Insight Daily 15 Jul 2025 Penulis: KabarBursa.com

China-India Beralih ke Batubara Berkalori Tinggi, Emiten Mana yang Layak Dipegang?

Ekspor ITMG, HRUM, dan BUMI tetap tumbuh meski pasar global selektif. Spesifikasi jadi kunci bertahan di tengah tekanan margin.

KABARBURSA.COM – China dan India kini lebih selektif dalam menyerap batubara dari luar negeri. Dua negara importir terbesar dunia itu mulai memangkas permintaan atas batubara kalori rendah demi menjaga efisiensi dan emisi. Namun, pintu ekspor belum sepenuhnya tertutup bagi produsen Indonesia. Emiten seperti ITMG, HRUM, dan BUMI masih punya daya tawar karena ...

Pasar China-India tolak batubara kalori rendah. Emiten dengan spesifikasi tinggi masih punya peluang ekspor dan daya saing. Gambar dibuat oleh AI untuk KabarBur
Pasar China-India tolak batubara kalori rendah. Emiten dengan spesifikasi tinggi masih punya peluang ekspor dan daya saing. Gambar dibuat oleh AI untuk KabarBur

Insight Navigator

  1. 01 Bukan Semua Batubara Ditinggalkan

Bukan Semua Batubara Ditinggalkan

Di tengah dinamika pasar global dan tekanan selektivitas dari negara importir utama, industri batubara Indonesia justru mencetak rekor produksi pada tahun 2024. Berdasarkan data resmi Kementerian ESDM, produksi nasional mencapai 836 juta ton, naik 7,9 persen dari capaian tahun sebelumnya sebesar 775 juta ton. Angka ini juga melampaui target produksi tahunan yang ditetapkan pemerintah sebesar 710 juta ton, sekaligus menjadi output tertinggi dalam sejarah industri batubara nasional.

Dari total produksi tersebut, 555 juta ton dialokasikan untuk ekspor, meningkat 7,9 persen dibanding tahun 2023 yang mencatatkan angka ekspor sebesar 505 juta ton. Sementara alokasi untuk pasar domestik juga tumbuh pesat menjadi 381 juta ton, naik hampir 80 persen dari tahun sebelumnya. Kenaikan ini mengindikasikan adanya daya tahan industri di tengah tekanan global dan meningkatnya permintaan dari sektor dalam negeri seperti industri smelter logam dan pembangkit listrik.

Di tahun yang sama, Badan Energi Internasional (IEA) mencatat impor batubara global naik 2,4 persen selama 2024 atau mencapai rekor 1,5 miliar ton. Namun di balik angka agregat yang tampak mengilap itu, terdapat perubahan signifikan dalam arah dan pola ekspor Indonesia.

Menurut data analitik dari Kpler yang dikutip Reuters, ekspor batu bara Indonesia ke China turun 12,3 persen, sedangkan pengiriman ke India anjlok 14,3 persen selama lima bulan pertama tahun 2025. Penurunan ini terjadi bersamaan dengan kecenderungan dua negara importir utama itu untuk mengalihkan pasokan dari Indonesia ke negara-negara lain yang menawarkan batubara dengan spesifikasi energi lebih tinggi seperti Mongolia, Afrika Selatan, dan Australia.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, mengatakan perusahaan tambang yang sangat bergantung pada ekspor akan berada dalam posisi yang lebih rentan. “Emiten seperti ITMG, ADRO, DSSA (batubara) dan MDKA (emas) yang mengandalkan ekspor hingga 70–100 persen dari total penjualan akan terkena beban margin tambahan saat harga tinggi karena bea keluar dikenakan,” kata Liza kepada KabarBursa, Selasa 15 Juli 2025.

Tekanan ini selanjutnya dapat memangkas margin laba bersih dan membuat harga jual kurang kompetitif dibanding negara pesaing seperti Australia, Rusia, Afrika Selatan, atau bahkan Kanada.

Menariknya, kondisi ini tidak berdampak seragam ke semua eksportir asal Indonesia. Tiga emiten besar yang sama-sama memproduksi batubara kalori tinggi, yakni PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Harum Energy Tbk (HRUM), menunjukkan dinamika ekspor yang berbeda sepanjang tahun 2024.

Data dari laporan tahunan masing-masing perusahaan menunjukkan bahwa ekspor ITMG ke China melonjak dari 6,9 juta ton menjadi 9,2 juta ton, sementara ekspor ke India naik dari 0,8 juta ton menjadi 1,1 juta ton. BUMI juga mengalami kenaikan pengiriman ke kedua negara tersebut dengan volume ke India tumbuh 15,2 persen dan ke China naik 1,4 persen.

Sementara itu, HRUM menunjukkan pertumbuhan ekspor yang kuat secara keseluruhan, dengan kenaikan nilai ekspor sebesar 33 persen. Namun, pertumbuhan ini bersumber terutama dari ekspansi agresif ke Asia Timur, terutama China, Jepang, Korea, dan Taiwan, yang nilainya melonjak dari USD692,5 juta dolar AS menjadi USD925,1 juta. Sebaliknya, ekspor HRUM ke Asia Selatan, seperti India dan Bangladesh, justru menyusut tajam hingga 37,6 persen atau dari USD82,5 juta menjadi USD 51,5. Perbedaan performa antar kawasan ini mencerminkan dinamika permintaan regional terhadap jenis batubara yang ditawarkan HRUM.

ITMG mencatat total penjualan batubara sebesar 24 juta ton pada 2024, meningkat dari 20,9 juta ton tahun sebelumnya. Sumber: Laporan Tahunan ITMG 2024.

 

HRUM mencatat lonjakan ekspor signifikan ke Asia Tenggara, terutama Kamboja, Thailand, dan Vietnam. Sumber Laporan tahunan HRUM 2024

 

BUMI mencatat total penjualan ekspor sebesar 75,8 juta ton batubara pada 2024, turun 3,5 persen dibanding tahun sebelumnya. Sumber: laporan tahunan BUMI 2024.

Faktor kunci yang membedakan ketiganya terletak pada portofolio geografis dan spesifikasi produk. HRUM, meskipun volume produksinya lebih kecil, fokus hampir sepenuhnya pada batubara kalori tinggi, di kisaran 5.400 hingga 6.400 kilokalori per kilogram (kcal/kg). ITMG memiliki kisaran kalori yang lebih luas, antara 4.300 hingga 6.300 kcal/kg sehingga memungkinkan mereka menjangkau pasar ekspor sekaligus memenuhi kebutuhan domestik.

Sementara itu, BUMI memiliki portofolio paling beragam, mencakup kategori premium seperti batubara dari tambang KPC Prima yang mencapai 6.976 kcal/kg, mendekati klasifikasi antrasit—jenis batubara dengan kualitas tertinggi dalam industri. Di sisi lain, BUMI juga memproduksi jenis kalori lebih rendah seperti KPC 4200 (4.613 kcal/kg) dan Ecocoal (5.177 kcal/kg), yang banyak dipasok untuk kebutuhan pembangkit listrik dan pasar berkalori sedang ke bawah. Variasi inilah yang membuat BUMI dapat menjangkau segmen pasar ekspor yang luas, meski di saat yang sama harus menghadapi risiko penyusutan permintaan dari negara-negara yang mulai menghindari batubara kalori rendah.

Tabel spesifikasi kualitas batubara PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berdasarkan anak usaha KPC dan Arutmin. Produk batubara KPC Prima mencatatkan nilai kalor tertinggi sebesar 6.976 kcal/kg, mendekati klasifikasi antrasit. Sumber: laporan tahunan BUMI 2024.

 

Dengan spesifikasi tersebut, ketiganya masih dikategorikan sebagai eksportir batubara high-calorie, yang hingga kini masih diminati oleh pasar China dan India. Inilah yang membuat mereka relatif lebih tangguh menghadapi selektivitas buyer yang kini mulai menghindari batubara kalori rendah. “jika spek batubaranya masih cocok dengan keinginan buyer, maka kami percaya kontrak dari China dan India masih jalan,” kata Liza. “Yang low-calorie mula dijauhi.”

Artinya, tekanan pasar memang nyata, tapi tidak berlaku merata. Bagi emiten dengan spesifikasi batubara sesuai selera global, situasi ini justru membuka peluang untuk mempertahankan pangsa pasar, bahkan memperluasnya, di tengah penurunan permintaan secara agregat.

Namun, di tengah ketahanan sebagian emiten terhadap seleksi pasar global, terdapat risiko tambahan yang tidak bisa diabaikan investor, yakni kebijakan bea ekspor batubara yang akan diterapkan secara fleksibel mulai 2026. Skema ini dirancang untuk menyesuaikan tarif bea ekspor dengan harga komoditas internasional—bebas bea ketika harga rendah, namun diberlakukan ketika harga tinggi. Dalam praktiknya, hal ini berpotensi memukul daya saing eksportir justru saat momentum harga sedang menguntungkan.

Bagi emiten seperti ITMG, ADRO, DSSA, dan MDKA yang mengandalkan ekspor hingga 70–100 persen dari total penjualan, tekanan ini akan terasa ganda. Saat harga tinggi, mereka tidak hanya menghadapi beban fiskal lebih besar, tapi juga harus bersaing dengan negara pesaing seperti Australia, Rusia, dan Afrika Selatan yang bisa menawarkan produk serupa tanpa hambatan tarif. Risiko ini dapat berimbas pada penurunan margin laba, terganggunya arus kas, hingga koreksi valuasi di pasar saham.

Bersamaan dengan kondisi global yang sedang mengalami kelebihan pasokan dan pergeseran ke arah energi bersih, investor kini berhadapan dengan lanskap batubara yang tidak lagi ditentukan oleh volume semata. Faktor spesifikasi produk, keragaman pasar tujuan, dan respons kebijakan menjadi elemen yang semakin krusial dalam menilai prospek jangka menengah sebuah emiten.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya