Insight Daily 27 Nov 2025 Penulis: KabarBursa.com

Dana Global Serbu Saham TINS, Aktivitas Beli Menguat

Berdasarkan data broker summary di Stockbit, investor asing terlihat melakukan akumulasi besar dan menempatkan TINS pada zona big bccumulation dalam indikator broker action.

KABARBURSA.COM - Saham PT Timah Tbk (TINS) mencatat arus masuk dana asing yang signifikan dalam tiga hari perdagangan terakhir, periode 24–26 November 2025.Berdasarkan data broker summary di Stockbit, investor asing terlihat melakukan akumulasi besar dan menempatkan TINS pada zona big bccumulation dalam indikator broker action.Saham TINS menunjukkan penguata...

Perusahaan PT Timah Tbk. (Foto: Dok. Perusahaan)
Perusahaan PT Timah Tbk. (Foto: Dok. Perusahaan)

Insight Navigator

  1. 01 Pergerakan Saham
  2. 02 TINS Dorong Penyerapan Domestik, Baru 5 Persen Produk Diserap Industri Lokal

KABARBURSA.COM - Saham PT Timah Tbk (TINS) mencatat arus masuk dana asing yang signifikan dalam tiga hari perdagangan terakhir, periode 24–26 November 2025.

Berdasarkan data broker summary di Stockbit, investor asing terlihat melakukan akumulasi besar dan menempatkan TINS pada zona big bccumulation dalam indikator broker action.

Selama periode tersebut, pembelian asing didominasi oleh broker Mandiri Sekuritas (CC), yang tercatat menghimpun saham TINS senilai Rp37,9 miliar melalui 119.400 lot pada harga rata-rata Rp3.185 per saham.

Broker UBS Sekuritas Indonesia (AK) mengikuti dengan nilai pembelian Rp33,1 miliar, setara 105.400 lot dengan harga rata-rata Rp3.181.

Aksi akumulasi juga dilakukan Maybank Sekuritas Indonesia atau ZP, yang membeli Rp25,1 miliar atau 81.400 lot di harga rata-rata Rp3.081.

Disusul J.P. Morgan Sekuritas Indonesia (BK) dengan akumulasi Rp24,3 miliar sebanyak 74.100 lot pada harga rata-rata Rp3.261.

Jika dilihat lebih jauh, JP Morgan telah mengakumulasi saham TINS sejak 7 November 2025. Sajak tanggal itu, broker dengan kode BK ini secara total membeli saham TINS seharga Rp29,3 miliar di harga rata-rata Rp3.152.

Pembelian investor asing lainnya juga datang dari sejumlah broker seperti Tuntun Sekuritas Indonesia (QA), OCBC Sekuritas Indonesia (TP), Indo Premier Sekuritas (PD), hingga Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (LG).

Pergerakan Saham

Saham TINS menunjukkan penguatan yang konsisten dan solid di seluruh rentang waktu perdagangan. Pada periode sepekan, saham ini membukukan kenaikan 7,10 persen di rentang harga Rp2.980–Rp3.350.

Kenaikan semakin besar dalam periode satu bulan, di mana saham TINS mencatat lonjakan 27,69 persen, bergerak dari level Rp2.340 hingga menyentuh Rp3.400. Pada periode tiga bulan, reli TINS meningkat signifikan dengan kenaikan mencapai 228,71 persen, dari titik terendah Rp985 menuju area Rp3.400.

Dalam rentang enam bulan, harga saham TINS menguat 181,36 persen, bergerak dari area Rp980 ke Rp3.400. Sementara itu, performa Year-to-Date (YTD) juga mencatat pertumbuhan kuat sebesar 210,28 persen, naik dari posisi awal tahun di Rp825 ke level Rp3.400.

Untuk periode 12 bulan, harga TINS telah meningkat 184,98 persen. Kenaikan harga yang luas juga terlihat pada timeframe lebih panjang.

TINS mendapatkan penilaian positif dari para analis pasar modal. Berdasarkan data konsensus analis di platform Stockbit per Kamis, 27 November 2025, seluruh analis yang tercatat—sebanyak delapan analis—memberikan rekomendasi Buy untuk saham TINS. Tidak ada satu pun rekomendasi Hold maupun Sell.

Pada bagian Analyst Rating, indikator memperlihatkan tingkat keyakinan yang solid terhadap prospek TINS, di mana seluruh analis sepakat bahwa saham emiten tambang timah tersebut layak dikoleksi pada harga saat ini.

Data juga menunjukkan bahwa target harga rata-rata analis berada di level Rp3.327, sedikit di atas harga pasar terkini yang berada di posisi Rp3.320 per saham. Sementara itu, kisaran target harga yang diberikan analis cukup lebar, menggambarkan perbedaan skenario antara kondisi optimistis dan konservatif.

Pada skenario terbaik, analis menempatkan target harga tertinggi di Rp5.000, mencerminkan potensi kenaikan yang signifikan jika fundamental perusahaan dan kondisi pasar komoditas mendukung. Di sisi lain, target harga terendah tercatat di Rp1.400, yang menjadi batas konservatif dalam situasi tekanan pasar yang lebih besar.

TINS Dorong Penyerapan Domestik, Baru 5 Persen Produk Diserap Industri Lokal

Di tengah besarnya volume ekspor yang mencapai 95 persen, PT Timah Tbk (TINS) terus berupaya memperkuat pasar domestik agar produk timah dan turunannya lebih banyak dimanfaatkan oleh industri nasional. Saat ini, penyerapan timah di dalam negeri baru mencapai sekitar 5 persen, menunjukkan masih terbatasnya penggunaan timah oleh sektor industri di Indonesia.

Sekretaris Perusahaan PT Timah Tbk, Rendi Kurniawan, menjelaskan bahwa rendahnya proporsi pasar domestik bukan karena keterbatasan pasokan, melainkan karena belum berkembangnya kebutuhan industri dalam negeri terhadap produk timah.

“Ini sebenarnya persoalan supply dan demand. Kalau kebutuhan di dalam negeri meningkat, kami siap menyesuaikan. Mau 10 persen atau 20 persen untuk pasar domestik, bisa saja selama demand-nya ada,” ujar Rendi di Tins Boutique Resto, Kepulauan Bangka Belitung pada Sabtu, 18 Oktober 2025 malam.

Menurutnya, kemampuan PT Timah untuk memasok pasar lokal sudah sangat memadai. Namun, yang perlu diperhatikan adalah kesiapan sektor hilir untuk menyerap hasil produksi tersebut. Ia menilai, kunci utama peningkatan konsumsi domestik terletak pada berkembangnya investasi industri manufaktur yang menggunakan bahan baku timah.

“Penggunaan produk timah di Indonesia perlu diperbanyak lagi. Ini berkaitan dengan investasi dan pertumbuhan sektor industri. Kalau industrinya tumbuh, demand-nya tinggi, kami pasti mampu untuk melakukan supply di dalam negeri,” ujar Rendi.

PT Timah sendiri terus berupaya mencari peluang agar produk logam dan turunannya bisa lebih banyak digunakan oleh industri nasional. Perusahaan juga membuka ruang kerja sama dengan pelaku industri yang berpotensi menggunakan bahan baku timah, termasuk sektor elektronik, otomotif, dan kimia.

Sementara itu, Direktur PT Timah Industri, Ria Wardhani Pawan, mengungkapkan bahwa salah satu penyebab rendahnya serapan timah di dalam negeri adalah karena masih terbatasnya industri yang menggunakan produk turunan berbasis timah, seperti tin chemical atau tin stabilizer.

“Untuk produk tin chemical, terutama tin stabilizer, penggunaannya di Indonesia masih kecil, hanya sekitar 15 persen dari total kebutuhan PVC. Saat ini mayoritas penggunaannya ada di shrink film, seperti label botol minuman atau kemasan baterai,” kata Ria ditemui di PT Timah Industri, Cilegon, Jawa Barat pada Rabu, 15 Oktober 2025.

Menurut Ria, tantangan terbesar terletak pada banyaknya substitusi bahan stabilizer lain yang lebih murah seperti timbal (lead), kalsium zinc, atau kalsium barium. Harga tin stabilizer yang relatif lebih tinggi menjadi salah satu faktor pembatas.

“Tin stabilizer memang lebih mahal karena mengandung logam timah. Mayoritas pabrikan PVC di Indonesia masih menggunakan stabilizer berbasis timbal atau kalsium zinc karena harganya lebih murah,” kata Ria.

Meski demikian, PT Timah Industri tidak tinggal diam. Perusahaan telah menggencarkan inisiatif untuk memperluas penggunaan produk ramah lingkungan di dalam negeri dengan menggandeng sejumlah pelaku industri, termasuk produsen pipa air minum.

“Kami sudah mengajak beberapa pabrikan pipa air minum untuk mulai menggunakan stabilizer bebas timbal. Kami juga berharap produk tersebut nantinya bisa menjadi bagian dari Standar Nasional Indonesia (SNI), sehingga industri pipa air minum diwajibkan menggunakan stabilizer yang ramah lingkungan,” ujarnya.

Ria menjelaskan, dari total penyerapan domestik yang hanya 5 persen, sektor-sektor pengguna timah di Indonesia meliputi industri shrink film, kemasan, elektronik, dan otomotif.

“Untuk tin chemical, penggunaannya banyak di shrink film, label botol, dan kemasan baterai. Sementara untuk produk solder, lebih banyak diserap oleh industri elektronik dan otomotif,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa peningkatan konsumsi domestik terhadap produk timah sangat penting untuk memperkuat ketahanan industri nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap ekspor. Selain itu, penggunaan timah dalam negeri juga dapat mendorong rantai nilai yang lebih panjang serta membuka peluang investasi baru di sektor hilir.(*)
 

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya