KABARBURSA.COM - Setelah cukup lama bergerak dalam tren menurun, saham PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES) mulai menunjukkan tanda-tanda menarik.
Dalam beberapa bulan terakhir, pergerakannya cenderung stabil di kisaran harga bawah, dengan volume perdagangan yang pelan tapi pasti meningkat. Pola ini oleh banyak pelaku pasar disebut sebagai fase “base”, yaitu periode akumulasi di mana saham mulai membangun fondasi untuk berbalik arah.
Bagi investor yang mengincar saham-saham berfundamental baik yang sedang diperdagangkan di harga murah, kondisi ini biasanya jadi momentum yang patut diperhatikan. Ditambah lagi, sektor ritel perlahan mulai pulih seiring perbaikan konsumsi rumah tangga.
Dengan ACES yang masih tertahan di level teknikal penting namun mulai menunjukkan perubahan arah tren jangka pendek, muncul pertanyaan yang relevan: apakah sekarang waktu yang tepat untuk mulai masuk saat harganya masih tergolong rendah?
Tekanan Harga Mereda, Sinyal Pemulihan Muncul Pelan-Pelan
Harga saham PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES) memang belum sepenuhnya keluar dari tekanan. Dalam setahun terakhir, saham ritel ini tercatat sudah terkoreksi lebih dari 36 persen.
Bila ditarik lebih panjang ke belakang, penurunan selama lima tahun mencapai hampir 64 persen. Kini, saham ACES diperdagangkan di level Rp530, mendekati titik terendahnya dalam setahun terakhir di Rp426.
Dibandingkan level tertinggi dalam 52 minggu yang sempat menyentuh Rp950, koreksi ini jelas dalam.
Namun di tengah tren mayor yang masih condong turun, muncul tanda-tanda menarik dalam pergerakan teknikalnya. Dalam tiga bulan terakhir, volume perdagangan ACES terlihat meningkat.
Meski harga belum banyak bergerak, aktivitas transaksi yang lebih ramai ini kerap dibaca pasar sebagai indikasi bahwa pelaku pasar mulai melakukan akumulasi secara bertahap di kisaran harga bawah.
Dari sisi tren jangka panjang, harga ACES memang masih tertahan di bawah garis rata-rata 200 hari (MA200), yang menjadi acuan banyak analis untuk menilai kekuatan tren mayor. Namun saat ini, harga mulai mencoba mendekati kembali level tersebut.
Sementara itu, pergerakan terhadap MA50 dan MA100 menunjukkan kecenderungan konsolidasi, alias bergerak mendatar. Fase seperti ini biasanya menjadi penanda awal sebelum pasar menentukan arah baru.

Secara teknikal, area Rp500 kembali menjadi titik support penting bagi ACES. Selama harga mampu bertahan di atas level ini, potensi untuk terjadi pembalikan arah tetap terbuka.
Jika tekanan jual bisa ditekan dan pembeli mulai mendominasi, target penguatan pertama berada di kisaran Rp630, dengan potensi lanjutan menuju Rp725 jika momentum menguat.
Beberapa indikator teknikal lainnya juga mulai memberi sinyal perubahan. Relative Strength Index (RSI) bergerak ke arah zona netral, menandakan tekanan jual mulai berkurang. Indikator stochastic juga mulai mengarah naik, mengisyaratkan adanya momentum beli jangka pendek.
Sementara itu, MACD memang masih berada di zona negatif, tetapi garisnya mulai merapat, memberi sinyal awal bahwa tekanan turun mulai kehilangan tenaga.
Dengan harga saham yang sudah tertekan cukup dalam dan volume transaksi yang meningkat, ACES menjadi salah satu saham yang mulai dilirik kembali oleh investor dengan horizon jangka menengah.
Potensi pemulihan tetap perlu dikawal dengan kehati-hatian, apalagi mengingat sentimen terhadap sektor ritel belum sepenuhnya pulih. Namun bagi investor yang berani mengambil posisi saat harga berada di dasar, ACES saat ini menawarkan peluang dengan risiko yang masih bisa dikendalikan.
Valuasi Saham ACES Mulai Menarik
Jika dilihat dari kacamata valuasi dan kekuatan fundamental ACES, ada alasan kuat untuk kembali melirik emiten ritel modern ini. Harga saham yang sudah terkoreksi cukup dalam kini membuat valuasinya berada di titik yang mulai masuk akal.
Ditambah kondisi keuangan yang sehat dan peluang perbaikan sektor ritel di paruh kedua 2025, ACES punya cukup amunisi untuk bangkit perlahan.
Saat ini ACES diperdagangkan dengan rasio price to earnings (PE) TTM di level 10,95. Secara forward PE, angka tersebut bahkan turun ke 9,25.
Bandingkan dengan PE median IHSG yang berada di angka 8,09, selisihnya memang masih ada, tapi ACES sejatinya punya track record pertumbuhan yang cukup konsisten dalam jangka panjang.
Rasio PEG-nya saat ini tercatat di 0,69, yang secara teknikal mengindikasikan bahwa harga saham belum sepenuhnya mencerminkan potensi pertumbuhan ke depan.
Lebih menarik lagi, posisi neraca ACES terbilang sangat konservatif. Perusahaan hampir tidak punya utang berbunga, rasio debt-to-equity hanya 0,02 dan net debt-nya justru negatif.
Artinya, jumlah kas lebih besar daripada total utang. Ini memberi ruang manuver cukup luas bagi manajemen, baik untuk ekspansi operasional maupun menjaga konsistensi pembagian dividen.
Dari sisi kinerja, ACES memang masih dalam proses pemulihan. Pada kuartal I/2025, laba bersih tercatat Rp142 miliar, turun cukup dalam dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun, pendapatan justru naik 7,2 persen secara tahunan.

Margin laba kotor juga tetap stabil di kisaran 48 persen. Tekanan dari sisi bottom line lebih disebabkan oleh biaya operasional yang naik dan efek basis perbandingan yang cukup tinggi pascapandemi.
Yang menarik, ACES tetap konsisten membagikan dividen. Tahun ini, perusahaan mengumumkan pembagian dividen tunai sebesar Rp33,5 per saham, dengan yield yang cukup menggiurkan, yaitu sekitar 6,32 persen berdasarkan harga saat ini.
Ini bisa menjadi insentif tambahan bagi investor ritel yang mengincar dividen, meskipun payout ratio-nya sudah menyentuh 101 persen. Sebuah angka yang tinggi, namun belum berada di level mengkhawatirkan mengingat solidnya kas perusahaan.
Ke depan, ACES punya peluang memanfaatkan momentum pemulihan konsumsi domestik, terutama di kuartal II yang biasanya lebih kuat secara musiman. Libur Iduladha, perbaikan daya beli, dan potensi stimulus belanja rumah tangga dari berbagai program pemerintah diperkirakan ikut mendorong trafik gerai dan penjualan.
Jika tren ini berlanjut dan margin bisa dijaga, laporan keuangan semester I nanti bisa menjadi titik balik yang ditunggu-tunggu pasar.
Memang, saham ACES bukan untuk mereka yang mencari kenaikan harga cepat. Tapi bagi investor yang sabar dan fokus pada valuasi serta fundamental, saham ini menawarkan potensi pemulihan yang menarik di tengah valuasi yang relatif murah dan neraca keuangan yang sangat sehat.
Tertinggal dari Pesaing, Kinerja ACES Masih Perlu Bukti
Di tengah rebound sektor ritel yang mulai terasa di paruh pertama 2025, saham PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES) masih bergerak tertatih. Meskipun ada sedikit perbaikan dari sisi pendapatan, tekanan dari dalam tampaknya belum sepenuhnya mereda.
Di kuartal pertama tahun ini, ACES memang berhasil mencatatkan pertumbuhan penjualan sebesar 7,2 persen secara tahunan. Tapi itu belum cukup untuk menahan penurunan laba bersih yang cukup tajam, yakni 31,1 persen menjadi Rp141,6 miliar.
Lonjakan beban operasional sebesar 24 persen jadi penyebab utama. Di saat perusahaan lain dalam sektor yang sama mulai menikmati hasil dari strategi transformasi mereka, ACES justru masih bergulat dengan tekanan margin.
Bandingkan dengan pemain lain di industri yang sama, kontrasnya cukup mencolok. PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) membukukan pertumbuhan laba hingga dua kali lipat menjadi Rp218 miliar. Pendapatannya pun melonjak 38 persen.
Sementara PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) juga tak kalah impresif dengan laba bersih Rp643,32 miliar, naik hampir 100 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya.
Di ritel kebutuhan pokok, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) mencatatkan pendapatan kuartalan tembus Rp32,77 triliun dan laba bersih mendekati Rp1 triliun.

Bahkan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), yang bergerak di sektor barang konsumsi, membagikan dividen besar senilai Rp3,35 triliun, hampir seluruh laba bersihnya, menandakan kekuatan kas dan operasional yang terjaga.
ACES sendiri masih menunjukkan niat untuk bertahan dan bertumbuh. Tahun ini, manajemen menargetkan pembukaan 30 toko baru dan pertumbuhan penjualan sekitar 5 persen.
Strategi ekspansi ini tentu bisa menjadi pijakan pemulihan, tapi pasar tampaknya masih menunggu bukti nyata di level profitabilitas. Pertumbuhan pendapatan saja tidak cukup jika beban usaha masih terus menekan margin.
Secara umum, posisi ACES saat ini memang belum sekuat para pesaingnya. Merek yang kuat dan jaringan ritel yang tersebar luas menjadi modal yang tidak bisa diabaikan.
Tapi untuk bisa kembali bersaing dalam lanskap ritel modern yang semakin kompetitif, perusahaan perlu menunjukkan bahwa mereka bisa lebih adaptif, lebih efisien, dan lebih tanggap terhadap tekanan eksternal, termasuk daya beli konsumen yang masih fluktuatif.
Bagi investor, ACES saat ini bukan tidak menarik, justru menjadi saham yang layak diperhatikan dengan seksama. Tapi berbeda dari saham-saham ritel lain yang sudah mulai berlari, ACES masih berada di garis start.
Waktunya Lirik ACES, Tapi Jangan Gegabah
Bagi investor dengan orientasi jangka menengah hingga panjang, saham PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES) mulai menunjukkan sinyal yang layak dicermati.
Setelah lama tertahan dalam tekanan, posisi harga yang kini mendekati area support teknikal di Rp500 memberi peluang untuk mulai mengakumulasi.
Namun, ini bukan ajakan untuk masuk agresif. Pasar masih dibayangi ketidakpastian, dan kinerja laba ACES sendiri belum menunjukkan perbaikan yang meyakinkan.
Dalam situasi seperti ini, strategi yang paling masuk akal adalah membeli secara bertahap. Pendekatan "buy on weakness" atau "average in" menjadi pilihan yang rasional, sambil menanti konfirmasi yang lebih kuat bahwa tren penurunan sudah mulai berbalik arah.
Investor bisa mulai mencicil posisi saat harga bertahan di atas support, sambil tetap disiplin dalam mengatur batas risiko.
Valuasi ACES saat ini tergolong menarik. Rasio price-to-earnings sudah masuk ke level yang lebih terjangkau, perusahaan konsisten membagikan dividen yang relatif tinggi, dan neracanya nyaris bebas utang.
Semua ini memberi fondasi yang cukup solid bagi pemulihan, asalkan tekanan eksternal tidak semakin memburuk.
Namun tetap ada batas yang perlu dijaga. Jika harga tergelincir di bawah Rp480, itu bisa jadi sinyal bahwa tekanan jual masih dominan dan perlu ada evaluasi ulang terhadap posisi.
Sebaliknya, jika harga berhasil menembus level Rp630 hingga Rp725, maka itu bisa menjadi konfirmasi awal bahwa saham ini benar-benar mulai memasuki fase pemulihan.
Dalam kondisi pasar seperti sekarang, kehati-hatian dan manajemen risiko tetap menjadi kunci. ACES memang belum kembali ke masa keemasannya, tapi bagi investor yang sabar dan disiplin, peluangnya masih terbuka lebar.(*)