KABARBURSA.COM – Saham PT Ciputra Development Tbk (CTRA) memasuki fase yang menarik untuk dibaca dari sudut pandang aliran dana besar, khususnya pergerakan asing.
Berdasarkan data perdagangan di platform Stockbit, CTRA bertahan di level 855 atau stagnan dibandingkan penutupan sebelumnya hingga perdagangan sesi I, Rabu, 24 Desember 2025.
Jika dibedah lebih lanjut, saham CTRA mencatatkan volume transaksi sekitar 46,1 ribu lot dengan nilai Rp3,9 miliar. Rentang harga harian relatif sempit di kisaran 850 hingga 865, sementara harga rata-rata transaksi berada di level 857.
Pergerakan harga yang cenderung ditahan, sementara volume tetap mengalir, mengindikasikan bahwa dinamika CTRA tidak bisa dibaca hanya dari pergerakan harian.
Untuk memahami ke mana arah berikutnya, perlu ditarik lebih dalam aliran dana dan rekam jejak broker yang aktif mengoleksi saham ini sejak pertengahan Desember.
Aliran Dana Besar Masuk ke CTRA, Mayoritas Asing?
Berdasarkan rekap broker summary periode 16 hingga 23 Desember 2025, aliran dana besar yang masuk ke saham CTRA didominasi oleh broker dengan basis institusi dan asing.
Mandiri Sekuritas (CC) tercatat sebagai pembeli paling konsisten dengan total nilai akumulasi sekitar Rp14,3 miliar. Volume pembelian mencapai sekitar 172,3 ribu lot dengan harga rata-rata di kisaran 868 hingga 869.
Selain CC, aktivitas pembelian juga datang dari UBS Sekuritas Indonesia (AK) dengan nilai sekitar Rp7,2 miliar dan volume sekitar 81,6 ribu lot pada harga rata-rata 867 hingga 878.
Mirae Asset Sekuritas Indonesia (YP) mencatatkan pembelian sekitar Rp7,3 miliar dengan total 76,1 ribu lot di harga rata-rata 868 hingga 878.
Maybank Sekuritas Indonesia (ZP) turut masuk sebagai pembeli dengan nilai sekitar Rp7,5 miliar dan volume sekitar 85,2 ribu lot pada rentang harga 866 hingga 871.
Jika digabungkan, empat broker tersebut telah menyerap lebih dari 415 ribu lot saham CTRA dengan estimasi nilai transaksi melampaui Rp36 miliar. Harga rata-rata koleksi berada di atas level perdagangan saat ini, yaitu di area 866 hingga 871.
Data ini menunjukkan bahwa sebagian besar pembelian dilakukan pada harga yang lebih tinggi dibanding harga pasar per 24 Desember.
Di sisi lain, terdapat pula aktivitas distribusi yang perlu dicatat untuk membaca keseimbangan aliran barang.
Broker yang paling menonjol melepas saham CTRA dalam periode yang sama adalah Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (LG) dan Verdhana Sekuritas Indonesia (BB).
LG tercatat melakukan penjualan dengan total nilai sekitar Rp12,0 miliar dan volume sekitar 137,8 ribu lot, terutama pada fase awal periode pengamatan, dengan harga rata-rata di kisaran 869.
Sementara itu, BB mencatatkan distribusi sekitar Rp6,3 miliar dengan volume sekitar 73,3 ribu lot pada harga rata-rata 854, yang terjadi menjelang akhir periode.
Selain itu, ZP juga tercatat berada di dua sisi transaksi. Di samping akumulasi, ZP melepas saham CTRA dengan total nilai sekitar Rp4,9 miliar dan volume sekitar 49,5 ribu lot pada rentang harga 856 hingga 878.
Aktivitas distribusi lain berskala menengah datang dari CLSA Sekuritas Indonesia (KZ) dengan nilai sekitar Rp3,6 miliar dan volume sekitar 34,4 ribu lot di harga rata-rata 866 hingga 868, serta CGS International Sekuritas Indonesia (YU) dengan nilai sekitar Rp2,1 miliar dan volume sekitar 21,8 ribu lot.
Harga Saham CTRA Mau Dibawa ke Mana?
Dari sisi mikrostruktur harian, orderbook CTRA hingga perdagangan sesi I menunjukkan antrean yang timpang. Total antrean offer tercatat sekitar 225 ribu lot, sementara sisi bid berada di kisaran 117 ribu lot.
Pada sisi offer, antrean jual tersusun berjenjang dari level 1.010 hingga 1.065. Di harga 1.010 terdapat 1.476 lot dengan 16 kali transaksi, lalu 1.015 sebanyak 141 lot dengan 10 kali transaksi.
Antrean berlanjut di 1.020 sebanyak 456 lot dengan 24 kali transaksi, kemudian 1.025 sebanyak 1.275 lot dengan 13 kali transaksi, dan 1.030 sebanyak 1.034 lot dengan 12 kali transaksi.
Lapisan berikutnya tampak kembali padat. Di 1.035 terdapat 1.344 lot dengan 13 kali transaksi, lalu 1.040 sebanyak 264 lot dengan 8 kali transaksi. Pada 1.045 antrean naik menjadi 1.944 lot dengan 13 kali transaksi, lalu 1.050 sebesar 1.907 lot dengan 31 kali transaksi.
Setelah itu, 1.055 tercatat 39 lot dengan 8 kali transaksi, 1.060 sebanyak 1.249 lot dengan 8 kali transaksi, dan 1.065 sebesar 1.727 lot dengan 13 kali transaksi.
Sementara itu, sisi bid secara struktur bertahan di area harga berjalan, yakni 850 hingga 855. Data ini menunjukkan bahwa permintaan tidak mengejar ke level atas, tetapi tetap bertahan di zona bawah sehingga harga tidak mudah turun.
Dengan kata lain, meski sisi penawaran tampak tebal dan berlapis jauh di atas harga pasar, sisi bid tidak menghilang dari area 850–855.
Aktivitas tersebut berjalan bersamaan dengan frekuensi transaksi yang relatif aktif. Hingga sesi I, perdagangan CTRA terjadi dalam ribuan kali eksekusi, mengindikasikan perpindahan saham berlangsung bertahap, bukan melalui satu atau dua transaksi besar yang langsung menggeser harga.
Frekuensi yang tinggi di tengah rentang harga yang sempit menunjukkan adanya penyerapan dan pelepasan yang saling mengimbangi pada level tertentu.
Jika dikaitkan dengan harga rata-rata akumulasi broker besar di kisaran 868 hingga 871, maka level 855 saat ini berada sekitar 1,5 hingga 2 persen di bawah area harga koleksi tersebut.
Dengan pendekatan aritmetika sederhana, kenaikan 5 persen dari harga 855 setara sekitar 42 hingga 43 poin, sehingga membawa CTRA ke area sekitar 898 hingga 900.
Level itu berada di atas rata-rata harga pembelian mayoritas broker besar dalam periode pengamatan dan secara numerik masih sejalan dengan struktur harga koleksi yang terbentuk sebelumnya. (*)