KABARBURSA.COM - PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) terpantau menjadi salah satu saham primadona usai diakumulasi oleh investor asing melalui beberapa broker pada perdagangan Rabu, 1 Juli 2026.
Pada perdagangan kemarin, saham AADI ditutup menguat sebesar 1,29 persen atau naik 100 poin ke level Rp7.875.
Berdasarkan perdagangan Stockbit, broker UBS Sekuritas Indonesia (AK) memimpin pembelian asing terhadap AADI dengan catatan akumulasi terbesar mencapai Rp5,7 miliar untuk 7,2 ribu lot saham pada harga pembelian rata-rata Rp7.840.
Aksi borong saham AADI disusul oleh J.P. Morgan Sekuritas Indonesia (BK) yang membeli dengan nilai mencapai Rp1 miliar untuk 1,3 ribu lot saham pada harga rata-rata Rp7.835 per saham.
Porsi pembelian asing dalam skala lebih kecil juga dicatatkan oleh KGI Sekuritas Indonesia (HD) sebanyak Rp40,2 juta pada harga rata-rata Rp7.844, serta MNC Sekuritas (EP) sebesar Rp15,6 juta pada harga rata-rata Rp7.788 per lembar saham.
Di sisi lain, laju penguatan saham AADI per kemarin sempat tertahan oleh aksi jual bersih dari kelompok investor asing lainnya. Tekanan jual terbesar dilepaskan melalui Maybank Sekuritas Indonesia dengan kode broker ZP yang mencatatkan nilai penjualan senilai Rp1,9 miliar.
Aksi lepas portofolio ini juga diikuti oleh Macquarie Sekuritas Indonesia (RX) dengan nilai jual bersih sebesar Rp1,2 miliar, serta Mandiri Sekuritas (CC) yang mencatatkan penjualan sebesar Rp715,3 juta.
Beberapa sekuritas asing lain yang ikut mencatatkan net sell dengan nilai yang lebih minim di antaranya adalah CGS International Sekuritas Indonesia (YU) senilai Rp85,8 juta dan BNI Sekuritas (NI) sebesar Rp77,7 juta.
Kendati terdapat aksi ambil untung dari sebagian sekuritas internasional, dominasi akumulasi masif yang dilakukan oleh broker AK dan BK di harga rata-rata atas membuktikan adanya sentimen positif yang kuat.
Pada posisi harga penutupan Rp7.875, antrean jual terpantau tipis dengan menyisakan 401 lot. Di atas harga penutupan, volume antrean jual terbesar berada pada level Rp8.000 dengan jumlah mencapai 2.285 lot dari 54 frekuensi transaksi, diikuti level Rp7.975 sebanyak 2.071 lot.
Sementara itu, dari sisi permintaan, minat beli investor menumpuk kuat di zona hijau. Antrean beli tertinggi terkonsentrasi pada level harga Rp7.800 dengan volume mencapai 14.666 lot dari 191 frekuensi transaksi. Akumulasi beli juga terlihat tebal di level Rp7.775 sebanyak 10.098 lot serta level Rp7.825 sebanyak 7.850 lot.
Rekomendasi Analis
Saham AADI mendapatkan proyeksi sangat optimistis dari para pelaku pasar modal. Berdasarkan data konsensus Stockbit, dari 18 analis yang mengover saham AADI, mayoritas sepakat memberikan rekomendasi beli terhadap emiten tersebut seiring dengan potensi kenaikan harga yang masih sangat lebar.
Dari total 18 analis yang memberikan penilaian, sebanyak 17 analis secara solid merekomendasikan beli, sementara satu analis menyarankan untuk tahan dan tidak ada satu pun analis yang memberikan rekomendasi jual.
Sikap optimistis para analis ini terlihat langsung dari target harga rata-rata saham AADI yang dipatok pada level Rp14.240 per lembar saham.
Jika dibandingkan dengan harga penutupan perdagangan saat ini yang berada di level Rp7.875 per lembar, target rata-rata dari konsensus tersebut terdapat potensi kenaikan harga hingga mencapai lebih dari 80 persen dari nilai saat ini.
Bahkan, kisaran estimasi yang dibuat oleh para analis terhitung cukup tinggi. Untuk estimasi paling konservatif atau terendah, analis mematok target harga AADI di level Rp10.500, yang posisinya masih berada jauh di atas harga pasar saat ini. Sementara itu, untuk estimasi tertinggi, analis berani mematok target harga AADI hingga menembus level Rp30.100 per lembar saham.
Dominasi rekomendasi beli serta jarak yang lebar antara harga pasar saat ini dengan estimasi terendah sekalipun menunjukkan bahwa secara fundamental dan prospek bisnis ke depan, saham AADI dinilai oleh para ahli masih dalam kondisi salah harga undervalued.
Valuasi AADI
Masih mengutip data Stockbit, dari sisi valuasi, AADI saat ini diperdagangkan dengan Current PE Ratio (TTM) sebesar 5,22 kali, PE Ratio (Annualised) 6.36 kali, dan Forward PE Ratio yang lebih rendah di angka 3,64 kali.
Rasio harga terhadap nilai buku atau Price to Book Value (PBV) tercatat berada di level 1,04 kali, sementara rasio EV to EBITDA (TTM) berada di angka 4,00 kali.
Indikator nilai per saham menunjukkan Current EPS (TTM) sebesar Rp1.507,32 dengan Current Book Value Per Share senilai Rp7.584,86 dan Cash Per Share (Quarter) sebesar Rp1.996,23.
Pada aspek profitabilitas, perseroan menorehkan tingkat imbal hasil ekuitas atau Return on Equity (ROE) TTM yang tinggi sebesar 19,87 persen dan Return on Assets (ROA) TTM 11,94 persen.
Kinerja operasional perusahaan didukung oleh Gross Profit Margin sebesar 24,67 persen, Operating Profit Margin 20,27 persen, serta marjin laba bersih atau Net Profit Margin (Quarter) di level 13,70 persen
Kondisi likuiditas dan neraca keuangan perusahaan berada dalam posisi aman. Rasio utang terhadap modal atau Debt to Equity Ratio (Quarter) AADI tercatat sangat rendah di angka 0,24 kali, dikombinasikan dengan Current Ratio sebesar 2,10 kali dan Quick Ratio sebesar 1,93 kali.
Selain itu, AADI juga memiliki rekam jejak pembagian keuntungan yang loyal kepada investor, dengan Dividend Yield mencapai 12,71 persen dan Payout Ratio sebesar 80,84 persen.
Adapun nilai Dividend (TTM) yang dicatatkan adalah sebesar Rp1.001,40 dengan tanggal pemecahan dividen terakhir (Latest Dividend Ex-Date) jatuh pada 5 Juni 2026.
Pergerakan Harga Saham AADI
Kendati kemarin menguat, akumulasi dalam satu pekan terakhir saham AADI mencatatkan rapor merah tipis sebesar 1,25 persen dengan pergerakan di kisaran Rp7.725 sampai Rp8.225.
Tren pelemahan melebar pada periode satu bulan terakhir dengan koreksi sebesar 6,25 persen di rentang harga Rp7.000 hingga Rp8.850.
Koreksi paling signifikan dialami oleh AADI dalam periode tiga bulan terakhi. Pada periode tersebut, harga sahamnya anjlok sedalam 30,16 persen, di mana pergerakan harganya sempat menyentuh level tertinggi Rp11.650 sebelum jatuh ke batas bawah Rp7.000 per lembar saham.
Di sisi lain, performa saham AADI dalam rentang waktu yang lebih panjang terpantau masih kokoh di zona hijau. Untuk periode enam bulan serta kinerja berjalan sejak awal tahun (YTD), saham ini mencatatkan pertumbuhan kembar sebesar 12,90 persen dengan area fluktuasi dari level terendah Rp6.750 hingga level tertinggi Rp11.800.
Sementara itu, dalam basis tahunan atau satu tahun terakhir, saham AADI mengantongi pertumbuhan total sebesar 16,67 persen, bergerak dari harga terendah Rp6.650 menuju level puncak di Rp11.800 per lembar saham.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, saham AADI ditutup menguat 1,29 persen ke level Rp7.875 per lembar didorong oleh aksi akumulasi bersih investor asing, terutama melalui broker AK dan BK di tengah penumpukan antrean beli terbesar di harga Rp7.800 sebanyak 14.666 lot.
Penguatan harian ini melengkapi pertumbuhan jangka panjang AADI yang naik 12,90 persen secara Year-to-Date (YTD) dan 16,67 persen dalam setahun terakhir, meskipun dalam tiga bulan ke belakang harganya sempat terkoreksi signifikan sebesar 30,16 persen.
Performa positif ini sejalan dengan kondisi fundamental perseroan dengan Current PE Ratio 5,22 kali, ROE 19,87 persen, serta rasio utang (Debt to Equity) yang sangat rendah sebesar 0,24 kali. Di sisi lain, konsensus dari 18 analis secara mutlak memberikan sentimen positif dengan 17 di antaranya merekomendasikan beli (buy) dan mematok target harga rata-rata di level Rp14.240 per lembar saham.
Disclaimer
Data dan analisis yang disampaikan dalam pemberitaan ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti pergerakan harga saham, masuknya supply dan demand pasar, aksi pelaku besar, serta perubahan sentimen dan perilaku investor di pasar modal.
Analisis disusun untuk memberikan konteks mengenai struktur pasar, pola akumulasi dan distribusi, kondisi fundamental, serta perilaku pelaku pasar terhadap saham FILM, dan bukan merupakan ajakan membeli maupun menjual saham tertentu.
Investor diimbau untuk tetap melakukan analisis secara mandiri, memperhatikan keterbukaan informasi resmi Perseroan, serta mempertimbangkan profil risiko dan strategi investasi masing-masing sebelum mengambil keputusan investasi. (*)