Insight Daily 15 Feb 2026 Penulis: KabarBursa.com

Dana Asing Banjiri Saham PWON dalam Sepekan, Mulai Menarik?

Jika dibandingkan secara keseluruhan, nilai transaksi beli oleh investor asing selama sepekan terakhir masih berada di atas tekanan jual,

KABARBURSA.COM - Investor asing terpantau melakukan akumulasi saham PT. Pakuwon Jati Tbk (PWON) dalam sepekan periode 9-13 Februari 2026.Dalam periode tersebut, Verdhana Sekuritas Indonesia (BB) tercatat sebagai broker dengan nilai pembelian terbesar. Besarnya nilai transaksi yang dilakukan BB menempatkan broker tersebut sebagai kontributor utama dalam mendo...

Foto: IG @pakuwonjati.
Foto: IG @pakuwonjati.

Insight Navigator

  1. 01 Kinerja Keuangan PWON
  2. 02 Rekomendasi dan Pergerakan Harga Saham

KABARBURSA.COM - Investor asing terpantau  melakukan akumulasi saham PT. Pakuwon Jati Tbk (PWON) dalam sepekan periode 9-13 Februari 2026.

Dalam periode tersebut, Verdhana Sekuritas Indonesia (BB) tercatat sebagai broker dengan nilai pembelian terbesar. BB membukukan akumulasi saham PWON senilai Rp17,6 miliar dengan volume transaksi mencapai 485 ribu lot pada harga rata-rata Rp364. 

Besarnya nilai transaksi yang dilakukan BB menempatkan broker tersebut sebagai kontributor utama dalam mendorong tekanan beli selama sepekan terakhir.

Selain BB, aktivitas beli juga dilakukan oleh broker CLSA Sekuritas Indonesia (KZ) yang memcatatkan nilai pembelian sebesar Rp4,2 miliar dengan volume 113,6 ribu lot di harga rata-rata Rp370.  Sementara itu, broker JP Morgan Sekuritas Indonesia (BK) turut masuk dalam daftar pembeli terbesar dengan nilai transaksi mencapai Rp2 miliar pada kisaran harta rata-rata Rp365. 

Minat beli investor asing terhadap PWON jiga tercermin dari aktivitas broker CGS International Sekuritas Indonesia (YU) yang membukukan pembelian senilai Rp1,3 miliar dengan volume transaksi mencapai 36,1 ribu lot pada harga rata-rata Rp364. 

Tidak hanya itu, broker MNC Sekuritas (EP) tercatat melakukan akumulasi sebesar Rp540 juta dengan harga rata-rata Rp362, diikuti oleh broker BNI Sekuritas (NI) yang mengoleksi saham PWON senilai Rp317,8 juta serta broker Macquarie Sekuritas Indonesia (RX) dengan nilai pembelian Rp218,8 juta di harga rata-rata Rp371.

Di sisi lain, tekanan jual oleh investor asing selama periode yang sama tercatat relatif lebih kecil dibandingkan nilai akumulasi. Broker Maybank Sekuritas Indonesia (ZP) menjadi pihak dengan nilai penjualan terbesar dengan total transaksi mencapai Rp5,3 miliar dan volume 144,5 ribu lot. 

Aksi distribusi juga tercatat dari broker Mandiri Sekuritas (CC) sebesar Rp3,4 miliar dengan volume 94,9 ribu lot, serta broker UBS Sekuritas Indonesia (AK) yang melepas saham PWON senilai Rp3,3 miliar dengan volume 89,3 ribu lot.

Sejumlah broker lainnya seperti Mirae Asset Sekuritas Indonesia (YP), Kiwoom Sekuritas Indonesia (AG), Henan Putuhrai Sekuritas (HP), KGI Sekuritas Indonesia (HD) , dan Phillip Sekuritas Indonesia (KK) juga melakukan penjualan saham PWON, masing-masing dengan nilai transaksi yang lebih terbatas.

Broker YP tercatat melepas saham senilai Rp106 juta, diikuti AG sebesar Rp81,3 juta, HP Rp47,2 juta, HD Rp27,5 juta, serta KK sebesar Rp22 juta.

Jika dibandingkan secara keseluruhan, nilai transaksi beli oleh investor asing selama sepekan terakhir masih berada di atas tekanan jual, sehingga menempatkan PWON dalam posisi net buy oleh pelaku pasar global. Dominasi akumulasi ini mencerminkan adanya kepercayaan investor terhadap prospek kinerja emiten properti tersebut. 

Kinerja Keuangan PWON

PWON sendiri membukukan kinerja keuangan yang solid sepanjang sembilan bulan pertama atau kuartal III 2025. Merujuk laporan keuangan yang dipublikasikan, hingga periode yang berakhir pada 30 September 2025, emiten properti ini mencatatkan penjualan dan pendapatan usaha sebesar Rp5,11 triliun, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp4,78 triliun. 

Seiring dengan kenaikan tersebut, laba bruto perseroan turut mengalami pertumbuhan menjadi Rp2,83 triliun dari sebelumnya Rp2,71 triliun secara tahunan. 

Dari sisi profitabilitas, PWON berhasil membukukan laba sebelum pajak sebesar Rp2,12 triliun hingga kuartal III 2025, naik dibandingkan posisi tahun lalu yang tercatat sebesar Rp1,96 triliun. Laba bersih pada kuartal III pun tercatat sebesar Rp1,72 triliun, naik 3,9 persen you dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. 

Secara neraca, total aset perseroan tercatat meningkat menjadi Rp36,07 triliun per akhir September 2025, dibandingkan Rp35,37 triliun pada akhir tahun 2024. Kenaikan ini didorong oleh pertumbuhan aset tidak lancar yang mencapai Rp23,25 triliun, termasuk properti investasi senilai Rp12,23 triliun serta aset tetap sebesar Rp2,91 triliun. 

Di sisi lain, total liabilitas PWON tercatat mengalami penurunan menjadi Rp9,83 triliun dari Rp10,62 triliun pada akhir 2024, terutama akibat berkurangnya liabilitas jangka panjang seperti utang obligasi. Kondisi ini turut menopang peningkatan ekuitas perseroan yang mencapai Rp26,23 triliun hingga akhir September 2025, naik dari Rp24,74 triliun pada periode sebelumnya.

Mengutip data Stockbit, PWON membukukan earnings per share (EPS) trailing twelve months (TTM) sebesar 44,41, dengan EPS tahunan (annualised) mencapai 47,80.

Dari sisi valuasi berbasis operasional, revenue per share (TTM) tercatat sebesar 145,40, sementara free cash flow per share mencapai 49,59. 

Lebih lanjut, posisi kas juga menunjukkan tingkat kecukupan yang solid dengan cash per share kuartalan sebesar 145,64. Di saat yang sama, nilai buku per saham (book value per share) tercatat sebesar 453,44.

Dari aspek solvabilitas, rasio lancar (current ratio) PWON berada di level 3,98, mengindikasikan bahwa aset lancar perseroan hampir empat kali lipat dari kewajiban jangka pendeknya. Quick ratio yang mencapai 2,62 turut menegaskan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek tanpa harus bergantung pada likuidasi persediaan.

Sementara itu, debt to equity ratio (DER) yang berada di level 0,25 mencerminkan struktur permodalan yang konservatif. Tingkat leverage yang rendah ini memberikan ruang bagi perseroan untuk melakukan pendanaan tambahan apabila diperlukan, tanpa meningkatkan risiko keuangan secara signifikan.

Dari sisi profitabilitas, return on assets (ROA) tercatat sebesar 5,93 persen, sedangkan return on equity (ROE) mencapai 9,79 persen. Margin laba juga tetap terjaga pada level tinggi, dengan gross profit margin sebesar 55,01 persen, operating profit margin 41,43 persen serta net profit margin mencapai 33,85 persen.

Secara keseluruhan, kombinasi antara likuiditas yang kuat, leverage yang rendah, serta margin profitabilitas yang tinggi menempatkan PWON dalam posisi fundamental yang relatif resilien. Dalam konteks pasar properti yang berpotensi mendapatkan katalis dari ekspektasi penurunan suku bunga global pada 2026, kondisi ini dapat menjadi faktor pendukung bagi keberlanjutan kinerja operasional maupun daya tarik saham PWON di mata investor institusi maupun ritel.

Rekomendasi dan Pergerakan Harga Saham

Berdasarkan data konsensus analis Stockbit,  dari 19 analis yang memantau pergerakan saham PWON kompak memberikan rekomendasi beli, tanpa adanya rekomendasi jual. 

Saat ini, saham PWON diperdagangkan di kisaran harga Rp368 per saham. Sementara itu, target harga rata-rata yang diberikan analis berada di level Rp532, dengan estimasi tertinggi mencapai Rp640 dan estimasi terendah di Rp470. 

Selisih antara harga pasar saat ini dengan target konsensus tersebut mengindikasikan adanya potensi kenaikan yang masih cukup terbuka dalam jangka menengah hingga panjang, seiring ekspektasi perbaikan siklus sektor properti.

Optimisme analis terhadap PWON juga didukung oleh kinerja harga saham yang relatif stabil dalam beberapa periode perdagangan terakhir. 

Adapun pada perdagangan terakhir, Jumat, 13 Februari 2026, saham PWON ditutup melemah sebesar 1,08 persen atau turun  4 poin ke level Rp368. 

Dalam sepekan terakhir, saham PWON mencatatkan penguatan sebesar 2,79 persen. Secara year to date (YTD), saham ini masih membukukan kenaikan sebesar 8,88 persen. 

Dalam jangka waktu tiga bulan, saham PWON juga mencatatkan penguatan sebesar 2,22 persen. Namun, jika dilihat dalam periode yang lebih panjang, pergerakan saham masih menunjukkan tekanan. 

Dalam enam bulan terakhir, saham PWON terkoreksi sebesar 4,17 persen, sementara dalam satu tahun terakhir mengalami pelemahan sekitar 3,16 persen.

Tekanan yang lebih dalam terlihat dalam rentang investasi jangka panjang. Dalam tiga tahun terakhir, saham PWON tercatat mengalami penurunan sebesar 21,03 persen, dan dalam lima tahun terakhir melemah hingga 29,90 persen. Bahkan dalam periode 10 tahun, saham ini masih mencatatkan koreksi sebesar 20,86 persen. 

Dengan harga saat ini yang masih berada di bawah target konsensus analis, saham PWON dinilai memiliki potensi untuk mengalami re-rating apabila sektor properti mulai mendapatkan katalis positif. 

Kombinasi antara rekomendasi buy dari mayoritas analis serta potensi kenaikan menuju target harga konsensus menjadikan PWON sebagai salah satu saham sektor properti yang masih berada dalam radar investor, terutama bagi pelaku pasar yang tengah mencari peluang di tengah siklus pemulihan industri. (*) 

 

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya