Insight Daily 27 Apr 2026 Penulis: KabarBursa.com

Australia Jadi Arena Baru, BUMI Kejar 50 Persen Non-Coal

Ekspansi ke emas dan tembaga mulai terlihat dari akuisisi hingga lonjakan produksi, namun kontribusinya masih diuji terhadap dominasi batu bara.

KABARBURSA.COM – Langkah PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melakukan diversifikasi usaha ke emas dan tembaga, semakin serius usai melakukan penawaran akuisis terhadap Loyal Metals Australia. Diketahui, akuisisi senilai USD79 juta itu menyusul akuisis Wolfram Ltd dan kepemilikan di Jubilee Metals.Tidak hanya melakukan akuisisi secara eksternal, dari dalam perusaha...

Bumi Resources semakin fokus dalam mengembangkan produksi emas dan tembaga dengan mengakuisisi Loyal Metals Australia. (Foto: dok BUMI)
Bumi Resources semakin fokus dalam mengembangkan produksi emas dan tembaga dengan mengakuisisi Loyal Metals Australia. (Foto: dok BUMI)

Insight Navigator

  1. 01 Australia Pintu Masuk Produksi
  2. 02 Orkestrasi Strategi Gold dan Copper
  3. 03 Mesin Internal BRMS
  4. 04 Pendapatan Tembus USD170 Juta
  5. 05 Struktur Margin dan Arah Bisnis
  6. 06 Target 50 Persen Non-Coal

KABARBURSA.COM – Langkah PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melakukan diversifikasi usaha ke emas dan tembaga, semakin serius usai melakukan penawaran akuisis terhadap Loyal Metals Australia. Diketahui, akuisisi senilai USD79 juta itu menyusul akuisis Wolfram Ltd dan kepemilikan di Jubilee Metals.

Tidak hanya melakukan akuisisi secara eksternal, dari dalam perusahaan penguatan dilakukan melalui PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS). Target produksi emas sengaja ditingkatkan dari sekitar 35.000 troy ounce menjadi 150.000 troy ounce dalam beberapa tahun ke depan. 

Kontribusi segmen emas yang sudah mencapai 17 persen pada kuartal III-2025 menjadi sinyal awal bahwa pergeseran struktur pendapatan mulai terjadi, meski belum sepenuhnya dominan.

Dengan target ambisius 50 persen pendapatan non-batu bara pada 2031, rangkaian akuisisi dan pengembangan proyek ini mulai membentuk satu pertanyaan besar yang tidak lagi bisa dihindari. 

Apakah ekspansi ke Australia dan dorongan produksi emas-tembaga benar-benar sudah menjadi mesin baru yang bekerja, atau masih berada dalam fase transisi yang belum sepenuhnya tercermin di kinerja? 

Australia Pintu Masuk Produksi

Apa yang dilakukan oleh PT Bumi Resources Tbk dengan masuk ke Australia, tidak dimulai dari nol. Ada penawaran pengambilalihan terhadap Loyal Metals (ASX: LLM) senilai sekitar USD79 juta dengan harga USD0,45 per saham.

Penawaran ini dilakukan melalui skema scheme implementation deed (SID). Skema ini bukan sekadar “perjanjian jual beli biasa”, tapi bagian dari mekanisme akuisisi melalui scheme of arrangement yang umum dipakai di Australia. Saat ini, transaksi masih menunggu persetujuan pemegang saham Loyal Metals.

Walau begitu, direksi Loyal Metals telah merekomendasikan pemegang saham untuk menyetujui skema tersebut. Rekomendasi ini diberikan dengan catatan tidak ada penawaran yang lebih tinggi dan hasil penilaian independen menyatakan transaksi tersebut menguntungkan. 

Dengan posisi ini, proses akuisisi BUMI berada pada tahap yang sudah terstruktur dan lebih dari penjajakan awal.

Dalam rencana akuisisi ini, aset utama yang dibidik adalah proyek tembaga-emas Highway Reward di Queensland Utara, yaitu sekitar 37 kilometer dari Charters Towers. Lokasi ini merupakan wilayah tambang lama dengan rekam jejak produksi yang sudah terbentuk. Artinya, BUMI tidak sedang masuk ke wilayah eksplorasi mentah, melainkan ke aset yang memang sudah pernah beroperasi.

Secara historis, Highway Reward mencatatkan produksi sebesar 3,65 juta ton bijih dengan kadar tembaga 5,7 persen. Selain itu, tambang ini juga menghasilkan sekitar 260 ribu ton emas dengan kadar 4,5 gram per ton sepanjang periode 1987 hingga 2005. 

Catatan ini menempatkan proyek tersebut sebagai aset dengan basis geologi dan produksi yang telah teruji.

Momentum pengembangan proyek ini juga tidak berhenti di masa lalu. Sebelum penawaran BUMI, Loyal Metals telah mengeksekusi opsi untuk mengakuisisi 100 persen kepemilikan atas proyek Highway Reward dan Big Magpie di North Queensland. 

Langkah ini mempertegas bahwa aset yang diambil alih berada dalam posisi siap dikembangkan lebih lanjut.

Hasil eksplorasi terbaru semakin memperkuat arah tersebut. Program pengeboran Loyal Metals mengonfirmasi keberadaan sistem tembaga-emas-perak berukuran besar di bawah dinding timur bekas tambang terbuka. Temuan ini membuka ruang pengembangan lanjutan di luar area produksi historis.

Di luar proyek utama, Loyal Metals juga memiliki dua proyek lithium di Kanada. Sementara itu, posisi kas BUMI tercatat sebesar USD118,6 juta per 31 Desember 2025. Kombinasi antara kapasitas pendanaan dan portofolio aset ini memperlihatkan bahwa langkah ekspansi dilakukan dengan basis yang terukur.

Dari keseluruhan rangkaian ini, terlihat bahwa Australia menjadi titik masuk bagi aset dengan riwayat produksi sekaligus potensi pengembangan baru. Namun arah ekspansi BUMI tidak berhenti di satu wilayah, karena langkah serupa juga mulai terlihat di portofolio lain yang sedang dibangun.

Orkestrasi Strategi Gold dan Copper

Ekspansi BUMI di Australia ini bukan transaksi tunggal. Jauh sebelum mengajukan penawaran terhadap Loyal Metals, perusahaan ini telah merampungkan akuisisi 100 persen saham Wolfram Ltd pada akhir 2025 dengan nilai sekitar AUD63,5 juta atau setara Rp698,98 miliar. 

Akuisisi tersebut dilakukan secara bertahap hingga kepemilikan penuh, sehingga memberikan eksposur langsung terhadap aset emas dan tembaga.

Fokus BUMI tidak berhenti pada kepemilikan aset, tetapi mulai diarahkan pada percepatan operasional. Proyek Wolfram di Australia Barat ditargetkan mulai beroperasi dalam waktu dekat dengan fokus utama pada produksi emas. 

Manajemen menyebut perusahaan kini berfokus pada logam dan mineral, sambil tetap mempertahankan kekuatan bisnis batu bara termal. Momentum ekspansi ini berlangsung di tengah tren kenaikan harga komoditas global. Harga tembaga, emas, dan perak tercatat berada di level tinggi. 

Selain Wolfram, BUMI juga mengembangkan pipeline melalui Jubilee Metals Ltd di Queensland. Perusahaan menargetkan proyek ini dapat masuk fase produksi pada 2026, dengan kepemilikan yang direncanakan mencapai sekitar 65 persen. 

Setelah akuisisi, fokus diarahkan pada memastikan tambang beroperasi sesuai rencana tanpa agenda peningkatan kepemilikan lebih lanjut.

Langkah akuisisi ini didukung oleh strategi pendanaan yang mulai disiapkan secara paralel. BUMI merencanakan penerbitan obligasi berkelanjutan senilai Rp780 miliar, dengan sebagian dana dialokasikan untuk mendukung akuisisi Jubilee Metals. 

Skema ini menunjukkan bahwa ekspansi dilakukan dengan pendekatan terstruktur yang telah dipersiapkan sejak awal.

Di luar Australia, ekspansi juga menyasar komoditas lain melalui rencana akuisisi PT Laman Mining di Indonesia. BUMI menargetkan kepemilikan hingga 45 persen pada perusahaan tambang bauksit tersebut sesuai kesepakatan awal. 

Dengan demikian, arah diversifikasi tidak hanya terpusat pada emas dan tembaga, tetapi mulai merambah mineral lain dalam rantai industri.

Secara keseluruhan, rangkaian ini membentuk pipeline aset yang berada pada tahapan berbeda namun saling terhubung. Wolfram berada di fase awal produksi, Jubilee menuju tahap operasional, sementara Loyal Metals menawarkan kombinasi antara histori produksi dan potensi eksplorasi lanjutan. 

Artinya, ekspansi BUMI tidak bersifat sporadis, melainkan dibangun sebagai alur pertumbuhan yang berlapis.

Di sisi lain, struktur pendapatan BUMI saat ini masih didominasi batu bara termal. Sekitar 90 persen bisnis perusahaan berasal dari segmen tersebut, setelah sebelumnya mencapai sekitar 95 persen dalam komposisi pendapatan 2024, sementara kontribusi non-batu bara baru berada di kisaran 5 persen dan ditargetkan meningkat menjadi 10 persen dalam jangka pendek. 

Target jangka panjang yang dipasang adalah komposisi seimbang 50:50 antara batu bara dan non-batu bara pada 2031.

Kombinasi antara akuisisi aset, percepatan produksi, dan penyiapan pendanaan ini mulai membentuk arah baru dalam struktur bisnis BUMI. Namun dengan dominasi batu bara yang masih besar, seluruh pipeline tersebut kini bergerak dalam satu pertanyaan yang sama. 

Seberapa cepat aset-aset baru ini dapat benar-benar menggeser sumber pendapatan utama perusahaan.

Mesin Internal BRMS

Jika ekspansi ke Australia menjadi pintu masuk aset baru, maka penguatan dari dalam grup mulai terlihat. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), entitas ini menjadi kendaraan utama BUMI dalam membangun basis produksi emas dan tembaga secara langsung. 

Fokus utama saat ini berada di tambang Citra Palu Mineral (CPM) di Sulawesi Tengah. Aset ini memiliki cadangan sekitar 31,5 juta ton dan sumber daya 40,2 juta ton dengan kadar rata-rata 3,5 gram per ton. 

Dari sisi kapasitas, BRMS telah mengoperasikan dua fasilitas pengolahan dengan total kapasitas sekitar 4.500 ton bijih per hari. Perusahaan juga tengah menyiapkan fasilitas ketiga berupa heap leach dengan tambahan kapasitas 4.000 ton per hari. 

Dengan demikian, total kapasitas pengolahan akan meningkat menjadi sekitar 8.500 ton per hari.

Namun di tengah kapasitas yang telah berjalan optimal, tantangan utama justru berasal dari kualitas bijih. Rata-rata kadar emas yang diproses pada paruh pertama 2024 hanya berada di kisaran 1,4 gram per ton. Inilah yang kemudian menjadi dasar bagi perusahaan untuk mendorong peningkatan kualitas produksi.

Langkah yang disiapkan adalah transisi menuju penambangan bawah tanah di Blok-1 Poboya. Proyek ini ditargetkan mulai dikembangkan menuju fase produksi pada periode 2027 hingga 2028. Kadar bijih dari area bawah tanah diperkirakan mencapai sekitar 4,9 gram per ton, dengan potensi sumber daya hingga sekitar 6,0 gram per ton.

Transisi ini menjadi krusial mengingat cadangan tambang terbuka diperkirakan memiliki batas waktu hingga sekitar 2029. Untuk menjaga kesinambungan produksi, BRMS mengidentifikasi tambahan sekitar 19,6 juta ton sumber daya dari area bawah tanah. 

Material ini dapat diolah menggunakan metode carbon-in-leach dengan tingkat pemulihan di atas 90 persen.

Di sisi produksi, peningkatan kapasitas dan kualitas bijih mulai tercermin dalam proyeksi output. Produksi emas tercatat sekitar 54,7 ribu ons pada 2024 dan diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 78 ribu ons pada 2025. 

Dalam jangka menengah, produksi diperkirakan mencapai sekitar 145,4 ribu ons pada 2027.

Selain CPM, BRMS juga memiliki portofolio aset yang lebih luas di berbagai wilayah. Cadangan tambahan tercatat di Banten sebesar 18,4 juta ton, Aceh 2,3 juta ton, serta Gorontalo mencapai 105,4 juta ton. 

Secara total, cadangan ini mencapai sekitar 126,1 juta ton, atau sekitar empat kali lipat dari CPM.

Pengembangan Gorontalo Minerals menjadi salah satu fokus berikutnya dalam pipeline produksi. Proyek ini ditargetkan mulai beroperasi pada 2026 dengan kapasitas pengolahan sekitar 2.000 ton per hari. 

Kandungan logamnya mencakup tembaga dan emas dengan kadar masing-masing sekitar 0,49 persen dan 0,43 gram per ton.

Dari sisi kinerja, pertumbuhan produksi didukung oleh tren harga emas global yang tinggi. Pendapatan BRMS diproyeksikan mencapai sekitar USD207 juta pada 2025 dengan EBITDA sekitar USD75 juta. 

Dalam jangka menengah, EBITDA diperkirakan meningkat hingga sekitar USD107 juta pada 2028 seiring peningkatan kapasitas dan produksi.

Perubahan ini juga tidak terlepas dari masuknya AP Investment yang terafiliasi dengan Salim Group sejak 2022. Melalui rights issue senilai sekitar Rp1,65 triliun, pendanaan diarahkan untuk pembangunan fasilitas tambahan dan penguatan operasional. Sejak saat itu, struktur manajemen dan arah pengembangan BRMS mulai mengalami perubahan.

Dengan seluruh pengembangan tersebut, BRMS mulai membentuk fondasi produksi yang lebih besar di dalam grup. Kapasitas meningkat, kualitas bijih ditingkatkan, dan portofolio aset diperluas secara bertahap. 

Dalam konteks ini, mesin internal BUMI mulai bergerak, dengan skala yang mulai terlihat namun masih berada dalam fase peningkatan terhadap dominasi bisnis batu bara.

Pendapatan Tembus USD170 Juta

Jika ekspansi dan peningkatan kapasitas mulai terlihat di sisi operasional, maka pertanyaan berikutnya bergeser ke kinerja keuangan. 

Proyeksi menunjukkan bahwa pertumbuhan produksi mulai diterjemahkan ke dalam peningkatan pendapatan. Hal ini menjadi indikator awal apakah mesin baru BUMI melalui BRMS sudah mulai memberikan dampak nyata.

Mengutip data Samuel Sekuritas Indonesia, pendapatan BRMS diproyeksikan mencapai sekitar USD131 juta pada 2024 atau tumbuh 181 persen secara tahunan. Angka ini kemudian diperkirakan meningkat menjadi sekitar USD207 juta pada 2025 dengan pertumbuhan lanjutan sekitar 57,6 persen. 

Kenaikan ini ditopang oleh peningkatan produksi emas serta dukungan harga emas global yang berada di kisaran USD2.500 hingga USD2.600 per ons.

Dari sisi volume, produksi dore bullion diperkirakan mencapai sekitar 54,7 ribu ons pada 2024. Angka tersebut meningkat signifikan menjadi sekitar 78 ribu ons pada 2025. Tambahan produksi juga diproyeksikan datang dari proyek Gorontalo Minerals yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2026 dengan estimasi output awal sekitar 6,7 ribu ons.

Efisiensi operasional juga tercermin dalam struktur biaya produksi. BRMS diperkirakan mencatat cash cost sekitar USD1.012 per ons pada 2024 dan meningkat tipis menjadi USD1.046 per ons pada 2025. 

Tingkat biaya ini relatif terjaga seiring penggunaan metode tambang terbuka dan dukungan fasilitas heap leach yang memiliki biaya lebih rendah dibanding metode carbon-in-leach.

Namun struktur biaya diproyeksikan berubah seiring pergeseran metode penambangan. Dengan rencana masuk ke tambang bawah tanah pada periode 2027, cash cost diperkirakan naik ke kisaran USD1.200 hingga USD1.400 per ons. 

Kenaikan ini mencerminkan kompleksitas operasional yang lebih tinggi, meski berpotensi diimbangi oleh peningkatan kadar bijih.

Di tengah dinamika tersebut, margin tetap menunjukkan ruang yang kuat. Cash margin diproyeksikan mencapai sekitar USD1.467 per ons pada 2024 dan meningkat menjadi sekitar USD1.553 per ons pada 2025. 

Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan harga emas masih mampu menjaga profitabilitas di tengah perubahan struktur biaya.

Dari sisi profitabilitas, EBITDA BRMS diperkirakan mencapai sekitar USD44 juta pada 2024 atau tumbuh 114,7 persen secara tahunan. Angka ini kemudian meningkat menjadi sekitar USD75 juta pada 2025 dengan margin EBITDA di kisaran 35 hingga 36 persen. 

Pertumbuhan ini mencerminkan kombinasi antara peningkatan volume produksi dan efisiensi operasional.

Laba bersih juga menunjukkan tren peningkatan yang sejalan dengan kinerja operasional. BRMS diproyeksikan membukukan laba bersih sekitar USD26 juta pada 2024 dan meningkat menjadi sekitar USD42 juta pada 2025. 

Rasio profitabilitas seperti ROAE dan ROIC diperkirakan masing-masing berada di kisaran 4,2 persen dan 6,6 persen pada 2025.

Dari sisi valuasi, pendekatan yang digunakan menggabungkan beberapa metode. Penilaian dilakukan menggunakan sum of the parts (SOTP), dengan metode discounted cash flow untuk CPM serta pendekatan EV terhadap cadangan dan sumber daya untuk aset lainnya. 

Dalam perhitungan tersebut, CPM dinilai menggunakan model DCF selama 10 tahun dengan asumsi WACC sebesar 10,7 persen dan pertumbuhan terminal 3 persen. Nilai kini arus kas bebas diperkirakan mencapai sekitar USD85 juta dengan nilai terminal sekitar USD362 juta, menghasilkan enterprise value sekitar USD448 juta. 

Sementara itu, pendekatan berbasis cadangan dan sumber daya menggunakan acuan industri dengan EV per cadangan sekitar USD3.738 per ton dan EV per sumber daya sekitar USD804 per ons.

Kombinasi pendekatan tersebut menghasilkan estimasi enterprise value BRMS sekitar USD4,5 miliar. Nilai tersebut setara dengan valuasi ekuitas sekitar Rp71,5 triliun. Berdasarkan perhitungan ini, target harga saham berada di kisaran Rp500 per saham dengan acuan EV terhadap cadangan sekitar USD26,6 per ton.

Dengan seluruh proyeksi tersebut, peningkatan produksi mulai tercermin dalam pertumbuhan pendapatan dan profitabilitas. Namun skala kontribusinya masih berada dalam tahap awal jika dibandingkan dengan dominasi batu bara dalam struktur BUMI secara keseluruhan. 

Di titik ini, data mulai memberikan gambaran, tetapi belum sepenuhnya menjawab seberapa cepat mesin baru ini akan mengambil alih peran utama.

Struktur Margin dan Arah Bisnis

Perbedaan karakter bisnis mulai terlihat dari struktur biaya dan margin yang tercatat. Pada segmen emas melalui BRMS, cash cost diperkirakan berada di kisaran USD1.012 per ons pada 2024 dan meningkat menjadi sekitar USD1.046 per ons pada 2025. 

Angka ini mencerminkan struktur biaya operasional yang terbentuk dari aktivitas tambang terbuka dan fasilitas pengolahan yang digunakan.

Seiring dengan rencana transisi ke tambang bawah tanah, struktur biaya diproyeksikan mengalami perubahan. Cash cost diperkirakan meningkat ke kisaran USD1.200 hingga USD1.400 per ons pada periode 2027. 

Kenaikan ini berkaitan dengan kompleksitas operasional yang lebih tinggi dibandingkan metode tambang terbuka.

Di sisi lain, peningkatan kadar bijih menjadi faktor yang turut diperhitungkan dalam struktur margin. Produksi dari tambang bawah tanah diharapkan memiliki kadar lebih tinggi dibandingkan rata-rata saat ini. 

Dalam proyeksi yang ada, cash margin diperkirakan meningkat dari sekitar USD1.467 per ons pada 2024 menjadi sekitar USD1.553 per ons pada 2025.

Target 50 Persen Non-Coal

Arah diversifikasi BUMI tercermin dalam target komposisi pendapatan jangka panjang. Perusahaan menargetkan keseimbangan antara batu bara dan non-batu bara dengan komposisi 50:50 pada 2031. Target ini disusun seiring dengan ekspansi aset mineral dan peningkatan kapasitas produksi di dalam grup.

Pada posisi saat ini, kontribusi non-batu bara masih berada pada tahap awal dalam struktur pendapatan. Pada 2024, porsi tersebut tercatat sekitar 5 persen dan ditargetkan meningkat menjadi sekitar 10 persen dalam jangka pendek. 

Angka ini menunjukkan bahwa kontribusi masih bertumbuh dari basis yang relatif kecil.

Dengan pipeline aset yang telah terbentuk, peningkatan kontribusi pendapatan mulai memiliki jalur yang lebih jelas. Namun selisih antara posisi saat ini dan target jangka panjang masih terbuka dalam skala yang lebar. 

Pergerakan tersebut berjalan seiring dengan realisasi produksi dan monetisasi aset yang sedang berlangsung.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya