Insight Daily 11 Feb 2026 Penulis: KabarBursa.com

Asing Konsisten Masuk ITMA, Harga Bergerak Seiring Arus Dana

Aliran dana asing bertahan di tengah volatilitas harga awal Februari, sementara aktivitas broker menunjukkan pergantian peran yang intens di pasar reguler.

KABARBURSA.COM – Saham PT Sumber Energi Andalan Tbk (ITMA) kembali masuk radar pelaku pasar setelah tercatat adanya aliran dana asing (foreign flow) konsisten. Pada perdagangan terakhir, ITMA membukukan net foreign buy Rp4,16 miliar dengan streak tujuh hari berturut-turut. Dalam basis rata-rata 10 hari, net foreign buy MA10 tercatat Rp4,09 miliar, mencermink...

Saham PT Sumber Energi Andalan Tbk (ITMA) kembali masuk radar pelaku pasar setelah tercatat adanya aliran dana asing (foreign flow) konsisten. (Foto: KabarBursa
Saham PT Sumber Energi Andalan Tbk (ITMA) kembali masuk radar pelaku pasar setelah tercatat adanya aliran dana asing (foreign flow) konsisten. (Foto: KabarBursa

Insight Navigator

  1. 01 Jejak Arus Dana Asing dan Respons Harga ITMA
  2. 02 Membaca Pola Broker di Balik Arus Dana ITMA

KABARBURSA.COM – Saham PT Sumber Energi Andalan Tbk (ITMA) kembali masuk radar pelaku pasar setelah tercatat adanya aliran dana asing (foreign flow) konsisten. 

Pada perdagangan terakhir, ITMA membukukan net foreign buy Rp4,16 miliar dengan streak tujuh hari berturut-turut. Dalam basis rata-rata 10 hari, net foreign buy MA10 tercatat Rp4,09 miliar, mencerminkan pola masuk yang berkelanjutan. 

Di saat yang sama, foreign flow ITMA mencapai Rp1,94 triliun, nyaris sejalan dengan foreign flow MA20 sebesar Rp1,91 triliun. Harga saham ITMA ditutup di level 2.290, berada di atas seluruh rata-rata pergerakan jangka pendek.

Dalam pemetaan, ITMA muncul bersama saham-saham lain yang memiliki karakter minat asing berbeda. 

Di sisi lain, ITMA berada pada kelompok saham dengan skala nominal lebih kecil, namun menunjukkan pola konsistensi arus dana. Foreign flow ITMA sebesar Rp1,94 triliun bergerak searah dengan MA20 Rp1,91 triliun, menempatkannya sebagai saham yang mulai mendapat perhatian asing secara struktural.

Konsistensi tersebut terlihat dari data net foreign harian sepanjang 2–10 Februari 2026. Pada 2 Februari, asing mencatat net buy Rp3,04 miliar, diikuti Rp14,84 miliar pada 3 Februari dan meningkat menjadi Rp17,83 miliar pada 4 Februari. 

Aliran masuk tetap tercatat pada 5 Februari sebesar Rp136,60 juta dan 6 Februari Rp134,55 juta, sebelum kembali menguat pada 9 Februari Rp400,76 juta dan 10 Februari Rp4,16 miliar. Sepanjang periode tersebut, tidak terdapat satu pun hari dengan net foreign sell, membentuk streak tujuh hari berturut-turut.

Dari sisi jangka menengah, foreign flow aktual ITMA sebesar Rp1,94 triliun bergerak sangat dekat dengan rata-rata 20 hari sebesar Rp1,91 triliun, dengan selisih sekitar Rp29,18 miliar. 

Pergerakan harga ITMA berjalan seiring dengan struktur tersebut. Pada perdagangan terakhir, saham ini dibuka di 2.120, sempat menyentuh level tertinggi 2.340 dan terendah 2.100, sebelum ditutup menguat 150 poin atau 7,01 persen ke 2.290. 

Secara teknikal, posisi harga berada di atas MA5 2.125, MA10 2.102, dan MA20 2.171, menandai posisi harga yang seluruhnya berada di atas rata-rata pergerakan jangka pendek dan menengah.

Jejak Arus Dana Asing dan Respons Harga ITMA

Jejak arus dana asing pada ITMA terlihat jelas ketika ditarik ke kronologi pergerakan harga. Pada 2 Februari 2026, saat harga ditutup di 1.880, asing masih mencatat net buy Rp3,04 miliar. Sehari berikutnya, 3 Februari, harga melonjak ke 2.130 seiring net foreign buy Rp14,84 miliar. 

Pada 4 Februari, meski harga terkoreksi tipis ke 2.080, arus asing justru meningkat dengan net buy Rp17,83 miliar, menandai keberlanjutan aliran dana di tengah volatilitas harga.

Koreksi kembali terjadi pada 6 Februari 2026 ketika harga ditutup di 1.975. Namun, tekanan harga tersebut tidak diikuti keluarnya dana asing. Pada hari itu, asing masih mencatat net buy Rp134,55 juta. 

Pola serupa berlanjut hingga 9 Februari, saat harga kembali menguat ke 2.140 dengan net foreign buy Rp400,76 juta, sebelum ditutup lebih tinggi di 2.290 pada 10 Februari dengan net buy Rp4,16 miliar. Sepanjang fase naik dan turun harga tersebut, aliran dana asing tetap tercatat positif setiap hari.

Secara kronologis, pergerakan harga ITMA menunjukkan dinamika yang cukup lebar dalam periode pengamatan. Pada 2 Februari, harga dibuka di 2.090 dan turun 10,05 persen ke 1.880. Sehari kemudian, 3 Februari, harga dibuka di 1.800 dan melonjak 13,30 persen ke 2.130. 

Koreksi ringan terjadi pada 4 Februari, disusul penguatan kembali pada 5 Februari ke 2.140. Tekanan kembali muncul pada 6 Februari, sebelum harga berbalik menguat pada 9 Februari dan melanjutkan kenaikan pada 10 Februari 2026.

Pergerakan harga tersebut berlangsung seiring fluktuasi volume perdagangan. Volume melonjak signifikan pada 3 Februari mencapai 617,56 ribu lot dan meningkat lagi pada 4 Februari menjadi 645,08 ribu lot. 

Setelah itu, volume menyusut tajam pada 5 Februari menjadi 26,96 ribu lot, dan semakin tipis pada 6 Februari di 4,89 ribu lot. Meski volume relatif kecil pada 9 Februari sebesar 6,21 ribu lot, aktivitas kembali meningkat pada 10 Februari dengan 92,26 ribu lot.

Dari sisi nilai transaksi, dua hari dengan volume besar juga mencatat nilai yang menonjol. Pada 3 Februari, nilai transaksi mencapai Rp131,28 miliar dengan 1.550 kali transaksi. Sehari berikutnya, 4 Februari, nilai transaksi relatif setara di Rp131,22 miliar dengan frekuensi lebih tinggi, yakni 2.120 kali. 

Nilai transaksi kemudian turun signifikan pada 5 dan 6 Februari, sebelum kembali meningkat menjadi Rp20,74 miliar dengan 435 transaksi pada 10 Februari.

Data transaksi asing menunjukkan perbandingan yang konsisten antara sisi beli dan jual. Pada 3 Februari, foreign buy Rp62,77 miliar diimbangi foreign sell Rp47,94 miliar, menghasilkan net buy Rp14,84 miliar. Pada 4 Februari, foreign buy Rp30,60 miliar jauh di atas foreign sell Rp12,77 miliar. 

Bahkan pada hari dengan tekanan harga seperti 6 Februari, foreign buy Rp340,32 juta masih melampaui foreign sell Rp205,77 juta. Tidak ada satu pun hari dalam periode tersebut di mana nilai jual asing melebihi pembelian.

Respons harga terhadap arus dana tersebut tampak bertahap. Harga bergerak naik tajam setelah lonjakan foreign buy pada awal periode, terkoreksi tanpa diikuti pembalikan arus asing, lalu kembali menguat pada penutupan periode pengamatan. Pola ini memperlihatkan keterkaitan waktu antara arus dana dan pergerakan harga, tanpa adanya fase pelepasan dana asing yang bersamaan dengan koreksi harga.

Pada perdagangan terakhir, karakter pergerakan intraday turut mencerminkan dinamika tersebut. Pada 10 Februari 2026, ITMA bergerak dalam rentang 2.100–2.340, dibuka di 2.120 dan ditutup di 2.290. Rentang intraday mencapai 240 poin, dengan batas auto rejection atas (ARA) 2.860 dan auto rejection bawah (ARB) 1.950, menempatkan pergerakan hari itu dalam koridor yang relatif lebar.

Di balik dinamika harga dan transaksi, struktur saham ITMA memberikan konteks tambahan. Jumlah saham beredar tercatat 999,05 juta saham dengan free float 21,02 persen. Kapitalisasi pasar berada di kisaran Rp2,29 triliun, sementara enterprise value mencapai Rp2,97 triliun. Dengan struktur tersebut, perubahan arus dana relatif cepat tercermin pada pergerakan harga dan volume.

Struktur kepemilikan juga menunjukkan konsentrasi tertentu. PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk menguasai 41,90 persen saham, disusul kepemilikan oleh PT Fersindo Nusa Jaya 10,93 persen, PT Trukindo Persada Sejahtera 7,09 persen, dan PT Majukarya Mandiri Indonesia 5,10 persen. Porsi publik non-warkat tercatat 34,41 persen, sementara publik warkat 0,57 persen, membentuk komposisi kepemilikan yang relatif terkonsentrasi.

Pergerakan ITMA sepanjang 2–10 Februari 2026 menunjukkan relasi yang cukup jelas antara arus dana asing dan dinamika harga, meski tidak berlangsung secara linier. Pada fase awal, koreksi harga yang membawa ITMA turun ke level 1.880 pada 2 Februari justru tidak diiringi keluarnya dana asing. 

Net foreign buy tetap tercatat Rp3,04 miliar, menandakan bahwa tekanan harga pada hari tersebut tidak memicu aksi jual dari investor asing. Sehari kemudian, lonjakan harga ke 2.130 terjadi bersamaan dengan peningkatan net foreign buy menjadi Rp14,84 miliar, mengindikasikan fase masuknya dana dalam skala yang lebih besar ketika harga mulai bereaksi.

Menariknya, pada 4 Februari harga ITMA mengalami koreksi ringan ke 2.080, namun arus dana asing justru mencatat nilai tertinggi dalam periode pengamatan dengan net buy Rp17,83 miliar. Kondisi ini memperlihatkan bahwa koreksi harga tidak direspons dengan distribusi oleh asing, melainkan tetap diikuti akumulasi. 

Pola serupa kembali muncul pada 6 Februari ketika harga turun ke 1.975, sementara net foreign buy masih positif meski menurun ke Rp134,55 juta. Data ini memperkuat gambaran bahwa selama fase volatilitas, asing tidak meninggalkan posisi secara agresif.

Dari sisi aktivitas perdagangan, hari-hari dengan lonjakan arus dana asing juga bertepatan dengan meningkatnya volume dan nilai transaksi. Volume mencapai lebih dari 600 ribu lot pada 3 dan 4 Februari, disertai nilai transaksi di atas Rp130 miliar dengan frekuensi transaksi yang tinggi. 

Setelah fase tersebut, aktivitas pasar menyusut tajam pada 5 dan 6 Februari, baik dari sisi volume maupun nilai, sebelum kembali meningkat pada 10 Februari seiring penguatan harga dan net foreign buy Rp4,16 miliar. Variasi ini menunjukkan bahwa likuiditas ITMA bersifat episodik, namun tetap mampu menarik arus dana asing meski pada hari-hari dengan volume relatif tipis.

Perbandingan foreign buy dan foreign sell sepanjang periode pengamatan juga memperlihatkan pola yang konsisten. Tidak terdapat satu pun hari di mana nilai jual asing melampaui nilai belinya. 

Bahkan pada hari dengan tekanan harga, foreign buy tetap lebih besar dibanding foreign sell. Kondisi ini membuat koreksi harga lebih mencerminkan dinamika pasar secara umum, bukan sinyal pelepasan posisi oleh investor asing.

Secara keseluruhan, Bagian Kedua memperlihatkan bahwa pergerakan harga ITMA berlangsung dalam kerangka arus dana asing yang relatif stabil. Lonjakan, koreksi, hingga fase rebound terjadi tanpa disertai pembalikan arah arus dana. 

Hubungan waktu antara foreign flow, volume, dan harga membentuk pola respons pasar yang berlapis, yang kemudian membuka ruang pembacaan lebih dalam pada mikrostruktur perdagangan di balik pergerakan tersebut.

Membaca Pola Broker di Balik Arus Dana ITMA

Lapisan mikrostruktur perdagangan ITMA memperlihatkan distribusi peran broker yang cukup dinamis sepanjang periode pengamatan. Pada fase awal, Mandiri Sekuritas (CC) dan Danatama Makmur Sekuritas (II) muncul berulang di sisi beli, terutama pada 2, 5, 6, 9, dan 10 Februari 2026. 

Aktivitas beli CC terlihat konsisten meski dengan nilai yang bervariasi, mulai dari ratusan juta rupiah hingga menembus Rp3,8 miliar pada awal periode. Sementara II mencatat porsi beli terbesar pada 4 Februari dengan nilai Rp57,4 miliar dan volume 273,5 ribu lot, bertepatan dengan salah satu hari paling aktif dalam periode tersebut.

Di sisi lain, peran broker jual juga bergeser dari hari ke hari. Minna Padi Investama Sekuritas (MU) tercatat beberapa kali mendominasi sisi jual, terutama pada 3, 6, dan 10 Februari, dengan nilai jual tertinggi mencapai Rp10,7 miliar pada 3 Februari. 

UBS Sekuritas Indonesia (AK) juga muncul berulang di sisi jual pada beberapa hari, termasuk 2, 3, dan 9 Februari, sementara Maybank Sekuritas Indonesia (ZP) tercatat aktif menjual pada 5 dan 6 Februari. Pergantian broker jual ini terjadi tanpa satu pola dominasi tunggal yang berkelanjutan.

Pada hari-hari dengan lonjakan transaksi, aktivitas broker terlihat lebih terkonsentrasi. 3 dan 4 Februari menjadi contoh paling jelas, ketika nilai transaksi dan volume melonjak signifikan. Pada 3 Februari, Dwidana Sakti Sekuritas (TS) dan Danatama Makmur Sekuritas (II) memimpin sisi beli, sementara MU dan AK muncul di sisi jual. 

Sehari kemudian, peran II kembali menonjol di sisi beli, berhadapan dengan tekanan jual dari Yuanta Sekuritas Indonesia (FS) dan KGI Sekuritas Indonesia (HD). Pola ini menunjukkan terjadinya pertukaran kepemilikan yang aktif di level broker, seiring meningkatnya partisipasi pasar.

Menjelang akhir periode, tepatnya pada 10 Februari 2026, aktivitas kembali meningkat dengan konfigurasi broker yang berbeda. Yuanta Sekuritas Indonesia (FS) memimpin sisi beli dengan nilai Rp12,1 miliar dan volume 54,2 ribu lot, sementara sisi jual didominasi oleh NH Korindo Sekuritas Indonesia (XA) dan KGI Sekuritas Indonesia (HD). 

Pada hari yang sama, Mandiri Sekuritas (CC) kembali muncul di sisi beli, menegaskan keberadaannya sebagai salah satu broker yang aktif lintas hari dalam periode pengamatan.

Di luar dinamika broker, data keuangan memberikan latar tambahan bagi pergerakan saham. Pendapatan ITMA tercatat meningkat dari Rp4,0 triliun pada 2023 menjadi Rp16,0 triliun pada 2024, dan mencapai Rp28,0 triliun secara trailing twelve months hingga kuartal III 2025. 

Di sisi laba bersih, kinerja tercatat Rp33 miliar pada 2023, Rp28 miliar pada 2024, dan Rp19 miliar hingga kuartal III 2025. Data ini tidak berfungsi sebagai katalis jangka pendek, tetapi memberi konteks terhadap profil emiten yang menjadi objek transaksi sepanjang periode tersebut.

Jika ditarik secara menyeluruh, dinamika ITMA sepanjang awal Februari 2026 memperlihatkan keterkaitan antara arus dana asing, pergerakan harga, dan aktivitas broker tanpa adanya satu faktor tunggal yang berdiri sendiri. 

Arus dana asing yang konsisten menjadi fondasi utama, sementara harga bergerak naik-turun mengikuti ritme pasar tanpa diikuti pembalikan arah arus dana. 

Di level mikro, aktivitas broker menunjukkan rotasi peran yang aktif, baik di sisi beli maupun jual, terutama pada hari-hari dengan lonjakan volume dan nilai transaksi.

Struktur kepemilikan yang relatif terkonsentrasi dan free float yang terbatas membuat setiap perubahan arus dana dan aktivitas broker cepat tercermin pada pergerakan harga. 

Namun, tidak terlihat satu pola dominasi broker yang sepenuhnya menguasai perdagangan sepanjang periode. Sebaliknya, yang muncul adalah distribusi peran lintas hari, sejalan dengan dinamika harga dan volume. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya