KABARBURSA.COM - Saham PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) mencatat aktivitas akumulasi asing yang menonjol sepanjang periode perdagangan 14–17 November 2025.
Berdasarkan data broker summary Stockbit sejumlah broker terlihat aktif menghimpun saham SSIA di kisaran harga Rp1.691–Rp1.725.
Broker AK tercatat sebagai akumulator terbesar dengan nilai pembelian Rp21,5 miliar, setara 127.200 lot, pada harga rata-rata Rp1.696. Pembelian asing lainnya dilakukan oleh broker broker BK senilai Rp3,5 miliar (20.800 lot), masing-masing pada rata-rata harga Rp1.691.
Aksi beli juga muncul dari broker DP sebesar Rp1,7 miliar (10.000 lot) di harga Rp1.710, disusul ZP sebesar Rp1,1 miliar (6.300 lot) pada rata-rata Rp1.710.
Broker HD mencatat pembelian senilai Rp127,2 juta (783 lot) pada harga Rp1.725, sementara broker RX membeli 266 lot dengan nilai Rp43,6 juta di harga Rp1.638. Pembelian terkecil berasal dari broker TP senilai Rp323 ribu (2 lot) pada harga Rp1.615.
Di sisi penjualan, broker asing YU menjadi distributor terbesar dengan nilai penjualan mencapai Rp715,8 juta dari 4.200 lot pada rata-rata harga Rp1.701. Penjualan asing berikutnya berasal dari YP sebesar Rp69,7 juta untuk 399 lot pada rata-rata Rp1.727.
Struktur orderbook SSIA pada Selasa, 18 November 2025 memperlihatkan penguatan pada sisi pembelian, dengan konsentrasi antrean tebal di area Rp1.670–Rp1.700.
Pada level Rp1.710, antrean tercatat sebanyak 6.600 lot, diikuti bid Rp1.705 sebanyak 9.325 lot. Salah satu tumpukan terbesar muncul di harga Rp1.700 dengan total 17.258 lot, menjadikan area ini sebagai salah satu titik support intraday.
Pembeli juga menumpuk pada harga Rp1.695 dengan 3.659 lot, serta Rp1.690 sebanyak 5.263 lot. Di bawahnya, bid Rp1.685 mencatat 5.059 lot, sedangkan posisi Rp1.680 diisi 11.038 lot. Ketebalan berikutnya terlihat di harga Rp1.675 sebanyak 11.095 lot.
Di sisi penawaran, tekanan jual berlapis tercatat pada rentang Rp1.715–Rp1.795, menahan pergerakan naik SSIA intraday. Antrean pertama di Rp1.715 tercatat sebanyak 4.505 lot, disusul Rp1.720 sebanyak 1.061 lot, dan Rp1.725 sebanyak 1.789 lot.
Pada harga Rp1.730, antrean ask mencapai 1.378 lot, sedangkan level Rp1.735 mencatat 2.135 lot. Struktur ask semakin tebal di harga Rp1.740 dengan 1.814 lot, sementara area Rp1.745 mencatat 1.963 lot. Penawaran di Rp1.750 mencapai 4.804 lot, menjadi salah satu tumpukan seller terbesar di rentang atas.
Di rentang yang lebih tinggi, ask Rp1.775 mencatat 20.421 lot, menjadi tumpukan penawaran terbesar dalam struktur orderbook saat ini.
Pergerakan Harga Saham
Pergerakan mingguan saham SSIA menunjukkan penguatan sebesar +3,32 persen dengan rentang harga Rp1.600 hingga Rp1.770. Pada periode satu bulan terakhir, harga saham turun sebesar -3,66 persen dalam kisaran Rp1.525 hingga Rp1.860.
Pelemahan lebih dalam tercatat pada rentang 3 bulan sebesar -29,34 persen dengan kisaran pergerakan Rp1.525 hingga Rp2.550.
Tren berbeda terlihat pada periode enam bulan, ketika SSIA mencatat lonjakan signifikan sebesar +103,57 persen setelah bergerak dari Rp840 hingga menyentuh area Rp3.160.
Dalam rentang year-to-date (ytd), juga berada dalam zona positif dengan kenaikan +27,14 persen dari pergerakan Rp700 hingga Rp3.160. Dalam satu tahun terakhir, saham ini menguat +59,07 persen pada rentang harga yang sama.
Rekomendasi analis terhadap SSIA menunjukkan dukungan kuat di tengah pergerakan harga yang masih fluktuatif. Berdasarkan data platform Stockbit pada Selasa, 18 November 2025, sebanyak 11 analis memberikan rekomendasi beli, sementara 1 analis menetapkan rekomendasi tahan, dan tidak ada analis yang memberikan pandangan jual.
Target harga rata-rata yang dihimpun dari konsensus analis berada di level Rp2.605. Estimasi harga tertinggi yang diberikan analis mencapai Rp3.600, sedangkan proyeksi terendah berada di Rp2.050.
Kinerja Keuangan Kuartal III 2025
Mengutip rilis SSIA pada 3 November 2025, SSIA meraup pendapatan konsolidasi sebesar Rp3.315,1 miliar di kuartal III 2025, turun 14,2 persen dari Rp3.861,7 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Segmen properti memberikan kontribusi Rp545,0 miliar, turun 19,4 persen secara tahunan (YoY) (dibandingkan Rp676,0 miliar di 9M24), sementara segmen konstruksi tumbuh 4,8 persen YoY menjadi Rp2.649,2 miliar, dibandingkan Rp2.526,9 miliar di periode serupa tahun 2024.
Sementara itu, pendapatan perhotelan mencapai Rp 351,9 miliar, menyusut dari Rp 821,4 miliar pada kuartal II 2024. Hal tersebut diakibatkan oleh dampak renovasi besar yang dilakukan di Paradisus by Meliá Bali (sebelumnya Meliá Bali Hotel).
Laba kotor di SSIA di sembilan bulan pertama 2025 menurun 37,4 persen YoY menjadi Rp735,1 miliar, dibandingkan Rp1.174,6 miliar di periode yang sama tahun lalu.
Penurunan terutama disebabkan oleh penurunan laba kotor segmen perhotelan sebesar 66,6 persen YoY, diikuti oleh penurunan laba kotor properti sebesar 31,5 persen YoY, sementara segmen konstruksi mencatat peningkatan laba kotor sebesar 17,9 persen YoY.
Sementara itu, SSIA mencatat laba bersih konsolidasi sebesar Rp6,5 miliar pada kuartal III 2025, turun dibandingkan Rp228,4 miliar di 9M24. Sementara itu, posisi kas perusahaan pada kuartal III 2025 adalah Rp1.611,3 miliar, turun tipis 4,2 persen dari Rp1.682,3 miliar pada 1H25.
Adapun EBITDA SSIA untuk sembilan bulan pertama tahun ini mencapai Rp 256,7 miliar, turun jika dibandingkan Rp660,0 miliar di kuartal III tahun 2024. (*)