KABARBURSA.COM – PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) diprediksi mencatatkan kinerja moncer usai menjalin kerja sama strategis dengan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dan PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF).
Meski prospek positif mengemuka, analis mengingatkan agar investor tetap cermat mempertimbangkan beberapa faktor risiko sebelum membeli saham WIFI.
Menurut Abdul Haq Alfaruqy, analis dari Stocknow.id, kerja sama ini memerlukan perhatian khusus pada sisi pendanaan dan ketergantungan operasional terhadap mitra utama.
“Pertama, aspek pendanaan, karena proyek infrastruktur berskala besar ini membutuhkan investasi besar dan signifikan,” ujar Abdul kepada Kabarbursa.com, Sabtu, 7 Juni 2025.
Ia menambahkan, ketergantungan Surge pada Telkom sebagai mitra utama bisa menjadi titik lemah proyek. Stabilitas dan tata kelola Telkom menjadi penentu keberhasilan program ini.
“Perubahan regulasi dan dinamika persaingan pasar juga menjadi tantangan yang perlu diperhatikan oleh investor,” tambahnya.
Abdul menyarankan investor untuk terus memantau operasional proyek dan aspek tata kelolanya secara berkala.
Valuasi Saham WIFI Berpotensi Terkerek, ini Targetnya
Secara teknikal, Abdul menilai potensi pertumbuhan saham WIFI dapat signifikan dalam beberapa tahun mendatang.
Ia memperkirakan valuasi saham WIFI bisa menyentuh target Rp3.800 per saham, seiring akselerasi laba bersih dan peningkatan Average Revenue Per User (ARPU).
“Hal ini didasari asumsi peningkatan laba dan penyesuaian PER masih di bawah rata-rata industri di angka 15,4 kali,” ujarnya.
Dengan prospek pertumbuhan dan skema ekspansi yang terstruktur, saham WIFI dinilai berpeluang menarik minat investor jangka menengah hingga panjang.
Laba Bersih Surge Diramal Tembus Rp105 Miliar
Kolaborasi Surge dan Telkom diperkirakan berdampak signifikan terhadap profitabilitas perusahaan.
Abdul memperkirakan kerja sama ini akan berkontribusi sebesar Rp42 miliar hingga Rp45 miliar terhadap laba bersih Surge.
“Atau sekitar 40 persen dari estimasi laba bersih 2025 yang mencapai Rp105,79 miliar,” ungkap Abdul.
Sebagai bagian dari ekspansi, Surge juga mendapatkan fasilitas kredit investasi senilai Rp978 miliar dari BNI. Dana ini akan digunakan untuk membangun 700.000 homepass.
Target ekspansi ini sangat ambisius: 4,8 juta pelanggan FTTH dalam waktu 9 bulan, dan total 5 juta pelanggan pada akhir 2025.
Kerja sama Surge dan Telkom bertujuan memperluas jaringan internet rakyat yang inklusif.
Surge menargetkan ekspansi ke 25 juta rumah tangga di Pulau Jawa dengan dukungan backbone serat optik sepanjang 7.000 km dan bandwidth 64.000 Gbps.
“Kami juga telah membangun 58 Edge Data Center (EDC), dengan potensi ekspansi hingga 592 lokasi untuk mendukung layanan cloud dan CDN,” terang Abdul.
Infrastruktur ini mendukung kehadiran internet murah dan andal untuk masyarakat yang selama ini kurang tersentuh layanan digital.
Dukungan dari Telkom dan Komitmen Surge
Executive Vice President Divisi Wholesale Service Telkom, Muhammad Rofik, menilai kolaborasi ini sebagai langkah nyata menuju konektivitas nasional.
“Dengan memanfaatkan kekuatan infrastruktur dan teknologi dari semua pihak, kami ingin memastikan seluruh masyarakat Indonesia bisa menikmati internet yang terjangkau dan andal,” kata Rofik, Senin, 2 Juni 2025.
Sementara itu, Direktur Surge, Mustaghfirin, menyampaikan komitmen perusahaannya terhadap transformasi digital nasional.
“Kolaborasi ini adalah momentum penting untuk mendorong ketersediaan Internet Rakyat secara merata, khususnya di wilayah yang selama ini belum terlayani,” ujar Mustaghfirin. (*)
*Jurnalis Kabarbursa.com, Hutama Prayoga, berkontribusi dalam penulisan artikel ini.