KABARBURSA.COM - PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) terpantau mulai diakumulasi investor asing pada perdagangan Senin, 24 November 2025. Data broker summary di platform Stockbit menunjukkan dominasi pembelian dari sejumlah broker, menempatkan MTEL ke dalam zona big accumulation.
Pembelian terbesar tercatat melalui broker YU dengan nilai transaksi Rp1,2 miliar untuk 21.400 lot pada harga rata-rata Rp576. Aktivitas ini menjadi dorongan utama arus masuk selama sesi perdagangan.
Aksi beli berikutnya datang dari broker DH, yang mencatat pembelian Rp881,2 juta atau 15.500 lot dengan rata-rata harga Rp569.
Broker AK turut memperkuat sisi pembelian dengan nilai Rp673,4 juta atau sebanyak 11.600 lot pada harga rata-rata Rp580.
Pembelian skala menengah juga dilakukan oleh broker MG senilai Rp250,7 juta, serta broker RX yang mengakumulasi Rp222,2 juta di harga rata-rata Rp580.
Selain itu, beberapa broker lain turut mencatat pembelian berlapis pada rentang harga yang sama, seperti KI, BB, KZ, ZP, GR, HP, YB, dan AZ. Konsistensi harga rata-rata di kisaran Rp569–Rp580 menunjukkan area penyerapan yang kuat sepanjang hari.
Di sisi lain, aktivitas penjualan tetap muncul meskipun tidak mendominasi. Broker PD menjadi penjual terbesar dengan total transaksi Rp1 miliar untuk 17.700 lot pada harga rata-rata Rp575.
Broker XL mencatat penjualan Rp441,3 juta, disusul YP sebesar Rp408,4 juta dan NI sebesar Rp384,7 juta. Penjualan tambahan tampak dari broker CC, OD, EP, FZ, XC, serta KK, namun nilai transaksi masing-masing berada di bawah kelompok penjual utama.
Adapun pada perdagangan sesi I hari ini, Selasa, 25 November 2025, saham emiten telekomunikasi ini terkoreksi usai melemah 0.86 persen atau turun 5 poin ke level 575.
MTEL tercatat bergerak beragam dalam beberapa periode. Dalam waktu satu minggu dan satu bulan, saham ini masing-masing mencatatkan kenaikan 0,88 persen.
Namun dalam jangka tiga bulan, harga masih turun 4,96 persen, dan sepanjang enam bulan terakhir terkoreksi lebih dalam sebesar 10,85 persen.
Sementara secara year-to-date (YTD), pergerakan MTEL menunjukkan penurunan 10,85 persen, dengan rentang harga tahun berjalan berada pada kisaran Rp488–Rp685. Untuk periode satu tahun penuh, penurunan berada di level 4,96 persen, sedangkan dalam tiga tahun harga turun sebesar 19,58 persen.
Meski demikian, MTEL mendapat sentimen positif dari konsensus analis Stockbit. Berdasarkan data analisis yang ditampilkan, sebanyak 22 dari 26 analis memberikan rekomendasi beli, sementara empat analis menyarankan tahan. Tidak ada analis yang mengeluarkan rekomendasi jual untuk MTEL pada periode terbaru.
Target harga rata-rata yang diberikan analis berada di Rp717. Sedangkan estimasi tertinggi mencapai Rp850, sedangkan target terendah berada di Rp505.
Meski kinerja jangka menengah hingga panjang masih bergerak negatif, konsistensi rekomendasi beli dari analis menunjukkan kepercayaan terhadap prospek fundamental MTEL.
Target harga rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan harga saat ini juga memperlihatkan bahwa saham ini dipandang masih berada di bawah nilai wajar versi analis.
Kinerja Keuangan Kuartal III 2025
Emiten infrastruktur telekomunikasi ini mencatat kinerja stabil sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2025. Berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2025, pendapatan perseroan mencapai Rp6,88 triliun, sedikit lebih rendah dibandingkan periode sama tahun 2024 yang tercatat Rp6,89 triliun.
Dari total pendapatan tersebut, segmen menara masih menjadi tulang punggung dengan kontribusi Rp6,48 triliun, sedangkan segmen lainnya menyumbang Rp391,27 miliar.
Beban pokok pendapatan pada periode laporan tercatat Rp3,35 triliun, berkurang tipis secara tahunan. Dengan demikian, perseroan membukukan laba bruto Rp3,52 triliun, hanya turun marginal dibandingkan Rp3,53 triliun dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Adapun laba tahun berjalan MTEL pada sembilan bulan pertama tahun 2025 sebesar 1,54 triliun, atau naik sebesar 0,61 persen secara year on year (yoy).
Sementara itu, EBITDA MTEL pada kuartal III tahun ini sebesar Rp5,77 triliun, atau meningkat sebanyak 1,8 persen yoy.
Adapun total aset perseroan berada di level Rp58,04 triliun, meningkat tipis dibandingkan Rp58,00 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.(*)