KABARBURSA.COM - Tekanan jual investor asing mulai terlihat di saham PT RMK Energy Tbk (RMKE) ketika perseroan melakukan pemecahan saham atau stock split dengan rasio 1:5. Jika dilihat lebih dalam, aksi korporasi ini tidak sekadar membuat harga saham lebih terjangkau bagi investor ritel.
Di tengah net foreign sell reguler yang mencapai Rp8,08 miliar pada perdagangan 19 Mei 2026, manajemen RMKE justru membuka jalan bagi perubahan struktur perdagangan sahamnya. Investor asing tercatat melakukan penjualan Rp23,61 miliar, sementara pembelian asing hanya Rp15,54 miliar.
Pada saat bersamaan, transaksi domestik mendominasi hingga 83,93 persen dari total aktivitas perdagangan. Situasi ini memperlihatkan bahwa aktivitas perdagangan RMKE mulai lebih ditopang investor domestik.
Perseroan sendiri telah mengumumkan rencana stock split dengan rasio 1:5, sehingga setiap satu saham lama akan menjadi lima saham baru. Nilai nominal saham akan turun dari Rp100 menjadi Rp20 per saham. Jumlah saham ditempatkan dan disetor penuh pun melonjak dari 4,37 miliar saham menjadi 21,87 miliar saham.
Secara fundamental, langkah tersebut tidak mengubah nilai perusahaan. Namun di pasar modal, perubahan struktur jumlah saham hampir selalu berkaitan dengan likuiditas, perilaku transaksi, dan segmentasi investor.
Analis Komoditas dan Founder Traderindo, Wahyu Tribowo Laksono, menilai timing stock split RMKE menarik karena dilakukan ketika investor asing justru mulai mengurangi eksposur mereka di saham batu bara.
“Melihat stock split RMKE di tengah tekanan jual investor asing menunjukkan bahwa manajemen sedang berupaya mengalihkan motor penggerak likuiditas sahamnya,” kata Wahyu kepada KabarBursa.com, Rabu, 20 Mei 2026.
Menurut dia, ketika investor institusi asing mulai keluar akibat rotasi sektor, sentimen global, maupun tekanan terhadap sektor batu bara, perusahaan membutuhkan basis likuiditas baru agar perdagangan saham tetap aktif. Dalam konteks itulah stock split menjadi relevan.
“Langkah ini mengindikasikan bahwa RMKE ingin mengoptimalkan potensi pasar domestik. Menurunkan harga nominal per lembar saham membuat RMKE tidak lagi bergantung penuh pada aliran dana asing untuk menjaga volume perdagangan,” ujarnya.
Di pasar, perubahan arah tersebut mulai terlihat dari pola distribusi transaksi. Broker domestik masih mendominasi sisi pembelian, terutama melalui broker XL dengan nilai beli mencapai sekitar Rp20 miliar. Sementara di sisi penjualan, tekanan asing dan distribusi dari sejumlah broker besar masih mendominasi aliran keluar saham.
Situasi ini membuat stock split RMKE menjadi lebih menarik untuk dibaca bukan sebagai aksi korporasi biasa, melainkan sebagai upaya membangun “mesin likuiditas” baru ketika pola arus modal mulai berubah.
Sebab bagi emiten dengan kapitalisasi menengah seperti RMKE, menjaga likuiditas perdagangan saham menjadi sama pentingnya dengan menjaga pertumbuhan bisnis itu sendiri.
Strategi Perluas Basis Ritel
Sebelum pengumuman stock split, saham RMKE diperdagangkan di kisaran Rp3.000-an per saham. Pada level tersebut, satu lot saham RMKE membutuhkan dana lebih dari Rp300 ribu. Nilai itu memang belum tergolong mahal untuk investor menengah, tetapi mulai terasa berat bagi investor ritel kecil yang aktif bertransaksi harian.
Dalam keterbukaan informasinya, manajemen RMKE secara terbuka menyebut stock split ditujukan untuk meningkatkan likuiditas perdagangan saham dan memperluas jangkauan investor ritel. Perseroan menilai harga saham yang lebih rendah dapat membuat transaksi menjadi lebih aktif.
Wahyu menilai, penurunan harga nominal saham memang sering menjadi faktor penting dalam menarik partisipasi investor domestik.
“Dengan harga yang menjadi seperlima dari harga sebelumnya, hambatan masuk menjadi jauh lebih rendah. Investor ritel baru, termasuk generasi muda yang bertransaksi dengan nominal kecil, dapat dengan mudah memasukkan RMKE ke dalam portofolio mereka,” ujarnya.
Langkah seperti ini, kata Wahyu, biasanya tidak langsung mengubah fundamental perusahaan, tetapi dapat mengubah perilaku perdagangan saham di pasar.
Ia menjelaskan, kenaikan jumlah saham beredar akan membuat antrean transaksi di papan perdagangan menjadi lebih padat. Dalam banyak kasus, kondisi tersebut membuat spread bid-offer menjadi lebih rapat dan volume perdagangan meningkat.
“Kenaikan jumlah saham beredar sebanyak lima kali lipat akan berdampak langsung pada peningkatan frekuensi transaksi dan aktivitas perdagangan harian,” kata dia.
Efek itu penting terutama bagi saham dengan kapitalisasi menengah seperti RMKE yang mulai membutuhkan kedalaman pasar lebih besar agar transaksi tidak mudah digerakkan oleh arus beli atau jual dalam jumlah tertentu.
Data perdagangan RMKE memang menunjukkan transaksi masih cukup terkonsentrasi pada broker tertentu. Di sisi pembelian, broker domestik berkode XL tercatat menjadi salah satu pengumpul saham terbesar di pasar reguler. Sementara di sisi penjualan, distribusi saham masih didominasi sejumlah broker besar lain yang aktif melepas saham di pasar.
Kondisi seperti ini membuat struktur perdagangan saham menjadi relatif sensitif terhadap perubahan arus transaksi dari pelaku tertentu. Ketika tekanan jual asing meningkat, volatilitas saham berpotensi ikut membesar apabila basis likuiditas tidak cukup dalam.
Karena itu, stock split RMKE mulai dibaca bukan sekadar upaya membuat harga saham lebih murah, melainkan bagian dari strategi memperluas distribusi investor agar aktivitas perdagangan menjadi lebih merata.
Dalam praktik pasar modal, semakin besar jumlah partisipan yang aktif bertransaksi, semakin kecil pula ketergantungan saham terhadap segelintir broker atau investor besar. Pasar biasanya akan menjadi lebih organik karena pembentukan harga terjadi dari distribusi transaksi yang lebih luas.
Wahyu melihat efek tersebut berpotensi muncul apabila RMKE berhasil mempertahankan minat investor ritel setelah stock split efektif berlaku. “Masuknya aliran order berskala kecil namun masif dari berbagai sekuritas ritel akan mendiversifikasi partisipan pasar,” ujarnya.
Namun sejauh ini, pasar masih menunggu apakah perubahan struktur perdagangan tersebut benar-benar akan terjadi atau hanya memunculkan euforia jangka pendek seperti yang kerap muncul pada saham-saham yang baru melakukan stock split.
Fundamental Masih Tumbuh, RMKE Tak Sekadar Kejar Sentimen
Di luar isu likuiditas, langkah RMKE juga menarik karena dilakukan ketika fundamental perseroan masih berada dalam fase pertumbuhan. Situasi ini berbeda dengan sejumlah emiten yang biasanya melakukan stock split saat momentum harga saham mulai melemah atau ketika aktivitas perdagangan mulai turun tajam.
Pada kuartal I 2026, RMKE mencatat pendapatan sebesar Rp816 miliar, melonjak 142,12 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp337 miliar. Pertumbuhan tersebut menunjukkan aktivitas bisnis perseroan masih berkembang di tengah fluktuasi sektor energi dan batu bara.
Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga naik menjadi Rp55 miliar, dibanding Rp53 miliar pada kuartal I tahun sebelumnya. Meski kenaikannya tidak sebesar pertumbuhan pendapatan, perseroan masih mampu menjaga profitabilitas di tengah tekanan biaya operasional dan volatilitas sektor komoditas.
Dari sisi neraca, posisi kas RMKE tercatat mencapai Rp716 miliar dengan total ekuitas sekitar Rp1,97 triliun. Debt to equity ratio berada di level 0,54 kali, sedangkan current ratio mencapai 3,41 kali. Struktur keuangan tersebut membuat ruang ekspansi perseroan masih relatif terjaga.
Kondisi fundamental itu menjadi penting karena pasar biasanya akan membedakan stock split yang dilakukan perusahaan bertumbuh dengan stock split yang sekadar mengejar sentimen jangka pendek.
Dalam keterbukaan informasinya, RMKE juga menegaskan bahwa stock split tidak memberikan dampak terhadap kondisi keuangan perseroan. “Pemecahan nilai nominal saham tidak memiliki dampak pada keuangan Perseroan,” tulis manajemen RMKE, pada Rabu, 20 Mei 2026.
Harga saham yang lebih rendah setelah stock split biasanya menciptakan ilusi bahwa saham menjadi lebih murah, meskipun secara valuasi tidak ada perubahan. Efek psikologis seperti itu yang kerap mendorong lonjakan volume dan frekuensi transaksi dalam jangka pendek.
Wahyu menilai, euforia semacam itu hampir selalu muncul pada saham yang baru melakukan stock split. Tetapi menurut dia, dampak paling penting justru baru akan terlihat beberapa bulan setelah aksi korporasi efektif berjalan.
“Stock split pada dasarnya adalah aksi kosmetik yang tidak mengubah fundamental maupun valuasi perusahaan secara langsung,” ujarnya.
Menurut dia, pertanyaan utamanya bukan apakah harga saham akan naik setelah split, melainkan apakah RMKE mampu mempertahankan basis investor ritel baru yang masuk setelah harga saham menjadi lebih terjangkau.
Jika basis investor itu bertahan, struktur perdagangan saham RMKE bisa berubah secara permanen. “Struktur pemegang saham yang dulunya didominasi oleh segelintir institusi akan bergeser menjadi lebih terdiversifikasi dengan porsi ritel yang solid,” kata Wahyu.
Perubahan tersebut dinilai dapat membuat saham RMKE lebih tahan terhadap tekanan jual besar dari investor tertentu karena daya serap pasar menjadi lebih merata. Dengan kata lain, likuiditas tidak lagi hanya bergantung pada segelintir pemain besar, tetapi mulai disebar ke basis investor yang lebih luas.
Bagi RMKE, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar menjalankan stock split, melainkan memastikan likuiditas baru yang terbentuk benar-benar bertahan setelah euforia pasar mereda.
Perebutan Likuiditas dan Pertarungan Struktur Perdagangan
Pasar kini akan menguji apakah langkah RMKE benar-benar mampu menciptakan struktur perdagangan yang lebih dalam, atau justru hanya memunculkan lonjakan transaksi sesaat seperti yang kerap terjadi setelah stock split di banyak saham lain.
Sebab dalam praktik pasar modal, likuiditas tidak hanya diukur dari ramainya transaksi harian. Yang lebih penting adalah kualitas distribusi transaksi itu sendiri: siapa yang membeli, siapa yang menjual, seberapa merata order tersebar, dan seberapa kuat pasar menyerap tekanan jual ketika volatilitas meningkat.
Pada titik inilah struktur perdagangan RMKE mulai menarik perhatian. Data perdagangan menunjukkan aktivitas saham RMKE masih cukup dipengaruhi aliran transaksi dari broker-broker tertentu. Di sisi pembelian, broker domestik berkode XL terlihat agresif melakukan akumulasi saham. Sementara di sisi distribusi, beberapa broker besar lain masih mendominasi tekanan jual di pasar reguler.
Kondisi seperti ini umum terjadi pada saham dengan basis investor yang belum terlalu tersebar. Pergerakan harga sering kali menjadi sensitif terhadap aksi segelintir pelaku pasar, terutama ketika likuiditas pasar belum cukup tebal.
Wahyu menilai aspek inilah yang menjadi salah satu nilai strategis stock split RMKE. “Dengan harga yang lebih murah, daya tarik saham ini akan menyebar ke ratusan broker ritel lainnya,” ujarnya.
Menurut dia, masuknya order dalam nominal kecil tetapi berasal dari lebih banyak investor justru dapat menciptakan struktur perdagangan yang lebih sehat dibanding hanya ditopang transaksi besar dari segelintir institusi.
“Hasilnya, ketergantungan RMKE pada broker atau ‘bandar’ tertentu akan berkurang, dan pembentukan harga di pasar menjadi lebih organik serta mencerminkan mekanisme pasar yang lebih luas,” kata Wahyu.
Pandangan itu cukup relevan jika melihat komposisi perdagangan RMKE saat ini yang masih sangat didominasi investor domestik. Data transaksi menunjukkan porsi domestik mencapai hampir 84 persen dari total perdagangan reguler, sementara aktivitas asing mulai mengalami penurunan.
Di sisi lain, free float RMKE sebenarnya sudah cukup besar, yakni sekitar 40,68 persen. Dalam teori pasar modal, free float sebesar itu seharusnya memberi ruang bagi perdagangan yang lebih aktif dan distribusi investor yang lebih luas.
Namun besarnya free float tidak selalu otomatis menciptakan likuiditas yang dalam. Jika transaksi masih terkonsentrasi pada kelompok investor tertentu, saham tetap berpotensi mengalami volatilitas tinggi ketika terjadi perubahan arus dana dalam waktu singkat.
Karena itu, pasar kini tidak hanya memperhatikan rasio stock split RMKE, tetapi juga apakah aksi tersebut benar-benar mampu memperluas distribusi investor dan memperbaiki kualitas perdagangan saham dalam jangka panjang.
Apalagi di tengah ketidakpastian pasar komoditas dan pergerakan investor asing yang masih fluktuatif, emiten sektor energi seperti RMKE membutuhkan basis likuiditas yang lebih stabil untuk menjaga daya tarik sahamnya di pasar.
Euforia atau Perubahan Permanen?
Meski begitu, stock split tetap bukan jaminan bahwa saham akan otomatis bergerak lebih tinggi atau menjadi lebih likuid secara permanen. Pasar Indonesia sudah berkali-kali menunjukkan bahwa euforia setelah stock split sering kali hanya berlangsung pendek sebelum investor kembali fokus pada fundamental dan arah bisnis perusahaan.
Risiko tersebut juga membayangi RMKE. Dalam jangka pendek, pemecahan saham memang hampir selalu meningkatkan perhatian pasar. Harga saham yang terlihat lebih murah biasanya menarik trader ritel dan investor momentum untuk masuk. Volume transaksi naik, frekuensi perdagangan melonjak, dan saham menjadi lebih ramai dibicarakan.
Namun fase itu biasanya akan diuji setelah efek psikologis mulai mereda. Jika likuiditas baru yang masuk hanya bersifat spekulatif, perdagangan saham berpotensi kembali terkonsentrasi pada kelompok investor tertentu. Dalam kondisi seperti itu, stock split hanya menjadi katalis sentimen sementara tanpa benar-benar mengubah struktur pasar saham emiten.
Wahyu menilai perbedaan utama akan terlihat pada kemampuan RMKE mempertahankan investor ritel baru setelah fase awal stock split selesai. “Untuk jangka panjang, aksi ini dapat mengubah struktur perdagangan saham secara permanen jika berhasil mempertahankan basis investor ritel yang baru,” ujarnya.
Menurut dia, keberhasilan itu akan menentukan apakah RMKE mampu membangun pasar saham yang lebih tahan terhadap tekanan jual institusi besar di masa depan.
“Perubahan struktur ini membuat saham RMKE menjadi lebih resilient terhadap tekanan jual dari satu atau dua institusi besar di masa depan, karena pasar memiliki daya serap yang lebih merata dari investor domestik,” kata Wahyu.
Di sisi lain, pasar juga masih akan memantau kondisi sektor batu bara yang dalam beberapa waktu terakhir bergerak cukup sensitif terhadap perubahan arah ekonomi global, transisi energi, dan rotasi investasi asing dari sektor komoditas.(*)