Insight Daily 22 Jun 2025 Penulis: KabarBursa.com

Bank BUMN di Titik Beli? Ini Hitung-hitungan Dividen dan Sinyal Reboundnya

Nilai jual bersih asing mencapai Rp1,2 triliun, berbanding pembelian asing di kisaran Rp795 miliar.

KABARBURSA.COM - Saham-saham bank besar milik negara tengah memasuki fase pelemahan harga. Setelah sempat bangkit dari posisi terendah pada akhir Maret lalu, tren koreksi kembali mendominasi dalam sebulan terakhir. Hingga sesi pertama perdagangan Jumat, 20 Juni 2025, Bank Mandiri (BMRI) tercatat turun 9,8 persen, disusul Bank Rakyat Indonesia (BBRI) melemah ...

Ilustrasi Bank Mandiri, BRI, dan BNI. (Gambar dibuat oleh AI untuk KabarBursa.com)
Ilustrasi Bank Mandiri, BRI, dan BNI. (Gambar dibuat oleh AI untuk KabarBursa.com)

Insight Navigator

  1. 01 Arah Asing jadi Kunci Perhatian
  2. 02 Godaan Potensi Yield yang Seksi
  3. 03 Ada Sinyal Potensi Rebound Pekan Depan

KABARBURSA.COM - Saham-saham bank besar milik negara tengah memasuki fase pelemahan harga. Setelah sempat bangkit dari posisi terendah pada akhir Maret lalu, tren koreksi kembali mendominasi dalam sebulan terakhir. 

Hingga sesi pertama perdagangan Jumat, 20 Juni 2025, Bank Mandiri (BMRI) tercatat turun 9,8 persen, disusul Bank Rakyat Indonesia (BBRI) melemah 9,5 persen, dan Bank Negara Indonesia (BBNI) terkoreksi 8,1 persen.

Namun, tekanan harga ini justru membuka ruang yang menarik, terutama bagi investor yang memburu dividen. Dengan harga saham yang lebih rendah, proyeksi dividend yield dari ketiga bank pelat merah ini kini berpotensi menyentuh kisaran 7 persen atau lebih. 

Angka itu tergolong tinggi, terlebih untuk saham-saham perbankan besar yang sudah terbukti konsisten membagikan dividen setiap tahun.

Arah Asing jadi Kunci Perhatian

Dari sisi teknikal dan data perdagangan, ada dinamika yang cukup mencolok. Saham BMRI, misalnya, ditutup di level Rp4.930 setelah turun 0,80 persen dalam sehari. 

Dalam sepekan terakhir, BMRI terkoreksi 4,27 persen, tetapi volume transaksi justru melonjak ke 301 juta saham, jauh di atas rata-rata mingguan di kisaran 211 juta. Ini menandakan bahwa investor masih aktif bertransaksi, meski tekanan jual asing cukup tinggi.

Nilai jual bersih asing mencapai Rp1,2 triliun, berbanding pembelian asing di kisaran Rp795 miliar.

BBRI pun tak kalah menarik. Saham bank dengan basis nasabah terbesar ini melemah tipis 0,26 persen ke Rp3.790, namun akumulasi penurunan dalam sepekan sudah menyentuh 5,25 persen. Volume transaksi tercatat 516 juta saham, dua kali lipat dari rerata mingguan di angka 263 juta. 

Aksi jual asing tetap dominan, dengan nilai foreign sell mencapai Rp1,6 triliun, sementara pembelian asing di bawah Rp1,3 triliun.

BBNI menjadi yang paling tertekan. Sahamnya turun 9,47 persen dalam sepekan terakhir dan ditutup di level Rp4.110. Namun, lonjakan volume juga mencuri perhatian. 

Dalam seminggu, transaksi mencapai 178 juta lembar, jauh di atas rata-rata mingguan yang hanya 86 juta. Ini menunjukkan adanya pergerakan signifikan, kemungkinan karena pelaku pasar mulai mengambil posisi di area support.

Ketiga saham ini saat ini diperdagangkan di bawah rata-rata harganya dalam sepekan terakhir, mencerminkan sentimen jangka pendek yang masih negatif. 

Namun, volume yang tinggi, terutama pada BBRI dan BBNI, bisa menjadi sinyal awal bahwa investor tengah melakukan rebalancing atau bahkan akumulasi. Apalagi jika dalam waktu dekat muncul katalis positif seperti pengumuman dividen atau rilis kinerja kuartalan.

Ruang Gerak Masih Cukup Longgar

Secara teknikal, ruang gerak harga masih cukup longgar. Level auto rejection bawah (ARB) untuk BMRI ada di Rp4.200, BBRI di Rp3.230, dan BBNI di Rp3.500. Artinya, tekanan jual belum membawa harga mendekati batas bawah perdagangan harian. 

Di sisi lain, batas atas (ARA) masih memberi ruang cukup besar bagi potensi rebound jika sentimen pasar membaik.

Dari perspektif jangka panjang, saham bank-bank BUMN ini tetap memiliki fondasi yang solid. Selain peran strategis mereka dalam sistem keuangan nasional, potensi yield yang tinggi menjadi daya tarik tersendiri, terutama di tengah fluktuasi suku bunga dan inflasi yang belum sepenuhnya stabil. 

Investor dengan horizon jangka panjang bisa melihat fase koreksi ini sebagai momen masuk yang cukup menarik.

Godaan Potensi Yield yang Seksi

Meski harga saham bank-bank besar pelat merah tengah tertekan, investor justru mulai melirik peluang dari sisi lain, yaitu potensi dividen yang makin menarik. Penurunan harga saham, secara otomatis, berdampak langsung pada meningkatnya dividend yield. 

Dengan harga saat ini, imbal hasil dividen dari saham-saham seperti Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan Bank Negara Indonesia (BBNI) diperkirakan bisa menyentuh angka 7 persen atau bahkan lebih. Semua tergantung pada pencapaian laba dan kebijakan pembagian dividen masing-masing emiten.

Analis pasar, termasuk Edi Chandren dari Stockbit, memperkirakan bahwa rasio pembagian dividen tahun ini mungkin tidak setinggi 2024. Namun, masih ada ruang bagi perusahaan untuk memberikan payout yang lebih tinggi dibanding 2023. 

Hal ini mempertimbangkan dua faktor utama, yaitu kebutuhan modal untuk ekspansi bisnis ke depan, serta dukungan pendanaan bagi BPI Danantara, sebuah entitas investasi baru milik pemerintah yang mulai berperan aktif sejak awal tahun.

Selain faktor dividen, ekspektasi terhadap kinerja laba bersih juga menjadi perhatian pasar. Berdasarkan konsensus analis untuk 2025 dan 2026, proyeksi pertumbuhan laba bank BUMN cenderung moderat. 

BMRI, misalnya, diperkirakan hanya tumbuh 0,3 persen tahun ini, sebelum naik 7,7 persen pada 2026. Sementara itu, BBRI kemungkinan mengalami penurunan laba sebesar 2,8 persen tahun ini, lalu rebound 10,3 persen di tahun berikutnya. 

Sementara, BBNI diperkirakan tumbuh stabil dengan proyeksi kenaikan laba sebesar 4,3 persen pada 2025 dan 8,6 persen pada 2026.

Tren ini mencerminkan bahwa meskipun tidak lagi berada dalam fase ekspansi agresif seperti dua tahun terakhir, fundamental sektor perbankan nasional masih cukup solid. Dan justru karena tidak agresif itulah, peluang mendapatkan dividen di level harga saham yang lebih murah menjadi lebih terbuka.

Ada Sinyal Potensi Rebound Pekan Depan

Tiga saham bank pelat merah, Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan Bank Negara Indonesia (BBNI), kembali mencatat tekanan harga cukup dalam menjelang akhir pekan ketiga Juni 2025. 

Tekanan jual tampak mendominasi, baik dari sisi teknikal maupun aksi asing. Namun, di balik pelemahan itu, mulai muncul sinyal yang bisa membuka ruang untuk penguatan terbatas, terutama jika didukung sentimen pasar yang lebih bersahabat pada pekan depan, 23–26 Juni 2025.

Secara teknikal, BMRI, BBRI, dan BBNI saat ini berada dalam kondisi yang tergolong lemah. Hampir seluruh indikator moving average menunjukkan sinyal "jual", mulai dari MA5 hingga MA200. Artinya, dari sudut pandang tren harga, ketiganya masih berada di bawah tekanan yang cukup kuat. 

Namun begitu, beberapa indikator momentum mulai mengarah ke wilayah netral atau bahkan menunjukkan tanda awal potensi pembalikan arah, terutama pada indikator osilator seperti stochastic dan RSI.

Untuk BMRI, harga terakhir di kisaran Rp4.930 menunjukkan bahwa saham ini sedang menguji area support penting. Volume transaksi yang cukup tinggi dalam beberapa hari terakhir mengindikasikan bahwa pasar belum sepenuhnya keluar dari saham ini. 

Jika tekanan jual mulai mereda, BMRI berpeluang untuk mencatatkan teknikal rebound, meskipun terbatas.

Situasi serupa juga terjadi pada BBRI. Meskipun pelemahan pekan ini cukup dalam, indikator stochastic menunjukkan sinyal beli. Volume perdagangan juga melonjak dua kali lipat dari rata-rata mingguan, menunjukkan bahwa saham ini masih menjadi fokus perhatian pelaku pasar. Area Rp3.740–3.790 bisa menjadi titik pantul sementara jika pasar bergerak stabil.

Sementara itu, BBNI mencatat tekanan paling dalam dibanding dua saudaranya. Namun menariknya, beberapa indikator seperti Ultimate Oscillator dan stochastic sudah mulai bergerak ke arah netral hingga positif. Di tengah tekanan teknikal, justru BBNI terlihat memiliki peluang stabilisasi harga lebih dulu.

Lalu bagaimana dengan peluang kenaikan harga minggu depan?

Melihat kondisi saat ini, peluang penguatan tajam masih terbatas. Namun jika tekanan jual mulai mereda dan investor asing mulai mengurangi aksi keluar, rebound teknikal bukan hal yang mustahil. Terlebih, secara valuasi dan potensi dividen, ketiganya masih menarik, khususnya bagi investor dengan horizon jangka menengah hingga panjang.

Bagi investor spekulatif, level harga saat ini bisa dimanfaatkan untuk memantau sinyal pantulan jangka pendek. Tapi penting untuk diingat, ini bukan sinyal beli penuh. Strategi terbaik tetap akumulasi bertahap, bukan all-in.

Bagi investor dividen, tekanan harga seperti saat ini bisa menjadi peluang untuk masuk di valuasi yang lebih murah. Dengan proyeksi yield yang bisa menembus 7 persen per tahun, saham BMRI, BBRI, dan BBNI tetap punya tempat dalam portofolio jangka Panjang, asal dibarengi disiplin dan pengelolaan risiko.

Dengan kata lain, meski tren jangka pendek belum mendukung penguatan, arah pasar mulai menunjukkan tanda-tanda pelambatan tekanan. Dan dalam kondisi seperti ini, pasar sering kali menyimpan peluang di balik keheningan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya