Insight Daily 25 Feb 2026 Penulis: KabarBursa.com

Dua Asing Konsisten Serok TINS: Harga Berbalik Arah

Arus dana asing terkonsentrasi pada beberapa broker dalam dua sesi akumulasi terbesar,

KABARBURSA.COM – Saham PT Timah Tbk (TINS) ditutup di level 4.430 pada perdagangan sesi I Rabu, 25 Februari 2026, dengan sejumlah peningkatan. Harga saham TINS naik 280 poin atau 6,75 persen dari penutupan hari sebelumnya, dengan nilai transaksi Rp259 miliar. Volume tercatat 588,77 ribu lot dan frekuensi 16,67 ribu kali, dengan pembukaan di 4.400. Pergerakan...

(Foto: Dok. Timah)
(Foto: Dok. Timah)

Insight Navigator

  1. 01 Arus Asing Berubah dalam Empat Sesi Terakhir
  2. 02 Peta Broker Akumulator, Lot dan Nilai Terkonsentrasi
  3. 03 Net Foreign 38 Persen dari Volume, Offer Menumpuk di 4.500
  4. 04 Harga Timah dan Volume Produksi Bergerak Berlawanan

KABARBURSA.COM – Saham PT Timah Tbk (TINS) ditutup di level 4.430 pada perdagangan sesi I Rabu, 25 Februari 2026, dengan sejumlah peningkatan. 

Harga saham TINS naik 280 poin atau 6,75 persen dari penutupan hari sebelumnya, dengan nilai transaksi Rp259 miliar. Volume tercatat 588,77 ribu lot dan frekuensi 16,67 ribu kali, dengan pembukaan di 4.400. 

Pergerakan ini terjadi setelah arus asing berbalik dalam beberapa sesi terakhir. Pada level broker, dua sesi akumulasi terbesar, yakni 23 dan 24 Februari, menunjukkan pembelian terpusat pada beberapa kode yang sama. UBS Sekuritas Indonesia (AK) dan Mandiri Sekuritas (CC) muncul sebagai pembeli utama.

Sementara itu, dari sisi mikrostruktur 25 Februari, antrean jual terlihat lebih tebal dibanding antrean beli, dengan total bid 122.424 lot (frekuensi 2.106) berbanding total offer 196.378 lot (frekuensi 2.612).

Arus Asing Berubah dalam Empat Sesi Terakhir

Data transaksi 18–24 Februari 2026 menunjukkan arus asing bergerak dalam rentang yang lebar. Pada 18 Februari, TINS ditutup di 3.950 atau turun 2,47 persen, dengan net foreign buy Rp18,78 miliar. Pada hari yang sama, foreign buy tercatat Rp52,89 miliar dan foreign sell Rp34,11 miliar.

Sehari berikutnya, pola arus dana berubah. Pada 19 Februari, TINS ditutup di 3.990 atau naik 1,01 persen, namun net foreign tercatat Rp15,98 miliar. Foreign buy berada di Rp54,94 miliar, sementara foreign sell Rp70,93 miliar.

Pada 20 Februari, nilai bersih transaksi asing mendekati seimbang. TINS ditutup di 3.920 atau turun 1,75 persen, dengan net foreign buy Rp98,91 juta. Foreign buy Rp28,77 miliar dan foreign sell Rp28,67 miliar.

Lonjakan terbesar terjadi pada 23 Februari. Pada sesi itu, TINS ditutup di 4.160 atau naik 6,12 persen, dengan net foreign buy Rp100,35 miliar. Foreign buy tercatat Rp132,85 miliar dan foreign sell Rp32,50 miliar.

Arus asing tetap besar pada 24 Februari meski harga bergerak tipis. TINS ditutup di 4.150 atau turun 0,24 persen, dengan net foreign buy Rp80,59 miliar. Foreign buy tercatat Rp152,84 miliar dan foreign sell Rp72,26 miliar.

Jika ditarik dalam empat sesi 19–24 Februari, catatan net foreign bergerak dari Rp15,98 miliar menjadi Rp98,91 juta, lalu Rp100,35 miliar dan Rp80,59 miliar. Perubahan nilai tersebut terjadi bersamaan dengan kenaikan level harga dari 3.990 menuju 4.160, lalu bertahan di 4.150. 

Pada periode yang sama, volume juga membesar, dari 331,11 ribu lot pada 20 Februari menjadi 706,93 ribu lot pada 23 Februari dan 1,15 juta lot pada 24 Februari.

Peta Broker Akumulator, Lot dan Nilai Terkonsentrasi

Pada fase akumulasi terbesar 23–24 Februari, pembelian asing tampak terkonsentrasi pada beberapa broker utama. Pada 23 Februari, ringkasan transaksi asing mencatat net value Rp110,8 miliar dengan net volume 269.530 lot dan rata-rata harga Rp4.109. Pada 24 Februari, net value asing Rp84,8 miliar dengan net volume 198.410 lot dan rata-rata harga Rp4.276.

Pada 23 Februari, AK tercatat sebagai pembeli terbesar dengan nilai Rp58,9 miliar setara 143,3 ribu lot pada rata-rata Rp4.111. CC menyusul dengan Rp29,3 miliar atau 71,5 ribu lot pada rata-rata Rp4.101. 

Di bawahnya, broker CLSA Sekuritas Indonesia (KZ) membukukan pembelian Rp11,1 miliar atau 26,8 ribu lot pada rata-rata Rp4.124, sementara JP Morgan Sekuritas Indonesia (BK) Rp9,3 miliar atau 22,6 ribu lot pada rata-rata Rp4.129.

Pada sesi yang sama, sisi jual asing juga tercatat, namun nilainya lebih kecil dibanding total pembelian. Broker Mirae Asset Sekuritas Indonesia (YP) tercatat pada sisi jual Rp10,2 miliar atau 25 ribu lot pada rata-rata Rp4.112. 

Sisi jual lain tercatat dari BNI Sekuritas Indonesia (NI) Rp162,7 juta (396 lot, rata-rata Rp4.135) dan KK Rp410 ribu (1 lot, rata-rata Rp4.100).

Sehari berikutnya, 24 Februari, AK kembali muncul sebagai pembeli terbesar dengan nilai Rp38,8 miliar atau 91,7 ribu lot pada rata-rata Rp4.291. Broker YP masuk sebagai pembeli dengan Rp21,6 miliar atau 49,9 ribu lot pada rata-rata Rp4.328. 

CC tercatat membeli Rp11,0 miliar atau 25,6 ribu lot pada rata-rata Rp4.302, sementara BK Rp8,1 miliar atau 18,7 ribu lot pada rata-rata Rp4.280.

Pada 24 Februari, sisi jual asing tercatat pada beberapa broker dengan nilai yang lebih kecil. ZP berada di sisi jual Rp3,2 miliar atau 7,4 ribu lot pada rata-rata Rp4.318. NI tercatat menjual Rp970,7 juta atau 2,3 ribu lot pada rata-rata Rp4.301, disusul AI Rp100 juta (230 lot, rata-rata Rp4.347) dan KZ Rp430 ribu (1 lot, rata-rata Rp4.300).

Jika ditarik kumulatif tiga sesi transaksi asing yang menjadi rangkaian menuju reli (20, 23, dan 24 Februari), konsentrasi terlihat pada tiga broker pembeli teratas. AK membukukan total pembelian sekitar Rp97,7 miliar setara 235,0 ribu lot dengan rata-rata tertimbang sekitar Rp4.157. 

CC mencatat total pembelian sekitar Rp40,3 miliar atau 97,1 ribu lot dengan rata-rata tertimbang sekitar Rp4.150, sementara YP mengumpulkan sekitar Rp28,3 miliar atau 66,9 ribu lot dengan rata-rata tertimbang sekitar Rp4.230.

Net Foreign 38 Persen dari Volume, Offer Menumpuk di 4.500

Besarnya arus asing pada 23–24 Februari bisa diuji dengan membandingkannya terhadap total volume pasar. Pada 20 Februari 2026, total volume TINS tercatat 331,11 ribu lot, sementara net volume foreign 25.593 lot. Pada 23 Februari, total volume naik menjadi 706,93 ribu lot dengan net volume foreign 269.530 lot, lalu 24 Februari total volume mencapai 1,15 juta lot dengan net volume foreign 198.410 lot.

Dalam pembacaan porsi, net volume foreign pada 20 Februari setara sekitar 7,73 persen dari total volume hari itu. Pada 23 Februari, net volume foreign setara sekitar 38,13 persen dari total volume harian. Pada 24 Februari, porsi net volume foreign sekitar 17,25 persen dari total volume.

Jika ditarik kumulatif tiga sesi 20, 23, dan 24 Februari, total volume pasar mencapai 2.188,04 ribu lot. Pada periode yang sama, net volume foreign tercatat 493.533 lot. Porsinya setara sekitar 22,56 persen dari total volume tiga hari tersebut.

Data 24 Februari juga memperlihatkan perbandingan antara foreign dan keseluruhan investor pada ringkasan net. Pada 24 Februari, net value all investor tercatat Rp129,1 miliar dengan net volume 299.828 lot dan rata-rata Rp4.306. Pada hari yang sama, net value foreign tercatat Rp84,8 miliar dengan net volume 198.410 lot dan rata-rata Rp4.276.

Pada 25 Februari, snapshot orderbook menunjukkan antrean jual lebih besar dibanding antrean beli. Total bid tercatat 122.424 lot dengan frekuensi 2.106, sedangkan total offer 196.378 lot dengan frekuensi 2.612. Selisih antrean berdasarkan lot berada di 73.954 lot, dengan rasio bid terhadap offer sekitar 0,62.

Di level harga terdekat, bid pada 4.430 tercatat 135 lot dengan frekuensi 12, sementara offer pada 4.440 tercatat 1.137 lot dengan frekuensi 22. Lapisan offer terlihat tebal di atasnya, antara lain 4.450 sebanyak 9.694 lot (frekuensi 199), 4.460 sebanyak 9.739 lot (frekuensi 184), 4.470 sebanyak 12.844 lot (frekuensi 238), hingga 4.490 sebanyak 15.291 lot (frekuensi 228). Pada 4.500, antrean offer tercatat 47.935 lot dengan frekuensi 630.

Sisi bid membentuk kedalaman di beberapa level di bawah harga penutupan. Bid pada 4.410 tercatat 4.582 lot (frekuensi 34), 4.400 sebanyak 2.911 lot (frekuensi 42), 4.360 sebanyak 2.831 lot (frekuensi 22), 4.350 sebanyak 4.029 lot (frekuensi 63), dan 4.340 sebanyak 1.635 lot (frekuensi 65). Data ini menjadi konteks mikrostruktur pada saat harga berada di 4.430.

Harga Timah dan Volume Produksi Bergerak Berlawanan

Di luar pergerakan harian, Timah merilis kinerja hingga 30 September 2025. Laba bersih 9M 2025 tercatat Rp602 miliar, dengan pendapatan Rp6,6 triliun dan EBITDA Rp1,5 triliun. Angka laba bersih itu disebut setara 78 persen dari target Rp774 miliar dalam rilis yang sama. 

Dalam rilis 9M 2025, Timah mencatat harga rata-rata logam timah Cash Settlement Price LME sebesar USD32.775,58 per ton, naik 8,8 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pada periode yang sama, harga jual rata-rata logam timah Timah tercatat USD33.596 per metrik ton, naik 8 persen. 

Rilis tersebut juga memuat catatan CRU Tin Monitor yang menempatkan produksi logam timah global 9M 2025 sebesar 278.048 ton dan estimasi konsumsi 282.874 ton. 

Dari sisi operasi 9M 2025, produksi bijih timah tercatat 12.197 ton Sn, turun 20 persen dibanding 15.201 ton Sn pada periode yang sama tahun sebelumnya. Produksi logam timah tercatat 10.855 metrik ton, turun 25 persen, sementara penjualan logam timah 9.469 metrik ton, turun 30 persen. 

Rilis yang sama memuat penjualan ekspor 93 persen dan domestik 7 persen, dengan tujuan ekspor terbesar Jepang 19 persen dan Singapura 19 persen. 

Pada Semester I 2025, Timah melaporkan laba bersih Rp300,07 miliar. Pendapatan Semester I 2025 tercatat Rp4,22 triliun, turun 19,0 persen dari Rp5,21 triliun pada Semester I 2024. Di rilis tersebut, persediaan timah di gudang LME disebut berada di 2.220 ton pada akhir Juni 2025, turun 53,3 persen dari 4.760 ton pada awal 2025. 

Rilis Semester I 2025 juga memuat sasaran pokok 2025, yakni produksi bijih timah 21.500 ton Sn, produksi logam timah 21.545 metrik ton, dan penjualan logam timah 19.065 metrik ton. Pada dokumen yang sama, kisaran harga timah versi Bloomberg dicantumkan di rentang USD29.000 hingga USD34.000 per metrik ton. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya