Pemerintah Amerika Serikat akhirnya memutuskan untuk tetap memberlakukan tarif impor sebesar 32 persen terhadap seluruh produk asal Indonesia mulai 1 Agustus 2025. Kebijakan ini diteken langsung oleh Presiden Donald Trump, setelah tenggat negosiasi yang berakhir pada 9 Juli tak menghasilkan konsesi dagang yang cukup dari pihak Indonesia. Dalam pernyataan resminya, Trump menyebut tarif ini sebagai bentuk koreksi atas “defisit kronis” perdagangan AS dengan Indonesia yang dinilai tidak lagi seimbang.
Langkah ini sontak memicu kekhawatiran di sektor industri dalam negeri, khususnya manufaktur padat karya yang selama ini bergantung pada pasar Amerika. Produk-produk seperti tekstil, pakaian, alas kaki, makanan olahan, dan furnitur termasuk dalam komoditas yang terdampak langsung. Tidak hanya menghadapi lonjakan biaya masuk ke AS, para eksportir kini juga dituntut untuk mencari pasar alternatif demi menjaga kesinambungan bisnis mereka di tengah dinamika geopolitik yang tak menentu.
Situasi ini membuka kembali pertanyaan penting, ke mana arah diversifikasi ekspor Indonesia? Analis menyarankan agar pemerintah dan pelaku industri menoleh ke selatan—menyasar kawasan Afrika dan Asia Selatan yang selama ini belum tergarap optimal.
Menurut Kepala Riset Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, strategi China membebaskan tarif impor dari negara-negara Afrika layak dicontoh. Langkah ini, menurutnya, bukan sekadar ekspansi ekonomi tetapi juga instrumen diplomasi dagang yang memperluas pengaruh industri mereka secara global. Indonesia bisa menerapkan pendekatan serupa dengan memperkuat hubungan dagang preferensial bersama negara-negara berkembang di Asia Selatan, Pasifik, dan Afrika.
Tujuannya tak hanya membuka akses baru bagi produk nasional seperti makanan olahan, tekstil, dan otomotif ringan, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam blok ekonomi Global South. “Langkah ini juga bisa menjadi alat untuk mendorong transformasi industri berorientasi ekspor dan membuka jalur investasi dua arah di pangsa pasar yang baru,” kata Liza dalam risetnya yang dipublikasikan Senin, 7 Oktober 2025.
Selain itu, skema pembayaran lintas negara berbasis mata uang lokal seperti Local Currency Settlement (LCS) maupun Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) dinilai dapat membantu mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Dengan begitu, ekspor tidak hanya lebih kompetitif, tapi juga lebih tahan banting terhadap fluktuasi nilai tukar.
Sebenarnya, sejumlah perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia telah lebih dulu menyiapkan jalur keluar dari ketergantungan pada pasar Amerika. Mereka bukan hanya menjangkau konsumen di Asia Tenggara atau Timur Tengah, melainkan juga mulai menembus pasar Afrika dan Asia Selatan yang selama ini kurang dilirik. Siapa saja emiten yang sudah punya bantalan ekspor ke wilayah nontradisional ini—dan bagaimana prospeknya di tengah badai tarif global?
1. PT Mayora Indah Tbk (MYOR) – Makanan Olahan
PT Mayora Indah Tbk menjadi salah satu eksportir makanan olahan asal Indonesia yang paling agresif menembus pasar luar negeri. Hingga 2024, perusahaan ini telah menjangkau lebih dari 100 negara dengan kontribusi ekspor yang mencapai hampir separuh dari total pendapatan. Pada November tahun lalu, Mayora mencatat tonggak penting dalam sejarah ekspornya dengan melepas kontainer ekspor ke-400.000 senilai sekitar USD1 juta ke sejumlah negara nontradisional, termasuk kawasan Afrika dan Asia Selatan.
Produk andalan Mayora dalam pasar ekspor tidak banyak berubah—camilan manis seperti biskuit, wafer, dan permen tetap menjadi tumpuan utama. Di samping itu, produk kopi instan dan cokelat buatan mereka terbukti memiliki daya saing tinggi di negara-negara Asia seperti India dan Thailand. Permintaan terhadap produk kopi Mayora di India menjadi salah satu penanda penting bahwa selera konsumen kawasan ini kian akrab dengan merek-merek asal Indonesia.
Wilayah Afrika mulai digarap serius dalam dua tahun terakhir. Pada 2024, Mayora mulai mengirimkan produk-produk unggulan seperti biskuit dan kopi ke Afrika Selatan dan Madagaskar. Di Asia Selatan, Bangladesh menjadi titik masuk utama dalam ekspansi terbaru mereka, selain kehadiran produk yang sudah lebih dulu beredar di India. Strategi ini sejalan dengan orientasi Mayora untuk memperluas jangkauan ekspor ke pasar-pasar yang sebelumnya belum tergarap maksimal. Ini menjadi sebuah langkah yang kini terbukti strategis di tengah ketidakpastian dagang global.
2. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP)
Sama seperti MYOR, ICBP juga tak kalah soal ekspor. Pada kuartal pertama 2025, kinerja penjualan luar negeri menunjukkan daya tahan yang lebih baik dibanding pasar domestik. Pada periode yang sama, penjualan ekspor ICBP tumbuh 3,6 persen year-on-year menjadi Rp5,5 triliun. Volume penjualan bahkan melonjak 13 persen. Ekspansi pasar luar negeri—terutama di Asia, Afrika, dan Timur Tengah—masih menyimpan potensi pertumbuhan berkelanjutan.
Dalam risetnya pada Juni 2025, OCBC Sekuritas memproyeksikan penjualan dari kawasan Timur Tengah dan Afrika akan mencapai Rp18,6 triliun sepanjang 2025 atau tumbuh sekitar 7 persen dibanding tahun sebelumnya. Pangsa kawasan tersebut diperkirakan menyumbang seperempat dari total pendapatan ICBP.
Selain itu, merek Indomie juga masih bertahan di pasar Amerika Serikat berkat penguatan jaringan distribusi di ritel besar seperti Walmart. Meski demikian, risiko nilai tukar dan tarif tetap menjadi catatan penting bagi investor, mengingat ketidakpastian makroekonomi global masih membayangi.
3. PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO)
SIDO secara konsisten memperbesar porsi ekspor sebagai penopang pertumbuhan jangka panjang. Pada 2023, manajemen menempatkan pasar luar negeri sebagai prioritas ekspansi, seiring pemulihan ekonomi pasca pandemi. Negara-negara seperti Malaysia, Filipina, dan Nigeria menjadi tulang punggung penetrasi awal. Kontribusi ekspor terhadap total pendapatan mulai menunjukkan hasil—khususnya dari produk unggulan seperti Kuku Bima Ener-G! dan Tolak Angin Cair—yang mencatatkan pangsa ekspor sekitar 16 persen dari total penjualan varian tersebut.
Ekspansi strategis terus bergulir sepanjang 2024. Pengiriman perdana ke Kenya menandai perluasan jangkauan SIDO ke wilayah Afrika Timur. Dalam laporan keuangannya, SIDO mencatat pertumbuhan penjualan internasional sebesar 36 persen secara tahunan, dengan kontribusi ekspor meningkat menjadi 7 persen dari total pendapatan.
Pertumbuhan ini didukung oleh peluncuran sejumlah produk baru dan perluasan distribusi di Asia Tenggara dan Afrika. Performa operasional juga mencerminkan efisiensi yang meningkat, terlihat dari marjin laba kotor tembus 59 persen dan laba bersih naik 23 persen menjadi Rp1,17 triliun. Sementara itu, strategi distribusi diperkuat melalui sinergi dengan jaringan ritel modern yang menjadikan produk SIDO lebih mudah dijangkau oleh konsumen luar negeri.
Memasuki 2025, perusahaan mematok target ambisius: kontribusi ekspor hingga 15 persen dalam 3–5 tahun ke depan. Manajemen optimistis ekspansi akan berlanjut berkat kombinasi antara pengenalan produk baru, kampanye digital merek, dan kerja sama distribusi lintas negara. Ekspor tak lagi menjadi pelengkap, tapi diarahkan sebagai mesin pertumbuhan baru. Fokus utama saat ini adalah memperkuat brand awareness secara regional sekaligus memastikan ketersediaan produk di pasar utama seperti Afrika Barat, Afrika Timur, dan Asia Tenggara.
4. PT Astra Otoparts Tbk (AUTO)
AUTO tengah menata ulang prioritas pasar di tengah lesunya penjualan otomotif domestik. Sepanjang 2023, ekspor komponen otomotif mereka memang tertekan—turun 4,6 persen dibanding tahun sebelumnya, hanya mencapai Rp1,13 triliun. Namun arah angin berubah pada 2024, saat pasar luar negeri mulai memberikan dorongan signifikan bagi pertumbuhan pendapatan grup komponen otomotif milik Astra ini.
Laporan semester pertama 2024 menunjukkan lonjakan ekspor hingga 54,3 persen secara tahunan menjadi Rp819 miliar. Kenaikan drastis ini muncul di saat pasar dalam negeri justru melambat, seiring penurunan penjualan mobil wholesales nasional lebih dari 19 persen. Dalam struktur ekspor AUTO, kawasan Asia masih mendominasi dengan porsi 54,9 persen, disusul Timur Tengah 25,7 persen, dan Afrika 10,6 persen. Sisanya disebar ke Amerika Selatan dan Eropa.
Tren ekspor yang positif ini terus berlanjut sepanjang tahun. Dalam laporan keuangan tahunan yang dirilis melalui Bursa Efek Indonesia, AUTO membukukan penjualan ekspor sebesar Rp1,61 triliun pada 2024, tumbuh 7 persen dari tahun sebelumnya. Angka ini menjadi penopang pertumbuhan laba bersih AUTO sebesar 10,4 persen menjadi Rp2,03 triliun. Di saat bersamaan, posisi kas perusahaan juga meningkat tajam hingga 31 persen secara tahunan, memperkuat daya tahan keuangan AUTO untuk ekspansi lebih lanjut di pasar ekspor.
Langkah agresif AUTO membidik pasar Asia dan Afrika terbukti sebagai strategi antisipatif terhadap volatilitas pasar global. Ketika tarif tinggi dari Amerika Serikat menjadi momok baru bagi produk ekspor Indonesia, AUTO justru telah menanamkan pondasi diversifikasi pasar—menyasar kawasan yang relatif bebas dari tekanan tarif dan memiliki potensi permintaan komponen otomotif yang terus tumbuh.
Sementara itu, riset RHB Sekuritas menyebutkan pada kuartal I 2025, segmen perdagangan AUTO yang sebagian besar berasal dari ekspor menyumbang pendapatan sekitar Rp2,3 triliun. Volume ekspor pun tercatat stabil dibanding periode yang sama tahun lalu. Arah ini memperkuat tren pemulihan kinerja ekspor yang sebelumnya sempat tertekan pada 2023.
Menjaring Pasar Lewat Diplomasi Tarif dan Mata Uang Lokal
Langkah Indonesia membuka pasar nontradisional terus bergulir lewat jalur diplomasi ekonomi. Kawasan Afrika dan Asia Selatan menjadi fokus ekspansi, seiring ketatnya persaingan di pasar global serta kebutuhan diversifikasi mitra dagang. Dalam tiga tahun terakhir, berbagai skema perjanjian perdagangan dan kerja sama keuangan dijalankan sebagai strategi menembus pasar dengan hambatan tarif tinggi.
Di Afrika, Perjanjian Perdagangan Preferensial (PTA) antara Indonesia dan Mozambik resmi diberlakukan sejak 2022. Ini menjadi perjanjian bilateral pertama Indonesia di benua tersebut dengan dampak langsung terlihat dari lonjakan volume perdagangan kedua negara. Pemerintah juga tengah menyelesaikan PTA serupa dengan Mauritius—negara pulau yang diposisikan sebagai hub ekspor untuk kawasan Afrika Timur dan Selatan.
Sementara di Asia Selatan, negosiasi dagang menunjukkan kemajuan signifikan. Perundingan PTA antara Indonesia dan Bangladesh telah mencapai tahap akhir dengan mayoritas pasal disepakati. Perjanjian ini membuka peluang lebih besar bagi produk otomotif, farmasi, hingga makanan olahan Indonesia. Di sisi lain, Indonesia dan Pakistan terus merintis perluasan cakupan perjanjian yang telah berlaku sejak 2013. Beberapa produk unggulan Indonesia, seperti minyak sawit dan komponen otomotif, sudah lebih dahulu memperoleh fasilitas bebas bea masuk.
Selain jalur tarif, pemerintah mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan. Melalui skema Local Currency Settlement (LCS), Indonesia menandatangani nota kesepahaman dengan India pada Maret 2024. Kesepakatan ini mempercepat penggunaan Rupiah dan Rupee untuk transaksi ekspor-impor, mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
“Kedua pemimpin negara meyakini bahwa penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral akan semakin mendorong perdagangan antara India dan Indonesia, sekaligus memperdalam integrasi keuangan kedua negara,” tulis Kementerian Perdagangan India di laman resminya mea.gov.id.
Mekanisme serupa sebelumnya telah diterapkan dengan Malaysia, Thailand, China, dan Jepang. Untuk Afrika dan Asia Selatan lainnya, seperti Bangladesh, skema ini sedang dijajaki, menunggu rampungnya perjanjian dagang.
Langkah ini dilengkapi oleh penyediaan fasilitas pendukung ekspor. Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) menyiapkan skema khusus bagi eksportir yang menyasar kawasan Afrika dan Asia Selatan. Bentuknya berupa pembiayaan, penjaminan, dan asuransi dalam mata uang lokal non-USD—strategi yang sejalan dengan tren dedolarisasi perdagangan internasional.
Langkah-langkah tersebut menunjukkan arah kebijakan perdagangan luar negeri yang makin terstruktur. Indonesia tak hanya mencari pasar baru, tapi juga menyiapkan perangkat diplomasi ekonomi yang lengkap muali dari preferensi tarif, penggunaan mata uang lokal, pembiayaan ekspor, hingga perjanjian perlindungan investasi. Kawasan Afrika dan Asia Selatan pun kian diposisikan sebagai frontier ekonomi baru bagi produk dan modal Indonesia.(*)