KABARBURSA.COM – PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) melakukan pemangkasan karyawan secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Di tengah transformasi bisnis, jumlah karyawan BUKA tercatat turun dari 1.018 orang menjadi 424 orang, atau berkurang sekitar 58 persen sejak 2022. Langkah ini tidak hanya mencerminkan perubahan strategi, tetapi juga memunculkan pertanyaan tentang kondisi kinerja keuangan yang melatarbelakanginya.
Corporate Secretary Bukalapak, Cut Fika Lutfi, menjelaskan bahwa perubahan jumlah karyawan merupakan bagian dari penyesuaian strategi perusahaan.
“Perusahaan terus melakukan transformasi bisnis dan penyesuaian organisasi untuk mendukung fokus pada segmen yang memiliki potensi pertumbuhan lebih baik serta profitabilitas yang berkelanjutan,” ujar Cut Fika Lutfi dalam keterbukaan informasi, Selasa, 5 Mei 2026.
Langkah efisiensi ini berlangsung di tengah perubahan arah bisnis Bukalapak yang tidak lagi bertumpu pada marketplace fisik, melainkan bergeser ke lini seperti Mitra, Gaming, Investment, dan Retail. Pergeseran tersebut mendorong perusahaan merampingkan struktur organisasi agar lebih efisien sekaligus menyesuaikan kebutuhan operasional dengan model bisnis baru.
Cut Fika Lutfi menambahkan, bahwa efisiensi dilakukan sebagai bagian dari upaya memperkuat fundamental perusahaan. “Kami berfokus pada peningkatan kualitas pendapatan serta memastikan setiap lini bisnis dapat memberikan kontribusi yang lebih optimal terhadap kinerja perusahaan,” katanya.
Selain efisiensi tenaga kerja, Bukalapak juga meninggalkan indikator berbasis volume transaksi seperti GMV atau TPV sejak 2025 dan mulai beralih pada metrik yang lebih menekankan profitabilitas.
Perubahan ini menunjukkan pergeseran orientasi dari pertumbuhan ke arah keberlanjutan kinerja. Tak hanya itu, perubahan pendekatan ini kemudian tercermin dalam dinamika kinerja keuangan yang mengalami pergerakan cukup tajam dalam waktu singkat.
Dari Profit Triliunan ke Rugi Kuartalan
Perubahan struktur organisasi Bukalapak terjadi di tengah kinerja keuangan yang bergerak tajam dalam waktu singkat. Setelah mencatatkan laba bersih Rp3,142 triliun sepanjang 2025, kinerja perusahaan berbalik pada awal tahun berikutnya dengan mencatat rugi Rp426 miliar pada kuartal I 2026. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, Bukalapak masih membukukan laba Rp111 miliar.
Dalam basis trailing twelve months (TTM), perusahaan sebenarnya masih mencatatkan laba sebesar Rp2,606 triliun. Namun, posisi ini tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi terkini karena sebagian besar kontribusi berasal dari periode sebelumnya.
Data kuartal terbaru justru memperlihatkan tekanan yang lebih nyata terhadap kinerja laba, seiring dengan meningkatnya beban dan perubahan struktur pendapatan.
Dari sisi pendapatan, Bukalapak masih menunjukkan pertumbuhan. Total pendapatan kuartal I 2026 mencapai Rp2,37 triliun, naik dibanding Rp1,457 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan ini mengindikasikan bahwa aktivitas bisnis tetap berjalan ekspansif. Kendati demikian, peningkatan pendapatan tersebut tidak diikuti oleh perbaikan laba.
Kondisi ini memperlihatkan adanya ketidakseimbangan antara pertumbuhan top line dan bottom line. Di satu sisi, perusahaan berhasil meningkatkan pendapatan, tetapi di sisi lain belum mampu menjaga profitabilitas secara konsisten.
Perubahan dari laba tahunan triliunan rupiah menjadi kerugian dalam satu kuartal menjadi indikator bahwa stabilitas kinerja masih menjadi tantangan dalam proses transformasi bisnis yang sedang dijalankan.
Dalam konteks tersebut, langkah efisiensi, termasuk pengurangan tenaga kerja, tidak dapat dilepaskan dari dinamika kinerja keuangan yang lebih luas. Pergeseran laba yang tajam ini menjadi dasar penting untuk memahami apakah transformasi yang dilakukan telah menghasilkan perbaikan fundamental, atau justru masih berada dalam fase penyesuaian yang penuh tekanan.
Tekanan Operasional: Margin Negatif di Tengah Pertumbuhan
Di balik pertumbuhan pendapatan, tekanan utama Bukalapak justru terlihat pada kinerja operasional. Pada kuartal I 2026, perusahaan mencatat margin kotor sebesar 6,88 persen, sementara margin operasional berada di level negatif 21,90 persen dan margin bersih minus 17,97 persen.
Sementara untuk otal beban usaha pada kuartal I 2026 mencapai Rp682 miliar dan laba usaha tercatat negatif Rp519 miliar. Kondisi ini menggambarkan bahwa aktivitas inti perusahaan masih menghasilkan kerugian secara operasional, meski pendapatan terus bertumbuh.
Jika ditarik lebih jauh, tekanan ini bukan hanya soal besarnya biaya, tetapi juga terkait dengan model bisnis yang masih dalam fase penyesuaian. Peralihan dari marketplace berbasis transaksi ke lini seperti Mitra, Gaming, dan layanan digital lainnya membawa konsekuensi pada struktur biaya dan monetisasi.
Dalam fase ini, perusahaan harus menanggung beban operasional yang belum sepenuhnya seimbang dengan kontribusi pendapatan dari lini baru tersebut.
Di sisi lain, margin yang tipis pada level kotor menunjukkan ruang yang terbatas untuk menyerap biaya tambahan. Dengan gross margin di bawah 10 persen, setiap kenaikan beban operasional akan langsung berdampak pada laba usaha.
Hal ini memperkuat indikasi bahwa tantangan utama Bukalapak saat ini bukan pada pertumbuhan pendapatan, melainkan pada efisiensi dan kualitas pendapatan itu sendiri.
Dalam konteks ini, langkah efisiensi seperti pengurangan tenaga kerja menjadi bagian dari upaya menyesuaikan struktur biaya dengan kemampuan bisnis menghasilkan margin. Namun, dengan margin operasional yang masih negatif, efisiensi jangka pendek saja belum cukup untuk memastikan stabilitas kinerja tanpa diikuti perbaikan pada struktur bisnis inti.
Laba dan Peran Pendapatan Non-Operasional
Selain tekanan dari sisi operasional, dinamika kinerja Bukalapak juga dipengaruhi oleh komponen pendapatan di luar bisnis inti. Dalam laporan keuangan, pos “Others” atau pendapatan lain-lain menunjukkan fluktuasi yang cukup besar dalam beberapa periode terakhir.
Pada kuartal III 2025, misalnya, komponen ini tercatat mencapai Rp2,248 triliun. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding periode lain yang relatif lebih kecil atau bahkan negatif.
Pergerakan yang tidak konsisten ini menunjukkan bahwa kontribusi pendapatan non-operasional memiliki peran signifikan dalam membentuk laba bersih perusahaan pada periode tertentu.
Dalam konteks laba tahunan 2025 yang mencapai Rp3,142 triliun, besarnya komponen tersebut menjadi salah satu faktor yang tidak dapat diabaikan dalam membaca kualitas laba secara keseluruhan.
Sebaliknya, pada kuartal I 2026, pos “Others” justru kembali menjadi beban sebesar Rp503 miliar. Perubahan dari kontribusi positif besar menjadi negatif dalam waktu relatif singkat memperlihatkan volatilitas yang tinggi. Kondisi ini turut memperbesar tekanan terhadap laba bersih, terutama ketika kinerja operasional masih mencatatkan kerugian.
Dengan demikian, pergerakan laba Bukalapak tidak hanya ditentukan oleh aktivitas bisnis inti, tetapi juga oleh komponen non-operasional yang sifatnya tidak selalu berulang. Dalam situasi seperti ini, pemahaman terhadap struktur laba menjadi penting untuk melihat apakah kinerja yang tercatat mencerminkan kekuatan fundamental atau masih dipengaruhi faktor eksternal dan insidental.
Perubahan arah pada pos pendapatan lain-lain tersebut sekaligus mempertegas bahwa fase transformasi yang dijalankan perusahaan masih membawa dinamika yang cukup besar terhadap hasil akhir kinerja keuangan.
Neraca Kuat, Operasional Tertekan
Di tengah tekanan pada kinerja operasional, posisi keuangan BUKA justru menunjukkan kondisi yang relatif kuat dari sisi likuiditas. Perusahaan mencatat kas dan setara kas sebesar Rp13,451 triliun pada kuartal I 2026, dengan total aset mencapai Rp25,428 triliun. Pada saat yang sama, Bukalapak praktis tidak memiliki utang berbunga, dengan total liabilitas hanya Rp658 miliar.
Rasio likuiditas perusahaan juga berada pada level yang sangat tinggi. Current ratio tercatat mencapai 38,02 kali dan quick ratio sebesar 37,48 kali.
Namun, kekuatan di sisi neraca tersebut tidak serta-merta mencerminkan kondisi operasional yang solid. Dengan laba usaha yang masih negatif Rp519 miliar pada kuartal I 2026 dan margin operasional minus 21,90 persen, tantangan utama justru berada pada kemampuan bisnis inti menghasilkan profit secara berkelanjutan. Dalam konteks ini, kas besar lebih berfungsi sebagai bantalan finansial dibanding indikator kinerja operasional.
Posisi tanpa utang juga memberikan fleksibilitas bagi perusahaan dalam menjalankan strategi transformasi, termasuk efisiensi dan pengembangan lini bisnis baru. Namun, dengan tekanan pada margin dan volatilitas laba yang masih terjadi, keberlanjutan kinerja tetap akan sangat bergantung pada perbaikan struktur pendapatan dan efisiensi biaya.
Kondisi ini memperlihatkan adanya kontras antara kekuatan finansial dan performa operasional. Di satu sisi, Bukalapak memiliki ruang yang cukup luas untuk bertahan dan beradaptasi.
Di sisi lain, tantangan dalam membangun model bisnis yang stabil dan menguntungkan masih menjadi pekerjaan utama dalam fase transformasi yang sedang berlangsung.
Pasar dan Pergerakan Saham
Pergerakan saham PT Bukalapak.com Tbk mencerminkan respons pasar yang cenderung berhati-hati terhadap dinamika kinerja perusahaan. Dalam jangka pendek, saham Bukalapak menunjukkan pergerakan yang relatif terbatas. Secara mingguan, harga saham terkoreksi 3,23 persen, sementara dalam satu bulan terakhir masih mencatat kenaikan 4,17 persen.
Namun, jika ditarik ke horizon yang lebih panjang, tekanan terlihat lebih jelas. Dalam satu tahun terakhir, saham Bukalapak hanya naik tipis 3,45 persen, sementara dalam tiga tahun terakhir masih mencatat penurunan signifikan sebesar 36,97 persen. Pergerakan ini menunjukkan bahwa pemulihan harga saham belum sepenuhnya solid dan masih berada dalam fase konsolidasi.
Variasi kinerja jangka pendek dan panjang tersebut mengindikasikan bahwa pasar belum memiliki pandangan yang sepenuhnya konsisten terhadap prospek perusahaan.
Di satu sisi, terdapat respons positif terhadap upaya transformasi dan efisiensi yang dilakukan. Di sisi lain, volatilitas kinerja keuangan dan tekanan operasional masih menjadi faktor yang membatasi optimisme investor.
Dalam konteks ini, pergerakan saham menjadi indikator eksternal yang melengkapi pembacaan terhadap laporan keuangan. Fluktuasi harga yang belum stabil mencerminkan bahwa proses penyesuaian bisnis Bukalapak masih berada dalam tahap yang dinilai pasar sebagai belum sepenuhnya selesai.
Efisiensi atau Fase Transisi?
Pemangkasan karyawan dalam skala besar menempatkan Bukalapak pada fase yang tidak sekadar operasional, tetapi juga strategis. Dalam konteks transformasi bisnis, langkah tersebut dapat dibaca sebagai upaya merapikan struktur biaya agar sejalan dengan model usaha yang baru.
Namun, dalam waktu yang sama, perubahan skala organisasi juga mencerminkan bahwa perusahaan sedang menyesuaikan diri dengan realitas bisnis yang belum sepenuhnya stabil.
Perubahan indikator kinerja dari berbasis volume ke profitabilitas memperlihatkan adanya pergeseran cara pandang terhadap pertumbuhan.
Fokus tidak lagi pada ekspansi transaksi, melainkan pada kemampuan menghasilkan nilai ekonomi yang berkelanjutan. Pergeseran ini menempatkan Bukalapak dalam jalur yang berbeda dibanding fase awal industri digital, yang sebelumnya lebih menekankan skala dibanding efisiensi.
Dalam posisi tersebut, pertanyaan yang muncul bukan lagi sekadar apakah efisiensi diperlukan, melainkan sejauh mana efisiensi mampu diterjemahkan menjadi perbaikan kinerja yang konsisten. Dengan model bisnis yang terus berubah, keberhasilan transformasi tidak hanya diukur dari pengurangan biaya, tetapi dari kemampuan lini usaha baru dalam membangun sumber pendapatan yang stabil.
Dengan demikian, PHK yang terjadi dapat dilihat sebagai bagian dari proses yang lebih besar, yakni transisi dari fase ekspansi menuju fase konsolidasi.
Proses ini membuka ruang bagi penilaian lebih lanjut: apakah transformasi yang dijalankan akan menghasilkan struktur bisnis yang lebih kuat, atau justru menunjukkan bahwa perusahaan masih berada dalam fase pencarian model yang paling tepat.(*)