Insight Daily 22 May 2025 Penulis: KabarBursa.com

Direkomendasikan Buy on Weakness, ini Prospek Saham EXCL

Saat ini EXCL dinilai sedang dalam bagian dari wave (y) dari wave [b], yang menandakan fase konsolidasi masih berlangsung.

KABARBURSA.COM - Saham PT XL Axiata Tbk (EXCL) kembali mencuri perhatian investor setelah mencatatkan penguatan tipis pada perdagangan terakhir. Meski pergerakannya masih dibayangi fase konsolidasi, sejumlah analis menilai saham ini mulai menunjukkan sinyal teknikal yang menarik untuk strategi buy on weakness. Dengan level harga yang relatif stabil dan volum...

Ilustrasi Saham XLSMART atau IDX: EXCL.
Ilustrasi Saham XLSMART atau IDX: EXCL.

Insight Navigator

  1. 01 Gelontorkan Capex 1,24 Triliun, XLSmart Fokus Lima Hal
  2. 02 Analis Soroti Efisiensi dan Potensi Kinerja di 2026
  3. 03 Saham EXCL Belum Tunjukkan Sinyal Penguatan

KABARBURSA.COM - Saham PT XL Axiata Tbk (EXCL) kembali mencuri perhatian investor setelah mencatatkan penguatan tipis pada perdagangan terakhir. Meski pergerakannya masih dibayangi fase konsolidasi, sejumlah analis menilai saham ini mulai menunjukkan sinyal teknikal yang menarik untuk strategi buy on weakness. 

Dengan level harga yang relatif stabil dan volume beli yang mulai terbentuk, EXCL dinilai memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan dalam jangka pendek, selama tetap berada di atas level support kunci.

Dalam riset MNC Sekuritas, PT XL Axiata Tbk (EXCL) menguat tipis 0,46 persen ke level 2.180, meski belum berhasil menembus garis MA60. Volume beli mulai muncul, namun penguatan belum sepenuhnya solid. 

Saat ini EXCL dinilai sedang dalam bagian dari wave (y) dari wave [b], yang menandakan fase konsolidasi masih berlangsung. Entry point ideal berada di kisaran 2.140–2.180 dengan target jangka pendek di 2.230 hingga 2.280. Stoploss disarankan di bawah 2.120.

Gelontorkan Capex 1,24 Triliun, XLSmart Fokus Lima Hal

Setelah melewati proses panjang, PT XL Axiata Tbk (EXCL) kini resmi berganti nama menjadi PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk atau XLSmart. Ini sekaligus menandai rampungnya proses merger dengan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN). 

Transformasi tersebut membuka lembaran baru bagi industri telekomunikasi di Indonesia, di mana dua pemain besar bersatu untuk memperkuat jaringan, memperluas layanan, dan meningkatkan kepuasan pelanggan.

Presiden Direktur dan CEO XLSmart Rajeev Sethi, menjelaskan bahwa perusahaan telah menetapkan lima fokus utama untuk memperkuat strategi layanan ke depan. 

Prioritas pertama adalah mempercepat integrasi jaringan kedua operator untuk menghadirkan layanan yang lebih cepat dan andal. Langkah ini diharapkan menjadi tulang punggung peningkatan kualitas layanan di seluruh wilayah operasional.

Rajeev juga menekankan pentingnya menjaga kenyamanan pelanggan selama masa transisi. XLSmart, kata dia, berkomitmen agar tidak ada gangguan berarti dalam pelayanan. 

Selain itu, perusahaan mulai menyiapkan strategi pendekatan digital dan personalisasi layanan berbasis data pelanggan untuk memberikan pengalaman yang lebih relevan dan efisien.

Tak kalah penting, harga layanan juga tetap menjadi perhatian. 

“Kami ingin memastikan bahwa XLSmart tetap menjadi pilihan yang terjangkau bagi masyarakat,” ujarnya dalam konferensi pers 19 April lalu. 

Rajeev juga menyebut, sinergi yang terbentuk dari penggabungan dua entitas ini diharapkan memberi dampak lebih besar, baik bagi pelanggan maupun perkembangan industri telekomunikasi nasional.

Sementara itu, Direktur sekaligus Chief Financial Officer XLSmart Antony Susilo, mengungkapkan bahwa integrasi jaringan dan sistem IT masih dalam tahap perencanaan. 

Selain memperkuat infrastruktur, perusahaan juga mulai menjajaki ekspansi layanan ke segmen enterprise dan rumah tangga. Menurut Antony, detail pengembangan ini akan diumumkan lebih lanjut setelah perencanaan rampung.

Demi mendukung agenda strategis tersebut, XLSmart mengalokasikan belanja modal (capex) sebesar Rp1,24 triliun pada tahun 2025. Dana ini akan digunakan untuk memperkuat jaringan serta memperluas cakupan layanan. 

Secara operasional, XL Axiata, yang kini menjadi bagian dari XLSmart, membukukan pendapatan sebesar Rp8,6 triliun di kuartal pertama 2025, dengan EBITDA mencapai Rp4,32 triliun dan margin EBITDA stabil di level 50,2 persen.

Dari sisi regulasi, merger ini juga telah mendapat persetujuan penuh dari Kementerian Komunikasi dan Digital. Menteri Meutya Hafid menyampaikan bahwa keputusan tersebut diambil setelah proses evaluasi menyeluruh. 

“Setelah dilakukan verifikasi dan pertemuan langsung dengan pihak perusahaan, kami menyatakan bahwa merger ini telah memenuhi semua syarat,” kata Meutya dalam keterangannya.

Merger ini dipandang sebagai langkah besar dalam menciptakan efisiensi industri, memperluas akses masyarakat terhadap layanan berkualitas, dan mendukung ekosistem digital nasional. 

Di tengah dinamika industri dan perubahan perilaku konsumen yang semakin digital, XLSmart diharapkan mampu menjadi kekuatan baru yang mendorong pertumbuhan sektor telekomunikasi Indonesia ke level berikutnya.

Analis Soroti Efisiensi dan Potensi Kinerja di 2026

Setelah resmi melebur menjadi satu entitas bernama PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk, merger antara PT XL Axiata Tbk (EXCL) dan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) terus menjadi sorotan pelaku pasar. 

Meski saat ini masih dalam tahap awal integrasi, langkah konsolidasi ini dinilai sebagai manuver strategis yang dapat mengubah peta persaingan industri telekomunikasi di Indonesia.

Surya Rianto, CEO Mikirduit.com, menyebut bahwa dari sisi valuasi, saham EXCL masih relatif murah bila dibandingkan dengan para pesaing utamanya, yakni PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Indosat Tbk (ISAT). 

Ia mengungkapkan, Price to Book Value (PBV) EXCL saat ini berada di kisaran 1,08 kali, jauh di bawah rata-rata TLKM dan ISAT yang berada di sekitar 1,5 kali.

Namun, di sisi lain, Price to Earnings (PE) EXCL tercatat melambung menjadi sekitar 116 kali secara annualized. Kenaikan ini terjadi akibat tekanan dari kerugian yang dibawa oleh FREN pascamerger. 

Kondisi ini membuat kinerja keuangan EXCL saat ini belum mencerminkan efisiensi optimal, dan pergerakan sahamnya diperkirakan akan tetap terbatas dalam jangka pendek.

“Bisa jadi, dalam waktu dekat sahamnya masih akan bergerak dalam rentang tertentu. Tapi jika integrasi berjalan baik dan efisiensi tercapai, kinerja keuangannya akan jauh lebih menarik di 2026,” ujar Surya kepada KabarBursa.com.

Sinergi dari merger ini pun tak bisa dipandang sebelah mata. Proyeksi sinergi biaya sebelum pajak diperkirakan bisa mencapai antara USD300 juta hingga USD400 juta, terutama dari integrasi infrastruktur jaringan dan efisiensi operasional. 

Proses integrasi sendiri ditargetkan rampung dalam waktu kurang dari dua tahun, proyeksi yang merujuk pada pengalaman merger Indosat dan Tri pada 2022 lalu.

Jika merujuk data saat ini, XLSmart mengantongi total pelanggan gabungan sebesar 94,51 juta dengan penguasaan pangsa pasar sekitar 25 persen. Pendapatan proforma diperkirakan mencapai Rp45,8 triliun dengan EBITDA lebih dari Rp22,5 triliun. 

Dengan skala tersebut, perusahaan diyakini punya modal kuat untuk mengejar ketertinggalan dari dua pemain besar di pasar, Telkomsel dan ISAT.

Di satu sisi, Deputi Head of Research Sucor Sekuritas Paulus Jimmy, mengatakan biaya integrasi kemungkinan akan muncul dalam semester pertama 2025. Meski akan menekan margin dalam jangka pendek, langkah ini dianggap perlu untuk membuka peluang efisiensi jangka panjang.

Sementara itu, analis pasar modal Hendra Wardana menilai merger ini sebagai kesempatan strategis untuk memperkuat posisi EXCL di industri. Dengan basis pelanggan yang besar, penguasaan spektrum frekuensi yang lebih luas, dan infrastruktur yang semakin merata, EXCL kini punya modal untuk meningkatkan efisiensi sekaligus daya saing layanan. 

“Ini bisa jadi momentum penting bagi EXCL untuk naik kelas dalam kompetisi industri,” kata Hendra.

Sebelum merger, EXCL menempati posisi ketiga dalam hal profitabilitas dan pangsa pasar. Kini, dengan skala yang lebih besar dan jaringan yang lebih kuat, peluang untuk menyamai atau bahkan melampaui ISAT terbuka lebar.

Beberapa proyeksi target harga saham EXCL pun mulai bermunculan. Konsensus pasar menyebut kisaran Rp2.700–Rp3.000 per saham dalam jangka menengah, seiring ekspektasi keberhasilan integrasi dan perbaikan kinerja. 

Analis dari UOB Kay Hian Sekuritas, Paula Ruth, bahkan memberikan rekomendasi beli dengan target harga lebih optimistis di level Rp3.300 per saham, melihat potensi ekspansi agresif perusahaan di sektor fixed broadband dan layanan seluler.

Secara umum, merger EXCL dan FREN mencerminkan arah baru industri telekomunikasi nasional, lebih efisien, fokus pada monetisasi data, dan peningkatan kualitas layanan. 

Kini, tantangannya adalah bagaimana integrasi ini dijalankan secara efektif untuk menghasilkan nilai jangka panjang, baik bagi pelanggan maupun pemegang saham.

Saham EXCL Belum Tunjukkan Sinyal Penguatan

Saham PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) masih belum keluar dari tekanan. Sejumlah indikator teknikal terkini mengindikasikan bahwa sentimen pasar terhadap saham ini belum menunjukkan perubahan positif. 

Baik dari sisi pergerakan rata-rata harga (moving average) maupun indikator teknikal lainnya, arah pergerakan EXCL masih cenderung negatif.

Hingga Rabu malam, 21 Mei 2025, semua sinyal utama yang tercermin dari indikator moving average menyarankan posisi jual. Tidak hanya pada rata-rata pendek seperti MA5 dan MA10, namun juga pada rata-rata jangka menengah dan panjang seperti MA50 hingga MA200. 

Ini menandakan bahwa harga saham EXCL saat ini masih bergerak di bawah tren historisnya. MA200 yang biasanya menjadi acuan jangka panjang masih berada jauh di atas harga terkini, menunjukkan bahwa tren menurun masih dominan dalam jangka panjang.

Dari indikator teknikal lainnya, situasi tak jauh berbeda. Indeks RSI berada di level 46,77, yang masih tergolong netral dan belum memberikan sinyal pembalikan arah. 

Namun indikator lain seperti MACD, ADX, dan CCI menunjukkan kecenderungan jual. CCI, misalnya, mencatat angka -120, yang menandakan saham berada dalam kondisi jenuh jual, tapi belum cukup kuat untuk menjadi sinyal pantulan harga. 

Indikator MACD juga mencatatkan selisih negatif yang cukup dalam, mencerminkan lemahnya momentum beli dalam beberapa waktu terakhir.

Stochastic RSI menunjukkan angka 15,47, sebuah sinyal klasik bahwa saham sudah cukup tertekan secara teknikal. Namun pasar masih enggan masuk ke level beli karena belum terlihat adanya konfirmasi pembalikan tren. 

Dengan indikator lainnya seperti Williams %R, ROC, dan Ultimate Oscillator juga mengarah ke posisi jual, potensi penguatan dalam jangka pendek masih belum terbentuk secara teknikal.

Dari sisi volatilitas, data ATR menunjukkan angka 207, yang mengindikasikan bahwa pergerakan harga EXCL dalam beberapa hari terakhir tergolong sempit. Ini bisa menjadi sinyal bahwa pasar sedang dalam fase konsolidasi dengan tekanan jual yang masih dominan.

Jika mengacu pada level pivot point, harga EXCL saat ini masih tertahan di bawah titik pivot utama yang berada di kisaran 2.170. Tanpa adanya dorongan volume atau sentimen baru, peluang untuk menembus ke atas resisten-resisten berikutnya di 2.280 hingga 2.410 dinilai cukup berat dalam waktu dekat.

Kesimpulannya, secara teknikal, saham EXCL masih berada dalam fase menunggu. Mayoritas indikator belum memberikan sinyal pembalikan arah. 

Dalam jangka satu bulan ke depan, pergerakan harga cenderung akan tetap berada di dalam kisaran terbatas, kecuali jika ada katalis positif dari sisi fundamental atau sentimen pasar yang mampu mengubah arah pergerakan. 

Untuk saat ini, kehati-hatian masih menjadi kunci bagi para investor yang memantau saham ini.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya