KABARBURSA.COM – Sudah tiga bulan terakhir ini saham PT Barito Pacific Tbk atau BRPT, berada di zona merah. Data yang dikutip dari Stockbit menunjukkan bahwa dalam tiga bulan terakhir saham BRPT anjlok hingga 28,85 persen dari harga saat ini.
Jika dilihat dalam satu bulan terakhir, saham BRPT merosot hingga 17,25 persen dan dalam seminggu ini, harganya terjun sebanyak 12,20 persen.
Sebagai Komisaris Utama PT Barito Pacific Tbk, Prajogo Pangestu tentunya tidak tinggal diam. Sejumlah aksi dilakukan, terutama memborong saham agar bisa terdongkrak naik. Dalam keterangan tertulis pada Jumat, 23 Januari 2026, diketahui bahwa PP telah memborong 5.000.000 lembar saham pada rentang harga Rp2.560 hingga Rp2.600 per lembarnya.
Menurut manajemen, aksi ini dilakukan untuk investasi dengan kepemilikan saham langsung. Dan pasca transaksi, kepemilikan saham PP di BRPT naik menjadi 66,906 miliar lembar saham atau setara dengan 71,3685 persen. Diketahui, sebelumnya PP hanya memiliki 66.901 miliar lembar atau setara dengan 71,363 persen.
Namun, aksi tersebut tidak membawa banyak hasil. Pada pergerakan sesi pertama perdagangan hari ini, borong saham PP hanya mampu mendongkrak harga sebesar 0,77 persen atau 20 poin ke level 2.600. Bahkan hingga sesi selesai, harganya tidak bergerak dari harga pembukaan.
Memang harga sempat menyentuh level tertinggi di 2.670, setelah sebelumnya juga sempat menyentuh harga terendah di 2.580. Dan sepanjang sesi, terjadi transaksi sebesar 410,44 ribu lot dengan valuasi mencapai Rp107,79 miliar.
Rugi Operasional Perusahaan
Sebenarnya, BRPT tidak hanya merah di sisi harga saham. Dari data keuangannya terlihat satu hal yang sangat mencolok, yaitu kinerja operasional kuartal III-2025 yang merah.
Berdasarkan laporan keuangan interim, BRPT membukukan laba usaha negatif atau rugi operasional sebesar Rp877 miliar dalam periode tiga bulan yang berakhir pada September 2025. Angka ini menandai bahwa aktivitas bisnis utama perusahaan belum menghasilkan keuntungan operasional meski pendapatan tetap berada pada level tinggi.
Sepanjang kuartal III 2025, total pendapatan BRPT tercatat sebesar Rp38,23 triliun. Namun, beban pokok penjualan yang mencapai Rp37,59 triliun membuat laba kotor hanya tersisa Rp636 miliar.
Tekanan berlanjut pada pos beban usaha yang mencapai Rp1,51 triliun, sehingga secara struktural laba kotor tidak mampu menutup biaya operasional. Kondisi inilah yang mendorong laba usaha berbalik negatif.
Jika ditarik ke belakang, tekanan operasional ini bukan fenomena satu kuartal. Pada kuartal II 2025, BRPT juga mencatat rugi usaha sebesar Rp882 miliar, sementara kuartal I 2025 justru masih mencetak laba usaha Rp1,16 triliun.
Perubahan tajam antar-kuartal ini memperlihatkan volatilitas tinggi di tingkat operasional, yang mencerminkan sensitifnya struktur biaya terhadap dinamika harga, volume, dan efisiensi di lini usaha utama.
Pos Non-Operasional Masih Hijau
Meski demikian, rugi operasional tersebut tidak serta-merta membuat BRPT mencatat kerugian bersih. Pada kuartal III 2025, penghasilan lain-lain tercatat sebesar Rp2,18 triliun, yang menjadi penopang utama kinerja bottom line.
Dengan kontribusi pos non-operasional tersebut, laba sebelum pajak BRPT mencapai Rp1,30 triliun, dan setelah memperhitungkan beban pajak penghasilan sebesar Rp259 miliar, laba bersih periode berjalan tercatat Rp1,56 triliun.
Struktur ini menegaskan bahwa pada kuartal III 2025, laba BRPT lebih ditopang oleh aktivitas di luar operasi utama dibandingkan oleh kinerja inti bisnis. Dari sudut pandang laporan keuangan, kondisi tersebut tercermin pula pada rasio profitabilitas.
Return on Assets (ROA) kuartalan berada di level 0,26 persen, sementara Return on Equity (ROE) tercatat 1,81 persen, mencerminkan imbal hasil yang relatif tipis terhadap basis aset dan ekuitas.
Di sisi lain, indikator operasional seperti interest coverage ratio kuartalan yang berada di level -0,49 memperlihatkan bahwa laba operasional belum cukup untuk menutup beban bunga, sehingga ketergantungan pada arus kas dan pendapatan non-operasional masih menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan keuangan.
Arus Jual Belum Bisa Dibendung
Aksi borong saham oleh Komisaris BRPT rupanya belum mampu membendung arus jual yang begitu deras. Data orderbook, trade book, dan broker summary menampilkan tekanan yang tidak kunjung henti, bahkan hingga sesi pertama perdagangan hari ini.
Dari sisi orderbook, struktur penawaran memperlihatkan suplai yang tebal dan berlapis di atas harga berjalan. Pada kisaran 2.610 hingga 2.700, antrean offer menumpuk dengan total volume yang secara konsisten lebih besar dibanding antrean bid.
Di level 2.700 saja, tercatat lebih dari 20 ribu lot menunggu di sisi jual. Sementara di sisi bid, meski terlihat aktif di area 2.550–2.600, volumenya relatif tersebar dan tidak menunjukkan lonjakan yang mampu menggeser lapisan suplai di atasnya.
Struktur ini mencerminkan bahwa setiap kenaikan harga langsung berhadapan dengan dinding penawaran yang siap menyerap permintaan.
Gambaran tersebut diperkuat oleh data trade book. Sepanjang sesi, kurva sell volume bergerak lebih curam dan berada di atas kurva buy volume. Artinya, secara akumulatif, saham BRPT lebih banyak berpindah tangan melalui transaksi jual ketimbang beli.
Meskipun harga berhasil bertahan di zona hijau dan sempat bergerak naik tipis, aliran transaksi menunjukkan bahwa kenaikan itu terjadi di tengah dominasi tekanan jual, bukan karena buy volume mengambil alih kendali.
Pola seperti ini lazim muncul ketika harga didorong atau dijaga agar tidak jatuh, sementara distribusi tetap berjalan secara bertahap.
Broker summary menambahkan konteks yang lebih spesifik mengenai siapa yang aktif di balik arus tersebut. Di sisi pembelian, terlihat partisipasi asing melalui UBS Sekuritas (AK), Maybank Sekuritas (ZP), dan JP Morgan (BK) dengan nilai beli yang relatif besar dan harga rata-rata di kisaran 2.552–2.582.
Kehadiran asing ini memberi bantalan pada harga intraday. Namun, di sisi lain, tekanan jual datang dari beberapa broker yang mencatat nilai dan volume penjualan lebih agresif, dengan harga rata-rata jual yang berada di kisaran serupa.
Ada nama-nama seperti Verdhana Sekuritas (BB), BNI Sekuritas (NI), dan Stockbit Sekuritas (XL) yang menjual di harga rata-rata kisaran 2.549 hingga 2.588. Artinya, masuknya dana asing belum cukup untuk mengubah arah dominan arus transaksi, karena suplai yang dilepas pasar masih lebih aktif.
Jika ketiga data tersebut dibaca secara bersamaan, terlihat bahwa pergerakan hijau BRPT pada intraday lebih bersifat defensif. Harga mampu dipertahankan di atas level pembukaan, tetapi tanpa ekspansi volume beli yang menembus lapisan offer.
Setiap upaya naik cepat berhadapan dengan distribusi, sementara akumulasi di sisi bid cenderung menjaga area bawah agar tidak terlepas. Dalam struktur seperti ini, pasar memperlihatkan sikap menahan harga, bukan mendorongnya lebih tinggi.
Saham Masih Undervalued tapi Belum Menarik
Dari sisi Price to Earnings (PE), data PE TTM BRPT berada di level sekitar 200 kali. Angka ini berada jauh di bawah rata-rata historis tiga tahun (mean PE sekitar 426 kali) dan juga jauh di bawah pita +1 dan +2 standar deviasi yang masing-masing berada di kisaran 1.108 kali dan 1.789 kali.
Secara matematis, posisi ini menempatkan BRPT di zona relatif undervalued terhadap histori PE-nya sendiri. Artinya, jika pasar sepenuhnya menggunakan pendekatan earnings-based valuation dan mengacu pada pola historis, maka harga saat ini belum mencerminkan rerata valuasi yang pernah diberikan pasar kepada laba BRPT.
Namun, konteks PE BRPT tidak bisa dilepaskan dari kualitas laba. Laba bersih yang menopang perhitungan PE saat ini sebagian besar berasal dari penghasilan non-operasional, sementara laba usaha justru mencatat rugi operasional Rp877 miliar dalam tiga bulan terakhir.
Kondisi ini membuat PE terlihat “murah secara statistik”, tetapi rapuh secara fundamental, karena basis earnings yang digunakan belum sepenuhnya ditopang kinerja inti usaha. Inilah alasan mengapa pasar tidak serta-merta merespons rendahnya PE dengan agresi beli.
Kontras terlihat ketika beralih ke Price to Book Value (PBV). Pada grafik PBV Band tiga tahun, PBV BRPT saat ini berada di sekitar 6,35 kali. Posisi ini sudah berada di atas rata-rata historis (mean PBV sekitar 4,37 kali) dan mendekati pita +1 standar deviasi di kisaran 6,31 kali, meskipun masih di bawah +2 standar deviasi di 8,25 kali.
Secara valuasi berbasis aset dan ekuitas, kondisi ini menempatkan BRPT dalam zona relatif overvalued dibandingkan rerata historisnya.
Jika PBV mean historis dijadikan acuan harga wajar, maka valuasi “netral” BRPT seharusnya berada lebih dekat ke level yang mencerminkan PBV sekitar 4,3 kali. Dengan harga pasar saat ini yang merefleksikan PBV di atas 6 kali, terdapat selisih valuasi yang menunjukkan bahwa saham masih diperdagangkan dengan premi signifikan terhadap nilai bukunya.
Premi ini mencerminkan ekspektasi pasar terhadap kualitas aset, struktur grup usaha, serta prospek jangka panjang, namun belum sepenuhnya diimbangi oleh performa operasional terkini.(*)