Insight Daily 23 Feb 2026 Penulis: KabarBursa.com

Asing Rutin Koleksi Saham PTBA dalam Sepekan

Broker ZP tercatat menjadi pengakumulasi terbesar dengan nilai pembelian mencapai sekitar Rp24,6 miliar.

KABARBURSA.COM - Investor asing terpantau mengakumulasi saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) sepanjang sepekan terakhir periode 16-20 Februari 2026.Dalam rentang waktu tersebut, broker ZP tercatat menjadi pengakumulasi terbesar dengan nilai pembelian mencapai sekitar Rp24,6 miliar. Di sisi distribusi, tekanan jual asing relatif terbatas jika dibandingkan dengan ni...

Fasilitas yang dimiliki dan dikelola oleh Bukit Asam atau PTBA. (Foto: Dok. PTBA)
Fasilitas yang dimiliki dan dikelola oleh Bukit Asam atau PTBA. (Foto: Dok. PTBA)

Insight Navigator

  1. 01 Pergerakan Saham PTBA
  2. 02 Kinerja Keuangan PTBA
  3. 03 PTBA Perkuat Ekosistem Hirilisasi Bauksit

KABARBURSA.COM - Investor asing terpantau mengakumulasi saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) sepanjang sepekan terakhir periode 16-20 Februari 2026.

Dalam rentang waktu tersebut, broker ZP tercatat menjadi pengakumulasi terbesar dengan nilai pembelian mencapai sekitar Rp24,6 miliar atau setara dengan 93,6 ribu lot pada harga rata-rata di kisaran Rp2.632. Nilai ini menempatkan ZP sebagai kontributor utama dalam mendorong net buy asing pada saham PTBA sepanjang periode pengamatan.

Aktivitas akumulasi tersebut diikuti oleh broker AK dengan nilai pembelian sekitar Rp13,4 miliar (51,3 ribu lot) di harga rata-rata Rp2.626, serta broker BK yang mencatatkan pembelian sebesar Rp9,9 miliar atau setara dengan 37,9 ribu lot pada level harga yang relatif sama.

Selain tiga broker utama tersebut, partisipasi akumulasi juga terpantau dari broker CC dengan nilai pembelian sekitar Rp340,8 juta, disusul AG sebesar Rp223,9 juta, serta IF yang masuk di harga rata-rata tertinggi yakni sekitar Rp2.650 dengan nilai transaksi mencapai Rp132,5 juta.

Aktivitas beli tambahan juga terlihat dari broker YU dan HD, masing-masing dengan nilai pembelian sekitar Rp78,7 juta dan Rp67,4 juta.

Di sisi distribusi, tekanan jual asing relatif terbatas jika dibandingkan dengan nilai akumulasi yang masuk. Broker TP tercatat menjadi penjual terbesar dengan nilai sekitar Rp2,9 miliar atau setara 11,1 ribu lot.

Diikuti oleh broker KK sebesar Rp244,7 juta, serta PD yang melepas saham PTBA senilai sekitar Rp117,5 juta. Sementara itu, broker lain seperti HP, YP, hingga LG mencatatkan nilai distribusi yang jauh lebih kecil, masing-masing berada di bawah Rp50 juta, bahkan broker OD hanya mencatatkan tekanan jual sekitar Rp530 ribu.

Secara keseluruhan, ketimpangan antara nilai pembelian dan penjualan ini mencerminkan dominasi minat beli dari investor asing selama pekan lalu. Nilai akumulasi yang jauh melampaui distribusi menunjukkan bahwa saham PTBA masih berada dalam radar pelaku pasar global.

Dengan demikian, data orderbook asing dalam sepekan terakhir memperlihatkan bahwa meskipun terdapat aksi ambil untung terbatas dari sebagian broker, tekanan beli masih mendominasi struktur transaksi saham PTBA. Hal ini membuka ruang bagi saham berbasis batu bara tersebut untuk tetap bergerak resilien dalam jangka pendek, seiring berlanjutnya minat investor asing.

Pergerakan Saham PTBA

Pergerakan saham PTB  dalam beberapa periode terakhir menunjukkan kecenderungan penguatan jangka menengah, meskipun masih dibayangi tekanan dalam horizon waktu yang lebih panjang.

Pada perdagangan terakhir atau Jumat, 20 Februari 2026, PTBA ditutup melemah sebesar 0,76 persen atau turun 20 poin ke level Rp2.620.

Namun demikian, dalam satu pekan, saham emiten tambang batu bara tersebut masih mencatatkan kinerja positif dengan kenaikan sekitar 2,75 persen dalam sepekan, bergerak dalam rentang harga 2.550 hingga 2.660.

Tren penguatan ini bahkan terlihat lebih solid dalam periode bulanan, PTBA telah menguat sekitar 5,65 persen dalam satu bulan terakhir dari kisaran 2.220 hingga menyentuh level tertinggi 2.660.

Momentum positif juga berlanjut dalam jangka menengah, dengan saham PTBA tercatat naik sekitar 12,93 persen dalam tiga bulan terakhir serta 7,82 persen dalam enam bulan. Sementara itu, sejak awal tahun berjalan atau secara year-to-date (YTD), saham PTBA telah terapresiasi sekitar 13,42 persen.

Meski demikian, dalam periode satu tahun, kinerja saham PTBA masih mencatatkan koreksi sekitar 1,50 persen, dengan pergerakan harga dalam rentang 2.170 hingga 3.070.

Koreksi yang lebih dalam bahkan tercermin dalam horizon tiga tahunan, saham ini telah melemah sekitar 25,57 persen dari kisaran tertinggi historisnya di level 4.200.

Menariknya, dalam perspektif jangka panjang, saham PTBA masih menunjukkan kinerja impresif. Dalam lima tahun terakhir, saham ini mencatatkan kenaikan sekitar 2,75 persen, sementara dalam periode 10 tahun, PTBA telah melonjak signifikan hingga sekitar 180,51 persen, dari level 935 ke kisaran harga tertinggi 5.025.

Di sisi lain, konsensus analis terhadap saham PTBA saat ini cenderung konservatif. Dari total 28 analis Stockbit yang memantau saham ini, sebanyak 8 analis memberikan rekomendasi beli, 10 analis menyarankan tahan, dan 10 analis lainnya merekomendasikan jual.

Adapun target harga rata-rata analis untuk saham PTBA berada di kisaran Rp2.417, dengan estimasi target tertinggi mencapai Rp3.100 dan target terendah di level Rp1.500.

Posisi harga saham PTBA saat ini yang berada di sekitar Rp2.620 menunjukkan bahwa valuasi pasar telah sedikit melampaui target konsensus rata-rata analis.

Kinerja Keuangan PTBA

Berdasarkan laporan keuangan interim yang berakhir pada 30 September 2025, PTBA membukukan penjualan dan pendapatan usaha sebesar Rp31,33 triliun, meningkat tipis dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp30,65 triliun.

Namun demikian, kenaikan top line tersebut tidak sepenuhnya mampu menopang kinerja laba bersih akibat meningkatnya beban pokok penjualan yang tercatat mencapai Rp27,76 triliun, naik dari Rp25,04 triliun pada kuartal III 2024.

Menurut keterangan resmi perusahaan, kenaikan ini seiring dengan peningkatan volume operasional, baik produksi batu bara yang naik 9 persen YoY maupun angkutan yang juga naik 8 persen YoY, meskipun dari sisi stripping ratio tercatat lebih rendah di angka 5,98x dari pada periode yang sama tahun sebelumnya di angka 6,02x.

Laba bersih perseroan  tercatat sebesar Rp1,4 triliun, atau turun lebih dari separuh dibandingkan realisasi kuartal III 2024 yang mencapai Rp3,25 triliun.

Di samping itu, secara YoY, beban umum dan administrasi naik sebesar Rp52,4 Miliar atau 4%, sedangkan untuk beban penjualan turun 1% atau sebesar Rp7,1 Miliar.

Dari sisi neraca, total aset PTBA per akhir September 2025 tercatat sebesar Rp42,83 triliun, meningkat dari Rp41,78 triliun pada akhir tahun 2024. Sedangkan  saldo kas dan setara kas sebesar Rp4,0 Triliun atau turun 3 persen dibandingkan dengan akhir tahun 2024 yang tercatat sebesar Rp4,1 Triliun.

Sementara itu mengutip situs resmi perusahaan, terkait dengan ketercapaian belanja modal, sampai dengan kuartal III 2025 sudah terealisasi sebesar 41 persen dari target tahunan atau telah terealisasi sebesar Rp3,0 Triliun.

Total liabilitas pada akhir September 2025 tercatat naik dari posisi pada akhir Desember 2024 sebesar Rp19,1 triliun, naik menjadi Rp22,1 triliun.

Sedangkan ekuitas tercatat menurun dari posisi akhir Desember 2024 sebesar Rp22,6 Triliun menjadi Rp20,8 triliun pada akhir September 2025. Sehingga secara total liabilitas dan ekuitas tercatat sebesar Rp42,8 triliun atau naik 3 persen dari posisi di akhir Desember 2024 yang tercatat sebesar Rp41,8 triliun.

PTBA Perkuat Ekosistem Hirilisasi Bauksit

PTBA memperkuat pengembangan fasilitas pengolahan dan pemurnian Bauksit–Alumina–Aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat, melalui penyediaan pasokan energi yang andal dan berkelanjutan.

Sebagai bagian dari ekosistem hilirisasi mineral nasional, PTBA berperan dalam memastikan ketersediaan sumber energi (Power Solution) untuk memenuhi kebutuhan operasional  Smelter Aluminium.

Fasilitas yang telah menjadi penghubung penting dalam rantai pasok pengolahan dan pemurnian bauksit – alumina - aluminium secara terintegrasi di Indonesia ini memiliki kapasitas pengolahan mencapai 3 juta ton bauksit menjadi 1 juta ton alumina per tahun.

Selanjutnya, 1 juta ton alumina itu akan diolah menjadi 600 ribu ton aluminium. Proyek ini juga akan menjadi motor bagi penciptaan potensi peningkatan kesempatan kerja lebih dari 65.000 tenaga kerja.

Tidak hanya bagi sektor pertambangan, tetapi juga bagi sektor industri terkait hingga infrastruktur daerah dan UMKM yang masuk dalam rantai ekosistem hilirisasi bauksit – alumina – aluminium ini.

Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail, menegaskan keterlibatan Perusahaan dalam mendukung kebutuhan energi proyek strategis nasional di Mempawah merupakan bentuk sinergi antaranggota Grup MIND ID dalam menciptakan nilai tambah di dalam negeri.

“PTBA berkomitmen untuk mendukung program strategis hilirisasi nasional melalui penyediaan energi yang andal, efisien, dan berdaya saing. Dukungan energi bagi Pengolahan dan Pemurnian Alumina-Aluminium Terpadu di Mempawah menjadi bukti keseriusan Perusahaan dalam memperkuat rantai pasok industri dan ketahanan energi nasional sekaligus mendorong percepatan hilirisasi industri berbasis sumber daya alam serta pertumbuhan ekonomi berkelanjutan,” ujarnya.

Keberadaan pasokan energi dari PTBA tidak hanya menopang operasional fasilitas pemurnian namun juga berkontribusi pada terciptanya kepastian investasi, peningkatan daya saing industri aluminium nasional, serta penguatan kemandirian industri strategis Indonesia. Apalagi pasokan energi yang nantinya akan disediakan Perusahaan ini memakaiteknologi yang canggih dan ramah lingkungan.  (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya