KABARBURSA.COM - Fundamental PT Ciputra Development Tbk (CTRA) menunjukkan kinerja yang solid berdasarkan laporan keuangan. Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya tercermin pada harga sahamnya yang masih relatif murah.
Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, hingga 30 September 2025 atau kuartal III CTRA sukses membukukan penjualan dan pendapatan usaha sebesar Rp8,39 triliun. Angka ini meningkat 17,91 persen year on year (yoy) dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp7,12 triliun.
Beban pokok penjualan emiten properti ini sebesar Rp4,37 triliun, mengalami kenaikan 18,13 persen yoy yang membuat laba kotor CTRA pada kuartal III 2025 sebesar Rp4,03 triliun. Sementara itu laba usaha mencapai Rp2,49 triliun.
Setelah memperhitungkan beban keuangan dan pajak, laba periode berjalan tercatat senilai Rp1,75 triliun. Sedangkan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih sebesar Rp1,62 triliun, naik dibanding kuartal III 2024 yang senilai Rp1,27 triliun.
Dari sisi aset, total aset CTRA tercatat sebesar Rp46,19 triliun, turun tipis dibandingkan posisi akhir 2024 yang mencapai Rp47,02 triliun. Sedangkan, kas dan setara kas tercatat sebesar Rp9,03 triliun.
Mengutip Stockbit dari sisi likuiditas, CTRA mencatat current ratio sebesar 1,80 pada kuartal berjalan. Sementara itu, quick ratio tercatat 0,91. Kombinasi kedua rasio ini memperlihatkan bagaimana struktur aset lancar CTRA tersusun dalam mendukung kewajiban jangka pendek.
Pada aspek struktur permodalan, debt to equity ratio (DER) kuartalan berada di level 0,30. Angka ini menunjukkan bahwa porsi utang perseroan relatif kecil dibandingkan dengan ekuitas.
Dari sisi profitabilitas, CTRA mencatat return on assets (ROA) sebesar 5,35 persen dan return on equity (ROE) sebesar 10,73 persen dalam basis trailing twelve months (TTM).
ROA menggambarkan kemampuan aset menghasilkan laba, sementara ROE mencerminkan tingkat pengembalian terhadap modal pemegang saham. Kedua rasio ini menunjukkan kinerja operasional yang berjalan konsisten dalam memanfaatkan aset dan ekuitas yang dimiliki.
Secara keseluruhan, rasio keuangan menunjukkan bahwa fundamental CTRA) berada dalam kondisi relatif sehat.
Likuiditas terjaga, struktur permodalan cenderung konservatif, serta profitabilitas dan margin laba masih solid, diiringi kebijakan dividen yang berjalan namun tidak agresif.
Saham Masih Murah
Meski fundamental tercatat menunjukkan kinerja solid, harga saham CTRA masih relatif murah. Setelah melalui perhitungan yang dilakukan Kabarbursa.com, harga wajar saham CTRA di kisaran Rp1.279 per lembar saham. Sementara itu, harga saham CTRA saat ini yakni Rp830.
Adapun pada perdagangan Jumat, 30 Januari 2026, saham CTRA ditutup menguat di level 830, naik 5,06 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Dalam sepekan terakhir, saham CTRA terkoreksi 5,68 persen, dengan pergerakan harga berada di kisaran 695–890. Sementara itu, dalam periode satu bulan dan sejak awal tahun (year to date/YTD), pergerakan saham relatif stagnan, dengan rentang harga yang sama di 695–990.
Tekanan lebih nyata tampak pada periode menengah. Dalam tiga bulan terakhir, saham CTRA melemah 6,21 persen, sedangkan dalam enam bulan terkoreksi lebih dalam sebesar 9,78 persen, dengan rentang harga masing-masing tetap berada di area 695–990 dan 695–1.110.
Pada horizon satu tahun, saham CTRA tercatat turun 16,58 persen, bergerak di kisaran 650–1.110. Tekanan juga masih terlihat dalam jangka lebih panjang, dalam tiga tahun terakhir saham melemah 13,99 persen, dan dalam lima tahun turun 7,78 persen, dengan rentang harga yang relatif lebar di 650–1.430.
Adapun dalam jangka sangat panjang, data sepuluh tahun menunjukkan koreksi sebesar 34,25 persen, dengan fluktuasi harga yang lebar di rentang 394–1.745.
Secara keseluruhan, data tersebut menunjukkan adanya kontras antara penguatan jangka sangat pendek dan tekanan yang masih dominan pada horizon menengah hingga panjang. Posisi harga CTRA yang cenderung berada di area bawah rentang pergerakan historisnya menjadi poin penting yang patut dicermati pasar dalam membaca arah pergerakan saham selanjutnya.
Adapun berdasarkan data yang dihimpun dari Stockbit, sebanyak 20 analis memberikan rating beli terhadap saham CTRA, tanpa adanya rekomendasi jual.
Dari sisi valuasi, analis mematok target harga rata-rata di Rp1.274 per saham. Estimasi tersebut berada di atas harga saham CTRA saat ini di Rp830, sebagaimana tercermin dalam pergerakan harga terakhir. Rentang proyeksi analis juga menunjukkan variasi, dengan target terendah di Rp1.035 dan target tertinggi di Rp1.600 per saham.
Data konsensus ini menjadi salah satu indikator yang kerap dicermati pelaku pasar dalam membaca ekspektasi analis terhadap arah pergerakan saham ke depan. Meski demikian, pergerakan harga saham tetap dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, termasuk sentimen pasar, kondisi makroekonomi, serta dinamika sektoral.
Pergerakan Orderbook
Pergerakan saham CTRA pada perdagangan Jumat, 30 Januari 2026, menunjukkan dinamika yang cukup aktif jika dilihat dari pergerakan candle harian, struktur order book, serta aliran transaksi sepanjang sesi.
Pada fase ini, order book memperlihatkan antrean bid di level 805 sebanyak 13.692 lot, diikuti 800 dengan 11.175 lot, serta 795 yang tercatat 11.402 lot. Lapisan bid tersebut membentuk penyangga harga di area bawah sejak awal sesi.
Pada level 815, antrean bid tercatat 10.543 lot, sementara di 820 terdapat 5.431 lot. Di sisi ask, antrean mulai terlihat di 825 dengan 3.177 lot dan 830 dengan 5.653 lot.
Di sisi lain, order book juga menunjukkan antrean bid di 825 sebanyak 3.177 lot, sementara ask di 830 tercatat 1.375 lot. Di atasnya, lapisan ask terlihat di 835 dengan 4.226 lot dan 840 dengan 7.063 lot.
Sementara itu, grafik trade book sepanjang hari memperlihatkan akumulasi transaksi beli dan jual yang terus meningkat. Pada awal sesi, kurva transaksi jual sempat berada di atas transaksi beli.
Namun memasuki sekitar pukul 10.50 hingga 14.14, kurva transaksi beli bergerak lebih cepat dan menyalip transaksi jual. Hingga menjelang penutupan, akumulasi nilai transaksi beli tercatat mendekati 269 ribu, sementara transaksi jual berada di kisaran 215 ribu.
Memasuki sesi sore, harga bergerak stabil di rentang 830–840. Menjelang penutupan, candle harian CTRA bertahan di area atas rentang perdagangan.
Secara keseluruhan, pergerakan candle harian CTRA memperlihatkan fase pembukaan di 795, dorongan bertahap menuju 830, serta pergerakan stabil hingga mendekati 840. Struktur order book dan trade book sepanjang hari menghadirkan gambaran detail tentang bagaimana harga bergerak melalui interaksi antrean bid dan ask serta akumulasi transaksi beli dan jual yang berlangsung sejak pembukaan hingga penutupan perdagangan.
Belum Ada Akumulasi Signifikan
Aktivitas perdagangan saham CTRA pada perdagangan 30 Januari 2026 memperlihatkan dinamika menarik jika dicermati dari data broker action. Mengutip Stockbit, CTRA terpantau belum ada aksi akumulasi signifikan.
Dari sisi pembelian, broker AK mencatat nilai beli terbesar dengan total transaksi mencapai Rp4 miliar, setara 48,3 ribu lot, dengan harga rata-rata beli di 820.
Di posisi berikutnya, broker BK membukukan pembelian senilai Rp3,9 miliar dengan volume 46,8 ribu lot dan harga rata-rata 823. Aktivitas beli juga terlihat dari broker ZP yang mencatatkan nilai beli Rp2,3 miliar untuk 28,9 ribu lot di harga rata-rata 812, serta KZ dengan nilai beli Rp2,3 miliar dan 27,6 ribu lot di harga rata-rata 822.
Broker lain yang turut mencatat akumulasi beli antara lain PD dengan nilai Rp1,1 miliar dan 13,1 ribu lot di harga rata-rata 813, serta FS senilai Rp873,2 juta dengan 10,8 ribu lot di harga 809. Sementara itu, transaksi beli dengan nilai lebih kecil tercatat pada DX, DR, XC, dan BS, dengan harga rata-rata berkisar antara 811 hingga 830.
Di sisi penjualan, broker BB mencatat nilai jual terbesar dengan total Rp7 miliar, setara 85,3 ribu lot. Selanjutnya, broker CC membukukan penjualan Rp1,5 miliar dengan volume 17,7 ribu lot, diikuti XL senilai Rp1,3 miliar dengan 15,8 ribu lot. Aktivitas jual juga terlihat dari broker CP yang melepas saham senilai Rp1,1 miliar atau 13,6 ribu lot.
Tekanan jual berlanjut dari broker YP dengan nilai Rp810,1 juta dan 9,8 ribu lot, serta YU senilai Rp744,2 juta untuk 9,3 ribu lot. Broker YB, GR, OD, dan HD turut mencatat transaksi jual dengan nilai berkisar antara Rp308,1 juta hingga Rp548,2 juta, dengan volume di bawah 7 ribu lot.
Jika dicermati dari harga rata-rata transaksi, aktivitas beli tersebar di rentang 809–830, sementara transaksi jual berlangsung pada rentang harga yang relatif berdekatan. Aktivitas ini memperlihatkan adanya interaksi dua arah yang aktif antara pembeli dan penjual sepanjang sesi perdagangan, tanpa dominasi ekstrem dari satu sisi.
Secara keseluruhan, data broker action pada perdagangan CTRA di hari tersebut menggambarkan pola transaksi yang tersebar di berbagai broker, dengan nilai beli dan jual yang relatif seimbang. Pola ini menjadi bagian penting untuk dicermati dalam membaca struktur perdagangan saham CTRA, khususnya dalam memahami bagaimana aliran transaksi terbentuk di level broker pada satu hari perdagangan. (*)