Insight Daily 06 Apr 2026 Penulis: KabarBursa.com

Asing Kejar Harga INDF, Siapa yang Lepas di Atas?

Lonjakan pembelian asing terjadi saat harga sudah di atas MA, sementara antrian jual justru menumpuk di level atas.

KABARBURSA.COM – Saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) ditutup di level 6.625 pada perdagangan Kamis, 2 April 2026, menguat 0,76 persen dan menyentuh posisi tertinggi harian. Harga bergerak dalam rentang 6.525 hingga 6.625 sepanjang sesi, dengan penutupan terjadi di level tertinggi setelah dorongan di akhir perdagangan. Lonjakan ini terjadi di tengah ne...

Saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) ditutup di level 6.625 pada perdagangan Kamis, 2 April 2026, menguat 0,76 persen dan menyentuh posisi tertinggi haria
Saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) ditutup di level 6.625 pada perdagangan Kamis, 2 April 2026, menguat 0,76 persen dan menyentuh posisi tertinggi haria

Insight Navigator

  1. 01 Asing Masuk Saat Harga Sudah Naik, Terlambat atau Masih Awal?
  2. 02 Orderbook Tebal di Atas, Supply Menumpuk di Level Kunci
  3. 03 Broker Sudah di Bawah, Distribusi Muncul di Area Atas

KABARBURSA.COM – Saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) ditutup di level 6.625 pada perdagangan Kamis, 2 April 2026, menguat 0,76 persen dan menyentuh posisi tertinggi harian. 

Harga bergerak dalam rentang 6.525 hingga 6.625 sepanjang sesi, dengan penutupan terjadi di level tertinggi setelah dorongan di akhir perdagangan. 

Lonjakan ini terjadi di tengah net foreign buy sebesar Rp44,98 miliar, dengan total pembelian asing mencapai Rp103,59 miliar dan penjualan Rp58,61 miliar. Nilai tersebut tercatat jauh di atas rata-rata net foreign MA10 yang berada di kisaran Rp4,02 miliar. 

Pergerakan tersebut muncul saat harga telah berada di atas MA5 di level 6.295, MA10 di 6.142, dan MA20 di 6.171. Posisi ini menunjukkan harga sudah bergerak di atas rata-rata pergerakan jangka pendek hingga menengah. Pembelian asing dalam kondisi tersebut terjadi ketika harga tidak lagi berada di area bawah.

Asing Masuk Saat Harga Sudah Naik, Terlambat atau Masih Awal?

Pergerakan harga INDF sepanjang sesi berlangsung dalam rentang 6.525 hingga 6.625 dengan nilai transaksi Rp113,93 miliar dan volume 173,34 ribu lot. 

Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 6.620 kali dengan aktivitas yang tersebar sepanjang jam perdagangan. Harga rata-rata berada di level 6.573 dan tercatat lebih rendah dibandingkan posisi penutupan.

Data historis menunjukkan pergerakan harga dalam beberapa hari terakhir bergerak naik secara bertahap. Pada 31 Maret, harga ditutup di level 6.350 dengan kenaikan 6,72 persen, kemudian berlanjut ke 6.575 pada 1 April dengan kenaikan 3,54 persen. Pergerakan tersebut berlanjut pada 2 April dengan penutupan di 6.625.

Secara tren, harga INDF telah berada di atas MA5 di level 6.295, MA10 di 6.142, dan MA20 di 6.171. Posisi ini menunjukkan harga berada di atas rata-rata pergerakan dalam beberapa periode waktu. Perbandingan ini menempatkan harga saat ini lebih tinggi dari rata-rata jangka pendek dan menengah.

Dari sisi aliran dana, net foreign buy pada 2 April tercatat sebesar Rp44,98 miliar. Total pembelian asing mencapai Rp103,59 miliar, sementara penjualan berada di Rp58,61 miliar. Nilai ini tercatat lebih tinggi dibandingkan rata-rata net foreign MA10 sebesar Rp4,02 miliar.

Akumulasi asing juga tercatat dalam beberapa hari sebelumnya. Pada 31 Maret, net foreign buy mencapai Rp62,47 miliar, diikuti Rp20,12 miliar pada 1 April. Pada 2 April, net foreign buy kembali tercatat sebesar Rp44,98 miliar.

Dalam periode 27 Maret hingga 2 April, total pembelian asing mencapai Rp378,15 miliar. Pada periode yang sama, total penjualan asing tercatat Rp267,71 miliar. Selisih dari kedua data tersebut menghasilkan net foreign buy sebesar Rp110,43 miliar.

Struktur transaksi menunjukkan kontribusi asing yang lebih besar dibandingkan domestik. Dari sisi nilai, porsi asing mencapai 55,40 persen, sementara domestik berada di 44,60 persen. Dari sisi volume, kontribusi asing tercatat 55,42 persen dan domestik 44,58 persen.

Pada frekuensi transaksi, aktivitas asing mencapai 19,64 ribu kali, sementara domestik berada di 14,26 ribu kali untuk pembelian. Pada sisi penjualan, frekuensi asing tercatat 15,35 ribu kali dan domestik 18,55 ribu kali. Data frekuensi menunjukkan distribusi aktivitas transaksi di kedua sisi pasar.

Orderbook Tebal di Atas, Supply Menumpuk di Level Kunci

Struktur orderbook INDF menunjukkan komposisi antrian jual yang lebih besar dibandingkan sisi beli dalam satu sesi perdagangan. Total offer tercatat sebesar 71.765 lot dengan frekuensi 1.997 kali, sementara total bid berada di 54.133 lot dengan frekuensi 1.287 kali. Perbandingan ini memperlihatkan jumlah lot dan frekuensi yang lebih tinggi pada sisi penawaran.

Selisih antara offer dan bid mencapai 17.632 lot dalam satu waktu pencatatan. Dari sisi frekuensi, perbedaan tercatat sebanyak 710 kali transaksi antara offer dan bid. Data ini menunjukkan distribusi antrian yang lebih padat pada sisi penawaran.

Pada level harga terdekat, antrian jual di 6.625 tercatat sebesar 2.673 lot dengan frekuensi 137 kali. Di atasnya, level 6.650 mencatat 3.721 lot dengan frekuensi 144 kali, sementara 6.675 tercatat 3.452 lot. Lapisan ini membentuk urutan antrian jual berjenjang dalam satu rentang harga.

Antrian terbesar berada di level 6.700 dengan total 6.878 lot dan frekuensi 138 kali. Jumlah ini menjadi titik dengan konsentrasi supply paling tinggi dalam orderbook saat sesi berlangsung. Level tersebut berada satu tingkat di atas harga penutupan.

Di sisi bawah, antrian beli tertinggi berada di level 6.600 sebagai best bid. Pada level berikutnya, bid 6.575 tercatat sebesar 385 lot dengan frekuensi 45 kali. Level 6.550 mencatat 5.410 lot dengan frekuensi 122 kali.

Lapisan bid juga tersebar pada beberapa level di bawahnya. Pada level 6.525 tercatat 2.214 lot, diikuti 6.500 sebesar 3.285 lot. Antrian beli berlanjut hingga kisaran 6.350 dengan variasi jumlah lot di setiap level.

Perbandingan distribusi menunjukkan konsentrasi lot yang lebih besar berada di sisi offer pada rentang 6.625 hingga 6.700. Sementara itu, sisi bid menunjukkan penyebaran lot yang lebih merata pada beberapa level di bawah harga penutupan. Data ini menggambarkan posisi antrian yang tidak seimbang antar kedua sisi.

Frekuensi antrian juga menunjukkan aktivitas yang lebih tinggi di sisi offer. Pada level 6.625, frekuensi antrian jual tercatat 137 kali, sementara pada 6.650 mencapai 144 kali. Di level 6.700, frekuensi antrian tercatat 138 kali.

Di sisi bid, frekuensi relatif lebih rendah dibandingkan offer pada beberapa level harga. Pada level 6.600, frekuensi bid tercatat 101 kali, sementara pada 6.550 berada di kisaran 122 kali. Perbandingan ini menunjukkan aktivitas antrean yang lebih padat di sisi penawaran.

Pergerakan harga tetap mencapai level 6.625 pada penutupan perdagangan. Posisi ini berada pada level yang sama dengan antrian jual terdekat. Harga juga sempat menyentuh level tertinggi yang sama dengan posisi penutupan dalam sesi tersebut.

Dalam satu sesi perdagangan, harga tidak menembus level 6.650 meskipun antrian jual di atasnya telah terbentuk. Pergerakan harga bertahan dalam rentang yang sama hingga akhir sesi. Data ini menunjukkan interaksi antara harga dan struktur antrian dalam periode perdagangan tersebut.

Broker Sudah di Bawah, Distribusi Muncul di Area Atas

Data broker summary menunjukkan aktivitas pembelian terkonsentrasi pada beberapa sekuritas utama dalam periode perdagangan 25 Maret hingga 2 April 2026. 

KZ mencatat pembelian sebesar Rp58,6 miliar dengan volume 89,7 ribu lot dan frekuensi 2.700 kali pada harga rata-rata 6.447. AK mencatat pembelian Rp38,3 miliar dengan 62 ribu lot pada harga rata-rata 6.173.

ZP turut mencatat pembelian sebesar Rp33 miliar dengan volume 49,2 ribu lot pada harga rata-rata 6.300. NI mencatat pembelian Rp22,6 miliar dengan 36,3 ribu lot pada harga rata-rata 6.258, sementara DX mencatat Rp16,9 miliar dengan 26 ribu lot pada harga rata-rata 6.503. 

Di sisi penjualan, MG mencatat nilai sebesar Rp72,7 miliar dengan volume 116 ribu lot. AG mencatat penjualan Rp29,6 miliar dengan 49,4 ribu lot, diikuti YU sebesar Rp24,4 miliar dengan 39,7 ribu lot. YP mencatat penjualan Rp20,9 miliar dengan 31,9 ribu lot, sementara CC sebesar Rp18,2 miliar dengan 25 ribu lot.

Perbandingan antara jumlah broker pembeli dan penjual menunjukkan perbedaan dalam jumlah partisipan. Tercatat 19 broker berada di sisi pembeli dan 49 broker di sisi penjual dalam periode tersebut. 

Rata-rata harga pembelian broker berada di kisaran 6.173 hingga 6.447. Sementara itu, harga penutupan pada 2 April berada di level 6.625. Selisih antara harga rata-rata pembelian dan harga penutupan tercatat dalam rentang ratusan poin.

Perubahan arus transaksi terlihat dari perbandingan periode sebelumnya. Pada 25 Maret 2026, tercatat net sell sebesar Rp70,8 miliar dengan jumlah broker penjual lebih dominan. Dalam periode terbaru hingga 2 April, net buy tercatat sebesar Rp226,8 miliar dengan perubahan komposisi aktivitas transaksi.

Dari sisi kinerja keuangan, Indofood mencatat pendapatan sebesar Rp123,49 triliun pada 2025. Laba bersih tercatat sebesar Rp10,68 triliun dalam periode yang sama. 

Data tersebut menunjukkan peningkatan dibandingkan periode sebelumnya berdasarkan laporan tahunan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya