KABARBURSA.COM – Aksi agresif PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) kembali menjadi sorotan pasar.
Pengendali PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) itu mempertebal dominasinya dengan menyerap lebih dari 230 juta saham SCMA hanya dalam rentang sepuluh hari perdagangan di awal Agustus 2025.
Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), akumulasi tersebut dilakukan bertahap mulai 5 hingga 15 Agustus dengan nilai total mencapai Rp54,5 miliar.
Transaksi berlangsung pada rentang harga Rp226 sampai Rp248 per saham, dan secara kumulatif menambah porsi kepemilikan EMTK dari 66,11 persen menjadi 66,43 persen.
Rinciannya, pembelian terbesar tercatat pada 7 Agustus sebanyak 65 juta lembar di harga Rp236, sementara aksi dengan harga tertinggi terjadi pada 14 Agustus ketika EMTK menyerap 26,44 juta saham di level Rp248 per lembar.
Sehari kemudian, 11 juta lembar tambahan kembali masuk ke portofolio induk usaha SCMA.
Sekretaris Perusahaan EMTK, Titi Maria Rusli, menegaskan dalam laporannya bahwa langkah tersebut dilakukan semata untuk tujuan investasi dengan status kepemilikan langsung.
Fundamental Semester I 2025 Masih Tertahan
Kinerja keuangan SCMA hingga pertengahan tahun ini memperlihatkan dinamika yang kontras.
Perseroan membukukan pendapatan Rp3,32 triliun, nyaris stagnan karena turun tipis 0,12 persen dibanding semester I tahun lalu.
Laba usaha justru mampu tumbuh 1,64 persen menjadi Rp354,33 miliar, namun laba bersih periode berjalan menyusut ke Rp257,3 miliar dari sebelumnya Rp273,7 miliar.
Beban umum dan administrasi yang masih tinggi serta tekanan kurs terhadap biaya keuangan menjadi faktor utama penurunan bottom line.
Dari sisi neraca, total aset per akhir Juni 2025 menurun ke Rp9,63 triliun dari Rp10,82 triliun di akhir 2024.
Kas dan setara kas juga menyusut signifikan, dari Rp2,53 triliun menjadi Rp1,45 triliun. Ekuitas ikut terkoreksi menjadi Rp7,68 triliun dari posisi Rp8,36 triliun.
Studio Baru Sentul Jadi Andalan Efisiensi
Di tengah kondisi tersebut, SCMA berupaya menjaga profitabilitas lewat efisiensi. Salah satu langkah besar yang ditempuh adalah pembangunan kompleks studio terintegrasi di Cijayanti, Sentul, Kabupaten Bogor, dengan belanja modal sekitar Rp100 miliar untuk tahap awal.
Direktur SCMA, Rusmiyati Djajaseputra, menyebut pembangunan tahap pertama sudah rampung dan mulai digunakan tahun ini untuk produksi sinetron Sinemart.
Ia mengungkapkan, studio ini terdiri dari bangunan dengan fasad berbeda dan set syuting yang beragam, sehingga memungkinkan berbagai adegan diproduksi di satu lokasi dengan lebih efisien.
Perseroan menilai fasilitas baru ini akan menekan biaya sewa lokasi eksternal dan mempercepat jadwal produksi.
Dengan begitu, efisiensi biaya dapat tercapai, sekaligus membuka peluang margin yang lebih sehat ketika pasar iklan mengalami tekanan.
Total capex yang dialokasikan sepanjang 2025 mencapai Rp250 miliar, di mana 30 persen sudah terealisasi hingga pertengahan tahun.
Selain studio, dana juga diarahkan untuk peremajaan peralatan produksi dan penyiaran.
Tantangan Iklan dan Transformasi Digital
Meski peluang efisiensi terbuka, SCMA tetap menghadapi tantangan di sisi pendapatan iklan.
Rusmiyati mengakui belanja iklan free to air (FTA) turun sekitar 13 persen secara year to date akibat kondisi makro ekonomi yang masih lemah.
“Pengiklan banyak menurunkan anggaran, bahkan termasuk di periode khusus seperti mudik dan lebaran,” jelasnya.
Untuk mengimbangi tren tersebut, perseroan memperkuat distribusi konten di platform digital, termasuk OTT dan media sosial.
Strategi ini diharapkan dapat memperluas jangkauan audiens sekaligus memperkuat interaksi dengan pemirsa.
“Oleh karena itu kami menargetkan pertumbuhan laba yang lebih baik daripada tahun lalu,” imbuh Rusmiyati.
Saham SCMA Sudah Meroket 88 Persen
Di sisi pasar modal, pergerakan saham SCMA terbilang impresif. Hingga awal September 2025, saham SCMA sudah naik 88 persen secara ytd, dan bahkan melesat 157 persen dalam setahun terakhir.
Lonjakan terutama terjadi sejak akhir Juli, bertepatan dengan periode akumulasi EMTK.
Secara teknikal, tren minor SCMA masih bullish. Indikator MACD berada di area positif dan volume transaksi menunjukkan peningkatan konsisten.
Strategi trading saat ini merekomendasikan posisi beli di Rp336 dengan target harga Rp354 hingga Rp370, sementara batas stop loss dipatok di Rp320.
Dari sisi konsensus analis, enam analis yang memberikan pandangan terbagi seimbang: tiga memberikan rekomendasi buy dan tiga memilih hold. Tidak ada rekomendasi sell.
Target harga rata-rata berada di Rp309, dengan estimasi tertinggi Rp430 dan terendah Rp188.
Dengan harga pasar di kisaran Rp310, potensi upside ke target optimis masih terbuka lebar. (*)