KABARBURSA.COM – Pasar saham tambang Indonesia dalam beberapa bulan terakhir didominasi oleh dua kutub: saham-saham batu bara yang mulai kehabisan katalis dan saham logam mulia yang justru mengoleksi sentimen positif dari proyeksi suku bunga global dan permintaan lindung nilai.
Di tengah dinamika ini, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) tampil konsisten mengembangkan fondasi bisnisnya, bahkan mendapat sorotan dari berbagai analis yang tetap mempertahankan rekomendasi beli untuk saham ini.
Salah satu alasan utama di balik rekomendasi ini adalah fakta bahwa BRMS memiliki salah satu portofolio tambang emas dan tembaga terbesar di Indonesia dalam bentuk aset yang belum sepenuhnya dikembangkan.
Berdasarkan riset terbaru dari Michael Wildon Ng, analis Verdhana Sekuritas Indonesia, BRMS mengendalikan empat proyek emas dengan total sumber daya 12,4 juta ounce dan cadangan tembaga sebesar 1,9 juta ton.
Proyek andalan mereka, Citra Palu Mineral (CPM), bahkan memiliki kadar emas 3,5 gram per ton, tertinggi dibanding pemain sejenis di kawasan Asia Tenggara.
“Kadar emas sebesar itu menunjukkan kualitas proyek jangka panjang yang sangat baik. Apalagi, potensi ekspansi produksi dari tambang bawah tanah akan menurunkan biaya dan meningkatkan margin,” tulis Michael dalam risetnya, Jumat, 11 Juli 2025.
Menurutnya, ekspansi ini bukan hanya rencana di atas kertas. BRMS telah mulai mengoperasikan pabrik pemrosesan baru dengan kapasitas 10.500 ton per hari, dan dalam waktu dekat akan mengaktifkan tambang bawah tanah di CPM yang diproyeksikan mulai berproduksi pada akhir 2027.
Saat produksi dari tambang bawah tanah mulai berjalan, perusahaan memproyeksikan produksi emas meningkat dari 65.000 oz menjadi lebih dari 170.000 oz pada 2028, dengan biaya kas menurun dari USD1.400/oz ke USD1.300/oz.
“Artinya, dari sisi operasional, BRMS telah mengunci dua variabel penting untuk valuasi jangka panjang: volume dan efisiensi,” imbuh Michael.
Dari sisi keuangan, BRMS mencatat pertumbuhan pendapatan yang sangat agresif. Pendapatan perusahaan melonjak dari USD47 juta pada 2023 menjadi USD162 juta di 2024, dan diperkirakan mencapai USD247 juta pada 2025.
Dengan laba bersih yang tumbuh dari USD24 juta ke USD53 juta dalam periode yang sama, manajemen juga memperkirakan titik positif pada saldo laba akan tercapai pada 2030, membuka ruang untuk pembagian dividen pertama.
“Kami perkirakan CAGR laba bersih sebesar 57 persen dan CAGR produksi emas 32 persen hingga 2028,” tulis Michael dalam proyeksinya.
Proyeksi Kuat: Laba Naik Tajam, Valuasi Siap Rerating
Berdasarkan proyeksi Verdhana, BRMS diperkirakan akan membukukan pertumbuhan laba bersih (CAGR) sebesar 57 persen dan pertumbuhan produksi emas tahunan sekitar 32 persen sepanjang periode 2025 hingga 2028.
Michael menyatakan, faktor pendorong utama adalah beroperasinya pabrik pengolahan tambahan dan dimulainya produksi dari tambang bawah tanah di CPM.
Ekspansi ini akan mendorong peningkatan volume secara simultan dengan efisiensi biaya. Peningkatan kadar emas dari rata-rata 1,5 gram per ton menjadi lebih dari 3,5 gram per ton juga akan langsung berdampak terhadap margin dan profitabilitas perusahaan.
Untuk tahun buku 2025, BRMS diperkirakan meraih pendapatan sebesar USD247 juta, naik dari USD162 juta pada 2024. Laba bersih diproyeksikan mencapai USD53 juta, meningkat signifikan dari USD24 juta tahun sebelumnya. Margin EBITDA diperkirakan mencapai 43,1 persen, sedangkan net margin berada di kisaran 21,6 persen.
Angka ini mencerminkan efisiensi yang relatif tinggi untuk kelas perusahaan tambang junior, dan akan terus meningkat seiring berjalannya proyek underground dan produksi tambahan dari unit-unit baru.
Arus kas operasional BRMS pada 2025 diperkirakan akan positif, meskipun belanja modal tetap tinggi. Capex tahunan diproyeksikan mencapai USD188 juta pada 2025, sebagian besar dialokasikan untuk proyek bawah tanah CPM dan eksplorasi lanjutan di Gorontalo.
Namun meskipun belanja besar ini terus dilakukan, arus kas bersih perusahaan tetap stabil berkat kombinasi efisiensi operasi dan pembiayaan eksternal. BRMS diperkirakan akan menerbitkan obligasi hingga USD500 juta dalam tiga tahun mendatang untuk mendukung pengembangan proyek-proyek besar. Rasio net debt terhadap ekuitas tetap dalam batas wajar, yakni sekitar 31,7 persen pada 2027.
Valuasi saham BRMS mengindikasikan adanya ruang rerating yang substansial. Saat ini, saham diperdagangkan pada price-to-earnings ratio (P/E) normalisasi 2025 sebesar 64,7 kali dan EV/EBITDA 32,9 kali. Meskipun terkesan tinggi, angka ini sejalan dengan valuasi rata-rata saham junior gold miner yang memiliki aset dalam fase ekspansi aktif dan potensi penambahan cadangan.
“Rerating akan terjadi jika harga emas global stabil pada level tinggi dan proyek-proyek strategis BRMS berjalan sesuai jadwal,” tutur Michael.
Metodologi penilaian Verdhana menggunakan pendekatan SOTP (Sum-of-the-Parts) yang mencakup dua komponen utama: DCF untuk proyek yang sedang dikembangkan dan valuasi aset untuk proyek eksplorasi. DCF dilakukan dengan asumsi WACC 10,2 persen dan umur tambang 19 tahun.
Proyek aktif seperti CPM dinilai USD1.976 juta, sementara aset eksplorasi emas di SHS, LMR, dan GM dinilai USD1.982 juta berdasarkan EV/resources USD320/oz. Proyek tembaga Gorontalo dinilai USD1.076 juta menggunakan EV/resources USD700/t.
Hasil penilaian ini memberikan total nilai bersih sebesar USD5.162 juta atau setara dengan Rp600 per saham, yang menjadi target harga resmi Verdhana.
Strategi ESG dan Risiko: Pengelolaan Limbah dan Eksekusi Jadi Kunci
Selain fokus finansial dan produksi, BRMS juga menunjukkan komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan dan tata kelola yang bertanggung jawab.
Di proyek Citra Palu Mineral, perusahaan menerapkan teknologi filter press untuk mengeringkan tailing tambang hingga mencapai 80 persen kadar padatan. Tailing ini kemudian disimpan dalam fasilitas Dry Tailing Management Facility (DTMF) seluas 10 hektare dengan kapasitas 2 juta meter kubik.
BRMS juga merencanakan ekspansi DTMF menjadi 25 hektare untuk menampung hingga 8 juta meter kubik seiring peningkatan kapasitas produksi. Sistem ini memungkinkan daur ulang air hingga 20 persen dan pengurangan penggunaan sianida.
Air yang keluar dari proses tailing telah melalui penyaringan dan pengolahan sehingga memenuhi standar lingkungan sebelum dibuang kembali ke alam.
Manajemen BRMS juga menaruh perhatian pada aspek sosial dan tata kelola. Perusahaan rutin menerbitkan laporan keberlanjutan yang mengikuti standar GRI dan regulasi OJK No. 51/2017.
Selain itu, praktik rekrutmen inklusif, pelatihan anti-korupsi, dan perlindungan hak asasi manusia diterapkan dalam seluruh kegiatan operasional. Komitmen ini telah mendapat pengakuan melalui penghargaan ESG “Gold” dari TrenAsia pada 2023 dan peringkat “A” untuk laporan keberlanjutan perusahaan.
Namun, BRMS tetap menghadapi sejumlah risiko utama yang dapat mempengaruhi kinerja jangka menengah. Risiko pertama adalah volatilitas harga emas.
Karena 100 persen pendapatan perusahaan berasal dari emas, setiap perubahan harga global akan berdampak langsung terhadap pendapatan dan laba bersih. Verdhana mencatat bahwa penurunan harga emas sebesar 1 persen akan mengurangi proyeksi laba BRMS hingga 3 persen.
Risiko kedua adalah perubahan regulasi. Pemerintah Indonesia baru-baru ini menaikkan tarif royalti emas dari 10 persen menjadi 16 persen, yang berdampak langsung terhadap biaya dan margin perusahaan. Kenaikan ini sudah diperhitungkan dalam asumsi Verdhana, tetapi tetap menjadi faktor eksternal yang perlu dicermati investor.
Risiko ketiga adalah kemampuan eksekusi proyek. BRMS telah menunjuk kontraktor global Macmahon Australia untuk pengembangan proyek tambang bawah tanah, namun implementasi tetap perlu diawasi ketat agar sesuai jadwal dan tidak melampaui anggaran. Keberhasilan eksekusi proyek menjadi kunci dalam merealisasikan target produksi dan capaian laba yang sudah diproyeksikan.
Secara keseluruhan, laporan riset Verdhana Sekuritas menyajikan argumen kuat untuk mempertahankan rekomendasi beli terhadap saham BRMS. Kombinasi kualitas aset, strategi ekspansi berbasis capex produktif, proyeksi keuangan yang agresif namun terukur, serta potensi rerating valuasi membuat BRMS menjadi salah satu emiten tambang logam paling menarik di Bursa Efek Indonesia (BEI) saat ini.
Dengan asumsi harga emas tetap bertahan tinggi dan manajemen mampu mengeksekusi proyek-proyek strategis tepat waktu, BRMS berpeluang mengukir pertumbuhan multi-tahun yang solid, dan memberikan imbal hasil menarik bagi investor jangka panjang. (*)