KABARBURSA.COM – PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) atau Surge menjadi salah satu emiten yang menarik perhatian dana global atau investor asing pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat, 19 Juni 2026.
Pada perdagangan tersebut, saham WIFI ditutup positif sebesar 2,40 persen atau naik 40 poin ke level Rp1.075. Menguatnya saham emiten teknologi itu tidak lepas dari aksi akumulasi dari investor asing melalui sejumlah broker.
Merujuk data Stockbit, aksi akumulasi asing pada perdagangan akhir pekan ini dipimpin oleh broker Mandiri Sekuritas (CC) dengan nilai pembelian bersih mencapai Rp3,2 miliar. Broker ini mengumpulkan saham WIFI sebanyak 18,7 ribu lot pada harga pembelian rata-rata Rp1.690 per saham.
Posisi kedua ditempati oleh UBS Sekuritas Indonesia (AK) yang membukukan nilai beli bersih sebesar Rp1,6 miliar. Broker AK terpantau menyerap sebanyak 9,1 ribu lot saham dengan harga rata-rata pelaksanaan di level Rp1.688 per saham.
Selanjutnya, broker Maybank Sekuritas Indonesia (ZP) mengekor di urutan ketiga dengan nilai transaksi beli bersih yang lebih mini sebesar Rp122,5 juta. Transaksi tersebut mencakup volume sebanyak 723 lot pada harga rata-rata Rp1.695 per saham.
Dua broker lain yang melengkapi jajaran pembeli bersih asing adalah Panin Sekuritas Tbk (GR) senilai Rp82,5 juta dan KGI Sekuritas Indonesia (HD) sebesar Rp3,4 juta.
Broker GR membeli sebanyak 500 lot di harga rata-rata Rp1.650, sedangkan HD mengoleksi 38 lot di harga rata-rata Rp1.691 per saham.
Di sisi lain, aksi lepas saham WIFI oleh investor asing dipimpin oleh broker J.P Morgan Sekuritas Indonesia (BK) dengan nilai penjualan bersih mencapai Rp1,3 miliar.
Selain itu, broker Tuntun Sekuritas Indonesia (QA) juga mencatatkan jualan bersih senilai Rp136,9 juta.
Pergerakan Saham dan Target Konsensus
Kenaikan harga pada perdagangan terakhir pekan lalu memperpanjang tren positif jangka pendek WIFI di mana dalam kurun waktu satu minggu terakhir, saham ini berhasil membukukan pertumbuhan sebesar 6,90 persen dari basis harga terendah mingguan di level Rp1.600.
Meski demikian, jika ditarik ke dalam linimasa jangka menengah, saham WIFI masih menghadapi fase konsolidasi yang cukup menantang.
Data performa satu dan tiga bulan terakhur menunjukkan koreksi yang sama, yakni terkontraksi sebesar 14,75 persen, dengan titik tertinggi sempat menyentuh Rp2.190 dalam sebulan dan Rp2.570 dalam tiga bulan terakhir.
Tekanan yang lebih dalam terlihat pada akumulasi performa enam bulan terakhir serta secara tahun berjalan atau year to date (YTYT. Di sini, WIFI masing-masing mencatatkan penurunan signifikan sebesar 47,86 persen dan 47,54 persen dari level tertinggi historisnya di level Rp3.630. Penurunan dalam satu tahun terakhir juga terpantau minus 18,03 persen.
Namun, jika melihat rekam jejak performa jangka panjang, emiten ini sejatinya masih menyimpan pertumbuhan yang sangat masif. Dalam rentang waktu tiga tahun terakhir, nilai saham WIFI tercatat melonjak tajam hingga 593,09 persen dari basis harga terendah di level Rp128.
Sementara itu, performa lima tahunan menunjukkan konsistensi pertumbuhan jangka panjang dengan kenaikan sebesar 43,28 persen, bergerak dari harga terendah Rp122 hingga rekor tertinggi di level Rp4.420 per saham.
Melihat koreksi teknikal yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir di tengah pertumbuhan jangka panjangnya, para analis di Stockbit memberikan pandangan yang sangat optimistis terhadap prospek pemulihan saham WIFI.
Berdasarkan data estimasi konsensus terkini, sebanyak 17 analis secara kompak memberikan rekomendasi buy untuk saham WIFI, tanpa ada satu pun analis yang menyarankan posisi hold maupun sell.
Konsensus para analis menetapkan target harga rata-rata untuk saham WIFI di level Rp4.425 per saham. Level target rata-rata ini mencerminkan potensi kenaikan yang sangat lebar dari harga penutupan saat ini yang berada di posisi Rp1.705 per saham.
Lebih lanjut, estimasi paling agresif dari target harga tertinggi analis diproyeksikan mampu menembus level Rp9.500 per saham, sedangkan untuk estimasi terendah berada pada tingkat harga Rp3.350 per saham.
Target batas bawah analis tersebut bahkan masih berada jauh di atas harga pasar saat ini, mengindikasikan adanya ruang pertumbuhan nilai kapitalisasi pasar perseroan yang kuat di masa mendatang.
Membaca Fundamental WIFI
Kinerja fundamental WIFI menampilkan indikator keuangan yang solid dengan margin laba yang tebal serta tingkat kesehatan solvabilitas yang terjaga dengan baik.
Berdasarkan indikator profitabilitas di Stockbit, perseroan sukses mencatatkan margin laba yang sangat kompetitif. Tingkat margin laba kotor kuartalan WIFI bertengger di level 56,06 persen.
Efisiensi kinerja operasional yang kuat juga tecermin dari margin laba usaha yang mampu dipertahankan pada level 46,61 persen. Sementara itu, kemampuan perseroan dalam menghasilkan laba bersih atau kuartalan tercatat sebesar 20,99 persen.
Efektivitas manajemen dalam mengelola aset dan modal perusahaan turut ditunjukkan oleh rasio imbal hasil yang positif. Tingkat pengembalian aset atau Return on Assets (ROA) Trailing Twelve Months (TTM) WIFI berada di angka 3.03 persen, sedangkan imbal hasil ekuitas atau Return on Equity (ROE) TTM tercatat sebesar 6,57 persen.
Dari aspek kesehatan keuangan atau solvabilitas, perseroan memiliki tingkat likuiditas yang sangat memadai untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya.
Rasio lancar (Current Ratio) kuartalan WIFI berada di posisi yang aman sebesar 1,91 kali, didukung oleh rasio cepat (Quick Ratio) yang mencapai 1,53 kali. Selain itu, struktur permodalan perusahaan tergolong sehat dengan tingkat utang yang rendah, di mana rasio utang terhadap ekuitas (Debt to Equity Ratio) kuartalan hanya sebesar 0,51 kali.
Menilik rincian per lembar saham (Per Share metrics), laba bersih per saham atau Earnings Per Share (EPS) TTM WIFI berada di level Rp92,39 per saham. Angka EPS tersebut diproyeksikan meningkat pada basis yang disetahunkan (annualised) menjadi sebesar Rp123,95 per saham. Di sisi lain, nilai pendapatan per saham TTM tercatat senilai Rp416,57.
Perseroan juga memiliki posisi kas yang melimpah dengan catatan kuartalan mencapai Rp1.025,13 per saham. Nilai buku per lembar saham atau WIFI bertengger di level Rp1.406,02, sementara untuk komponen free cashflow per share TTM berada di area negatif -Rp828,16 per saham.
Terkait valuasi saham di pasar modal, perdagangan WIFI mengacu pada rasio harga terhadap laba atau Price to Earnings (PE) Ratio TTM sebesar 18,45 kali, sedangkan untuk PE Ratio Annualised berada di level 13,76 kali.
Proyeksi valuasi ke depan melalui Forward PE Ratio tercatat jauh lebih rendah yakni sebesar 7,69 kali. Selanjutnya, rasio harga terhadap penjualan atau Price to Sales TTM berada di level 4,09 kali dan rasio harga terhadap nilai buku (Price to Book Value) tercatat sebesar 1,21 kali. Rasio Enterprise Value terhadap EBITDA atau EV to EBITDA TTM tercatat sebesar 6,11 kali.
Kinerja Gemilang di Kuartal I 2026
Diketahui, WIFI mencatatkan kinerja positif pada kuartal I 2026 setelah mencatat laba bersih sebesar Rp164,5 miliar. Angka ini melonjak dibanding laba di periode yang sama tahun kamu yang sebesar Rp82,57 miliar.
Catatan positif tersebut tidak lepas dari pertumbuhan pendapatan usaha WIFI yang juga melesat signifikan pada tiga bulan pertama 2026.
Merujuk laporan keuangan yang dipublikasikan, WIFI membukukan pendapatan mencapai Rp783,57 miliar pada kuartal I 2026 meningkat hingga 238,4 persen dibandingkan realisasi Rp231,57 miliar pada periode serupa tahun sebelumnya.
Di balik itu, beban pokok pendapatan WIFI turut meningkat menjadi Rp344,32 miliar dari Rp57,29 miliar. Namun, emiten ini tetap mencatat pertumbuhan laba bruto sebesar Rp439,25 miliar. (*)
Disclaimer
Data dan analisis yang disampaikan dalam pemberitaan ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti pergerakan harga saham, masuknya supply dan demand pasar, aksi pelaku besar, serta perubahan sentimen dan perilaku investor di pasar modal.
Analisis disusun untuk memberikan konteks mengenai struktur pasar, pola akumulasi dan distribusi, kondisi fundamental, serta perilaku pelaku pasar terhadap saham FILM, dan bukan merupakan ajakan membeli maupun menjual saham tertentu.
Investor diimbau untuk tetap melakukan analisis secara mandiri, memperhatikan keterbukaan informasi resmi Perseroan, serta mempertimbangkan profil risiko dan strategi investasi masing-masing sebelum mengambil keputusan investasi.