Insight Daily 18 May 2026 Penulis: KabarBursa.com

Dana Global Mengalir ke TINS di Tengah Potensi Kenaikan

Akumulasi investor global mulai terlihat pada saham TINS setelah laba kuartal I 2026 melonjak tajam

KABARBURSA.COM - Saham PT Timah (Persero) Tbk (TINS) mulai ramai dikoleksi asing di tengah kinerja positif di kuartal I 2026. Menariknya, harga saham produsen dan eksportir logam timah ini masih diperdagangkan di bawah rata-rata target harga analis.Sejak mengumumkan kinerja keuangan kuartal I 2026 pada 30 April, saham TINS mulai diakumulasi investor asing me...

Perusahaan PT Timah Tbk. (Foto: Dok. Perusahaan)
Perusahaan PT Timah Tbk. (Foto: Dok. Perusahaan)

Insight Navigator

  1. 01 Masih di Bawah Target Analis
  2. 02 Laba TINS Melonjak 1,5 Triliun di Kuartal I 2026
  3. 03 ⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠Pergerakan Saham

KABARBURSA.COM - Saham PT Timah (Persero) Tbk (TINS) mulai ramai dikoleksi asing di tengah kinerja positif di kuartal I 2026. Menariknya, harga saham produsen dan eksportir logam timah ini masih diperdagangkan di bawah rata-rata target harga analis.

Sejak mengumumkan kinerja keuangan kuartal I 2026 pada 30 April, saham TINS mulai diakumulasi investor asing melalui beberapa broker besar. 

Dalam periode 30 April hingga 13 Mei 2026, aksi akumulasi asing terhadap saham TINS terlihat cukup agresif.  Mengacu pada data perdagangan Stockbit, broker ZP tercatat menjadi pembeli terbesar saham TINS dengan nilai akumulasi mencapai Rp94,9 miliar atau sekitar 247,8 ribu lot di harga rata-rata Rp3.724 per saham.

Di posisi berikutnya, broker KZ membukukan pembelian senilai Rp83,9 miliar dengan volume sekitar 226,3 ribu lot pada harga rata-rata Rp3.704.

Aksi akumulasi juga terlihat melalui broker AK yang mencatat pembelian Rp48,1 miliar atau sekitar 121,4 ribu lot di harga rata-rata Rp3.720. Sementara broker YU mengoleksi saham TINS senilai Rp29,8 miliar dengan volume 86,6 ribu lot pada harga rata-rata Rp3.555.

Broker TP turut melakukan akumulasi sebesar Rp27,7 miliar atau sekitar 75,2 ribu lot pada harga rata-rata Rp3.693. Kemudian broker YP mencatat pembelian Rp15,1 miliar dengan volume 45 ribu lot di harga rata-rata Rp3.470.

Selain itu, broker KK juga masuk dalam daftar pembeli dengan nilai Rp556,8 juta atau sekitar 1,5 ribu lot pada harga rata-rata Rp3.716. Broker MG mencatat akumulasi Rp389 juta di harga rata-rata Rp3.890, sementara broker IF membukukan pembelian Rp281,2 juta pada harga rata-rata Rp3.425.

Broker KI turut mencatat pembelian senilai Rp240,6 juta dengan harga rata-rata Rp3.402 per saham.

Di sisi lain, tekanan jual terbesar tercatat berasal dari broker CC dengan nilai distribusi mencapai Rp86,5 miliar. Aksi distribusi juga dilakukan broker BK sebesar Rp12,7 miliar, disusul broker PD senilai Rp2,8 miliar.

Broker BB tercatat melepas saham TINS senilai Rp2,4 miliar, sementara broker AG melakukan penjualan sebesar Rp844,3 juta. Selain itu, broker DP membukukan distribusi Rp417,2 juta dan broker SQ sebesar Rp361,4 juta.

Tekanan jual lainnya berasal dari broker CP senilai Rp81,8 juta, broker EP Rp76,6 juta, serta broker LG sebesar Rp56,6 juta. Meski terdapat aksi distribusi dari sejumlah broker, kekuatan akumulasi pada sisi beli terlihat masih mendominasi pergerakan transaksi saham TINS dalam periode tersebut.

Masih di Bawah Target Analis

Fenomena masuknya dana asing ke saham TINS dinilai menarik karena terjadi ketika harga saham Perseroan masih bergerak di bawah rata-rata target harga sejumlah analis.

Kondisi tersebut memunculkan pandangan bahwa valuasi saham emiten tambang pelat merah itu masih belum sepenuhnya mencerminkan prospek bisnis serta potensi perbaikan kinerja Perseroan ke depan.

Berdasarkan data Stockbit dikutip  Minggu, 17 Mei 2026, sebanyak 12 analis memberikan rekomendasi buy terhadap saham TINS. Tidak ada rekomendasi hold maupun sell yang tercatat dalam konsensus tersebut.

Konsensus positif itu muncul ketika harga saham TINS masih berada di level Rp3.670 pada perdagangan terakhir pekan lalu atau Rabu, 13 Mei 2026.

Sementara itu, rata-rata target harga analis terhadap saham TINS berada di kisaran Rp5.086 per saham. Angka tersebut mencerminkan potensi kenaikan lebih dari 38 persen dibandingkan posisi harga saat ini.

Bahkan, target harga tertinggi analis tercatat mencapai Rp5.500 per saham, sedangkan target terendah berada di level Rp4.800. Artinya, bahkan proyeksi paling konservatif analis masih berada cukup jauh di atas harga pasar TINS saat ini.

Situasi ini memperlihatkan bahwa pasar kemungkinan masih memberikan diskon valuasi terhadap saham TINS di tengah berbagai ketidakpastian global yang membayangi sektor komoditas.

Namun di sisi lain, sejumlah analis tampaknya melihat adanya peluang pemulihan yang cukup besar, baik dari sisi operasional maupun prospek industri timah global.

Laba TINS Melonjak 1,5 Triliun di Kuartal I 2026

TINS) mencatat lonjakan kinerja keuangan pada kuartal I 2026 dengan membukukan laba bersih sebesar Rp1,5 triliun. Capaian ini ditopang oleh peningkatan produksi yang signifikan, optimalisasi operasional, serta perbaikan tata kelola perusahaan.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 31 Maret 2026, pendapatan perseroan tercatat sebesar Rp5,47 triliun, melonjak 160,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp2,10 triliun. Kenaikan ini sejalan dengan meningkatnya volume penjualan serta harga jual rata-rata logam timah di pasar global.

Kinerja operasional meningkat tercermin dari laba usaha yang mencapai Rp1,88 triliun, naik signifikan dari Rp148 miliar pada kuartal I 2025. Sementara itu, EBITDA tercatat sebesar Rp2,1 triliun atau tumbuh lebih dari 450 persen secara tahunan dari Rp348 miliar.

Adapun laba bersih sebesar Rp1,5 triliun tersebut setara dengan 595 persen dari target yang telah ditetapkan perseroan sebesar Rp252 miliar, mencerminkan realisasi yang jauh melampaui ekspektasi awal.

Direktur Utama Restu Widiyantoro menyampaikan bahwa capaian ini tidak terlepas dari konsistensi strategi efisiensi dan optimalisasi di seluruh lini bisnis.

“Pada kuartal I 2026, Perseroan membukukan kinerja keuangan yang solid, ditopang oleh pencapaian operasional yang signifikan serta konsistensi strategi optimalisasi yang berkelanjutan di seluruh lini bisnis. Sehingga Perseroan mampu melampaui target laba yang ditetapkan,” ujarnya dalam keterangan resminya dikutip Selasa, 5 Mei 2026.

Dari sisi neraca, total aset perseroan meningkat 11,62 persen menjadi Rp15,23 triliun dari Rp13,64 triliun pada akhir 2025. Liabilitas tercatat sebesar Rp5,27 triliun atau naik tipis 1 persen dibandingkan posisi akhir tahun lalu. Sementara itu, ekuitas meningkat 18,4 persen menjadi Rp9,96 triliun dari Rp8,41 triliun, seiring dengan pertumbuhan laba yang signifikan.

Rasio keuangan perseroan juga menunjukkan kondisi yang sehat. Quick ratio tercatat sebesar 105,1 persen, current ratio 276,1 persen, debt to asset ratio 6,9 persen, serta debt to equity ratio 10,6 persen.

Ia membeberkan dari sisi operasional, produksi bijih timah melonjak 96 persen menjadi 6.312 ton Sn dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 3.225 ton Sn. Peningkatan ini didorong oleh penambahan unit operasi, baik Kapal Isap Produksi (KIP), Ponton Isap Produksi (PIP), maupun tambang darat kemitraan.

Selain itu, beroperasinya Kapal Keruk Singkep 1 serta penguatan pengawasan wilayah izin usaha pertambangan turut mendukung peningkatan produksi. Dukungan satuan tugas dari pemerintah juga menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran operasional perseroan.

Produksi logam timah tercatat naik 82 persen menjadi 5.630 metrik ton Sn dari sebelumnya 3.095 metrik ton Sn. Sementara itu, penjualan logam timah meningkat 113 persen menjadi 6.009 metrik ton dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 2.824 ton.

Harga jual rata-rata logam timah juga mengalami kenaikan signifikan menjadi USD49.221 per metrik ton, naik 51 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar USD32.495 per metrik ton.

Dari sisi pasar, penjualan logam timah masih didominasi oleh ekspor sebesar 97 persen, sementara pasar domestik hanya menyumbang 3 persen. Adapun negara tujuan utama ekspor meliputi China sebesar 48 persen, India 11 persen, Korea Selatan 10 persen, Italia 6 persen, Singapura 5 persen, dan Belanda 4 persen.

Perseroan juga terus melakukan berbagai langkah strategis untuk menjaga tren kinerja positif, termasuk peningkatan eksplorasi melalui bor pandu di tambang darat serta optimalisasi kinerja armada tambang laut dan fasilitas pengolahan.
 

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠
Pergerakan Saham

Pergerakan saham TINS saat ini menunjukkan adanya kombinasi antara fundamental yang kuat, akumulasi investor asing, serta valuasi pasar yang dinilai masih berada di bawah ekspektasi analis.

Lonjakan laba, peningkatan produksi, hingga dominasi aksi beli dari sejumlah broker besar menjadi pertanda bahwa pelaku pasar mulai merespons prospek pemulihan dan potensi pertumbuhan Perseroan ke depan.

Meski demikian, dinamika transaksi saham dan pola akumulasi-distribusi yang terjadi bersifat sangat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu seiring perubahan supply di pasar, sentimen global, maupun perilaku investor.

Karena itu, analisis ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan membeli atau menjual saham, melainkan untuk memberikan konteks mengenai struktur pasar, arah pergerakan dana, serta perilaku pelaku pasar terhadap saham TINS di tengah momentum kinerja yang sedang menguat. (*) 
 

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya