KABARBURSA.COM - Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) akan meluncurkan program Waste to Energy (WTE) yang rencananya akan diresmikan pada akhir Oktober 2025.
WTE yang disebut juga pengelolaan sampah menjadi listrik ini, dijalankan Danantara karena dinilai bisa mengurangi emisi gas rumah kaca sampai 80 persen hingga bisa menghasilkan energi terbarukan.
CEO Danantara, Rosan Roeslani menyebut program WTE rencananya akan dilangsungkan di 33 kota, seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, dan Bali.
Kendati begitu, Rosan menegaskan tahap pertama proyek lebih dulu dimulai di Jakarta dan akan merembet ke kota lainnya.
Dalam program ini, setiap unit pengelolaan akan menggarap minimal 1.000 ton sampah per hari. Dari pengelolan itu, akan menghasilkan sekiranya 15 megawatt (MW) dan diperkirakan bisa memasok 20 ribu rumah tangga.
Gencarnya agenda Danantara mengakselerasi proyek pengolahan sampah menjadi listrik menyalakan sentimen positif ke emiten yang punya kesiapan teknis dan finansial.
BRI Danareksa Sekuritas, menyampaikan beberapa saham berpotensi diuntungkan dari inisiatif ini. Salah dua emiten yang diperkirakan bisa mengambil kesempatan ini ialah OASA dan TOBA.
"OASA yang sudah terlibat dalam proyek PLTSa, serta TOBA yang terus memperluas portofolio energi bersihnya," tulis BRI Danareksa dalam risetnya, Minggu, 5 Oktober 2025.
Proyeksi OASA dan TOBA
PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) bisa menjadi yang terdepan dalam proyek WTE Danantara karena emiten ini memiliki proyek WTE yang sudah terstruktur.
Dalam keterangan resmi di situs perusahaan, OASA melalui unit usahanya yakni PT Indoplas Energi Hijau, menggandeng raksasa teknologi Tiongkok China Tianying (CNTY) untuk membangun PSEL Cipeucang, Tangerang Selatan bernilai sekitar Rp2,6 triliun.
Kerja sama dan lokasi sudah diumumkan ke publik, menjadikan OASA bukan sekadar kandidat, melainkan pemain dengan pipeline yang nyata dan mitra teknologi global, tepat dengan kebutuhan Danantara yang mengedepankan replikasi skala di banyak kota.
Di sisi lain, PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) direkomendasikan karena kapabilitas korporasi dan kesiapan strategis.
Dalam keterangan pemaparan kinerja semester I 2025, manajemen TOBA menyampaikan bisnis pengelolaan sampah mulai menunjukkan kontribusi
positif secara signifikan.
Disebutkan, unit usaha ini membukukan pendapatan sebesar USD59,6 juta
dengan EBITDA mencapai USD 10 juta hingga akhir Juni 2025.
Dengan demikian, margin EBITDA tercapai sebesar 17 persen, mencerminkan efisiensi dan potensi profitabilitas yang lebih
tinggi dibandingkan lini batubara TBS.
Capaian ini menjadi sinyal awal keberhasilan arah transformasi TBS dan memperkuat posisi sektor ini sebagai salah satu penggerak pertumbuhan
berkelanjutan ke depan.
Akuisisi Sembcorp Environment Pte. Ltd. pada Maret dan Sembcorp Enviro
Facility Pte. Ltd. pada Mei 2025, turut memperluas kapabilitas TOBA di sektor pengolahan limbah skala regional.
Direktur TOBA, Juli Oktarina mengatakan pihaknya melihat bisnis pengelolaan sampah sebagai elemen kunci dalam transformasi TBS ke depan.
Selain memiliki potensi pertumbuhan yang kuat, kata dia, sektor ini
memberikan kontribusi nyata terhadap lingkungan dan kualitas hidup masyarakat.
Dengan kapabilitas dan skala yang kami miliki saat ini, kami percaya bisnis ini akan menjadi salah satu motor penggerak utama pertumbuhan jangka panjang TBS,” ujar Juli.
SVP Corporate Strategy & Investor Relations, Nafi Sentausa mengakui jika TOBA sebenarnya sudah tertarik terjun ke bisnis pengelolaan sampah menjadi listrik sejak tahun 2018.
Hal tersebut disampaikan karena manajemen TOBA telah melihat peluang bisnis tersebut dalam beberapa waktu ke depan.
Kinerja Keuangan OASA dan TOBA
Merujuk laporan keuangan di keterbukaan informasi, OASA mencatat pendapatan bersih sebesar Rp24,5 miliar, turun 38,6 persen year on year dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp39,9 miliar. Penurunan terutama karena melemahnya lini jasa konstruksi menjadi Rp21,16 miliar (sebelumnya Rp25,82 miliar).
Di saat yang sama, beban pokok hanya turun tipis menjadi Rp20,88 miliar (dari Rp19,63 miliar), sehingga laba kotor menyusut tajam ke Rp3,62 miliar (dari Rp20,30 miliar)
Pindah ke TOBA, pada semester I 2025 pendapatan konsolidasian emiten ini tercatat sebesar USD172,2 juta, menurun dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar USD248,7 juta.
Penurunan ini utamanya disebabkan oleh menurunnya volume penjualan segmen pertambangan batubara dari 1,7 juta ton menjadi 0,7 juta ton, serta turunnya harga jual rata-rata dari USD83 per ton
menjadi USD52,9 per ton.
Tren penurunan harga ini sejalan dengan pergerakan indeks harga batubara global yang terus melandai sejak tahun lalu. Sementara itu, penurunan volume
penjualan terjadi karena melemahnya permintaan batubara secara global dan keputusan Perseroan untuk menyesuaikan strategi penjualan demi menanti momentum harga yang lebih menguntungkan.
Segmen bisnis pertambangan dan perdagangan batubara mencatatkan pendapatan sebesar USD91,6 juta atau berkontribusi 53 persen terhadap total pendapatan Perseroan, menurun dari 82 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada paruh pertama 2025, TOBA mencatat rugi bersih sebesar USD115,3 juta. Angka ini sebagian besar disebabkan oleh pencatatan rugi non-kas dari divestasi dua anak usaha pembangkit listrik tenaga uap—yakni PT Minahasa Cahaya Lestari (MCL) dan PT Gorontalo Listrik Perdana (GLP)—yang diselesaikan pada Maret dan Mei 2025.
Rugi non-kas dari divestasi ini tercatat sebesar USD96,9 juta. Kerugian tersebut tidak berdampak pada arus kas Perseroan, justru menghasilkan tambahan dana segar berupa pemasukan ke dalam kas TOBS sebesar USD123,6 juta.
Kinerja Saham
Saham OASA dan TOBA sama-sama menunjukkan reli kuat dalam jangka menengah–panjang, meski pergerakan jangka pendek cenderung beragam.
OASA ditutup menguat sebesar 4,17 persen atau naik 10 poin ke level 250 pada perdagangan terakhir, Jumat, 3 Oktober 2025. Sementara TOBA ditutup stagnan di level 1.240.
Mengutip data Stockbit, OASA mengalami kenaikan sebesar 9,65 persen dalam sepekan. Sedangkan dalam sebulan, saham ini juga naik 1,63 persen.
Dalam tiga bulan terakhir, OASA turut menguat 40,45 persen, 96,85 persen dalam enam bulan, 77,30 persen sepanjang tahun berjalan (YTD), 81,16 persen selama setahun, 37,36 persen tiga tahun, dan +247,22 persen dalam lima tahun.
Sementara TOBA mengalami penurunan -1,59 persen dalam sepekan terakhir. Namun, saham ini masih hijau 0,81 persen dalam sebulan, 51,22 persen tiga bulan, dan 297,44 persen dalam enam bulan.
Untuk YTD, saham ini juga menguat signifikan sebesar 211,56 persen, pun dalam setahun sebesar 113,79 persen, 68,71 persen dalam tiga tahun, 202,44 persen lima tahun, dan 476,74 persen dalam sepuluh tahun terakhir.