Insight Daily 28 May 2025 Penulis: KabarBursa.com

Begini Arah Buyback Saham Telkom (TLKM) Tahun 2025

Buyback Rp3 triliun dan dividen jumbo pada 2025 jadi sinyal Telkom perkuat fundamental serta respons transformasi digital.

KABARBURSA.COM - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk atau TLKM sedang kirim sinyal besar ke pasar dan investor ritel sebaiknya tidak mengabaikannya. Saat mayoritas emiten masih sibuk bertahan di tengah tekanan suku bunga dan ketidakpastian makro, Telkom justru melaju dengan buyback saham maksimal Rp3 triliun, dividen jumbo Rp21 triliun, dan reshuffle direksi y...

Gedung Telkom Indonesia di Jakarta. (Foto: KabarBursa/Abbas Sandji)
Gedung Telkom Indonesia di Jakarta. (Foto: KabarBursa/Abbas Sandji)

Insight Navigator

  1. 01 Buyback Rp3 Triliun: Sinyal Kepercayaan Diri
  2. 02 Dividen Jumbo dan Efisiensi Capex
  3. 03 Konsolidasi Visi Telkom Lewat Danantara
  4. 04 Struktur Direksi Baru Telkom
  5. 05 Evaluasi Anak Usaha dan Potensi IPO

KABARBURSA.COM - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk atau TLKM sedang kirim sinyal besar ke pasar dan investor ritel sebaiknya tidak mengabaikannya. 

Saat mayoritas emiten masih sibuk bertahan di tengah tekanan suku bunga dan ketidakpastian makro, Telkom justru melaju dengan buyback saham maksimal Rp3 triliun, dividen jumbo Rp21 triliun, dan reshuffle direksi yang menghadirkan tokoh-tokoh kunci dari sektor teknologi dan infrastruktur.

Langkah ini serius. Di baliknya, ada reposisi besar yakni Telkom ingin lebih dari sekadar operator telekomunikasi. Ia ingin menjadi pemilik arena digital Indonesia, dengan monetisasi aset, akselerasi artificial intelligence (AI) dan data, hingga efisiensi belanja modal yang kini lebih tajam.

Bagi investor ritel yang selama ini melihat TLKM sebagai saham ‘aman tapi lambat’, momentum ini bisa jadi titik balik. Artikel ini mengungkap rencana strategis Telkom pascaagenda Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2025.

Buyback Rp3 Triliun: Sinyal Kepercayaan Diri

Telkom resmi memperoleh persetujuan pemegang saham untuk melakukan pembelian kembali saham (buyback) hingga Rp3 triliun atau setara 10 persen dari modal disetor. 

Persetujuan tersebut diumumkan dalam RUPST pada Selasa, 27 Mei 2025 di Hotel Four Seasons, Jakarta.

Buyback akan dilakukan secara bertahap atau sekaligus, tergantung kondisi pasar dan strategi manajemen. Namun yang pasti, ini adalah sinyal kuat ke pasar: Telkom ingin menjaga nilai sahamnya tetap atraktif di tengah tekanan kompetisi dan disrupsi teknologi.

Bagi pelaku pasar, langkah ini juga menandai arah buyback saham Telkom yang mulai difokuskan pada optimalisasi struktur modal dan penguatan persepsi valuasi.

Direktur Wholesale and International Service Telkom, Honesti Basyir, menyatakan bahwa aksi ini merupakan bagian dari pendekatan menyeluruh dalam memperkuat fundamental usaha. Menurutnya, Telkom tidak bisa lagi hanya mengandalkan investasi dan ekspansi konvensional.

“Jadi memang rencana kita untuk survive sangat membutuhkan value. Tapi tentu tidak cukup di sana. Hal lain yang harus kami ikuti adalah membangun fundamental business Telkom,” ujarnya.

Buyback ini diposisikan tidak hanya sebagai respons terhadap volatilitas harga saham, melainkan bagian dari strategi pengelolaan modal yang proaktif. Dengan melakukan buyback, Telkom secara langsung mengurangi jumlah saham beredar di pasar, yang dalam jangka panjang dapat meningkatkan metrik seperti earnings per share (EPS) dan return on equity (ROE), serta menciptakan sinyal positif bagi investor bahwa manajemen memiliki pandangan optimistis terhadap prospek bisnis jangka panjang.

Dalam konteks makro, langkah ini juga terbilang berani. Saat banyak perusahaan menahan diri karena biaya dana mahal dan ketidakpastian geopolitik, Telkom justru memilih memanfaatkan fleksibilitas neraca keuangannya untuk membeli kembali saham sendiri. Ini memberikan keyakinan bahwa kondisi kas Telkom cukup kuat untuk tetap menjalankan transformasi digital, sambil menjaga imbal hasil bagi pemegang saham.

Telkom diketahui memiliki posisi kas dan setara kas sebesar Rp34,1 triliun per akhir 2024, yang memberinya ruang manuver memadai untuk melakukan aksi korporasi ini tanpa mengganggu agenda belanja modal dan ekspansi.

Buyback juga menjadi bagian dari cara Telkom memitigasi tekanan valuasi akibat sentimen jangka pendek pasar. Dalam setahun terakhir, saham TLKM cenderung bergerak sideways di kisaran Rp2.600–Rp2.900, meski fundamental perusahaan terus membaik. 

Dalam konteks ini, investor mulai mencermati arah buyback saham TLKM sebagai katalis potensial yang bisa membuka ruang revaluasi saham ke level yang lebih mencerminkan prospek fundamental.

Dengan aksi ini, manajemen berharap dapat menjaga harga saham tetap kompetitif, sekaligus menarik kembali minat investor institusional dan ritel yang selama ini menunggu katalis yang lebih konkret.

Honesti menambahkan, buyback bukanlah satu-satunya senjata. Perusahaan tetap memprioritaskan pembangunan fundamental bisnis yang solid: dari transformasi digital, monetisasi aset, efisiensi belanja modal (capital expenditure/capex), hingga penguatan ekosistem konten dan platform digital.

“Kami akan akselerasi. Kadang-kadang beberapa parameternya menunjukkan kami on the track dengan hal tersebut,” lanjutnya.

Tidak hanya menyasar nilai pasar, buyback juga diharapkan memperkuat persepsi investor terhadap tata kelola dan keberpihakan manajemen terhadap shareholder value. Dalam industri telekomunikasi yang tengah mengalami konvergensi besar-besaran dengan sektor teknologi, Telkom tampaknya ingin menunjukkan bahwa mereka tidak tertinggal.

Telkom bukan hanya membeli sahamnya kembali, mereka membeli kembali kepercayaan pasar yang sempat goyah karena tantangan transisi digital yang kompleks. 

Dan bagi investor ritel, ini bisa menjadi momentum penting untuk melihat ulang posisi TLKM dalam portofolio, bukan sekadar sebagai emiten badan usaha milik negara (BUMN), tetapi sebagai perusahaan teknologi nasional yang mulai bicara dalam bahasa pasar global.

Dividen Jumbo dan Efisiensi Capex

Selain buyback, Telkom juga menetapkan pembagian dividen tunai sebesar Rp21,04 triliun, atau setara 89 persen dari laba bersih tahun buku 2024. Artinya, investor akan menerima dividen sebesar Rp212,047 per lembar saham, dengan pembayaran paling lambat 2 Juli 2025.

Langkah ini menunjukkan bahwa perusahaan tetap memprioritaskan pemegang saham, bahkan saat sedang berada dalam fase transformasi besar.

Vice President Corporate Secretary TLKM, Achmad Reza, menekankan bahwa pembagian dividen mempertimbangkan keseimbangan antara pengembalian modal kepada investor dan kebutuhan ekspansi bisnis digital.

Sementara itu, dari sisi belanja modal, Telkom mengambil arah efisiensi. Dalam beberapa tahun terakhir, capex Telkom berkisar di angka 22 persen dari pendapatan. 

Kini, perusahaan menyatakan akan lebih selektif dan strategis dalam alokasi investasi, dengan fokus pada aset yang memberikan return jelas.

“Hal yang paling kritikal bagi kami adalah mengevaluasi sehingga benar-benar capex ini benar-benar tepat sasaran,” jelas Honesti, menambahkan.

Konsolidasi Visi Telkom Lewat Danantara

Telkom menjadi salah satu dari delapan BUMN pertama yang dipanggil Badan Pengelola Investasi Dana Anagata Nusantara (Danantara), lembaga baru yang bertugas menyinergikan investasi strategis nasional.

Dalam pertemuan tersebut, Telkom memaparkan sejumlah rencana besar: dari ekspansi fiber optik, pembangunan kapasitas data center, hingga penguatan sektor konten digital dan AI. 

Menurut Honesti, proses ini bukan sekadar formalitas, tetapi bagian dari upaya memastikan setiap langkah strategis sejalan dengan kebijakan pemerintah.

“Kami membangun ekosistem secara lengkap. Bukan hanya jaringan, tapi juga platform, aplikasi, hingga konten. Ini akan mengisi infrastruktur yang sudah kami bangun,” jelas Honesti.

Dengan pendekatan ini, Telkom memperkuat posisinya sebagai digital ecosystem leader, bukan hanya infrastruktur, tapi juga otak dan platform yang menopang pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.

Struktur Direksi Baru Telkom

Salah satu keputusan penting dalam RUPST 2025 adalah pengangkatan Dian Siswarini sebagai Direktur Utama TLKM. Ia adalah mantan CEO XL Axiata (kini XL Smart) yang dikenal membawa transformasi jaringan dan digitalisasi pelanggan. 

Kehadiran Dian menandai pergeseran besar dalam strategi Telkom, terutama dalam akselerasi teknologi dan pendekatan berbasis konsumen.

Di posisi Wakil Direktur Utama, Muhammad Awaluddin kembali ke Telkom Group setelah memimpin Angkasa Pura II selama tujuh tahun. 

Ia dikenal sebagai sosok yang paham struktur digital nasional, dan memiliki rekam jejak mempercepat transformasi layanan publik berbasis teknologi.

Dalam konferensi pers, Awaluddin mengungkap bahwa Telkom akan fokus pada tiga pilar utama:

  1. Penguatan infrastruktur digital internasional.
  2. Kepemimpinan dalam ekosistem digital nasional.
  3. Keberlanjutan bisnis sebagai pemicu ekonomi digital.

“Kami ingin keberlanjutan bisnis Telkom tidak hanya dalam konteks hari ini, tapi bagaimana Telkom menjadi trigger baru dalam ekonomi digital,” ujarnya.

Evaluasi Anak Usaha dan Potensi IPO

Awaluddin juga menyatakan bahwa perusahaan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap portofolio anak usaha. Dengan lebih dari 100 entitas di bawah Telkom Group, efisiensi dan fokus menjadi isu penting.

Ia membuka kemungkinan IPO bagi anak usaha, asalkan sesuai dengan keputusan pemegang saham dan mendukung arah strategi utama perusahaan.

“Termasuk juga IPO, kalau memang peluangnya ada, tentu harus persetujuan pemegang saham,” tegasnya.

Langkah ini mencerminkan pendekatan Telkom yang semakin terbuka terhadap restrukturisasi dan monetisasi aset yang lebih agresif, tanpa mengabaikan tata kelola yang sehat.

Sebagai BUMN digital, Telkom kini memainkan lebih dari sekadar peran operator. Dengan kepemilikan infrastruktur menyeluruh dari satelit, jaringan darat, hingga kabel bawah laut, Telkom adalah tulang punggung digitalisasi nasional.

Telkom juga memiliki aset yang strategis untuk monetisasi teknologi lanjutan seperti big data, machine learning, dan AI, serta platform digital yang dapat mendukung usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan industri kreatif.

Dengan buyback, dividen jumbo, efisiensi capex, dan sinergi strategis bersama Danantara, Telkom sedang membangun ulang kepercayaan pasar, terutama dari investor ritel yang mengharapkan saham dengan arah strategis jelas dan potensi pertumbuhan jangka panjang. (*)

 

*Jurnalis Kabarbursa.com, Desty Luthfiani, ikut berkontribusi pada artikel ini.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya