Insight Daily 29 May 2026 Penulis: KabarBursa.com

Dari Rugi ke Laba, FILM Mulai Bangun Momentum

Akumulasi investor asing mulai mengalir ke saham FILM setelah Perseroan berhasil membalikkan rugi menjadi laba pada kuartal I 2026

KABARBURSA.COM - PT MD Entertainment Tbk (FILM) mulai mendapat perhatian pelaku pasar setelah investor asing tercatat melakukan akumulasi di tengah perbaikan kinerja Perseroan pada kuartal I 2026.Sejak manajemen FILM mengumumkan kinerja keuangan kuartal I 2026 pada 29 April 2026, investor asing terpantau terus memborong saham emiten film dan rumah produksi i...

(Foto: Dok. MD Entertainment)
(Foto: Dok. MD Entertainment)

Insight Navigator

  1. 01 Laba Kuartal I 2026 Balik Positif
  2. 02 Valuasi Tergolong Premium
  3. 03 Pergerakan Saham

KABARBURSA.COM - PT MD Entertainment Tbk (FILM) mulai mendapat perhatian pelaku pasar setelah investor asing tercatat melakukan akumulasi di tengah perbaikan kinerja Perseroan pada kuartal I 2026.

Sejak manajemen FILM mengumumkan kinerja keuangan kuartal I 2026 pada 29 April 2026, investor asing terpantau terus memborong saham emiten film dan rumah produksi ini. 

Berdasarkan data broker summary Stockbit periode 29 April hingga 26 Mei 2026, AK menjadi broker yang rajin menampung terbesar dana asing dengan total pembelian mencapai Rp4,6 miliar atau setara 19,3 ribu lot pada harga rata-rata Rp2.545 per saham.

Langkah AK kemudian diikuti broker BK yang memgolek saham FILM senilai Rp4,3 miliar sebanyak 18,7 ribu lot di harga rata-rata Rp2.427.

Aksi beli juga terlihat kuat dari broker BB dengan nilai akumulasi Rp3,8 miliar sebanyak 14,9 ribu lot di harga rata-rata Rp2.572. Sementara broker RX turut mengumpulkan saham FILM senilai Rp3,8 miliar dengan volume mencapai 15,1 ribu lot pada harga rata-rata Rp2.497.

Beberapa broker lain juga tercatat mulai masuk melakukan pembelian meski dalam nominal yang lebih kecil. Broker FS mencatat akumulasi Rp204,8 juta sebanyak 820 lot pada harga rata-rata Rp2.498. Broker TP mengoleksi Rp122,3 juta sebanyak 497 lot di harga rata-rata Rp2.470.

Selanjutnya broker YU tercatat membeli Rp31,7 juta sebanyak 64 lot di harga rata-rata Rp2.370. Broker QA melakukan pembelian Rp8,7 juta di harga rata-rata Rp2.950, sedangkan broker LG mencatat akumulasi Rp2 juta sebanyak 12 lot di harga rata-rata Rp2.065 per saham.

Di tengah derasnya akumulasi tersebut, tekanan distribusi memang masih terlihat dari sejumlah broker. Broker CC tercatat menjadi penjual terbesar dengan nilai distribusi mencapai Rp1,5 miliar. 

Tekanan jual berikutnya datang dari broker IF sebesar Rp914,3 juta, broker KZ Rp902,4 juta, serta broker ZP senilai Rp888 juta.

Selain itu, broker AG juga tercatat melepas saham FILM senilai Rp214,4 juta. Broker XA mendistribusikan Rp70,4 juta, broker YP sebesar Rp58,1 juta, broker AO Rp11,8 juta, broker PD Rp5 juta, hingga broker AI sebesar Rp967,5 ribu.

Laba Kuartal I 2026 Balik Positif

FILM  menunjukkan pemulihan kinerja pada kuartal I 2026 setelah berhasil membalikkan posisi rugi menjadi laba di tengah persaingan ketat industri hiburan. 

Merujuk laporan keuangan interim per 31 Maret 2026 yang dipublikasikan perusahan, FILM mencatat penjualan dan pendapatan usaha sebesar Rp150,66 miliar. Angka ini tumbuh dibanding periode yang sama tahun lalu yang senilai Rp122,46 miliar. 

Bersamaan dengan catatan positif pendapatan tersebut, FILM juga mampu menjaga efisiensi operasional yang membuat laba bruto meningkat menjadi Rp81,72 miliar dari sebelumnya Rp56,22 miliar.

Beban umum dan administrasi FILM pada tiga bulan pertama 2026 ini turun signifikan menjadi Rp64,61 miliar dibandingkan periode serupa tahun lalu yang mencapai Rp84,02 miliar.

FILM juga mampu membukukan penurunan beban lainnya menjadi Rp1,74 miliar dari sebelumnya Rp24,73 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Sementara pendapatnya lainnya sebesar Rp2,5 miliar.

Kondisi tersebut mampu membuat FILM membalikkan posisi rugi sebelum pajak menjadi laba sebesar Rp17,87 miliar, setelah pada kuartal I 2025 masih mencatat rugi sebelum pajak Rp37,23 miliar. 

Setelah dikurangi beban pajak, FILM  mencetak laba periode berjalan sebesar Rp8,96 miliar, berbalik positif dibandingkan rugi Rp20,29 miliar pada kuartal I 2025.

Sementara laba yang dapat diatribusikan kepada entitas induk mencapaiRp12,65 miliar dari sebelumnya rugi Rp9,05 miliar. Catatan ini sukses mendorong laba per saham dasar menjadi Rp1,16 dibanding periode tahun lalu yang masih negatif Rp0,91 per saham. 

Berpindah ke sisi neraca, FILM memiliki total aset sebesar Rp3,75 triliun per akhir Maret 2026. Angka ini tumbuh dibanding posisi akhir 2025 sebesar Rp3,74 triliun.

Catatan ini masih ditopang aset tidak lancar yang cukup besar, terutama goodwill senilai Rp1,06 triliun dan aset tak berwujud lainnya sebesar Rp410,07 miliar.

Sementara itu, kas dan setara kas FILM tercatat sebesar Rp189,77 miliar atau menyusut dari posisi akhir 2025 yang sebanyak Rp228,89 miliar.

 

Dari sisi liabilitas, total kewajiban FILM pada kuartal I 2026 sebesar Rp566,75 miliar, relatif stabil dibanding akhir 2025 yang sebanyak Rp561,98 miliar. Utang bank jangka pendek masih menjadi komponen terbesar dengan catatan Rp389,22 miliar. 

Adapun jumlah ekuitas FILM pada tiga bulan pertama 2026 tercatat Rp3,19 triliun, meningkat tipis dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp3,18 triliun. 

 

Perbaikan  kinerja keuangan FILM pada kuartal I 2026 mulai mengubah sentimen pasar terhadap saham Perseroan. Keberhasilan membalikkan rugi menjadi laba, pertumbuhan pendapatan, serta efisiensi operasional menjadi katalis utama yang mendorong akumulasi investor asing dalam beberapa pekan terakhir.

Namun demikian, tantangan FILM masih belum sepenuhnya selesai. Perseroan tetap harus menjaga konsistensi pertumbuhan pendapatan, keberhasilan proyek film dan serial, serta kemampuan mengelola beban operasional agar momentum turnaround ini dapat berlanjut hingga akhir tahun. 

Pasar juga akan mencermati kemampuan FILM menjaga arus kas dan memonetisasi pipeline konten yang masih besar di tengah persaingan industri hiburan yang semakin agresif.

Jika tren pemulihan laba mampu dipertahankan pada kuartal-kuartal berikutnya, FILM berpotensi kembali menjadi salah satu emiten sektor hiburan yang menarik dicermati investor. S

Sebaliknya, apabila pertumbuhan bisnis tidak konsisten, volatilitas saham FILM diperkirakan masih akan cukup tinggi seiring karakter industri hiburan yang sangat bergantung pada keberhasilan konten. 

Valuasi Tergolong Premium

Berdasarkan data Stockbit per 28 Mei 2026, FILM tercatat memiliki price to earnings ratio (PER) annualised mencapai 542,08 kali. Angka tersebut menunjukkan valuasi saham FILM masih sangat premium di tengah catatan kinerja kuartal I 2026.

Sementara itu, PER trailing twelve months (TTM) FILM masih berada di level  -116,60 kali. Bahkan rasio EV to EBITDA FILM tercatat mencapai 427,78 kali. 

Tidak hanya itu, price to sales (P/S) FILM juga mencapai 52,30 kali, sedangkan price to book value (PBV) berada di level 8,80 kali. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa harga saham FILM saat ini masih diperdagangkan jauh di atas nilai bukunya.

Di sisi lain, arus kas FILM juga masih menjadi perhatian pasar. Rasio price to cashflow (TTM) tercatat -218,62 kali dan price to free cashflow (TTM) -206,51 kali. 

Pada aspek per saham, FILM memiliki EPS annualised sebesar 4,65 dengan revenue per share mencapai 48,18. Sementara book value per share Perseroan tercatat sebesar 286,23 dengan cash per share sebesar 17,43. Adapun free cashflow per share FILM masih berada di zona negatif sebesar -12,20.

Meski valuasi saham tergolong mahal, struktur solvabilitas FILM sebenarnya masih relatif sehat. Debt to equity ratio (DER) Perseroan hanya sebesar 0,13 kali, menunjukkan tingkat utang FILM masih cukup rendah dibanding modal sendiri. Current ratio tercatat 1,53 kali, sedangkan quick ratio berada di level 0,67 kali.

Dari sisi profitabilitas, FILM mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada kuartal I 2026. Gross profit margin Perseroan mencapai 54,24 persen, operating profit margin sebesar 11,36 persen, dan net profit margin sebesar 8,40 persen. 

Margin tersebut menunjukkan bisnis FILM masih memiliki kemampuan menghasilkan laba operasional yang cukup baik ketika pendapatan mulai tumbuh.

Namun secara trailing, profitabilitas FILM masih berada dalam tekanan. Return on assets (ROA) Perseroan tercatat minus -6,26 persen, sedangkan return on equity (ROE) masih negatif -7,55 persen. 

 

Pergerakan Saham

Pada perdagangan Selasa, 26 Mei 2026, saham FILM ditutup di level Rp2.520 atau kembali ke pembukaan pasar hari tersebut. Dalam jangka pendek, tepatnya sepekan terakhir, saham emiten hiburan ini melonjak 31,59 persen. 

Meski mulai bangkit dalam jangka pendek, tekanan pada saham FILM sebenarnya masih sangat dalam. Dalam tiga bulan terakhir, saham ini masih ambles 70 persen. Bahkan secara year to date (ytd), FILM masih terjerembab 82,62 persen setelah sebelumnya sempat diperdagangkan di area Rp14.500 per saham.

Menariknya, di balik tekanan tersebut, saham FILM sebenarnya masih memiliki catatan historis yang cukup agresif dalam jangka panjang. 

Secara satu tahun saham ini masih menguat tipis 2,02 persen. Dalam tiga tahun, FILM masih mencatat kenaikan 17,76 persen, sementara dalam lima tahun terakhir saham ini masih melonjak hingga 497,16 persen.

Disclaimer

Data dan analisis yang disampaikan dalam pemberitaan ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti pergerakan harga saham, masuknya supply dan demand pasar, aksi pelaku besar, serta perubahan sentimen dan perilaku investor di pasar modal.

Analisis disusun untuk memberikan konteks mengenai struktur pasar, pola akumulasi dan distribusi, kondisi fundamental, serta perilaku pelaku pasar terhadap saham FILM, dan bukan merupakan ajakan membeli maupun menjual saham tertentu. 

Investor diimbau untuk tetap melakukan analisis secara mandiri, memperhatikan keterbukaan informasi resmi Perseroan, serta mempertimbangkan profil risiko dan strategi investasi masing-masing sebelum mengambil keputusan investasi. (*) 

 

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya