KABARBURSA.COM - PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) mencatatkan akumulasi investor asing sepanjang pekan ini periode 2- 5 Maret 2026.
Saham MIDI menunjukkan pergerakan yang fluktuatif dalam beberapa periode perdagangan terakhir. Per kemarin, saham emiten ritel ini ditutup menguat 3,03 persen atau naik 8 poin ke level Rp272.
Namun jika ditarik ke periode yang lebih panjang, tren pelemahan masih cukup dominan. Dalam satu pelan terakhir, saham MIDI tercatat turun 9,93 persen dengan posisi berada di tentang Rp264-Rp312.
Tekanan juga terlihat pada kinerja satu bulan terakhir. Dalam periode ini, saham MIDI terkoreksi lebih dalam yakni 15,53 persen dengan posisi harga berada di Rp264 hingga Rp344.
Dalam horizon waktu tiga bulan, pelemahan saham semakin terlihat dengan penurunan mencapai 28,42 persen. Rentang harga dalam periode ini tercatat bergerak antara Rp264 hingga Rp392.
Tekanan bahkan lebih besar terlihat pada kinerja enam bulan. Dalam periode tersebut saham MIDI telah terkoreksi 38,18 persen, dengan kisaran harga bergerak antara Rp264 hingga Rp468.
Secara year-to-date (YTD), saham MIDI juga masih mencatat pelemahan cukup dalam sebesar 30,26 persen, dengan rentang harga antara Rp264 hingga Rp386 sepanjang tahun berjalan.
Kinerja satu tahun terakhir pun menunjukkan pola serupa. Saham perusahaan ritel yang mengelola jaringan minimarket tersebut tercatat turun 22,29 persen, dengan rentang harga perdagangan antara Rp264 hingga Rp486.
Jika ditarik lebih jauh ke periode tiga tahun, saham MIDI juga masih mengalami melemah sebesar 31,84 persen, dengan rentang harga Rp264 hingga Rp530.
Meski demikian, jika dilihat dalam horizon investasi yang lebih panjang, saham ini masih mencatat kinerja positif. Dalam periode lima tahun, MIDI membukukan kenaikan 36,65 persen, dengan rentang harga bergerak antara Rp155 hingga Rp530.
Kinerja yang jauh lebih kuat terlihat dalam 10 tahun terakhir, di mana saham MIDI tercatat melonjak 266,15 persen dengan rentang harga perdagangan antara Rp59 hingga Rp530.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa meskipun saham MIDI tengah mengalami tekanan dalam jangka pendek hingga menengah, secara historis saham ini masih memberikan kinerja positif dalam horizon investasi jangka panjang.
Akumulasi Investor Asing
Saham MIDI dalam beberapa hari terakhir menunjukkan adanya aktivitas akumulasi dari sejumlah broker besar. Mengutip data Stockbit periode 2 Maret hingga 5 Maret 2026, memperlihatkan dominasi transaksi beli dari investor asing melalui beberapa broker.
Berdasarkan data pada papan broker summary, CC tercatat menjadi pembeli terbesar saham MIDI selama periode tersebut. Broker ini membukukan nilai pembelian mencapai Rp3,7 miliar dengan volume sekitar 133,7 ribu lot pada harga rata-rata Rp279 per saham.
Besarnya nilai transaksi tersebut menempatkan CC sebagai broker dengan kontribusi akumulasi terbesar dalam periode perdagangan tersebut.
Di posisi berikutnya, ZP juga mencatat aktivitas pembelian signifikan. Broker ini membukukan transaksi beli senilai Rp2,2 miliar dengan volume sekitar 77,1 ribu lot pada harga rata-rata Rp280 per saham.
Selanjutnya, AK turut mencatatkan aktivitas pembelian yang cukup besar. Broker ini membukukan nilai transaksi beli sebesar Rp1,8 miliar dengan volume mencapai 65,7 ribu lot pada harga rata-rata Rp277 per saham.
Selain itu, broker BK juga tercatat melakukan pembelian saham MIDI dengan nilai transaksi sekitar Rp496 juta dengan volume 17,7 ribu lot pada harga rata-rata Rp278 per saham.
Sementara broker AG turut menambah daftar pembeli dengan nilai akumulasi sekitar Rp150 juta dan volume 5,3 ribu lot di harga rata-rata Rp282 per saham.
Beberapa broker lain juga terlihat melakukan pembelian meskipun dalam nilai yang lebih kecil. Broker YP tercatat membeli saham MIDI senilai sekitar Rp9,6 juta dengan volume 335 lot pada harga rata-rata Rp287 per saham. Kemudian broker HP mencatat transaksi beli sekitar Rp2,9 juta dengan volume 100 lot pada harga rata-rata Rp290 per saham.
Di sisi lain, broker HD dan NI juga muncul dalam daftar pembeli meskipun dengan nilai yang relatif kecil. Broker HD membukukan pembelian sekitar Rp1,8 juta dengan volume 73 lot pada harga rata-rata Rp281, sementara broker NI mencatat transaksi beli sekitar Rp1 juta dengan volume 35 lot pada harga rata-rata Rp294 per saham.
Sementara itu, pada sisi penjualan, aktivitas distribusi terlihat relatif sangat terbatas. YU tercatat sebagai satu-satunya broker sepanjang pekan ini yang melakukan penjualan saham MIDI dengan nilai transaksi sekitar Rp133,1 juta dengan volume 4,5 ribu lot. Nilai penjualan tersebut jauh lebih kecil dibandingkan total akumulasi yang dilakukan oleh broker-broker pembeli.
Aktivitas akumulasi oleh sejumlah broker besar ini dapat menjadi sinyal bahwa saham MIDI tengah menarik perhatian pelaku pasar setelah mengalami tekanan harga dalam beberapa periode sebelumnya.
Secara umum, pola transaksi broker dalam beberapa hari terakhir memperlihatkan kecenderungan adanya pengumpulan saham pada harga yang relatif stabil.
Jika tren akumulasi ini berlanjut, saham MIDI berpotensi mengalami peningkatan aktivitas perdagangan seiring meningkatnya minat investor terhadap sektor ritel domestik.
Namun demikian, dinamika pergerakan saham tetap akan dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik sentimen pasar secara keseluruhan, kinerja fundamental perusahaan, maupun pergerakan sektor ritel. Para pelaku pasar pun cenderung akan mencermati kelanjutan pola transaksi broker untuk melihat apakah akumulasi tersebut akan berlanjut dalam beberapa sesi perdagangan berikutnya.
Kinerja Keuangan Kuartal III 2025
Midi mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan hingga kuartal III 2025. Merujuk data laporan yang telah dipublikasikan, Perseroan membukukan pendapatan neto RpRp15,27 triliun, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp14,69 triliun.
Midi mencatatkan laba bruto sebesar Rp3,95 triliun, naik tipis dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp3,91 triliun.
Pada sembilan bulan pertama 2025, beban pokok pendapatan Midi tercatat sebesar Rp11,3 triliun. Angka ini naik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp10,78 triliun.
Sementara itu, dari sisi operasional, beban penjualan dan distribusi tercatat sebesar Rp3,02 triliun, sedikit lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp3,11 triliun.
Dengan kombinasi pertumbuhan pendapatan dan efisiensi biaya, laba usaha Midi meningkat menjadi Rp766,99 miliar dibanding Rp608,89 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu hingga akhir September 2025, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp590,72 miliar, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp466,84 miliar.
Secara keseluruhan, total laba bersih periode berjalan tercatat sebesar Rp590,72 miliar, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp424,05 miliar.
Dari sisi posisi keuangan, total aset lancar perusahaan mencapai Rp3,58 triliun per 30 September 2025. Komponen terbesar aset lancar berasal dari persediaan yang mencapai Rp2,51 triliun, mencerminkan karakteristik bisnis ritel yang sangat bergantung pada ketersediaan stok barang di jaringan gerai.
Sementara itu, kas dan bank tercatat sebesar Rp520,72 miliar, meningkat dibandingkan posisi akhir 2024 yang sebesar Rp378,12 miliar. Peningkatan kas ini menunjukkan likuiditas perusahaan yang relatif lebih kuat untuk mendukung kebutuhan operasional maupun ekspansi bisnis. (*)