KABARBURSA.COM - Arus dana investor asing kembali mengalir ke saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dalam dua hari perdagangan terakhir di Bursa Efek Indonesia (BEI). Data transaksi menunjukkan GOTO menjadi saham dengan pembelian bersih asing terbesar baik pada perdagangan 9 Maret maupun hingga sesi siang 10 Maret 2026.
Pada 9 Maret 2026, investor asing mencatat pembelian bersih sekitar 1,31 miliar saham GOTO. Aktivitas tersebut terjadi ketika total pembelian asing mencapai sekitar 2,73 miliar saham, sementara penjualan berada di kisaran 1,41 miliar saham.
Arus dana tersebut berlanjut pada perdagangan berikutnya. Hingga sesi siang 10 Maret 2026, investor asing kembali melakukan pembelian bersih sekitar 167,35 juta saham GOTO dengan total pembelian mencapai 330,94 juta saham dan penjualan sekitar 163,59 juta saham.
Dengan demikian, dalam dua hari perdagangan tersebut investor asing tercatat mengakumulasi sekitar 1,48 miliar saham GOTO di pasar reguler. Aktivitas tersebut menempatkan saham GOTO sebagai emiten dengan arus masuk dana asing terbesar dibanding sejumlah saham lain yang juga masuk daftar pembelian asing seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan PT Surya Citra Media Tbk (SCMA).
Pergerakan tersebut terjadi ketika saham GOTO bergerak di kisaran Rp53 hingga Rp55 per saham, yang selama beberapa waktu terakhir menjadi area perdagangan utama. Level tersebut juga berdekatan dengan rentang harga terendah dalam periode satu tahun terakhir.
Nasdaq Composite Menguat 1,38 Persen
Derasnya aliran dana asing yang masuk ke GOTO seiring dengan terjadinya pemulihan yang kuat pada sektor teknologi global. Indeks Nasdaq Composite, pada bursa Wall Street, ditutup menguat signifikan sebesar 1,38 persen ke level 22.695,95.
Saham-saham teknologi utama berhasil bangkit dari kerugian tajam di awal sesi. Penguatan didorong oleh optimisme berkelanjutan terhadap investasi kecerdasan buatan (AI). Saham semikonduktor menjadi penopang utama kenaikan.
Broadcom melonjak lebih dari 4 persen, sementara Micron Technology dan AMD masing-masing naik 5 persen. Raksasa AI Nvidia juga menguat lebih dari 2 persen.
Sementara di Asia Pasifik, kondisinya lebih bervariasi. Di Australia, indeks teknologi S&P/ASX 200 IT justru anjlok 4,7 persen karena kekhawatiran disrupsi AI terhadap model bisnis perangkat lunak (SaaS) tradisional.
Sentimen dan penggerak utama kenaikan terlihat dari investasi Ai atau belanja modal (capex) untuk pusat data dan tenaga listrik guna mendukung infrastruktur AI tetap menjadi narasi doniman yang menjaga kepercayaan investor.
Meski menguat, analis mulai memperhatikan risiko valuasi yang tinggi. Ada kecenderungan investor mulai melirik sektor lain dengan valuasi yang lebih menarik. Sementara, tekanan inflasi yang tetap tinggi dan ketegangan geopolitik, seperti penutupan Selat Hormuz yang memicu kenaikan harga minyak, sempat memicu volatilitas di awal perdagangan sebelum akhirnya pasar berbalik arah.
Fundamental GOTO Menguat
Arus akumulasi asing ini berlangsung bersamaan dengan perubahan kinerja keuangan perusahaan sepanjang 2025, yang menunjukkan perbaikan dibandingkan periode sebelumnya. Dalam laporan keuangan, GOTO mencatat EBITDA grup yang disesuaikan positif secara berkelanjutan sejak kuartal pertama 2025.
Pada kuartal I 2025, EBITDA yang disesuaikan tercatat sekitar Rp393 miliar, kemudian meningkat menjadi sekitar Rp427 miliar pada kuartal II. Pencapaian tersebut menandai perubahan signifikan dibandingkan periode sebelumnya ketika perusahaan masih mencatatkan kerugian operasional.
Dari sisi laba bersih, perusahaan juga mencatat penurunan rugi secara signifikan. Hingga sembilan bulan pertama 2025, rugi bersih tercatat sekitar Rp775,6 miliar, turun sekitar 82 persen dibandingkan kerugian Rp4,31 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan perusahaan juga menunjukkan pertumbuhan. Hingga September 2025, pendapatan bersih GOTO mencapai sekitar Rp13,3 triliun, meningkat sekitar 14 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh peningkatan aktivitas pada layanan pengiriman serta layanan teknologi keuangan.
Pada kuartal III 2025, perusahaan juga mencatat laba sebelum pajak sekitar Rp62 miliar. Capaian tersebut menandai perubahan struktur kinerja perusahaan yang sebelumnya berada dalam fase kerugian.
Unit Bisnis Teknologi Berkembang
Perkembangan tersebut juga terlihat pada unit bisnis teknologi keuangan perusahaan, GoTo Financial. Unit ini mulai mencatat EBITDA yang disesuaikan positif sejak kuartal IV 2024 dan berlanjut sepanjang 2025.
Margin EBITDA unit fintech tersebut tercatat sekitar 0,28 persen terhadap nilai transaksi bruto (GTV) pada pertengahan 2025. Pertumbuhan margin terjadi seiring peningkatan penetrasi layanan pinjaman serta produk buy now pay later yang memiliki struktur margin lebih tinggi dibandingkan layanan pembayaran.
Aktivitas pembiayaan juga menunjukkan pertumbuhan signifikan. Penyaluran pinjaman pada unit fintech GOTO tercatat meningkat lebih dari 100 persen sepanjang 2025, didukung oleh integrasi layanan dalam ekosistem Gojek serta platform digital lainnya.
Dalam konteks regional, kinerja unit fintech GOTO mulai dibandingkan dengan pemain besar di Asia Tenggara seperti Grab Financial Services dan SeaMoney milik Sea Group. Grab Financial Services telah mencatat EBITDA positif selama lebih dari satu tahun terakhir dengan pertumbuhan pendapatan sekitar 23 persen secara tahunan.
Sementara itu SeaMoney masih mencatat margin laba yang lebih kuat di kawasan Asia Tenggara. Integrasi layanan keuangan dengan platform e-commerce Shopee menjadi salah satu faktor utama yang menopang kinerja unit tersebut.
Dari sisi valuasi pasar, perusahaan teknologi regional juga menunjukkan kisaran valuasi yang relatif berdekatan. Sea Group diperdagangkan pada rasio enterprise value terhadap pendapatan sekitar 3,40 kali, sementara GOTO berada di kisaran 3,65 kali, mencerminkan ekspektasi pasar terhadap potensi pertumbuhan perusahaan.
Target Harga dari Analis
Sejumlah analis juga menyampaikan proyeksi harga saham GOTO untuk periode ke depan. Berdasarkan konsensus analis yang dirangkum hingga Maret 2026, target harga rata-rata saham GOTO berada di kisaran Rp81 hingga Rp89 per saham.
Beberapa lembaga riset juga menempatkan estimasi target harga lebih tinggi hingga Rp120 hingga Rp147 per saham, sementara estimasi terendah berada di sekitar Rp62 per saham. Mayoritas analis memberikan rekomendasi beli terhadap saham tersebut.
Dalam perdagangan pasar, saham GOTO saat ini bergerak di sekitar area Rp53 hingga Rp55 yang menjadi salah satu level harga penting dalam pergerakan jangka pendek. Area tersebut juga berdekatan dengan posisi harga terendah selama 52 minggu terakhir.
Apabila harga bergerak naik dari area tersebut, kisaran Rp58 hingga Rp60 menjadi salah satu rentang harga yang sering menjadi area perdagangan berikutnya. Sementara itu pergerakan di atas Rp62 sering dikaitkan dengan perubahan struktur pergerakan harga dalam jangka menengah.
Analisis Teknikal GOTO
Dari sisi indikator teknikal, posisi harga saat ini berada di bawah beberapa rata-rata pergerakan jangka pendek. Kondisi tersebut menunjukkan tren penurunan masih menjadi pola dominan dalam beberapa waktu terakhir.
Indikator relative strength index (RSI) berada di area yang mendekati kondisi jenuh jual. Dalam kondisi tertentu, area tersebut sering bertepatan dengan peningkatan aktivitas transaksi pada harga rendah.
Volume perdagangan saham GOTO juga menunjukkan peningkatan pada rentang harga Rp55 hingga Rp56, yang menjadi salah satu area transaksi terbesar dalam beberapa sesi perdagangan terakhir.
Aktivitas perdagangan tersebut berlangsung bersamaan dengan meningkatnya minat investor asing terhadap saham GOTO dalam beberapa hari terakhir, tercermin dari besarnya pembelian bersih yang tercatat di pasar reguler.
Permintaan Tebal di Harga Bawah
Dari sgtruktur antrean perdagangan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menunjukkan konsentrasi permintaan pada beberapa level harga bawah. Pada sisi bid, lapisan antrean beli terlihat cukup tebal terutama di area Rp53 hingga Rp55.
Level Rp53 menjadi salah satu titik dengan antrean bid terbesar, tercatat sekitar 22,35 juta saham dalam antrean beli. Di bawahnya, level Rp52 menampung sekitar 13,25 juta saham, sementara pada Rp51 tercatat sekitar 11,58 juta saham.
Bahkan pada level psikologis Rp50, antrean beli kembali terlihat cukup besar dengan sekitar 14,08 juta saham.
Di sisi lain, tekanan jual terlihat mulai muncul pada lapisan harga atas. Pada level Rp56, antrean mencapai sekitar 8,47 juta saham, kemudian meningkat pada Rp57 dengan sekitar 10,24 juta saham. Sementara pada Rp58 antrean sekitar 6,84 juta saham, dan di Rp59 sekitar 5,31 juta saham.
Struktur tersebut menunjukkan lapisan bid relatif tebal di rentang Rp53 hingga Rp55, sementara lapisan ask mulai meningkat pada area Rp56 hingga Rp57.
Pola antrean seperti ini sering terlihat ketika permintaan terkonsentrasi pada harga bawah, sementara pada sisi atas masih terdapat pasokan saham dari pelaku pasar yang melakukan penjualan jangka pendek.
Broker ZP Akumulasi Terbesar
Gambaran serupa juga terlihat dari data broker summary. Pada sisi pembelian, transaksi terbesar tercatat pada broker Maybank Sekuritas Indonesia (ZP) dengan nilai sekitar Rp86,2 miliar dan volume sekitar 15,8 juta lot pada harga rata-rata Rp55.
Nilai tersebut menjadi yang terbesar dibandingkan broker lain di sisi beli seperti Ciptadana Sekuritas Asia (KI) sekitar Rp34,6 miliar, UBS Sekuritas Indonesia (AK) sekitar Rp16,3 miliar, serta OCBC Sekuritas Indonesia (TP) sekitar Rp5,2 miliar.
Di sisi penjualan, distribusi terbesar tercatat pada broker Trust Sekuritas (BR) sekitar Rp68,7 miliar, diikuti Buana Capital Sekuritas (RF) sekitar Rp35,2 miliar, Semesta Indovest Sekuritas (MG) sekitar Rp18,9 miliar, dan Trimegas Sekuritas Indonesia (LG) sekitar Rp17,2 miliar.
Menariknya, sebagian besar transaksi pada sisi pembelian terjadi pada harga rata-rata Rp54 hingga Rp55, yang berada di area bawah rentang perdagangan saham tersebut dalam beberapa sesi terakhir.
Jika struktur antrean dan data broker digabungkan, terlihat beberapa karakter utama dalam perdagangan GOTO saat ini. Antrean bid yang tebal pada Rp53 hingga Rp55 menunjukkan konsentrasi permintaan pada area bawah.
Pada saat yang sama, aktivitas pembelian juga terkonsentrasi pada beberapa broker dengan nilai transaksi besar, terutama ZP dan KI.
Di sisi lain, distribusi masih terlihat dari beberapa broker yang mencatat nilai penjualan cukup besar, seperti BR dan RF. Dengan komposisi seperti ini, perdagangan saham GOTO saat ini terlihat berlangsung dalam rentang harga yang relatif sempit, dengan lapisan permintaan cukup kuat di bawah dan antrean jual yang lebih tebal di area harga atas.
Pola akumulasi juga terlihat dari jejak transaksi broker besar. Pada perdagangan 9 Maret 2026, broker ZP tercatat menjadi pembeli terbesar dengan nilai sekitar Rp86,2 miliar pada harga rata-rata Rp55, jauh di atas broker lain di sisi beli.
Konsentrasi pembelian pada rentang tersebut menunjukkan aktivitas serapan saham masih terjadi pada area harga bawah.
Struktur orderbook juga memperlihatkan pola yang sejalan. Antrean bid menumpuk pada area Rp53 hingga Rp55, dengan lapisan terbesar berada di Rp53 sekitar 22,35 juta saham. Sementara di sisi atas, antrean jual mulai meningkat pada Rp56 dan Rp57, masing-masing sekitar 8,47 juta saham dan 10,24 juta saham.
Jika dikaitkan dengan data foreign flow dalam dua hari terakhir, pola perdagangan GOTO menunjukkan adanya akumulasi pada rentang Rp54 hingga Rp55, sementara level Rp53 berfungsi sebagai salah satu titik pertahanan harga di bawah.
Selama permintaan pada area tersebut tetap bertahan dan arus pembelian tidak berubah menjadi distribusi, rentang harga tersebut masih menjadi area perdagangan penting bagi saham GOTO dalam beberapa sesi ke depan.
Kapitalisasi Pasar GOTO Tertinggi
Sementara itu, jika melihat perdagangan intraday-nya, hingga pukul 13.56 WIB, saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) diperdagangkan di level Rp56 per saham, naik 1 poin atau sekitar 1,82 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp55.
Sepanjang sesi perdagangan, harga bergerak dalam rentang Rp55 hingga Rp56 setelah dibuka pada level Rp55.
Dengan pergerakan tersebut, kapitalisasi pasar GOTO tercatat sekitar Rp63,87 triliun. Posisi harga saat ini masih berada di bawah level tertinggi 52 minggu di Rp87, namun berada sedikit di atas level terendah 52 minggu di Rp53 per saham.
Pergerakan harga yang masih berada di kisaran tersebut berlangsung di tengah meningkatnya aktivitas transaksi pada saham GOTO dalam beberapa hari terakhir. Data perdagangan juga menunjukkan adanya arus pembelian dari investor asing yang menempatkan saham ini sebagai salah satu emiten dengan pembelian bersih asing terbesar dalam dua hari perdagangan terakhir di Bursa Efek Indonesia.(*)