Insight Daily 26 Mar 2026 Penulis: KabarBursa.com

Asing Rutin Koleksi Saham LSIP Usai Kinerja 2025 Moncer

AK memimpin akumulasi dengan nilai beli mencapai Rp11,5 miliar atau setara 94,6 ribu lot pada harga rata-rata Rp1.277 per saham.

KABARBURSA.COM - Investor asing terpantau terus mengakumulasi saham PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) sejak perusahaan melaporkan kinerja keuangan 2025 pada 27 Februari 2026.Berdasarkan data orderbook Stockbit, investor asing melakukan pembelian saham LSIP melalui beberapa broke. AK memimpin akumulasi dengan nilai beli mencapai Rp11,5 miliar atau set...

Aktivitas diperkebunan sawit. Foto: Dok LSIP
Aktivitas diperkebunan sawit. Foto: Dok LSIP

Insight Navigator

  1. 01 Kinerja Keuangan 2025
  2. 02 Pergerakan Harga Saham

KABARBURSA.COM - Investor asing terpantau terus mengakumulasi saham PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) sejak perusahaan melaporkan kinerja keuangan 2025  pada 27 Februari 2026.

Berdasarkan data orderbook Stockbit, investor asing melakukan pembelian saham LSIP melalui beberapa broke.  AK memimpin akumulasi dengan nilai beli mencapai Rp11,5 miliar atau setara 94,6 ribu lot pada harga rata-rata Rp1.277 per saham.

Di posisi berikutnya, broker ZP mencatatkan pembelian Rp9,3 miliar (71,5 ribu lot) di harga rata-rata Rp1.286, disusul broker CC dengan nilai Rp8,5 miliar (70,4 ribu lot) pada harga Rp1.267.

Tidak hanya itu, broker BK juga membukukan pembelian signifikan sebesar Rp7,3 miliar (59,1 ribu lot) di harga rata-rata Rp1.270. Aktivitas serupa turut terlihat pada broker TP dengan nilai Rp5,4 miliar, serta YU dan AG yang masing-masing mencatatkan pembelian Rp4,5 miliar dan Rp4,1 miliar.

Di sisi lain, tekanan jual terlihat relatif terbatas. Broker RX menjadi penjual terbesar dengan nilai Rp2 miliar (16 ribu lot), diikuti broker DR sebesar Rp244,1 juta dan BQ sebesar Rp134 juta.

Sementara itu, broker lainnya seperti BB, NI, OD, dan HD mencatatkan nilai penjualan yang jauh lebih kecil, mengindikasikan tidak adanya tekanan distribusi besar yang signifikan di pasar.

Menariknya, rata-rata harga beli para broker besar berada di kisaran Rp1.250 hingga Rp1.300 per saham. Rentang ini dapat dianggap sebagai area akumulasi yang cukup solid, sekaligus menjadi indikasi level support jangka pendek.

Namun demikian, investor tetap perlu mencermati dinamika eksternal yang berpotensi memengaruhi pergerakan saham, seperti volatilitas nilai tukar rupiah, kebijakan ekspor, hingga perkembangan harga komoditas global. Risiko-risiko tersebut dapat menjadi faktor penentu arah pergerakan selanjutnya.

Secara teknikal, dengan kuatnya akumulasi dan minimnya tekanan jual, saham LSIP saat ini berada dalam fase yang menarik untuk dicermati. Jika tren akumulasi ini berlanjut dan diikuti dengan peningkatan volume transaksi, bukan tidak mungkin LSIP berpotensi melanjutkan tren penguatan dalam jangka pendek hingga menengah.

Kinerja Keuangan 2025

LSIP sendiri mencatat lonjakan kinerja keuangan sepanjang 2025, dengan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih yang solid di tengah dinamika sektor perkebunan.

Berdasarkan laporan keuangan tahunan yang telah dipublikasikan, pendapatan LSIP mencapai Rp5,51 triliun pada 2025, naik dari Rp4,56 triliun pada tahun sebelumnya. Kenaikan ini turut mendorong laba bersih yang melonjak menjadi Rp1,89 triliun, dibandingkan Rp1,47 triliun pada 2024.

Kinerja tersebut membuktikan perbaikan fundamental operasional perseroan, ditopang oleh efisiensi biaya dan penguatan harga komoditas.

Hal tersebut terlihat dari laba kotor yang mencapai Rp2,26 triliun, meningkat dari Rp1,99 triliun pada tahun sebelumnya, meskipun beban pokok penjualan juga naik menjadi Rp3,25 triliun.

Dari sisi profitabilitas, LSIP mampu menjaga margin tetap tinggi. Laba sebelum pajak tercatat sebesar Rp2,27 triliun.

Sementara itu, total aset LSIP tercatat mencapai Rp15,54 triliun pada 31 Desember 2025, naik signifikan dibandingkan posisi Rp13,84 triliun pada tahun sebelumnya.

Dari sisi likuiditas, kas dan setara kas LSIP melonjak menjadi Rp7,59 triliun dari Rp5,45 triliun pada 2024. Aset lancar secara keseluruhan tercatat sebesar Rp8,69 triliun, naik dari Rp7,11 triliun.

Kenaikan ini didorong oleh peningkatan kas, serta stabilnya posisi persediaan yang berada di kisaran Rp613,8 miliar. Sementara itu, aset biologis yang menjadi indikator penting dalam industri perkebunan tercatat sebesar Rp245,7 miliar.

Di sisi lain, aset tidak lancar LSIP juga mengalami peningkatan menjadi Rp6,84 triliun dari Rp6,72 triliun. Komponen utama masih didominasi oleh aset tetap sebesar Rp2,69 triliun serta tanaman perkebunan menghasilkan yang mencapai Rp1,78 triliun.

Dari sisi struktur permodalan, total liabilitas jangka pendek LSIP tercatat sebesar Rp920,4 miliar, meningkat dari Rp677,9 miliar pada tahun sebelumnya.

Di sisi lain berdasarkan data key statistics terbaru, LSIP menunjukkan posisi likuiditas yang sangat kuat. Current ratio tercatat sebesar 9,45 kali, sementara quick ratio mencapai 8,78 kali.

Dari sisi profitabilitas, LSIP juga tampil impresif. Return on assets (ROA) tercatat sebesar 12,15 persen, sementara return on equity (ROE) berada di level 13,48 persen. Ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba baik dari aset maupun modal yang dimiliki.

Lebih menarik lagi, margin keuntungan LSIP berada di level yang sangat tebal. Gross profit margin tercatat sebesar 50,69 persen, disusul operating profit margin sebesar 46,19 persen, dan net profit margin mencapai 41,19 persen.

Hal tersebut menunjukkan  efisiensi operasional yang kuat. Bagi investor, ini menjadi indikator penting bahwa LSIP tidak hanya mampu mencetak laba, tetapi juga menjaga kualitas laba tersebut.

Di sisi lain, daya tarik LSIP juga datang dari aspek dividen. Perusahaan mencatat dividend per share (TTM) sebesar Rp65, dengan payout ratio sebesar 23,48 persen.

Dividend yield berada di kisaran 4,80 persen, menjadikannya salah satu opsi menarik bagi investor yang mencari kombinasi antara capital gain dan passive income. Adapun tanggal ex-dividend terakhir tercatat pada 1 Juli 2025.

Kombinasi antara likuiditas tinggi, margin besar, dan dividen stabil menjadikan LSIP berada dalam posisi yang cukup ideal. Di satu sisi, perusahaan memiliki bantalan keuangan yang kuat untuk menghadapi risiko eksternal. Di sisi lain, profitabilitas yang tinggi membuka ruang untuk ekspansi maupun distribusi dividen yang berkelanjutan.
 

Pergerakan Harga Saham

Saham LSIP menunjukkan performa yang solid dalam beberapa periode waktu.  Secara bulanan , emiten perkebunan kelapa sawit dan karet ini mencatat lonjakan signifikan sebesar 14,83 persen, naik dari level Rp1.165 ke Rp1.360.

Penguatan ini tidak bersifat sesaat. Dalam periode tiga bulan, saham LSIP masih mencatatkan kenaikan 14,35 persen. Bahkan secara year-to-date (YTD), LSIP sudah menguat 13,39 persen.

Jika ditarik lebih panjang, dalam periode satu tahun terakhir,  LSIP mencatatkan kenaikan 29,67 persen. Sementara dalam tiga tahun terakhir saham ini menguat hingga 34,83 persen.

Meski demikian, dalam rentang jangka sangat panjang, LSIP masih mencatatkan koreksi. Dalam 10 tahun terakhir, saham ini turun sebesar 18,37 persen.

Dari sisi rekomendasi analis, sentimen terhadap LSIP juga terlihat cukup kuat. Dari total delapan analis Stockbit yang memantau saham ini, enam di antaranya memberikan rekomendasi buy, sementara dua lainnya merekomendasikan hold, dan tidak ada yang menyarankan sell.

Lebih lanjut, target harga yang diberikan analis juga mencerminkan potensi kenaikan yang masih terbuka. Rata-rata target harga LSIP berada di level Rp1.678 per saham.

Sementara estimasi tertinggi mencapai Rp1.840 dan estimasi terendah di Rp1.250. Dengan posisi harga saat ini di kisaran Rp1.355, terdapat potensi upside yang cukup menarik bagi investor, khususnya jika dibandingkan dengan target konsensus analis.

Di tengah ketidakpastian global, mulai dari fluktuasi harga komoditas hingga dinamika geopolitik, profil LSIP menjadi semakin relevan. Investor cenderung mencari saham dengan fundamental kuat, arus kas sehat, dan risiko utang rendah dan LSIP memenuhi hampir seluruh kriteria tersebut.

Dengan fundamental seperti ini, LSIP berpotensi tetap menjadi radar utama investor, baik domestik maupun asing, terutama jika tren harga komoditas kembali menguat dalam beberapa waktu ke depan. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya