KABARBURSA.COM – PT Chandra Asri Pacific Tbk, berkode emiten TPIA, Rabu, 4 Februari 2026, dalam keterbukaan informasi yang diterima Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkap, berencana melakukan pembelian kembali atau buyback saham secara bertahap.
Adapun dana yang dianggarkan tidak main-main besarnya, yaitu Rp2 triliun. Angka yang sangat fantastis, dengan target maksimal saham yang dapat dibeli kembali mencapai 250 juta saham.
Namun, pada Kamis, 5 Februari 2026, TPIA kembali mengumumkan bahwa Perseroan akan menerbitkan obligasi berkelanjutan V tahap II tahun 2026. Nilai obligasi yang akan diterbitkan sebesar Rp2,5 triliun.
Penerbitan obligasi ini merupakan bagian dari skema penawaran umum berkelanjutan, dengan target penghimpunan dana hingga Rp6 triliun.
Pertanyaannya, bagaimana sebenarnya kondisi keuangan TPIA? Apakah Perseroan mampu mendanai buyback sebesar Rp2 triliun tersebut? Bagaimana pula reaksi pasar terhadap dua rencana ini?
Buyback Jumbo Emiten Prajogo Pangestu
Bicara mengenai buyback saham TPIA dengan dana Rp2 triliun, rencananya dilakukan tanpa melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Pelaksanaan buyback pun akan berlangsung selama tiga bulan, dimulai dari 4 Februari hingga 3 Mei 2026.
Dengan perkirakaan saham yang dapat dibeli Kembali maksimal mencapai 250 juta saham, jumlah ini setara dengan sekitar 0,29 persen dari total saham yang telah dikeluarkan dan disetor penuh oleh Perseroan.
Aksi TPIA ini tidak sendiri. Sejumlah emiten yang terafiliasi dengan Prajogo Pangestu, ikut merencanakan buyback. Sebut saja PT Barito Pacifik Tbk (BRPT) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).
Berdasarkan keterbukaan informasi, BRPT mengalokasikan dana buyback sebesar Rp1 triliun, sedangkan CUAN menyiapkan dana Rp750 miliar. Seluruh dana berasal dari kas masing-masing perusahaan.
Namun, proses pelaksanaan buyback hilakukan serentak, yaitu mulai 4 Februari hingga 3 Mei 2026. Dan manajemen meyakinkan bahwa pelaksanaan buyback tidak akan berdampak negatif terhadap kegiatan operasional maupun pendapatan perusahaan.
Buyback juga dinilai memberi fleksibilitas bagi perusahaan dalam mengelola struktur permodalaan yang lebih efisien. Juga mencerminkan kinerja melalui pergerakan harga saham di pasar.
Obligasi untuk Keperluan Modal Kerja
Sehari setelah pengumuman buyback, PT Chandra Asri Pacific mengumumkan rencana penerbitan obligasi berkelanjutan V tahap II tahun 2026, senilai Rp2,25 triliun. Penerbitan ini merupakan bagian dari skema penawaran umum berkelanjutan, dengan target penghimbunan dana hingga Rp6 triliun.
Sekali lagi, ini merupakan obligasi berkelanjutan, karena sebelumnya TPIA telah menerbitkan obligasi berkelanjutan V tahap I tahun 2025, dengan jumlah pokok obligasi sebesar Rp1,5 triliun.
Adapun hasil obligasi kali ini, seperti diberitakan KabarBursa.com sebelumnya, setelah dikurangi biaya-biaya emisi, akan digunakan seluruhnya untuk keperluan modal kerja. Termasuk di antaranya adalah pembelian bahan baku produksi untuk kegiatan usaha yang pelaksanaannya akan digunakan oleh Perseroan.
Obligasi tahap II ini terbagi dalam tiga seri dengan tenor dan kupon berbeda. Seri A berjangka waktu tiga tahun dengan nilai pokok Rp635,39 miliar dan kupon tetap 6,50 persen per tahun.
Seri B memiliki tenor lima tahun senilai Rp885,38 miliar dengan kupon 7,00 persen, sementara seri C berjangka waktu tujuh tahun dengan nilai Rp729,22 miliar dan tingkat bunga 7,50 persen per tahun.
Seluruh obligasi ditawarkan dengan harga 100 persen dari nilai nominal, dengan pembayaran bunga dilkaukan setiap tiga bulan sejak tanggal emisi. Pembayaran bunga pertama dijadwalkan pada 25 Mei 2026, sedangkan pelunasan pokok dilakukan secara bullet payment pada saat jatuh tempo masing-masing seri.
Jadwal Obligasi Berkelanjutan V Chandra Asri Pacific Tahap II Tahun 2026:
- 30 Desember 2025: Tanggal Efektif
- 18 - 20 Februari 2026: Masa Penawaran Umum
- 23 Februari 2026: Tanggal Penjatahan
- 25 Februari 2026: Tanggal Pengembalian Uang Pemesanan
- 25 Februari 2026: Tanggal Distribusi Obligasi Secara Elektronik (Tanggal Emisi)
- 26 Februari 2026: Tanggal Pencatatan di PT Bursa Efek Indonesia.
Struktur Arus Kas Bebani Kinerja Keuangan
Kinerja keuangan Chandra Asri Pacific (TPIA) hingga periode September 2025 menunjukkan pemulihan yang sangat agresif di level pendapatan, namun masih menyisakan sejumlah catatan penting ketika diuji terhadap kemampuan pendanaan aksi buyback senilai Rp2 triliun.
Lonjakan top line dan laba bersih memang terlihat impresif, tetapi struktur arus kas dan kebutuhan investasi membuat pembiayaan buyback tidak bisa dibaca secara sederhana.
Dari sisi operasional, TPIA mencatatkan revenue sebesar USD2,45 miliar, melonjak 429,46 persen secara tahunan. Lonjakan ini menandai normalisasi kinerja setelah periode basis rendah, sekaligus mencerminkan membaiknya volume dan harga produk petrokimia.
Namun, pertumbuhan pendapatan tersebut diiringi lonjakan operating expense sebesar 141,69 persen menjadi USD229,11 juta. Meski kenaikan biaya jauh lebih rendah dibanding pertumbuhan pendapatan, tekanan margin masih terasa karena skala operasi yang kembali membesar.
Net income TPIA tercatat USD24,70 juta, naik 307,34 persen secara tahunan. Secara persentase, kenaikan ini terlihat signifikan, tetapi secara nominal laba bersih masih relatif tipis dibanding skala aset dan pendapatan perusahaan.
Net profit margin berada di level 1,01 persen, mengindikasikan bahwa profitabilitas TPIA masih sangat ramping dan sensitif terhadap fluktuasi biaya bahan baku maupun harga jual. EBITDA sebesar USD176,76 juta, tumbuh 54,88 persen, menunjukkan perbaikan kualitas laba operasional, meski belum sepenuhnya mencerminkan ruang kas yang luas.
Total Aset Melonjak
Struktur neraca TPIA mencerminkan ekspansi yang sangat agresif. Total aset melonjak 105,14 persen menjadi USD10,97 miliar, sejalan dengan proyek-proyek besar yang tengah dijalankan. Di sisi lain, total liabilitas naik lebih tajam, tumbuh 145,02 persen menjadi USD6,00 miliar.
Dengan total ekuitas USD4,97 miliar, leverage TPIA meningkat signifikan, mencerminkan ketergantungan pada pendanaan eksternal untuk mendukung ekspansi. Return on assets berada di level 2,58 persen dan return on capital 3,07 persen, menggambarkan bahwa efektivitas aset dan modal dalam menghasilkan laba masih relatif rendah.
Likuiditas jangka pendek TPIA terlihat kuat di atas kertas. Cash and short-term investments mencapai USD2,57 miliar, tumbuh 59,67 persen secara tahunan. Posisi kas ini secara nominal jauh melampaui rencana buyback Rp2 triliun, yang setara kurang lebih USD125–130 juta dengan kurs saat ini.
Dari sudut pandang kas statis, TPIA secara teoritis memiliki ruang likuiditas untuk mendanai buyback tersebut tanpa harus mencari pendanaan baru.
Namun, ketika ditarik ke arus kas, gambaran menjadi lebih kompleks. Cash from operations tercatat USD111,17 juta, naik 173,60 persen, menunjukkan pemulihan kemampuan menghasilkan kas dari aktivitas inti.
Meski demikian, arus kas ini masih jauh di bawah posisi kas yang tercatat di neraca, dan menandakan bahwa kas besar TPIA lebih banyak berasal dari aktivitas pendanaan dan akumulasi sebelumnya. Tekanan utama datang dari cash from investing yang negatif USD492,59 juta, melonjak 1.201,64 persen secara tahunan.
Angka ini menegaskan bahwa TPIA masih berada dalam fase belanja modal yang sangat intensif, menyerap kas dalam jumlah besar untuk ekspansi dan proyek strategis.
Free Cash Flow Negatif
Cash from financing tercatat USD135,77 juta, turun 21,01 persen, sementara net change in cash berada di posisi negatif USD245,65 juta. Free cash flow masih negatif USD38,59 juta, meski membaik 84,47 persen dibanding tahun sebelumnya.
Free cash flow negatif ini menjadi indikator kunci bahwa secara organik, arus kas TPIA belum sepenuhnya mampu menutup kebutuhan investasi, apalagi ditambah dengan aksi buyback dalam skala besar.
Dengan komposisi tersebut, kemampuan TPIA mendanai buyback Rp2 triliun lebih tepat dibaca sebagai kemampuan berbasis neraca, bukan berbasis arus kas operasional. Posisi kas yang besar memang memberikan ruang likuiditas untuk mengeksekusi buyback tanpa tekanan jangka pendek.
Namun, dalam konteks keberlanjutan, buyback akan bersaing langsung dengan kebutuhan belanja modal yang masih agresif dan arus kas bebas yang belum positif.
Selama fase investasi besar ini berlanjut, pendanaan buyback berpotensi menggerus fleksibilitas kas, kecuali diimbangi dengan perbaikan lanjutan pada arus kas operasional atau tambahan pendanaan eksternal.
Respons Pasar Positif
Melihat dari respons pasar terhadap dua rencana di atas, pergerakan saham TPIA menguat 100 poin atau 1,46 persen ke level 6.950, dari penutupan sebelumnya di 6.850.
Secara intraday, TPIA dibuka di level 6.900 dan sempat bergerak naik hingga menyentuh level tertinggi harian di 7.000 sebelum kembali bergerak konsolidatif di kisaran 6.900–6.950.
Dari sisi valuasi, TPIA saat ini diperdagangkan dengan rasio price to earnings di kisaran 16,60 kali, mencerminkan ekspektasi pasar terhadap pemulihan kinerja yang masih berjalan. Kapitalisasi pasar perusahaan tercatat sekitar Rp601,26 triliun, menempatkan TPIA sebagai salah satu emiten berkapitalisasi besar di BEI.
Dengan rentang harga 52 minggu berada di antara 5.275 hingga 10.675, posisi harga saat ini masih berada di bawah puncak tahunan, namun telah menjauh dari area terendahnya.(*)