni 2025 mencapai USD 144,2 miliar, naik dari bulan sebelumnya. 

Stabilnya nilai tukar rupiah di kisaran Rp15.750 per USD juga memberi ruang bagi investor institusi untuk kembali melakukan rotasi ke aset domestik. 

Di sisi lain, pelaku pasar tetap mencermati pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada pekan depan, yang dapat memicu fluktuasi aliran dana asing.

Menanggapi peluang teknikal ini, analis CGS menyampaikan bahwa strategi beli spekulatif sebaiknya dibarengi dengan disiplin pada level support dan cut loss. 

“Volatilitas jangka pendek tetap tinggi. Oleh karena itu, kami menyarankan investor fokus pada saham dengan struktur tren jangka pendek yang sehat dan volume perdagangan aktif,” ujar tim riset CGS International Sekuritas Indonesia dalam keterangan resmi yang diterima redaksi pagi ini.

Sementara dari sisi indeks utama, IHSG masih berpotensi menguat namun dalam batas jenuh beli. Herditya Wicaksana memperkirakan, “IHSG kemungkinan menguji resistance di 7.675 hingga 7.699, tapi jika gagal menembus, koreksi ke 7.604 bisa terjadi,” katanya.

Dengan mempertimbangkan arah teknikal indeks dan dinamika sektoral, keenam saham ini patut dicermati pelaku pasar sebagai kandidat trading jangka pendek. Meski peluang upside terbuka, tetap diperlukan manajemen risiko yang ketat. 

Aksi spekulatif buy ini idealnya dilakukan oleh investor yang aktif memantau pasar, memiliki toleransi risiko menengah-tinggi, dan disiplin pada level stop-loss yang direkomendasikan. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya