Insight Daily 19 Jun 2025 Penulis: KabarBursa.com

Awan Gelap di Balik Stock Split dan Backlog Tertinggi Petrosea (PTRO)

Backlog tertinggi dan aksi stock split jadi sorotan Petrosea, tapi tekanan arus kas dan rasio utang tinggi perlu dicermati investor jangka menengah.

KABARBURSA.COM - PT Petrosea Tbk (PTRO) mencuri perhatian pasar setelah mencatatkan rekor backlog dan melakukan stock split. Dua manuver ini menandai ambisi ekspansi di sektor jasa pertambangan dan infrastruktur energi.Di balik optimisme itu, investor perlu mencermati sejumlah tekanan pada fundamental keuangan perusahaan yang tercermin dari rasio profitabili...

Aktivitas di PT Petrosea Tbk (PTRO). (Foto: doc Petrosea)
Aktivitas di PT Petrosea Tbk (PTRO). (Foto: doc Petrosea)

Insight Navigator

  1. 01 Menghadapi Tekanan Fundamental dan Risiko Keuangan
  2. 02 Arus Kas Negatif dan Leverage Tinggi
  3. 03 Penurunan Kinerja Profit dan Kualitas Laba
  4. 04 Evaluasi Prospek dari Backlog dan Diversifikasi Bisnis
  5. 05 Kelayakan Investasi Jangka Menengah

KABARBURSA.COM - PT Petrosea Tbk (PTRO) mencuri perhatian pasar setelah mencatatkan rekor backlog dan melakukan stock split. Dua manuver ini menandai ambisi ekspansi di sektor jasa pertambangan dan infrastruktur energi.

Di balik optimisme itu, investor perlu mencermati sejumlah tekanan pada fundamental keuangan perusahaan yang tercermin dari rasio profitabilitas dan arus kas negatif sepanjang 2024 hingga kuartal I 2025.

Sekadar informasi, perusahaan kontraktor energi dan infrastruktur ini membuka tahun 202 dengan mencatatkan backlog sebesar USD2,2 miliar. Angka ini merupakan yang tertinggi dari sejarah perseroan. 

Backlog tersebut mencerminkan total nilai kontrak yang telah diperoleh tetapi belum terealisasi menjadi pendapatan. Pencapaian ini menjadi sorotan, mengingat sebagian besar proyek berasal dari sektor pertambangan dan energi baru terbarukan yang menjadi bagian dari transformasi bisnis perseroan.

Selain lonjakan backlog, PTRO juga mencatatkan langkah korporasi signifikan berupa stock split dengan rasio 1:10. Aksi ini bertujuan meningkatkan likuiditas saham di pasar serta memperluas basis investor ritel.

Per 31 Maret 2025, jumlah saham beredar meningkat menjadi 10,09 miliar lembar dari sebelumnya 1,009 miliar lembar. Dengan harga saham yang lebih terjangkau usai aksi stock split, perseroan berharap dapat menarik minat investor ritel yang sebelumnya terhalang harga nominal tinggi.

Langkah ekspansi ini juga diperkuat melalui diversifikasi layanan. Berdasarkan Laporan Tahunan 2024. PTRO mengukuhkan langkahnya di sektor jasa engineering, procurement and construction (EPC) untuk pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), pembangunan fasilitas pengolahan limbah tambang, dan layanan digitalisasi pertambangan melalui anak usaha Xmine.

Menghadapi Tekanan Fundamental dan Risiko Keuangan

Di tengah sorotan atas strategi ekspansi, kinerja keuangan PTRO menunjukkan dinamika yang perlu dicermati lebih dalam. Berdasarkan data dari Stockbit, laba bersih perseroan untuk kuartal I 2025 tercatat sebesar Rp15 miliar, naik signifikan dibandingkan kuartal I 2024 yang hanya Rp3 miliar.

Namun, secara tahunan, laba bersih PTRO masih belum pulih sepenuhnya dari tekanan pada 2023 yang tercermin dari penurunan EPS tahunan menjadi Rp5,97, jauh dibandingkan Rp15,24 pada 2024 dan Rp18,45 pada 2023.

Dari sisi margin, profitabilitas PTRO terlihat sangat tipis. Net profit margin (NPM) pada kuartal pertama 2025 hanya sebesar 0,60 persen, sementara operating profit margin berada di 3,98 persen. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar pendapatan perusahaan terserap oleh biaya operasional. Sementara untuk gross profit margin yang hanya 10,44 persen menandakan efisiensi produksi masih menjadi tantangan utama.

Pelemahan ini juga tercermin dalam rasio valuasi yang tinggi. Price to Earnings (P/E) ratio berdasarkan trailing twelve months (TTM) mencapai 167,40 kali, jauh di atas rata-rata IHSG sebesar 8,08 kali. Price to Book Value (PBV) juga tinggi di level 6,81 kali. Hal ini menunjukkan harga saham PTRO saat ini relatif mahal dibandingkan kinerja keuangannya.

Technical Analist Mirae Asset Sekuritas Tasrul Tanar mengungkapkan, saham PTRO menunjukkan tekanan jangka pendek. Menurutnya, harga bergerak dalam pola konsolidasi dengan kecenderungan menurun.

“Support kuat berada di 2.250, sementara resistance di kisaran 2.540. Volume perdagangan cenderung menurun dalam dua pekan terakhir, mengindikasikan lemahnya kekuatan beli. Investor disarankan wait and see sambil memantau pergerakan harga mendekati area support,” kata Tasrul dalam keterangannya, Kamis, 19 Juni 2025.

Arus Kas Negatif dan Leverage Tinggi

Salah satu perhatian utama dari laporan keuangan kuartal I 2025 adalah arus kas operasi yang masih mencatat angka negatif. Berdasarkan laporan keuangan, PTRO mencatat arus kas dari aktivitas operasional sebesar minus Rp685 miliar dan free cash flow (FCF) negatif Rp1,47 triliun.

Penurunan arus kas ini terjadi meskipun pendapatan meningkat menjadi Rp11,03 triliun (TTM), menandakan ketidakseimbangan antara penerimaan kas dan pembayaran operasional.

Kondisi ini juga diperburuk oleh tingginya rasio utang. Debt to Equity Ratio (DER) mencapai 1,81 kali, dengan total utang sebesar Rp7,45 triliun dan kas hanya Rp2,46 triliun. Ini menghasilkan net debt sebesar Rp4,98 triliun, menunjukkan bahwa kas yang dimiliki tidak cukup menutup kewajiban jangka pendek dan panjang.

Interest coverage ratio juga hanya berada di level 1,38, yang berarti pendapatan operasional hanya sedikit di atas beban bunga—sebuah sinyal risiko keuangan yang perlu diwaspadai oleh investor jangka menengah.

Altman Z-Score PTRO berada di level 2,23, yang menempatkannya dalam zona abu-abu atau “grey area”—tidak terlalu berisiko untuk kebangkrutan dalam jangka pendek, tetapi belum cukup kuat untuk dinilai aman sepenuhnya.

Penurunan Kinerja Profit dan Kualitas Laba

Laporan laba rugi sepanjang 2024 mencatat bahwa meskipun pendapatan tumbuh, laba bersih cenderung berfluktuasi. PTRO mencetak laba tahunan sebesar Rp154 miliar di 2024, menurun dibandingkan Rp186 miliar pada 2023 dan anjlok jauh dari puncaknya di 2022 sebesar Rp609 miliar.

Hal ini mengindikasikan bahwa kenaikan pendapatan belum sejalan dengan efisiensi dan profitabilitas perusahaan.

Kualitas laba juga menjadi catatan penting. Tingginya rasio payout dividend hingga 277 persen terhadap laba bersih menunjukkan bahwa dividen dibayarkan melebihi laba yang dihasilkan.

Ini dapat diartikan sebagai sinyal positif jangka pendek bagi pemegang saham, namun bisa mengancam sustainabilitas investasi jika tidak diimbangi dengan perbaikan arus kas dan laba operasional yang lebih stabil.

Return on Equity (ROE) yang hanya 4,07 persen dan Return on Assets (ROA) sebesar 0,95 persen memperkuat gambaran rendahnya efisiensi penggunaan aset dalam menghasilkan laba. Padahal, secara industri, sektor konstruksi pertambangan umumnya memiliki ROE di atas 10 persen untuk dianggap kompetitif.

Evaluasi Prospek dari Backlog dan Diversifikasi Bisnis

Backlog senilai USD2,2 miliar yang dikantongi PT Petrosea Tbk (PTRO) bukan sekadar angka besar. Nilai ini mewakili akumulasi kontrak jangka panjang yang belum diakui sebagai pendapatan, dan menurut laporan tahunan 2024, mayoritas berasal dari sektor pertambangan dan infrastruktur energi—dua sektor yang diproyeksikan tetap dominan dalam agenda pembangunan nasional. Hal ini memberikan sinyal bahwa arus pendapatan PTRO ke depan relatif terjamin, setidaknya secara teoritis.

Namun, backlog bukan jaminan langsung terhadap profitabilitas. Nilai margin dan efisiensi proyek masih menjadi variabel penting.

Berdasarkan laporan manajemen, kontrak-kontrak terbaru mengandung diversifikasi yang semakin luas—termasuk jasa rekayasa untuk fasilitas pengolahan tailing tambang, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), serta proyek infrastruktur tambang terintegrasi yang dikerjakan oleh anak usaha. Diversifikasi ini menjadi strategi PTRO untuk keluar dari ketergantungan pada jasa pertambangan tradisional.

Keputusan ekspansi ke sektor energi baru terbarukan selaras dengan tren keberlanjutan yang makin diperhitungkan oleh lembaga pembiayaan global. Meski belum sepenuhnya terefleksi dalam pendapatan kuartalan, arah ini memberi ruang bagi investor jangka menengah untuk mencermati bagaimana PTRO berupaya menyeimbangkan antara akuisisi proyek dan efisiensi pelaksanaan.

Sementara untuk langkah stock split dengan rasio 1:10 yang dilakukan PTRO pada awal tahun menjadi strategi korporasi yang berdampak pada struktur harga saham dan likuiditas. Dengan jumlah saham yang beredar meningkat menjadi 10,09 miliar lembar, harga saham PTRO kini lebih terjangkau oleh investor ritel.

Dari sisi volume transaksi, data BEI menunjukkan peningkatan aktivitas harian pasca stock split. Namun, respons harga masih bergerak dalam pola konsolidasi. Berdasarkan data teknikal yang disampaikan Mirae, pergerakan saham PTRO saat ini cenderung melemah dalam jangka pendek dengan support di 2.250 dan resistance di 2.540. Analis Mirae menyarankan investor untuk menunggu pergerakan mendekati support sebagai sinyal beli.

Likuiditas yang meningkat memberi peluang bagi PTRO untuk memperluas basis investor, namun hal ini perlu ditopang oleh perbaikan fundamental. Jika tidak, likuiditas justru berisiko menjadi momentum spekulatif jangka pendek yang tidak mencerminkan nilai intrinsik.

Kelayakan Investasi Jangka Menengah

Dalam konteks investasi jangka menengah, PT Petrosea menampilkan dua sisi yang perlu dicermati secara berimbang. Di satu sisi, backlog besar dan arah ekspansi ke sektor energi baru memberi potensi pertumbuhan. Di sisi lain, tekanan pada rasio laba, arus kas, serta utang yang tinggi memberikan catatan risiko.

Valuasi saat ini masih terbilang premium. Rasio Price to Earnings (P/E) yang mencapai 167,40 kali dan Price to Free Cash Flow negatif menandakan harga saham belum didukung kinerja laba maupun kas yang kuat. Meskipun investor bisa tergiur oleh peningkatan pendapatan dan ekspansi proyek, pendekatan berbasis kehati-hatian tetap perlu dilakukan mengingat profitabilitas dan cash flow masih menjadi pekerjaan rumah.

Strategi pembagian dividen yang tinggi, dengan payout ratio di atas 277 persen, juga memberikan sinyal bahwa PTRO sedang berupaya mempertahankan daya tarik investor dengan insentif jangka pendek. Namun, pendekatan ini belum sepenuhnya dijamin keberlanjutannya tanpa peningkatan laba dan efisiensi internal.

Saat ini Petrosea berada di persimpangan penting. Di satu sisi, backlog besar, diversifikasi proyek, dan strategi ekspansi menunjukkan arah yang pro-growth. Di sisi lain, tekanan keuangan berupa arus kas negatif, rasio utang tinggi, dan profit margin tipis masih menjadi tantangan nyata.

Investor yang memiliki orientasi jangka menengah dan panjang perlu mencermati bukan hanya kabar baik berupa peningkatan backlog atau langkah korporasi, tetapi juga kondisi keuangan yang mencerminkan kualitas pertumbuhan.

Jika fundamental belum diperkuat, pertumbuhan pendapatan bisa tidak sepenuhnya diterjemahkan menjadi pertumbuhan laba bersih dan nilai pemegang saham.

Oleh karena itu, keputusan investasi sebaiknya tetap mempertimbangkan kondisi riil berdasarkan data keuangan dan keterbukaan informasi resmi—bukan sekadar respons jangka pendek terhadap aksi korporasi.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya