Insight Daily 09 Jan 2026 Penulis: KabarBursa.com

Asing Masuk Perlahan ke DEWA di Tengah Buyback Manajemen

Akumulasi broker asing terlihat di orderbook saat Darma Henwa menyerap saham lewat buyback ratusan miliar rupiah, meski harga bergerak relatif tenang.

KABARBURSA.COM — Pasar saham tidak selalu bergerak dengan suara keras. Ada kalanya, pergeseran besar justru terjadi dalam senyap, ketika angka-angka berpindah tangan tanpa euforia, dan keputusan strategis diambil tanpa seremoni. Itulah suasana yang menyelimuti saham PT Darma Henwa Tbk atau DEWA dalam beberapa hari pertama Januari 2026.Di satu sisi, pemegang ...

Akumulasi asing mulai terlihat di saham DEWA saat manajemen melakukan buyback besar, di tengah valuasi tinggi dan pergerakan harga yang cenderung datar. Foto: D
Akumulasi asing mulai terlihat di saham DEWA saat manajemen melakukan buyback besar, di tengah valuasi tinggi dan pergerakan harga yang cenderung datar. Foto: D

Insight Navigator

  1. 01 Teknikal dan Akumulasi Saham DEWA
  2. 02 Valuasi Tinggi, Ruang Toleransi Menyempit

Data Kustodian Sentral Efek Indonesia menunjukkan adanya perubahan kepemilikan saham DEWA oleh PT Andhesti Tungkas Pratama. Per 6 Januari 2026, entitas tersebut tercatat menggenggam 3,34 miliar lembar saham atau setara 8,21 persen dari total saham beredar. Angka itu menyusut dibandingkan posisi sehari sebelumnya yang masih berada di level 3,4 miliar lembar atau 8,36 persen.

Pengurangan kepemilikan ini bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Sehari sebelumnya, tepatnya per 5 Januari 2026, PT Andhesti Tungkas Pratama juga tercatat telah melepas 25 juta lembar saham DEWA. Transaksi itu dilakukan melalui PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk. Artinya, dalam dua hari perdagangan beruntun, saham keluar dari genggaman pemilik lama dengan total 85 juta lembar.

Pola ini memberi kesan bahwa pelepasan dilakukan secara bertahap, bukan reaksi spontan terhadap gejolak pasar. Tidak ada lonjakan volume ekstrem, tidak pula tekanan harga yang tajam. Dalam konteks pasar, langkah semacam ini lebih menyerupai proses disengagement perlahan ketimbang aksi panik. Saham dilepas, tapi tidak dilempar.

Di tengah pergeseran kepemilikan tersebut, manajemen Darma Henwa justru melangkah ke arah yang berlawanan. Perseroan secara terbuka mengumumkan aksi pembelian kembali saham atau buyback dengan skala yang tidak kecil. Pada 6 Januari 2026, manajemen melakukan buyback sebanyak 418.604.651 saham DEWA.

Director & Corporate Secretary Darma Henwa, Mukson Arif Rosyidi, menjelaskan aksi tersebut dalam laporan resmi kepada otoritas bursa. “Harga rata-rata pembelian sebesar Rp 645 per saham, dengan persentase jumlah nominal saham yang dibeli dibandingkan jumlah saham yang tercatat di bursa Efek Indonesia (BEI) sebanyak 1,03 persen,” kata Mukson dalam keterangan resminya, Selasa, 6 Januari 2026, lalu.

Untuk transaksi tersebut, perseroan menggelontorkan dana sebesar Rp 269,99 miliar. Angka ini bukan sekadar simbolik, melainkan bagian dari rencana buyback yang jauh lebih besar. Manajemen sebelumnya telah menyiapkan total alokasi dana hingga Rp 950 miliar untuk pembelian kembali saham perseroan.

Hingga saat ini, DEWA telah merealisasikan buyback senilai Rp 429,99 miliar untuk membeli 790,69 juta saham. Dengan demikian, perseroan masih menyisakan anggaran sekitar Rp 520 miliar untuk menuntaskan program pembelian kembali tersebut.

Aksi buyback dalam skala ini jarang dilakukan tanpa perhitungan matang. Ketika manajemen memilih masuk ke pasar sebagai pembeli aktif, pesan yang dikirim bukan hanya kepada investor ritel, tetapi juga kepada pasar secara keseluruhan. Tanpa harus diucapkan secara eksplisit, buyback semacam ini kerap dibaca sebagai upaya memasang lantai harga, atau setidaknya menunjukkan tingkat keyakinan internal terhadap nilai saham perseroan.

Kontras inilah yang membuat pergerakan DEWA menarik dicermati. Saat saham keluar dari tangan pemilik lama, manajemen justru menyerapnya kembali. Dua arah yang berlawanan, terjadi dalam waktu berdekatan, tanpa gejolak berlebihan di harga. Di permukaan, saham DEWA tampak bergerak tenang. Namun di balik ketenangan itu, struktur kepemilikan dan pesan strategis sedang bergeser perlahan.

Sore ini, harga saham DEWA bertahan di level Rp810. Sepanjang perdagangan harian, pergerakannya cenderung berputar di rentang sempit, antara Rp800 hingga Rp830. Tidak ada lonjakan volatilitas yang mencolok. Meski begitu, data orderbook menunjukkan sebagian pembelian justru terjadi pada harga yang lebih tinggi. Kondisi ini memberi gambaran bahwa minat beli belum sepenuhnya diterjemahkan pasar ke dalam pergerakan harga, tetapi tertahan oleh keseimbangan suplai dan permintaan jangka pendek.

Akumulasi tersebut terutama terlihat dari aktivitas sejumlah broker yang dikenal kuat merepresentasikan investor institusional, termasuk investor asing. JP Morgan Sekuritas Indonesia (BK) tercatat menjadi pembeli terbesar dengan nilai transaksi sekitar Rp5 miliar, melakukan pembelian di harga rata-rata Rp814. Di belakangnya, DBS Vickers Sekuritas Indonesia (DP) juga masuk dengan nilai sekitar Rp1,6 miliar di harga rata-rata Rp815. CGS International Sekuritas Indonesia (YU) turut mencatatkan pembelian senilai Rp1,6 miliar dengan harga rata-rata Rp812.

Selain itu, broker domestik dengan jejaring institusi yang kuat juga ikut meramaikan sisi beli. Mandiri Sekuritas (CC) tercatat melakukan pembelian sekitar Rp1 miliar di harga rata-rata Rp813, sementara Maybank Sekuritas Indonesia (ZP) masuk dengan nilai sekitar Rp668 juta di harga rata-rata Rp817. Kehadiran nama-nama ini menunjukkan bahwa akumulasi tidak datang dari pelaku ritel semata, melainkan melibatkan rumah broker yang kerap menjadi pintu masuk dana institusional dan asing.

Teknikal dan Akumulasi Saham DEWA

Secara teknikal, grafik harga harian menunjukkan DEWA bergerak di sekitar area rata-rata pergerakan MA 20 dan MA 100 yang relatif datar. Bollinger Band tampak menyempit, yang menandakan volatilitas yang rendah dan pasar yang belum menentukan arah berikutnya. Pola ini kerap muncul ketika pelaku pasar menunggu katalis lanjutan, baik dari sisi fundamental maupun aksi korporasi.

Ketenangan harga ini menjadi menarik justru karena konteksnya besar. Saham dilepas oleh pemegang lama, sementara manajemen masuk sebagai pembeli aktif. Dua arah yang biasanya memicu tarik-menarik harga, kali ini seperti saling mengunci.

Dari sisi asing, pergerakannya bahkan lebih tipis. Nilai pembelian asing tercatat sebesar Rp75,89 miliar, sementara penjualan berada di Rp74,92 miliar. Selisihnya hanya menyisakan net buy sekitar Rp969,44 juta. Angka ini terlalu kecil untuk disebut sebagai dorongan tren, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa asing tidak sepenuhnya pergi.

Komposisi transaksi juga berbicara banyak. Sekitar 87,8 persen perdagangan DEWA didominasi investor domestik, sementara porsi asing hanya sekitar 12,2 persen. Artinya, dinamika saham ini lebih banyak ditentukan oleh pemain lokal. Ini bukan permainan dana global yang masuk dan keluar cepat, melainkan interaksi antar pelaku domestik dengan kepentingan dan horizon yang berbeda.

Di tengah struktur pasar seperti itu, aksi buyback manajemen berdiri sebagai sinyal psikologis yang kuat. Bukan karena buyback selalu berarti harga akan naik, tapi karena buyback aktif di harga pasar jarang dilakukan tanpa kalkulasi matang. Ketika manajemen masuk sebagai pembeli di pasar reguler, pesan yang dikirim bukan hanya ke investor ritel, tetapi juga ke kreditur, mitra bisnis, dan investor institusi.

Buyback memberi sinyal bahwa manajemen menilai harga pasar saat ini berada di level yang layak diserap, setidaknya dari sudut pandang internal. Ia berfungsi sebagai jangkar psikologis, bukan pemantik euforia. Pasar boleh saja belum bergerak, tapi ada lantai yang secara implisit sedang dipasang.

Namun, pasar juga tampak memahami satu hal penting. Buyback bukan jaminan kenaikan harga dalam waktu dekat. Ia lebih sering menjadi pernyataan keyakinan jangka menengah, bukan undangan reli jangka pendek. Karena itu, respons harga DEWA cenderung kalem.

Valuasi Tinggi, Ruang Toleransi Menyempit

Jika menengok lebih dalam ke sisi valuasi, cerita DEWA menjadi semakin kompleks. Pada grafik PE Band TTM tiga tahun, rasio price to earnings DEWA per 9 Januari 2026 berada di kisaran 193,75. Angka ini berada jauh di atas rata-rata historis tiga tahunnya di sekitar 82,54 dan bahkan mendekati batas atas plus dua deviasi standar di 204,24. Secara historis, posisi PE setinggi ini menunjukkan bahwa pasar sedang membayar mahal untuk ekspektasi pertumbuhan laba ke depan, bukan mencerminkan kinerja laba yang sudah stabil.

Lonjakan PE ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Sejak 2024 hingga 2025, grafik menunjukkan akselerasi tajam pada valuasi DEWA, seiring ekspektasi perbaikan kinerja dan berbagai aksi korporasi yang menyertainya. Namun, posisi PE yang berada di area atas band juga berarti ruang toleransi pasar terhadap kekecewaan kinerja menjadi semakin sempit.

Sementara itu, pada sisi PBV Band, posisi DEWA juga menunjukkan cerita serupa. Per 26 September 2025, PBV DEWA berada di kisaran 2,31. Angka ini sudah berada di atas rata-rata historis tiga tahunnya di 0,98 dan melampaui satu deviasi standar di 2,05, meski masih di bawah batas atas dua deviasi standar di 3,12. Artinya, pasar memberi premi yang cukup tinggi terhadap nilai buku perseroan, seiring meningkatnya ekspektasi terhadap prospek bisnis ke depan.

Lonjakan PBV ini mencerminkan perubahan cara pasar memandang DEWA. Jika sebelumnya saham ini diperlakukan sebagai saham kontraktor tambang dengan valuasi relatif murah, kini ekspektasi yang disematkan jauh lebih tinggi. Namun, seperti halnya PE, valuasi tinggi ini juga membuat saham menjadi lebih sensitif terhadap perubahan sentimen.

Di tengah dinamika tersebut, konsensus analis yang tercatat di Stockbit menunjukkan pandangan yang relatif optimistis. Sebanyak 11 analis memberikan rating beli terhadap saham DEWA. Target harga rata-rata analis berada di Rp735, dengan estimasi tertinggi mencapai Rp1.100 dan estimasi terendah di Rp509. Dengan harga pasar di kisaran Rp810, posisi ini menunjukkan bahwa saham DEWA saat ini diperdagangkan di atas target rata-rata analis, namun masih jauh di bawah proyeksi optimistis tertinggi.

Kondisi inilah yang membuat pergerakan DEWA terlihat unik. Di satu sisi, ada akumulasi asing yang masih berlangsung, diwakili oleh broker-broker global dan institusional. Di sisi lain, valuasi sudah berada di level tinggi secara historis, membuat sebagian pelaku pasar memilih bersikap hati-hati.

Secara keseluruhan, pergerakan DEWA saat ini lebih mencerminkan fase penyeimbangan. Harga tidak jatuh meski valuasi tinggi, namun juga belum melesat karena pasar masih menunggu pembuktian lanjutan. Arus asing yang masuk secara selektif memberi sinyal bahwa saham ini belum sepenuhnya ditinggalkan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya