KABARBURSA.COM – Saham PT Bundamedik Tbk (BMHS) ditutup stagnan di level 200 pada perdagangan terakhir, Selasa, 16 Desember 2025, sama dengan harga pembukaan dan penutupan sebelumnya. Sepanjang sesi, saham ini bergerak dalam rentang 199 hingga 216.
BMHS mencatatkan volume transaksi 150,74 ribu lot dengan nilai transaksi sekitar Rp3,1 miliar. Frekuensi perdagangan mencapai 2.224 kali. Harga rata-rata perdagangan berada di level 205, lebih tinggi dibandingkan harga penutupan.
Harga Tertahan, Transaksi Justru Ramai
Secara intraday, mengutip data perdagangan di platform Stockbit, BMHS sempat bergerak hingga level 216 sebelum kembali turun dan ditutup di level 200. Pergerakan tersebut membentuk rentang harga 17 poin dengan volume transaksi yang relatif aktif dibandingkan rata-rata harian sebelumnya.
Data menunjukkan bahwa sebagian transaksi terjadi pada rentang harga di atas penutupan, sebagaimana tercermin dari harga rata-rata 205.
Struktur orderbook menunjukkan total antrean beli sebesar 68.173 lot, sementara total antrean jual tercatat 147.785 lot.
Pada sisi bid, antrean terbesar berada di level 199 sebanyak 1.356 lot, disusul level 172 sebanyak 453 lot, level 171 sebanyak 80 lot, dan level 170 sebanyak 1.557 lot. Level Auto Rejection Bawah (ARB) berada di harga 170.
Pada sisi offer, antrean jual tersebar di berbagai level harga di atas harga pasar. Di level 248 terdapat 1.272 lot, 250 sebanyak 4.551 lot, 252 sebanyak 422 lot, 254 sebanyak 2.925 lot, 256 sebanyak 4.395 lot, 258 sebanyak 118 lot, 260 sebanyak 354 lot, 262 sebanyak 114 lot, 264 sebanyak 396 lot, 266 sebanyak 441 lot, 268 sebanyak 1.793 lot, dan 270 sebanyak 13.124 lot. Level Auto Rejection Atas (ARA) tercatat di 270.
Berdasarkan data tersebut, total antrean jual pada rentang 248–270 berjumlah sekitar 29.905 lot. Dengan konversi 1 lot setara 100 saham, jumlah tersebut setara dengan sekitar 2,99 juta saham.
Dengan harga rata-rata rentang tersebut, kebutuhan nilai transaksi untuk menyerap antrean jual pada zona tersebut berada di kisaran Rp770–800 juta. Angka ini berada di bawah nilai transaksi harian BMHS yang tercatat sebesar Rp3,1 miliar.
Asing Masuk, ARA Tahap Persiapan?
Data broker summary periode 8–15 Desember 2025 mencatat broker XC (Ajaib Sekuritas Indonesia) sebagai pembeli dengan nilai transaksi beli terbesar, sekitar Rp759,4 miliar, dengan harga beli rata-rata 213.
Broker ZP (Maybank Sekuritas Indonesia) dan LG (Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk) juga tercatat melakukan transaksi beli dengan nilai signifikan pada periode yang sama.
Pada sisi jual, broker XL (Stockbit Sekuritas Digital) dan CC (Mandiri Sekuritas) tercatat memiliki nilai transaksi jual yang besar dibandingkan broker lainnya.
Perbedaan harga rata-rata beli dan jual antar broker menunjukkan variasi harga eksekusi dalam rentang perdagangan yang sama.
Jika ditarik ke periode 1–15 Desember 2025, pola transaksi broker relatif konsisten. Broker ZP, LG, dan XC tetap tercatat sebagai pembeli dengan nilai transaksi besar, sementara XL dan CC berada di jajaran broker dengan nilai jual terbesar.
Dari sisi kepemilikan, pemegang saham pengendali BMHS, PT Bunda Investama Indonesia, tercatat memiliki sekitar 57,37 persen saham.
Porsi masyarakat non-warkat tercatat sekitar 28,31 persen, sementara masyarakat warkat sekitar 0,35 persen. Struktur ini menunjukkan bahwa porsi saham yang beredar dalam bentuk warkat publik relatif terbatas dibandingkan total saham beredar.
Dengan struktur kepemilikan tersebut dan data orderbook yang tersedia, simulasi mekanis pergerakan harga dapat dihitung berdasarkan antrean jual yang terlihat di pasar reguler.
Pada kondisi antrean jual di rentang 248–270 sebesar 29.905 lot, nilai transaksi yang dibutuhkan untuk menyerap antrean tersebut berada di bawah nilai transaksi harian BMHS.
Simulasi ini bersifat mekanis dan didasarkan pada data antrean yang tampil di orderbook pada saat pengamatan.
Secara keseluruhan, data perdagangan menunjukkan bahwa pergerakan saham BMHS pada perdagangan terakhir ditandai oleh harga penutupan yang stagnan, volume dan nilai transaksi yang relatif aktif, antrean jual yang lebih besar di level atas, serta aktivitas transaksi broker dengan nilai signifikan.
Data tersebut juga memperlihatkan bahwa secara mekanisme pasar, struktur antrean dan nilai transaksi memungkinkan terjadinya pergerakan harga hingga batas ARA apabila antrean jual pada level tersebut terserap sesuai dengan kondisi orderbook yang tercatat. (*)