KABARBURSA.COM - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) telah mengakuisisi 99,68 persen kepemilikan saham
di Wolfram Limited (Wolfram), perusahaan pertambangan emas dan tembaga yang berbasis di Australia. Dikatakan, kepemilikan saham BUMI ini akan menjadi 100 persen pada November 2025.
Akuisisi ini merupakan tindak lanjut dari term sheet agreement yang ditandatangani awal tahun dan kini telah difinalisasi setelah memperoleh persetujuan dari Foreign Investment Review Board (FIRB) di Australia.
Langkah ini menandai tonggak penting dalam strategi diversifikasi Bumi Resources, yang memperluas portofolio perusahaan ke sektor mineral strategis dan mineral kritis serta peluang hilirisasi.
Presiden Direktur BUMI, Adika Nuraga Bakrie mengatakan dengan selesainya transaksi ini, perusahaan mengambil langkah penting dalam perjalanan diversifikasinya.
"Ekspansi ke mineral strategis dan mineral kritis sejalan dengan tren permintaan global serta memperkuat komitmen kami terhadap pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan,” ujar dia dalam keterangannya beberapa waktu lalu.
Melalui Wolfram, BUMI memperoleh akses terhadap potensi produksi emas dan tembaga dalam jangka pendek, yang diharapkan dapat berkontribusi positif pada profil pendapatan perusahaan sekaligus memberikan nilai tambah bagi para pemegang saham.
Pengamat pasar modal, Wahyu Laksono mengatakan akuisisi Wolfram sangat berpotensi menjadi katalis positif bagi BUMI. Ia menyebut pendapatan BUMI masih didominasi oleh batubara, komoditas yang harganya sangat fluktuatif dan menghadapi tantangan jangka panjang terkait isu lingkungan dan transisi energi.
"Masuk ke sektor emas dan tembaga (mineral kritis) adalah langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada batubara (mitigasi risiko)," ujar dia kepada Kabarbursa.com dikutip, Selasa, 4 November 2025.
Wahyu menuturkan jika emas adalah aset safe haven dengan permintaan yang stabil, sementara tembaga memiliki prospek cerah sebagai komponen kunci dalam elektrifikasi dan energi terbarukan.
Akuisisi ini pun diharapkan memberikan akses terhadap potensi produksi emas dan tembaga dalam jangka pendek, yang dapat langsung berkontribusi pada pendapatan dan laba BUMI.
"Akuisisi ini berpotensi menambah nilai perusahaan jika proyek Wolfram Limited segera mencapai tahap produksi dan memberikan arus kas positif," ungkapnya.
Lebih jauh Wahyu menjelaskan, kontribusi laba dari Wolfram akan meningkatkan laba bersih BUMI secara keseluruhan, yang pada gilirannya akan meningkatkan laba per saham (EPS) dan dapat mendorong re-rating valuasi perusahaan.
Di samping itu, ia memandang diversifikasi ke sektor future-proof akan memperbaiki persepsi investor terhadap prospek jangka panjang BUMI. Menurutnya, hal ini dapat meningkatkan nilai pasar dari sisi kualitatif.
Kendati begitu, Wahyu mengakui jika akusisi ini akan menjadi beban baru bagi BUMI jika proyek tambang Wolfram memerlukan investasi capex (belanja modal) yang besar dan lama sebelum mulai berproduksi (belum produktif).
"Hal ini bisa menekan arus kas dan menambah beban biaya operasional tanpa diimbangi peningkatan pendapatan dalam jangka pendek," ungkapnya.
Selain itu, ada juga masalah integrasi/operasional. Menurut Wahyu, sdanya kendala dalam integrasi atau masalah operasional di Australia juga bisa menghambat kontribusi positifnya.
"Kesimpulannya, akuisisi Wolfram adalah langkah fundamental positif bagi BUMI dalam jangka panjang untuk mencapai diversifikasi bisnis dan mitigasi risiko komoditas," terang Wahyu.
Kinerja Kuartal III 2025
Adapun, BUMI mencatat kenaikan tajam laba usaha sebesar 231,9 persen menjadi USD84,4 juta pada sembilan bulan pertama 2025, dibandingkan USD25,4 juta di periode sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ini terjadi di tengah tekanan harga batu bara global yang turun 18 persen menjadi rata-rata USD60,4 per ton. Meski demikian, BUMI tetap mencatat margin usaha meningkat signifikan menjadi 8,1 persen dari sebelumnya hanya 2,7 persen.
Pendapatan BUMI naik 11,9 persen menjadi USD1,04 miliar dari USD926,9 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Beban pokok pendapatan tercatat naik moderat 5,1 persen menjadi USD876 juta, membuat laba kotor melonjak 72,3 persen menjadi USD161,3 juta. Beban usaha juga naik 12,8 persen menjadi USD76,9 juta, namun tertutup oleh kenaikan laba operasi yang signifikan.
Meski kinerja operasional positif, laba bersih perseroan anjlok 56 persen menjadi USD60,1 juta dibandingkan USD136,4 juta di kuartal III 2024.
Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga turun tajam 76,1 persen menjadi USD29,4 juta dari USD122,9 juta.
Secara operasional, volume produksi batu bara BUMI mencapai 54,9 juta ton, turun 4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penjualan tercatat 54,5 juta ton atau turun 2 persen.
Rasio kupasan tanah (strip ratio) juga membaik menjadi 8,1 kali dari 8,7 kali, menandakan peningkatan efisiensi penambangan.
Persediaan akhir kuartal tercatat 2,6 juta ton, turun dari 3,6 juta ton pada periode serupa tahun lalu.
Untuk tahun 2025, BUMI menargetkan volume penjualan 73–75 juta ton dengan harga rata-rata USD59–61 per ton. Biaya tunai produksi diproyeksikan berkisar USD41–43 per ton.
Saham BUMI Masuk LQ45
Berdasarkan data Stockbit, Selasa, 4 November 2025, saham BUMI dalam rentang year to date (ytd) naik 18,64 persen dan masih menguat 3,7 persen dalam satu tahun terakhir.
Namun dalam jangka pendek, saham BUMI terpantau koreksi. Dalam satu bulan terakhir misalnya, saham ini melemah 13,04 persen dengan level tertinggi 161 dan terendah 128.
Adapun, saham BUMI terpilih masuk ke dalam indeks LQ45 yang telah berlaku pada 3 November 2025. Wahyu mengatakan penetapan ini bisa membawa sentimen positif terhadap saham BUMI.
"Status sebagai emiten LQ45 umumnya berpotensi mendorong kenaikan harga saham BUMI dalam jangka pendek hingga menengah," ungkap dia.
Meskipun status ini adalah berita positif, kata Wahyu, pasar seringkali sudah mengantisipasi hal tersebut jauh hari, terutama jika kriteria masuknya sudah terlihat jelas. Oleh karena itu, lonjakan harga yang signifikan mungkin sudah terjadi sebelum tanggal efektif pengumuman.
"Namun, dampak dari rebalancing oleh reksa dana pasif (yang mengikuti indeks) seringkali baru terlihat pada periode implementasi," pungkasnya.(*)