Insight Daily 26 May 2025 Penulis: KabarBursa.com

Buyback Rp1 Triliun Jadi Senjata Mayora, ke Mana Saham MYOR Bergerak?

Aksi pembelian kembali saham mulai 5 Juni 2025 jadi katalis strategis. Investor mencermati pemulihan margin, valuasi, dan arah harga saham MYOR.

KABARBURSA.COM - PT Mayora Indah Tbk (MYOR) menyiapkan strategi korporasi besar di tengah tekanan marjin laba dan volatilitas harga komoditas global. Emiten sektor barang konsumsi ini mengumumkan rencana pembelian kembali saham (buyback) senilai maksimal Rp1 triliun yang akan dimulai pada 5 Juni 2025 dan berlangsung hingga 5 Juni 2026. Buyback dirancang untu...

Dua orang pekerja di pabrik Mayora Indah, emiten berkode saham MYOR. (Foto: Dok. Mayora)
Dua orang pekerja di pabrik Mayora Indah, emiten berkode saham MYOR. (Foto: Dok. Mayora)

Insight Navigator

  1. 01 Laba Mayora Kuartal I Melemah, tapi Penjualan Ekspor Menopang
  2. 02 Proyeksi Mayora Tahun 2025: Kembali ke Jalur Pertumbuhan
  3. 03 Valuasi dan Arah Harga Saham MYOR

KABARBURSA.COM - PT Mayora Indah Tbk (MYOR) menyiapkan strategi korporasi besar di tengah tekanan marjin laba dan volatilitas harga komoditas global. 

Emiten sektor barang konsumsi ini mengumumkan rencana pembelian kembali saham (buyback) senilai maksimal Rp1 triliun yang akan dimulai pada 5 Juni 2025 dan berlangsung hingga 5 Juni 2026. 

Dana untuk buyback sepenuhnya bersumber dari kas internal perusahaan tanpa pembiayaan eksternal. Langkah ini mencerminkan posisi likuiditas Mayora yang cukup solid meskipun perusahaan tengah menghadapi tekanan laba akibat kenaikan biaya bahan baku pada awal tahun.

Buyback ini memberikan fleksibilitas kepada perseroan untuk mengelola struktur modal secara efisien, sekaligus meningkatkan nilai pemegang saham melalui potensi peningkatan laba per saham,” ujar Yuni Gunawan, Sekretaris Perusahaan Mayora Indah, dalam keterbukaan informasi dikutip Senin, 26 Mei 2025.

Dengan alokasi dana sebesar Rp1 triliun dan asumsi harga beli rata-rata Rp2.225 per saham, Mayora diperkirakan akan menyerap sekitar 449 juta saham atau setara dua persen dari total saham beredar. 

Proyeksi internal menyebutkan bahwa langkah ini akan meningkatkan laba per saham (earning per share/EPS) dari Rp146,5 menjadi Rp149,5 atau naik sekitar 2,1 persen.

Laba Mayora Kuartal I Melemah, tapi Penjualan Ekspor Menopang

Laporan keuangan interim menunjukkan bahwa laba bersih Mayora pada kuartal I 2025 tercatat sebesar Rp689 miliar, turun 38 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

Kinerja ini berada di bawah ekspektasi konsensus analis, dengan kontribusi kuartal I hanya sekitar 20 persen dari estimasi laba tahunan, jauh di bawah rerata lima tahun yang biasanya berada di kisaran 40–44 persen.

Meski demikian, penjualan bersih tumbuh 12,5 persen menjadi Rp9,86 triliun. Pertumbuhan tertinggi berasal dari segmen ekspor yang naik 16 persen secara tahunan, sementara penjualan domestik naik 10,6 persen. 

Kenaikan ini menunjukkan bahwa permintaan luar negeri menjadi penopang utama pertumbuhan MYOR di tengah lesunya daya beli dalam negeri.

“Pertumbuhan penjualan ekspor memberikan kompensasi terhadap pelemahan margin domestik. Meski secara total laba menurun, ada indikasi pemulihan yang bertahap,” ujar Andrianto Saputra, Analis Ekuitas di Indo Premier Sekuritas, dikutip Senin, 26 Mei 2025.

Secara struktural, tekanan terhadap margin laba kotor (gross profit margin/GPM) masih menjadi tantangan. GPM Mayora pada kuartal I 2025 tercatat sebesar 21,9 persen, meningkat dibanding kuartal sebelumnya namun masih turun hampir 6 poin persentase dibanding kuartal I 2024. Penurunan margin disebabkan oleh kenaikan harga kakao yang mendorong biaya pokok penjualan.

“Meski terjadi kenaikan harga jual rata-rata untuk produk berbasis kakao pada Februari, pemulihan margin belum sesuai panduan internal sebesar 23–25 persen,” jelas Andrianto.

Selain itu, belanja iklan dan promosi juga mengalami kenaikan, tercermin dari rasio A&P terhadap penjualan yang naik menjadi 8,4 persen. Hal ini menyebabkan beban operasional naik dan margin laba bersih (net profit margin/NPM) turun ke level 7 persen.

Namun manajemen tetap optimistis pemulihan akan mulai terasa pada paruh kedua tahun ini. Rencana penyesuaian ukuran dan kemasan produk untuk menyesuaikan struktur harga juga tengah disiapkan, terutama untuk lini kopi dan minuman instan.

Proyeksi Mayora Tahun 2025: Kembali ke Jalur Pertumbuhan

MNC Sekuritas memproyeksikan pendapatan Mayora akan mencapai Rp39,7 triliun pada 2025, tumbuh sekitar 10 persen dari realisasi tahun sebelumnya. Laba bersih diperkirakan naik 9,2 persen menjadi Rp3,3 triliun, seiring dengan normalisasi harga bahan baku dan efisiensi operasional yang lebih terjaga.

“Penurunan harga gandum, gula, dan kakao menjadi katalis positif untuk margin. Kami memperkirakan marjin laba kotor akan membaik menjadi 23,5 persen tahun ini,” kata Catherine Florencia, Analis Riset di MNC Sekuritas, dalam risetnya.

Ia menambahkan bahwa posisi kas Mayora yang mencapai Rp4,6 triliun pada akhir 2024 cukup kuat untuk membiayai operasional, investasi, dan buyback secara simultan. 

Belanja modal juga dipangkas menjadi Rp1 triliun, menunjukkan fokus manajemen pada optimalisasi arus kas.

Secara struktural, Mayora mempertahankan posisi dominan di segmen makanan ringan dan minuman siap saji. Produk seperti Energen dan Roma Kelapa masih memimpin pasar masing-masing di kategori cereal drink dan biskuit, dengan pangsa pasar sebesar 69 persen dan 43 persen per akhir 2024.

Perusahaan juga terus memperluas ekspansi ke pasar ekspor. Strategi diferensiasi produk berbasis preferensi lokal diterapkan melalui peluncuran produk seperti Roma Malkist Tom Yum untuk Thailand dan Fruta Gummy untuk pasar India. 

Di Filipina, Mayora memperkuat penetrasi kopi instan dengan produksi lokal, sementara di China, merek Danisa Butter Cookies terus menguat di segmen premium snack dan produk hadiah.

“Kontribusi ekspor kini menjadi sekitar 42 persen dari total pendapatan. Diversifikasi geografis memberikan perlindungan terhadap volatilitas domestik,” tulis Catherine dalam risetnya.

Valuasi dan Arah Harga Saham MYOR

Harga saham MYOR tercatat di level Rp2.300 per Senin, 26 Mei 2025 pukul 13.31 WIB, naik tipis 10 poin atau 0,44 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. 

Volume transaksi harian tercatat sebesar 2,04 juta lembar, di bawah rata-rata 20 hari sebesar 9,16 juta, menandakan aktivitas perdagangan masih relatif moderat. Rentang harga harian berada di kisaran Rp2.260–Rp2.310 dengan nilai transaksi mencapai Rp4,7 miliar.

Secara teknikal, mayoritas indikator jangka pendek menunjukkan sinyal positif. Berdasarkan data Investing.com, indikator Moving Average menunjukkan sinyal Buy untuk MA5, MA10, dan MA50, baik pada simple maupun exponential average. 

RSI (14) tercatat di level 53, menandakan pasar berada dalam kondisi netral namun mengarah ke fase penguatan ringan. MACD dan ROC juga memberi sinyal Buy, mengindikasikan adanya potensi momentum naik yang mulai terbentuk.

Namun demikian, tekanan jangka menengah belum sepenuhnya terangkat. Harga saat ini masih berada di bawah MA100 dan MA200, masing-masing di kisaran Rp2.336 dan Rp2.415. Artinya, ruang kenaikan masih bergantung pada sentimen lanjutan dari aksi buyback dan narasi RUPS.

Di sisi valuasi, saham MYOR saat ini diperdagangkan pada Price to Earnings Ratio (PER) 2025 sekitar 15,8 kali, berdasarkan proyeksi laba bersih Rp3,3 triliun dan EPS sekitar Rp149,5. Angka ini masih berada di bawah rerata historis lima tahun yang berada di kisaran 20–22 kali. 

Target harga dari Indo Premier Sekuritas sebesar Rp3.400 per saham, memberikan potensi kenaikan sebesar 47,8 persen dari posisi perdagangan saat ini.

Valuasi MYOR dipandang menarik oleh analis Indo Premier Sekuritas, terutama dengan asumsi eksekusi buyback yang dilakukan di tengah harga saham yang cenderung stagnan. Target harga yang diberikan adalah Rp3.400 per saham, atau mencerminkan potensi kenaikan hampir 48 persen dari posisi saat ini.

Ia menekankan bahwa konsistensi pemulihan margin dan kemampuan menavigasi pasar ekspor akan menjadi kunci keberlanjutan re-rating valuasi.

Lebih lanjut, Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dan Luar Biasa (RUPS/RUPSLB) Mayora dijadwalkan pada 10 Juni 2025. 

Agenda utama meliputi persetujuan aksi buyback, pembagian dividen tahun buku 2024, dan penunjukan auditor eksternal. Rapat akan dilanjutkan dengan Public Expose yang dilaksanakan secara daring.

Investor dan analis akan mencermati paparan manajemen terkait strategi semester II, realisasi efisiensi operasional, dan outlook permintaan domestik serta ekspor. 

Momen ini juga akan menjadi barometer kepercayaan pasar terhadap arah pertumbuhan perusahaan di tengah ketidakpastian daya beli dan tekanan eksternal. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya