Insight Daily 08 May 2026 Penulis: KabarBursa.com

Ekspansi Bergerak Liar, Saham Loyo: MDIY Dibuang Sayang?

MDIY sudah menambah ratusan toko, laba tumbuh dua digit, dan analis masih rekomendasi buy. Namun sahamnya justru anjlok lebih dari 45 persen sejak IPO.

KABARBURSA.COM – Sudah satu tahun lebih berlalu sejak PT Daya Intiguna Yasa Tbk (MDIY) melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perusahaan yang bergerak di bidang eceran alat-alat rumah tangga, perabotan dan lainnya ini, pergerakan sahamnya terus melemah.Sejak mencatatkan saham perdana pada 19 Desember 2024, perusahaan asal Malaysia ini selalu mendapatkan rap...

Ekspansi agresif MDIY belum mampu menjaga asa harga tetap berada di jalurnya saat IPO dahulu. (Foto: dok MDIY)
Ekspansi agresif MDIY belum mampu menjaga asa harga tetap berada di jalurnya saat IPO dahulu. (Foto: dok MDIY)

Insight Navigator

  1. 01 Tawarkan Harga Rp1.650 per Lembar
  2. 02 Awal yang Nyaris Sempurna
  3. 03 Tekanan Demi Tekanan Bermunculan
  4. 04 Sempat Rebound Tipis
  5. 05 Volatilitas Berlanjut hingga 1Q26
  6. 06 Pertarungan Antar Broker: Siapa Melepas dan Siapa Menahan
  7. 07 Harga Anjlok ke 770
  8. 08 Gerai Tideng Pale Timur, Penetrasi ke Pelosok Negeri
  9. 09 56 Toko Baru di 1Q26
  10. 10 Komitmen “Harga Tetap Sama”
  11. 11 Kolaborasi dengan KK Group
  12. 12 Fundamental Stabil, Pertumbuhan Bergerak Agresif
  13. 13 Laba Bersih Agresif
  14. 14 Pertumbuhan Konsisten
  15. 15 Valuasi Mulai Turun
  16. 16 Konsensus Analis dan Target Harga
  17. 17 Ke Mana Harga Bergerak Selanjutnya?
  18. 18 Pertahanan Mulai Terbentuk

KABARBURSA.COM – Sudah satu tahun lebih berlalu sejak PT Daya Intiguna Yasa Tbk (MDIY) melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perusahaan yang bergerak di bidang eceran alat-alat rumah tangga, perabotan dan lainnya ini, pergerakan sahamnya terus melemah.

Sejak mencatatkan saham perdana pada 19 Desember 2024, perusahaan asal Malaysia ini selalu mendapatkan raport merah. Saat IPO, emiten ini menawarkan saham di harga Rp1.650 per lembar. Namun, setahun lebih berlalu, harganya kini anjlok hingga berada di level 885.

Jika melihat dari fundamental dan aksi korporasinya, Perseroan yang memiliki 824 toko dan tersebar di seluruh Indonesia berdasarkan data per 30 Juni 2024 in tus berekspansi. Bahkan terbaru, mereka meresmikan toko ke 1.300 di Kalimantan Utara.

Jadi, apa yang salah dengan saham consumer non-cyclical ini? Mengapa sahamnya terus tergerus hingga berada di level terendah, sementara Perseroan masih melakukan ekspansi habis-habisan?

Tawarkan Harga Rp1.650 per Lembar

PT Daya Intiguna Yasa Tbk (MDIY), pengelola jaringan ritel MR.D.I.Y. Indonesia, resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 19 Desember 2024. Emiten ritel konsumer ini masuk papan utama dengan membawa salah satu aksi penawaran saham perdana terbesar dari sektor ritel dalam beberapa tahun terakhir.

Saat IPO, MDIY menetapkan harga penawaran sebesar Rp1.650 per saham. Perseroan melepas total sekitar 2,51 miliar saham ke publik dengan nilai penghimpunan dana mencapai sekitar Rp4,15 triliun.

Menariknya, struktur IPO MDIY tidak sepenuhnya berasal dari penerbitan saham baru. Dari total saham yang dilepas, sekitar 1 persen merupakan saham baru yang diterbitkan perseroan, sementara sekitar 9 persen lainnya berasal dari divestasi saham milik Azara Alpina Sdn. Bhd. sebagai pemegang saham penjual.

Dengan skema tersebut, jumlah saham yang dilepas ke publik mewakili sekitar 10 persen dari total modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Adapun porsi free float MDIY tercatat sebesar 17,65 persen setelah resmi tercatat di bursa.

Di balik langkah IPO tersebut, MDIY sebenarnya membawa satu cerita besar, yaitu ekspansi ritel modern berbasis value retail yang sedang tumbuh agresif di Indonesia. Model bisnis MR.D.I.Y. yang menawarkan ribuan produk kebutuhan rumah tangga dengan harga terjangkau, membuat perseroan tumbuh cepat di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat.

Karena itu, sebagian besar dana hasil IPO langsung diarahkan untuk mempercepat ekspansi toko baru di berbagai wilayah Indonesia. Perseroan ingin memperbesar jaringan gerai sekaligus memperkuat penetrasi pasar domestik yang saat itu masih dinilai sangat terbuka untuk ritel berbasis kebutuhan harian.

Selain ekspansi gerai, dana IPO juga dialokasikan sebagai modal kerja operasional. Strategi tersebut disiapkan agar pertumbuhan jumlah toko tetap diikuti kemampuan operasional dan distribusi yang memadai.

Langkah MDIY masuk bursa kala itu juga menarik perhatian pasar karena terjadi di tengah kondisi sektor konsumsi yang sedang menghadapi tekanan daya beli. Namun perseroan justru datang dengan pendekatan berbeda: bukan bermain di segmen premium, melainkan menyasar konsumen mass market dengan format toko harga ekonomis.

Kombinasi ekspansi agresif, jaringan toko yang terus bertambah, dan posisi sebagai ritel kebutuhan rumah tangga membuat IPO MDIY saat itu menjadi salah satu pencatatan yang cukup diperhatikan pelaku pasar.

Awal yang Nyaris Sempurna

Saham PT Daya Intiguna Yasa Tbk (MDIY) sempat datang ke Bursa Efek Indonesia dengan cerita yang nyaris sempurna. Di tengah pasar yang haus emiten sektor konsumsi dengan ekspansi agresif, jaringan ritel MR.D.I.Y. Indonesia muncul membawa kombinasi pertumbuhan gerai, penetrasi pasar mass market, dan skala bisnis yang besar.

Saat IPO pada 19 Desember 2024, MDIY langsung menjadi salah satu penawaran saham perdana paling besar di sektor ritel. Perseroan melepas sekitar 2,51 miliar saham di harga Rp1.650 per saham dan menghimpun dana sekitar Rp4,15 triliun.

Hari pertama perdagangan langsung ramai. Saham MDIY ditutup melonjak ke level 1.780 dari harga penawaran 1.650. Nilai transaksi bahkan menembus Rp908,47 miliar dengan foreign buy mencapai Rp386,17 miliar dan net foreign buy sekitar Rp194,59 miliar.

Di titik itu, pasar melihat MDIY sebagai cerita baru sektor konsumsi domestik. Model bisnis value retail yang menjual barang kebutuhan rumah tangga murah dianggap punya ruang ekspansi panjang di Indonesia.

Namun perjalanan saham MDIY setelah IPO justru berubah menjadi cerita yang jauh lebih kompleks.

Tekanan Demi Tekanan Bermunculan

Tekanan pertama mulai muncul pada Januari 2025. Meski asing masih mencatat net buy Rp27,34 miliar, saham MDIY turun 5,9 persen ke level 1.675. Koreksi tersebut menjadi awal perubahan ritme perdagangan.

Pada Februari 2025, tekanan semakin besar. Saham MDIY turun lagi 9,85 persen ke level 1.510 meski asing masih melakukan akumulasi Rp17,37 miliar. Di fase ini, pasar mulai masuk ke pertanyaan yang lebih kritis: apakah ekspansi agresif MDIY cukup cepat diterjemahkan menjadi pertumbuhan laba dan valuasi?

Maret menjadi periode yang paling berat. Saham MDIY anjlok 12,58 persen ke level 1.320 meski asing masih mencatat net buy Rp19,73 miliar. Harga mulai kehilangan momentum setelah sebelumnya bergerak premium sejak IPO.

Menariknya, April dan Mei 2025 sempat menjadi titik kebangkitan. Saham MDIY melonjak 10,61 persen pada April ke level 1.460 dan kembali terbang 13,01 persen pada Mei menuju 1.650.

Di periode itu, arus dana asing kembali besar. Pada Mei 2025 saja, net foreign buy mencapai Rp26,64 miliar dengan nilai transaksi Rp84,68 miliar. Pasar mulai kembali percaya terhadap narasi ekspansi gerai yang terus bertambah.

Namun euforia tersebut ternyata tidak bertahan lama.

Memasuki Juni dan Juli 2025, saham MDIY mulai mengalami tekanan lebih tajam. Juni turun 10,30 persen ke 1.480, lalu Juli ambruk 13,85 persen ke level 1.275.

Penurunan itu terjadi ketika pasar mulai mengubah fokus. Jika sebelumnya investor hanya melihat pertumbuhan jumlah toko, kini perhatian mulai bergeser ke kualitas pertumbuhan, margin, efisiensi ekspansi, hingga kemampuan menjaga profitabilitas di tengah pelemahan daya beli masyarakat.

Sempat Rebound Tipis

Tekanan terus berlanjut hingga semester kedua 2025. Pada Agustus, saham turun lagi 6,67 persen ke level 1.190 dan September terkoreksi 9,24 persen menuju 1.080.

Meski sempat rebound tipis pada Oktober, saham kembali melemah di November dan Desember 2025. Pada akhir tahun, MDIY ditutup di level 1.000 atau turun sekitar 45 persen dibanding posisi tertingginya pasca IPO.

Padahal di sepanjang periode itu, asing sebenarnya masih cukup aktif bertransaksi di saham ini. Bahkan pada Januari 2025, foreign buy mencapai Rp62,92 miliar dan Februari Rp109,86 miliar.

Kondisi tersebut membuat MDIY menjadi salah satu contoh menarik di pasar, bahwa ekspansi bisnis berjalan agresif, gerai terus bertambah, tetapi saham justru bergerak turun panjang setelah IPO.

Volatilitas Berlanjut hingga 1Q26

Memasuki 2026, volatilitas MDIY masih berlanjut. Januari dibuka dengan penurunan tajam 16,58 persen ke level 830 sebelum akhirnya mulai rebound pada Februari dengan kenaikan 15,66 persen menuju 960.

Namun pada Maret 2026, tekanan kembali datang. Saham jatuh hampir 20 persen ke level 770 sebelum perlahan pulih lagi ke area 870–890 pada April dan Mei 2026.

Saat ini, saham MDIY masih bergerak jauh di bawah harga IPO Rp1.650. Secara year to date, saham ini masih turun sekitar 10,55 persen, sementara dalam satu tahun terakhir terkoreksi lebih dari 45 persen.

MDIY tetap menjalankan ekspansi, namun pasar tampaknya tidak lagi hanya melihat jumlah gerai. Investor mulai menuntut pertumbuhan yang lebih berkualitas, efisiensi ekspansi, dan kemampuan mengubah pertumbuhan agresif menjadi profitabilitas yang konsisten.

Di situlah cerita MDIY berubah. Dari saham IPO ritel yang sempat dielu-elukan pasar, menjadi saham ekspansi besar yang justru terus diuji oleh ekspektasi tinggi investor.

Pertarungan Antar Broker: Siapa Melepas dan Siapa Menahan

Jika melihat dari siapa yang bermain di balik layer, ada satu cerita yang cukup menarik. Ada pertarungan antara broker yang terus menyerap saham dan broker yang justru menjadi sumber tekanan terbesar di pasar.

Sejak melantai di Bursa Efek Indonesia pada Desember 2024 hingga 7 Mei 2026, broker Maybank Sekuritas Indonesia (ZP) tercatat menjadi akumulator terbesar saham MDIY. Nilai pembeliannya mencapai Rp444,3 miliar dengan volume sekitar 2,8 juta lot di harga rata-rata 1.535.

Angka tersebut membuat ZP menjadi pihak yang paling konsisten berada di sisi penyerapan saham MDIY sejak awal IPO. Aktivitas akumulasi itu juga cukup menarik, karena dilakukan ketika harga saham MDIY terus bergerak turun dalam beberapa bulan terakhir.

Broker UBS Sekuritas Indonesia (AK) juga terlihat cukup agresif. Total akumulasi AK mencapai Rp16 miliar dengan volume 113,5 ribu lot di harga rata-rata 1.372. Sementara broker BNI Sekuritas (NI) membukukan pembelian Rp11,9 miliar dengan 33,8 ribu lot di harga rata-rata 1.576.

Namun cerita terbesar justru datang dari sisi distribusi.

Broker Mandiri Sekuritas (CC) menjadi penekan utama saham MDIY sejak IPO hingga saat ini. Total nilai penjualannya mencapai Rp182,7 miliar dengan volume sekitar 1,5 juta lot di harga rata-rata 1.265.

Tekanan dari CC terlihat sangat dominan dibanding broker lain. Bahkan nilainya jauh di atas distribusi broker Kay Hian Sekuritas (AI) yang berada di posisi berikutnya dengan penjualan Rp41,7 miliar.

Selain CC, broker Indo Premier Sekuritas (PD) juga menjadi salah satu sumber distribusi besar dengan nilai Rp41,5 miliar dan volume sekitar 371 ribu lot. Broker Verdhana Sekuritas Indonesia (BB) tercatat melepas Rp38,9 miliar, sementara BRI Danareksa Sekuritas (OD) menjual Rp37,3 miliar.

Broker CGS Internasional Sekuritas Indonesia (YU), BCA Sekuritas (SQ), Ajaib Sekuritas Asia (XC), hingga Mirae Asset Sekuritas Indonesia (YP) juga terlihat beberapa kali aktif membuang saham MDIY di pasar reguler. 

Harga Anjlok ke 770

Kalau ditarik lebih spesifik ke kuartal pertama 2026, tekanan terhadap MDIY sebenarnya terlihat semakin berat. Pada periode Januari hingga Maret 2026, saham MDIY turun dari area 1.000 menuju 770.

Di fase itu, distribusi broker-broker besar mulai terasa lebih agresif dibanding fase awal IPO. Pasar mulai melihat ada pergeseran strategi dari sekadar menunggu pertumbuhan gerai menjadi mempertanyakan kualitas pertumbuhan bisnis dan valuasi sahamnya.

Broker CC masih menjadi salah satu penekan terbesar di fase tersebut. Aktivitas distribusinya muncul ketika saham gagal bertahan di area psikologis 1.500 lalu terus turun ke bawah 1.000.

Menariknya, tekanan itu sebenarnya sempat dilawan oleh broker-broker yang mencoba melakukan akumulasi di area bawah. ZP tetap aktif menyerap saham meski harga terus melemah.

Situasi tersebut membuat perdagangan MDIY berubah menjadi arena tarik-menarik yang cukup panjang. Di satu sisi ada broker yang masih percaya terhadap cerita ekspansi ritel MR.D.I.Y. Indonesia, tetapi di sisi lain ada pelaku pasar yang memilih keluar karena pertumbuhan saham tidak secepat ekspektasi awal saat IPO.

Gerai Tideng Pale Timur, Penetrasi ke Pelosok Negeri

Sejak awal 2025 hingga Mei 2026, MDIY tancap gas. Pengelola terus membuka toko baru dengan ritme yang nyaris tanpa jeda.

Awal 2025 menjadi fase ketika perseroan mulai mempercepat pembukaan gerai setelah IPO pada Desember 2024. Saat itu, MDIY baru memasuki jaringan sekitar 1.000 toko dan mulai memperluas penetrasi ke berbagai wilayah di luar kota besar.

Ekspansi tersebut lalu bergerak sangat cepat dalam beberapa bulan berikutnya. Pada Agustus 2025, MDIY resmi membuka toko ke-1.100 di Jakarta.

Momentum itu menjadi penanda bahwa pertumbuhan jaringan toko MR.DIY Indonesia mulai memasuki fase baru. Perseroan tidak lagi hanya fokus di kota utama, tetapi mulai memperluas jangkauan ke wilayah dengan penetrasi ritel modern yang masih rendah.

Hanya berselang empat bulan, MDIY kembali mencetak tonggak baru dengan pembukaan toko ke-1.200 pada Desember 2025 di Sumbawa. Pemilihan lokasi tersebut memperlihatkan arah strategi perseroan yang semakin agresif masuk ke wilayah luar Jawa dan kota lapis kedua maupun ketiga.

56 Toko Baru di 1Q26

Cerita ekspansi MDIY kemudian berlanjut lebih cepat pada 2026.

Dalam kuartal pertama 2026 saja, perseroan berhasil membuka 56 toko baru. Angka itu memperlihatkan bahwa laju ekspansi MDIY belum melambat meski kondisi daya beli masyarakat masih menjadi perhatian pasar.

Puncaknya terjadi pada 7 Mei 2026, ketika MDIY meresmikan toko ke-1.300 di Tideng Pale Timur, Kalimantan Utara. Lokasi tersebut bukan dipilih secara kebetulan.

Perseroan sengaja masuk ke wilayah perbatasan dan daerah terdepan Indonesia sebagai bagian dari strategi memperluas akses ritel modern ke area yang sebelumnya belum banyak dijangkau pemain besar.

Artinya, dalam waktu kurang dari sembilan bulan sejak Agustus 2025, MDIY berhasil menambah sekitar 200 toko baru. Laju pembukaan gerai ini menjadi salah satu ekspansi ritel tercepat di pasar domestik dalam periode tersebut.

Komitmen “Harga Tetap Sama”

Di tengah ekspansi agresif itu, perseroan juga mulai membawa strategi baru, yaitu menjaga persepsi harga murah secara nasional. Bersamaan dengan pembukaan toko ke-1.300, MDIY meluncurkan komitmen “Harga Tetap Sama”.

Strategi ini cukup menarik karena MDIY mencoba memastikan harga produk di wilayah pelosok tetap sama dengan harga di kota besar, meski biaya distribusi dan logistik jauh lebih tinggi.

Pendekatan tersebut menjadi bagian penting dari model bisnis MR.DIY yang sejak awal dibangun sebagai jaringan value retail. Perseroan ingin mempertahankan positioning sebagai toko kebutuhan rumah tangga dengan harga terjangkau untuk pasar mass market.

Ekspansi gerai yang agresif itu juga mulai tercermin pada kinerja keuangan. Pada kuartal I-2026, laba bersih MDIY tumbuh 35,53 persen secara tahunan menjadi Rp306,46 miliar.

Untuk menjaga ritme pertumbuhan tersebut, perseroan mengalokasikan belanja modal sekitar Rp720 miliar sepanjang 2026. Dana tersebut digunakan untuk mendukung pembukaan lebih dari 270 toko baru tahun ini.

Kolaborasi dengan KK Group

Namun strategi MDIY tidak berhenti pada pembukaan gerai.

Perseroan juga mulai memperluas ekosistem bisnis melalui kerja sama strategis dengan KK Group, perusahaan di balik merek KKV dan The Colorist. Lewat kemitraan tersebut, MDIY mengambil kepemilikan non-pengendali sebagai bagian dari perluasan model bisnis ritel gaya hidup.

Langkah itu memperlihatkan bahwa MDIY mulai bergerak dari sekadar ekspansi jumlah toko menuju pembangunan ekosistem ritel yang lebih luas.

Fundamental Stabil, Pertumbuhan Bergerak Agresif

Di balik tekanan panjang saham PT Daya Intiguna Yasa Tbk (MDIY) sejak IPO, fundamental bisnis perseroan sebenarnya masih berjalan sangat agresif. Harga saham boleh saja turun lebih dari 45 persen, tetapi kinerja operasional dan keuangan justru terus tumbuh.

Pada kuartal I-2026, MDIY membukukan pendapatan Rp2,36 triliun. Angka ini naik dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,80 triliun.

Artinya, hanya dalam satu tahun, perseroan berhasil menambah penjualan lebih dari Rp500 miliar dalam satu kuartal. Pertumbuhan pendapatan kuartalan secara tahunan bahkan mencapai sekitar 30,96 persen.

Kenaikan tersebut berjalan seiring ekspansi toko yang terus bertambah di berbagai wilayah Indonesia. Model bisnis value retail milik MR.D.I.Y. Indonesia membuat pertumbuhan gerai langsung ikut mendorong kenaikan transaksi penjualan.

Laba Bersih Agresif

Namun yang menarik bukan hanya pertumbuhan topline.

Laba bersih MDIY juga ikut tumbuh cukup agresif. Pada kuartal I-2026, laba bersih mencapai Rp306 miliar, naik sekitar 35,83 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp226 miliar.

Kondisi ini memperlihatkan ekspansi MDIY belum sepenuhnya mengorbankan profitabilitas. Perseroan masih mampu menjaga pertumbuhan laba meski terus membuka toko baru dalam jumlah besar.

Margin bisnisnya pun masih tergolong kuat untuk ukuran emiten ritel.

Gross profit margin kuartalan berada di level 51,50 persen. Artinya, lebih dari separuh pendapatan MDIY masih tersisa setelah dikurangi beban pokok penjualan.

Sementara operating profit margin berada di level 19,32 persen dan net profit margin sekitar 12,93 persen. Struktur margin seperti ini membuat MDIY sebenarnya masih berada dalam kategori ritel dengan profitabilitas cukup sehat.

Pertumbuhan Konsisten

Kalau melihat struktur laba dalam beberapa kuartal terakhir, pertumbuhan MDIY juga terlihat relatif konsisten.

Pada Q1 2025 laba bersih berada di Rp226 miliar, lalu naik menjadi Rp281 miliar pada Q2, Rp285 miliar pada Q3, dan Rp339 miliar di Q4 2025. Meski pada Q1 2026 laba turun secara kuartalan menjadi Rp306 miliar, angka tersebut tetap menjadi pertumbuhan kuat secara tahunan.

Secara tahunan, laba bersih annualised MDIY kini berada di kisaran Rp1,22 triliun dengan laba bersih TTM sekitar Rp1,19 triliun.

Di sisi neraca, kondisi keuangan MDIY juga masih tergolong cukup solid untuk perusahaan yang sedang agresif berekspansi.

Total aset perseroan mencapai Rp7,7 triliun dengan total ekuitas sekitar Rp4,52 triliun. Posisi kas berada di level Rp884 miliar.

Sementara total utang tercatat sekitar Rp1,6 triliun dengan debt to equity ratio hanya 0,36 kali. Artinya, struktur leverage MDIY masih relatif rendah dan belum masuk kategori agresif.

Menariknya lagi, kemampuan perusahaan membayar bunga utang juga masih kuat. Interest coverage ratio berada di level 9,22 kali, yang berarti laba operasional perusahaan masih jauh di atas beban bunga.

Dari sisi efisiensi bisnis, return on equity MDIY mencapai 26,60 persen dan return on capital employed sekitar 31,68 persen. Untuk ukuran sektor ritel, angka tersebut sebenarnya tergolong tinggi.

Perseroan juga masih mencatat arus kas operasional positif sebesar Rp2,06 triliun secara TTM. Bahkan free cash flow tercatat sekitar Rp1,25 triliun meski perusahaan sedang aktif membuka gerai baru.

Valuasi Mulai Turun

Namun di situlah cerita MDIY menjadi unik. Pasar tampaknya tidak lagi hanya melihat pertumbuhan pendapatan dan laba. Investor mulai lebih fokus pada seberapa jauh ekspansi agresif ini bisa terus dipertahankan tanpa mulai menekan efisiensi dan kualitas pertumbuhan?

Apalagi, MDIY juga terus menggelontorkan belanja modal besar untuk membuka ratusan gerai baru. Capital expenditure TTM tercatat mencapai Rp811 miliar.

Di satu sisi, strategi tersebut membuat MDIY tumbuh cepat dan memperbesar jaringan toko hingga lebih dari 1.300 gerai. Namun di sisi lain, pasar mulai mengkhawatirkan apakah ekspansi secepat itu akan tetap menghasilkan pertumbuhan profit yang sebanding dalam jangka panjang.

Valuasi sahamnya juga mulai berubah drastis dibanding awal IPO. Saat ini, price to earnings ratio TTM MDIY berada di kisaran 18,84 kali dengan forward PE sekitar 15,85 kali.

Angka tersebut sebenarnya sudah jauh lebih rendah dibanding fase awal setelah IPO ketika valuasi MDIY sempat diperdagangkan sangat premium. Namun meski valuasi mulai turun, pasar masih belum sepenuhnya kembali masuk secara agresif.

Konsensus Analis dan Target Harga

Di tengah tekanan panjang itu, konsensus analis justru belum sepenuhnya menyerah. Pasar memang terlihat dingin terhadap sahamnya. Dari harga IPO Rp1.650 pada Desember 2024, MDIY kini bergerak di kisaran Rp865. Namun, mayoritas analis masih melihat ruang kenaikan yang cukup lebar.

Dari enam analis yang memantau saham MDIY, sebanyak lima analis masih memberikan rekomendasi buy. Hanya satu analis yang memilih posisi hold dan tidak ada rekomendasi sell.

Artinya, meski harga saham terus mengalami tekanan sejak IPO, konsensus pasar institusi sebenarnya masih melihat fundamental dan prospek pertumbuhan MDIY tetap menarik dalam jangka menengah.

Target harga rata-rata analis saat ini berada di level Rp1.314. Jika dibandingkan harga pasar saat ini di area Rp865, berarti masih ada potensi kenaikan sekitar 51 persen.

Bahkan dalam skenario paling optimistis, target tertinggi analis mencapai Rp1.550. Angka tersebut nyaris mendekati kembali area harga IPO MDIY di Rp1.650.

Namun konsensus analis juga mulai terlihat lebih realistis dibanding fase awal IPO. Target terendah kini berada di level Rp930, yang artinya sebagian analis mulai mengakui bahwa pasar masih menyimpan keraguan terhadap keberlanjutan ekspansi agresif perseroan.

Keraguan itu sebenarnya cukup masuk akal jika melihat perjalanan saham MDIY sepanjang 2025 hingga awal 2026. Pasar mulai bergeser dari sekadar melihat jumlah pembukaan gerai menuju kualitas pertumbuhan dan kemampuan perusahaan menjaga profitabilitas di tengah ekspansi besar-besaran.

Meski begitu, proyeksi kinerja analis terhadap MDIY masih menunjukkan arah pertumbuhan yang kuat.

Konsensus memperkirakan pendapatan MDIY pada 2026 bisa mencapai Rp9,55 triliun, naik dibanding estimasi 2025 sebesar Rp7,92 triliun. Pada 2027, pendapatan bahkan diproyeksikan menembus Rp11,37 triliun.

Artinya, analis masih melihat mesin ekspansi toko MDIY belum melambat dalam dua tahun ke depan.

Pertumbuhan laba juga diperkirakan masih berlanjut. Konsensus analis memperkirakan laba bersih MDIY naik dari Rp1,10 triliun pada 2025 menjadi Rp1,30 triliun pada 2026, lalu meningkat lagi menjadi Rp1,58 triliun pada 2027.

EPS atau laba per saham juga diperkirakan naik bertahap dari 44,03 menjadi 51,88 lalu 62,72 dalam dua tahun mendatang.

Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa analis masih percaya model bisnis value retail MDIY punya ruang pertumbuhan besar di Indonesia, terutama melalui ekspansi ke kota lapis kedua dan ketiga.

Ke Mana Harga Bergerak Selanjutnya?

Saham PT Daya Intiguna Yasa Tbk (MDIY) kini berada di fase yang cukup emosional bagi pelaku pasar. Di satu sisi, harga sahamnya sudah terkoreksi sangat dalam sejak IPO. Namun di sisi lain, bisnis perseroan justru terus bertumbuh agresif.

Situasi itu membuat MDIY mulai masuk ke kategori saham yang sering disebut pelaku pasar sebagai “sayang dibuang”.

Kalimat itu bukan muncul tanpa alasan. Sebab ketika harga saham turun lebih dari 45 persen dari area IPO, fundamental perusahaan justru belum menunjukkan tanda pelemahan besar.

Gerai terus bertambah, laba masih tumbuh dua digit, margin tetap tebal, dan ekspansi masih berjalan cepat hingga menembus 1.300 toko. Tetapi pasar belum sepenuhnya kembali masuk secara agresif.

Secara teknikal, posisi MDIY saat ini memang masih belum benar-benar pulih.

Pada perdagangan terakhir, saham MDIY ditutup turun 1,13 persen ke level 875 setelah sempat bergerak di rentang 865 hingga 910. Nilai transaksi mencapai Rp482,6 juta dengan volume sekitar 5,46 ribu lot.

Pergerakan tersebut memperlihatkan satu hal penting: saham mulai mencoba bertahan di area bawah setelah tekanan panjang sejak awal 2025.

Namun indikator teknikal masih menunjukkan tekanan jual yang dominan. Rangkuman indikator berada di kategori “sangat jual” dengan delapan indikator memberi sinyal jual dan hanya satu indikator beli.

MACD masih berada di area negatif di level minus 4,94. STOCH dan STOCHRSI juga masih sama-sama menunjukkan sinyal jual, menandakan momentum rebound belum sepenuhnya kuat.

Williams %R berada di area minus 75 yang berarti saham masih bergerak dekat zona lemah. CCI juga masih negatif di level minus 63.

Meski begitu, ada satu hal yang mulai berubah dari struktur pergerakan MDIY, yaitu tekanan jual mulai melambat dibanding fase sebelumnya.

RSI berada di level 47 atau mendekati area netral. Artinya, saham ini sebenarnya sudah tidak lagi berada dalam kondisi terlalu jenuh jual (oversold) seperti beberapa bulan sebelumnya.

Dari sisi pivot point, area 865 hingga 868 kini menjadi support penting jangka pendek. Area itu beberapa kali berhasil menahan tekanan jual pasar.

Jika support tersebut tetap bertahan, MDIY masih punya peluang rebound teknikal menuju area 900 hingga 921 sebagai resistance terdekat. Bahkan jika momentum mulai kembali terbentuk, ruang kenaikan menuju 938 perlahan mulai terbuka.

Namun tantangan utamanya masih besar. Harga MDIY saat ini masih berada di bawah mayoritas moving average jangka menengah dan panjang. MA100 berada di area 940 sementara MA200 masih berada di atas 1.040.

Artinya, secara struktur besar, tren saham MDIY sebenarnya masih dalam fase turun. Rebound yang terjadi sejauh ini masih lebih dekat ke technical rebound dibanding pembalikan tren penuh.

Pertahanan Mulai Terbentuk

Orderbook juga memperlihatkan pasar mulai membentuk area pertahanan di bawah. Bid terbesar terlihat di level 850 sebanyak 3.160 lot dan 840 sekitar 3.001 lot.

Sementara di sisi atas, antrean offer mulai muncul di area 905 dan 910. Ini menunjukkan pasar masih menunggu apakah MDIY benar-benar mampu keluar dari fase konsolidasi panjangnya.

Yang membuat cerita MDIY tetap menarik sebenarnya bukan hanya teknikalnya, tetapi konflik antara harga saham dan bisnisnya.

Pasar saat ini seperti masih terjebak di antara dua pandangan. Ada yang melihat MDIY sebagai saham ritel ekspansi agresif dengan pertumbuhan laba yang masih kuat. Tetapi ada juga yang melihat valuasi IPO sebelumnya terlalu mahal sehingga saham perlu waktu panjang untuk kembali menemukan keseimbangan baru.

Di titik inilah MDIY mulai berubah menjadi saham yang sulit dijelaskan hanya lewat grafik harga.

Karena semakin lama saham ini turun, justru semakin banyak pelaku pasar mulai bertanya, kalau bisnisnya masih tumbuh secepat ini, apakah harga sekarang sudah terlalu murah untuk diabaikan?(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya