KABARBURSA.COM – PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) optimistis memperkuat prospek produksi emasnya usai menggelar sesi corporate access dengan investor.
Emiten tambang emas grup Bakrie ini mencatatkan kenaikan produksi yang signifikan pada semester I 2025, dan bersiap mempercepat pengembangan proyek-proyek strategis termasuk tambang bawah tanah di Poboya, Palu, Sulawesi Tengah.
BRMS mencatat produksi emas sebesar 38.000 ons pada semester I 2025, naik dari 26.000 ons pada periode sama tahun lalu. Kenaikan ini didorong oleh peningkatan rata-rata kadar emas menjadi 1,5 g/t, dari sebelumnya 1,3 g/t.
Tambahan produksi juga datang dari peningkatan kapasitas dua pabrik pengolahan CIL (Carbon-in-Leach) milik Citra Palu Mineral (CPM), anak usaha utama BRMS.
Produksi perak turut meningkat menjadi sekitar 100.000 ons, meski kontribusinya terhadap pendapatan masih kecil (3–5 persen) akibat harga jual perak yang jauh di bawah emas, yakni USD29/ons dibanding harga emas sekitar USD3.000/ons.
Proyek Tambang Bawah Tanah Siap Dorong Lonjakan Produksi
Pengembangan tambang bawah tanah di Poboya menunjukkan kemajuan pesat.
Saat ini portal telah selesai, dengan terowongan sudah mencapai kedalaman lebih dari 200 meter. Tambang ini diproyeksikan mulai berproduksi penuh pada 2027–2028, dengan kadar bijih emas mencapai 4,9 g/t, yakni lebih dari tiga kali lipat kadar saat ini.
“Produksi diperkirakan meningkat 2,5 hingga 3 kali lipat saat tambang bawah tanah beroperasi penuh,” tulis Equity Research KB Valbury Sekuritas, Laurencia Hiemas, dalam risetnya, Senin, 4 Agustus 2025.
Cadangan bijih di tambang CPM diperkirakan mampu menopang produksi hingga 20 tahun ke depan, dengan kapasitas pengolahan saat ini mencapai 1,6 juta ton per tahun.
BRMS tengah menyelesaikan pembangunan pabrik Heap Leach ketiga di Palu, yang dirancang untuk mengolah bijih kadar rendah. Proyek ini sudah mencapai 80 persen dan ditargetkan mulai beroperasi pada paruh kedua 2025.
“Meskipun tingkat pemulihan emasnya lebih rendah (65 persen), fasilitas ini akan menambah fleksibilitas operasional perusahaan,” tambah Laurencia.
Beberapa proyek lain dalam pengembangan:
- Gorontalo Mineral (GM): Proyek tembaga-emas dengan luas konsesi 25.000 ha. Sedang dilakukan pengeboran untuk sertifikasi cadangan. Pabrik emas skala kecil ditargetkan beroperasi akhir 2026.
- Hexa Banten: Potensi 75 juta ton bijih dengan kadar emas 0,85 g/t. Lisensi hingga 2039.
- Linge (Aceh): Masih menunggu izin lingkungan dan produksi. Memiliki kadar bijih lebih tinggi (1,6–1,8 g/t).
- Dairi Prima (Zinc-Timbal): BRMS memiliki 49 persen saham. Memiliki 11 juta ton bijih dengan kadar zinc 11,5 persen, menjadi salah satu yang tertinggi di dunia.
Kinerja Keuangan Bumi Resources Minerals
Pada semester I 2025, BRMS mencatat penghapusan nilai aset (non-cash write-off) senilai USD14 juta yang berasal dari pembatalan proyek bauksit dan suku cadang CIL yang sudah usang.
Penghapusan ini dinilai positif karena membuat neraca keuangan lebih bersih, tanpa arus kas keluar.
Meski saat ini masih mencatat defisit ekuitas, manajemen menyampaikan potensi distribusi dividen mulai 2029–2030, terutama jika ramp-up tambang bawah tanah berjalan lancar.
Target Saham Rp560 Didukung Optimisme Emas Global
Dalam laporan terbaru KB Valbury Sekuritas, perusahaan tetap diberi rekomendasi BUY dengan target harga Rp560/saham, berbasis valuasi SOTP yang menggabungkan metode berikut.
“DCF (WACC 10,2 persen, terminal growth 3 persen) untuk aset Citra Palu Mineral (CPM), EV/Reserve untuk Gorontalo, dan EV/Resource untuk aset lainnya,” ungkap Laurencia dalam risetnya.
Sementara itu, data konsensus terbaru (per 29 Juli 2025) menunjukkan 9 dari 10 analis memberikan rekomendasi “beli” untuk saham BRMS.
Rata-rata target harga berada di level Rp551, dengan estimasi tertinggi Rp750 dan terendah Rp440, yaitu tepat di harga saat ini, yang dinilai menjadi entry point menarik bagi investor jangka menengah.
Data konsensus analis per 29 Juli 2025 mencatat:
9 dari 10 analis merekomendasikan beli
Target harga rata-rata: Rp551/saham
Proyeksi tertinggi: Rp750, terendah: Rp440
Harga saham saat ini (4 Agustus 2025): Rp442, naik 0,45 persen (*)