Insight Daily 11 Jul 2025 Penulis: KabarBursa.com

CDIA Tembus Rp1.000, TPIA Panen Sentimen Positif?

Saham CDIA naik 426 persen ke Rp1.500 di pasar negosiasi pasca-IPO. Nilai pasar TPIA terdongkrak Rp75 triliun dari kepemilikan 60 persen di anak usaha infrastruktur ini.

KABARBURSA.COM – Lonjakan luar biasa saham PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) pasca pencatatan perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI), kini tampaknya mulai mempengaruhi sentimen terhadap induk usahanya, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA). Di pasar reguler, CDIA telah naik dari Rp190 menjadi Rp400 atau 110 persen hanya dalam tiga hari, sementara di pasar ...

Ilustrasi: Para pekerja Chandra Asri tengah melakukan inspeksi di fasilitas petrokimia, memastikan keamanan dan efisiensi operasional. (Foto: Dok. Chandra Asri)
Ilustrasi: Para pekerja Chandra Asri tengah melakukan inspeksi di fasilitas petrokimia, memastikan keamanan dan efisiensi operasional. (Foto: Dok. Chandra Asri)

Insight Navigator

  1. 01 Fundamental CDIA Solid, Aset Sentuh USD1,08 Miliar
  2. 02 Seperti Apa ke Depannya?

KABARBURSA.COM – Lonjakan luar biasa saham PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) pasca pencatatan perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI), kini tampaknya mulai mempengaruhi sentimen terhadap induk usahanya, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA). 

Di pasar reguler, CDIA telah naik dari Rp190 menjadi Rp400 atau 110 persen hanya dalam tiga hari, sementara di pasar negosiasi, harga CDIA bahkan sempat menyentuh Rp1.500 per saham, sebelum stabil di kisaran Rp1.000.

Dengan kapitalisasi pasar CDIA yang diperkirakan mencapai Rp125 triliun pada harga Rp1.000, maka nilai kepemilikan 60 persen milik TPIA dapat bernilai sekitar Rp75 triliun. Dampak ini mulai diperhatikan oleh investor yang mengaitkannya dengan potensi peningkatan nilai wajar saham TPIA secara fundamental.

Meski demikian, pada perdagangan Jumat, 11 Juli 2025, saham TPIA justru turun tipis 0,51 persen ke level Rp9.850. Volume perdagangan tercatat 4,51 juta lot dengan nilai transaksi Rp44,7 miliar, lebih rendah dibanding tiga hari sebelumnya. Pada 10 Juli, saham TPIA sempat ditutup di Rp9.900 (-1,49 persen), dan dua hari sebelumnya bahkan sempat menembus Rp10.175 sebelum terkoreksi.

Secara teknikal, saham TPIA menunjukkan sinyal konsolidasi setelah reli awal pekan. Aktivitas broker juga menunjukkan adanya distribusi dari investor institusi. Pada 10 Juli, Mandiri Sekuritas (CC) menjadi pembeli terbesar dengan nilai Rp13 miliar, diikuti Stockbit Sekuritas Digital (XL) Rp8,1 miliar, sementara posisi jual terbanyak berasal dari PD dan YU.

Menurut analis pasar modal dari Traderindo, Wahyu Laksono, respons harga TPIA yang belum langsung melonjak justru memberi peluang akumulasi. 

“Kinerja anak usaha yang menonjol biasanya akan menciptakan sentimen positif ke induk perusahaan. Tapi kadang efeknya tertunda hingga ada konfirmasi fundamental,” ujar Wahyu kepada Kabarbursa.com, Jumat, 11 Juli 2025.

Wahyu menambahkan bahwa secara teori, nilai pasar CDIA yang meningkat drastis akan memperbesar nilai aset bersih TPIA dalam laporan konsolidasi. 

“Secara teori, kenaikan harga CDIA yang signifikan jika ditopang oleh fundamental yang kuat akan menjadi katalis luar biasa bagi TPIA. Tapi investor tetap perlu lakukan analisis mendalam sebelum mengambil keputusan,” jelasnya.

Fundamental CDIA Solid, Aset Sentuh USD1,08 Miliar

Presiden Direktur Chandra Daya Investasi, Fransiskus Ruly Aryawan, menyatakan bahwa pencatatan saham CDIA merupakan langkah strategis jangka panjang.

“Pencatatan saham perdana hari ini menjadi momen penting bagi CDI Group dalam membangun fondasi yang kuat untuk pertumbuhan jangka panjang,” ujar Ruly dalam keterangan resminya, Rabu, 9 Juli 2025.

Ia menambahkan bahwa Asia Tenggara saat ini memasuki fase pertumbuhan industri yang menuntut infrastruktur andal dan efisien.

“Kebutuhan akan layanan logistik, kepelabuhanan dan penyimpanan, jaringan energi serta pengelolaan air menjadi potensi yang besar dalam pengembangan Perseroan. CDI Group melihat peluang strategis untuk terus memperluas layanan dan memperkuat peran kami sebagai penyedia solusi infrastruktur yang relevan dan terintegrasi,” jelas Ruly.

“Kami berkomitmen untuk menjadi mitra pertumbuhan yang mendorong solusi infrastruktur yang relevan bagi kebutuhan industri di masa depan, serta menciptakan nilai tambah yang nyata bagi para pemangku kepentingan dan masyarakat luas,” lanjut Ruly, menegaskan.

CDIA menjadi bagian dari strategi diversifikasi TPIA keluar dari bisnis petrokimia murni. Hal ini dinilai banyak pihak sebagai upaya mitigasi risiko terhadap fluktuasi harga minyak global, serta pembentukan rantai pasok yang lebih efisien di sektor logistik energi. Tercatat, TPIA memiliki 74,89 miliar saham CDIA (60 persen), sedangkan sisanya dimiliki oleh Phoenix Power B.V. (30 persen) dan publik (10 persen).

TPIA sendiri hingga kini belum mengumumkan secara resmi pengaruh valuasi CDIA terhadap laporan kinerja semester I-2025. Namun komunitas saham dan pelaku pasar memperkirakan adanya efek penyesuaian nilai wajar investasi jika harga saham CDIA bertahan di level tinggi untuk beberapa pekan.

Lonjakan CDIA juga menambah spekulasi potensi pembagian dividen dari anak usaha tersebut di masa mendatang. Bila CDIA mulai membukukan laba dan memiliki kebijakan dividen, maka TPIA berpeluang memperoleh pendapatan tambahan berulang dari dividen anak usaha, selain dari kenaikan nilai investasinya.

Meski begitu, Wahyu Laksono mengingatkan bahwa harga saham CDIA di pasar negosiasi masih harus dibaca hati-hati.

“Kenaikan harga yang ekstrem, apalagi di pasar negosiasi, tetap perlu dikonfirmasi oleh performa di pasar reguler dan fundamental keuangan CDIA ke depan,” tegasnya.

Pasar negosiasi memang memungkinkan harga transaksi jauh di atas batas reguler, tetapi seringkali terjadi antar institusi dan belum mencerminkan sentimen mayoritas. Pada sisi lain, frekuensi dan volume perdagangan CDIA yang terus meningkat menunjukkan bahwa minat terhadap saham ini tetap tinggi.

Dengan realitas ini, investor retail pun mulai melihat potensi pergerakan saham TPIA dalam beberapa minggu mendatang. Bila TPIA mampu mencatatkan peningkatan nilai investasi dalam laporan keuangan berikutnya, harga sahamnya berpotensi ikut terapresiasi, apalagi jika didukung sentimen positif dari sektor petrokimia.

Seperti Apa ke Depannya?

Pada sesi perdagangan terakhir, saham TPIA berada di rentang Rp9.825–Rp10.000, dengan harga tertinggi sempat menyentuh Rp10.000 di sesi awal sebelum koreksi. Harga rata-rata perdagangan (VWAP) tercatat di level Rp9.907, menunjukkan tekanan jual masih dominan namun dalam volume sedang.

Kini, investor menanti dua hal: laporan keuangan semester I-2025 TPIA dan pengumuman resmi manajemen mengenai strategi pemanfaatan nilai CDIA pasca-IPO. Bila dua hal ini dieksekusi dengan baik, tidak tertutup kemungkinan TPIA menjadi salah satu saham blue chip dengan performa terbaik tahun ini. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya