Insight Daily 24 Sep 2025 Penulis: KabarBursa.com

APBN 2026 Disetujui, Sektor Apa yang Bisa Cuan?

DPR dan Pemerintah sahkan APBN 2026 Rp3.842,7 triliun, sektor pangan, energi, pendidikan, kesehatan, dan perbankan jadi sorotan investor.

KABARBURSA.COM – Pemerintah dan DPR RI menyepakati Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 dengan nilai Rp3.842,7 triliun. Anggaran disusun dalam kerangka Sumitronomics, yang menitikberatkan pada tiga pilar, yaitu pertumbuhan ekonomi tinggi, pemerataan manfaat dan pembangunan, serta stabilitas nasional yang dinamis.Menteri Keuangan (Menkeu) Purbay...

Pemerintah dan DPR RI menyepakati Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 dengan nilai Rp3.842,7 triliun. (Foto: Dok. KabarBursa)
Pemerintah dan DPR RI menyepakati Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 dengan nilai Rp3.842,7 triliun. (Foto: Dok. KabarBursa)

Insight Navigator

  1. 01 Sektor yang Bisa Cuan dari APBN 2026
  2. 02 Potensi Pertumbuhan Realisasi APBN 2026
  3. 03 Simulasi Pertama: Realisasi 100 Persen
  4. 04 Simulasi Kedua: Realisasi di Atas 100 Persen

KABARBURSA.COM – Pemerintah dan DPR RI menyepakati Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 dengan nilai Rp3.842,7 triliun. Anggaran disusun dalam kerangka Sumitronomics, yang menitikberatkan pada tiga pilar, yaitu pertumbuhan ekonomi tinggi, pemerataan manfaat dan pembangunan, serta stabilitas nasional yang dinamis.

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menekankan pertumbuhan di atas enam persen dengan fiskal, sektor keuangan, dan iklim investasi, yang harus saling mendukung. 

“Dengan konsistensi menjaga keselarasan mesin-mesin pertumbuhan, diharapkan dapat memacu pertumbuhan menuju delapan persen dalam jangka menengah,” ujar Purbaya dalam Rapat Paripurna DPR RI.

APBN 2026 ditargetkan mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen dengan inflasi terjaga di 2,5 persen. Defisit dipatok 2,68 persen produk domestik bruto (PDB), sementara nilai tukar diproyeksikan Rp16.500 per dolar AS. 

Fokus pemerintah terbagi dalam delapan agenda prioritas mulai dari ketahanan pangan, energi, hingga akselerasi investasi. Belanja negara akan menjadi katalis penting bagi sektor swasta sekaligus sinyal kuat bagi pasar modal.

Investor menilai arah alokasi anggaran bisa menjadi penentu sektor unggulan di bursa. Pangan, energi, pendidikan, kesehatan, dan konsumsi diprediksi menjadi motor cuan baru tahun depan.

APBN 2026 difokuskan pada delapan agenda prioritas yang menjadi arah belanja negara. Agenda itu mencakup ketahanan pangan, ketahanan energi, program Makan Bergizi Gratis (MBG), pendidikan bermutu, kesehatan berkualitas, pembangunan desa-usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pertahanan semesta, serta akselerasi investasi dan perdagangan global.

Alokasi anggaran untuk setiap agenda terbilang besar dan terukur. Pemerintah menetapkan Rp164,7 triliun untuk pangan, Rp402,4 triliun untuk energi, Rp335 triliun untuk MBG, Rp769,1 triliun untuk pendidikan, Rp244 triliun untuk kesehatan, dan Rp508,2 triliun untuk perlindungan sosial.

Kebijakan ini memberi sinyal bahwa APBN 2026 tidak hanya mengalokasikan belanja secara rutin. Belanja diarahkan sebagai pencipta nilai ekonomi baru sekaligus menjaga stabilitas jangka panjang.

Realisasi pembiayaan APBN hingga 31 Agustus 2025 tercatat Rp425,7 triliun atau 69,1 persen dari target Rp662 triliun. Angka ini menunjukkan pemenuhan kebutuhan pembiayaan masih terkendali di tengah dinamika pasar keuangan global.

Wamenkeu Thomas Djiwandono menjelaskan pembiayaan utang mencapai Rp463,7 triliun atau 59,8 persen dari target. “Kepercayaan ini juga tidak lepas dari status investment grade yang disandang Indonesia,” ujarnya dalam konferensi pers APBN KiTA.

Wamenkeu Anggito Abimanyu menambahkan realisasi pendapatan negara mencapai Rp1.638,7 triliun hingga akhir Agustus 2025. “Ada peningkatan dari sisi pencapaian terhadap outlook,” kata Anggito dalam kesempatan yang sama.

Pendapatan negara didukung penerimaan pajak Rp1.442,7 triliun bruto, kepabeanan dan cukai Rp194,9 triliun, serta PNBP Rp306,8 triliun. Kinerja positif ini menambah ruang fiskal untuk menjaga momentum pertumbuhan.

Kinerja pembiayaan dan pendapatan negara menunjukkan ruang fiskal yang sehat. Stabilitas ini memberi kepastian bahwa program belanja pada 2026 dapat berjalan sesuai rencana bahkan berpeluang melampaui target.

Bagi investor, kondisi ini penting karena realisasi belanja negara selama tiga tahun terakhir konsisten di atas 100 persen. Pola tersebut menjadi dasar untuk memetakan sektor-sektor yang paling berpotensi cuan dari APBN 2026.

Sektor yang Bisa Cuan dari APBN 2026

Bagian keempat ini menelaah bagaimana realisasi belanja negara dapat memengaruhi perekonomian dan pasar modal. Analisis disajikan melalui dua simulasi berdasarkan tren realisasi APBN sebelumnya, sehingga investor mendapat gambaran lebih konkret.

Potensi Pertumbuhan Realisasi APBN 2026

Tren realisasi APBN dalam tiga tahun terakhir menunjukkan konsistensi belanja negara menembus atau melampaui target. Tahun 2022 belanja mencapai Rp3.090,75 triliun dengan defisit hanya 2,38 persen PDB, lebih rendah dari perkiraan awal 4,5 persen.

Pada 2023, belanja terealisasi Rp3.121,9 triliun atau 102 persen dari target. Defisit terkendali di Rp347,6 triliun atau 1,65 persen PDB, jauh lebih kecil dari proyeksi 2,84 persen PDB.

Tahun 2024 kembali mencatat kelebihan belanja dengan realisasi Rp3.350,3 triliun, melampaui pagu Rp3.325,1 triliun. Defisit tercatat Rp401,8 triliun atau 1,81 persen PDB, tetap aman di bawah batas 3 persen.

Memasuki 2025, Kemenkeu mencatat belanja semester I sudah Rp1.407,1 triliun atau 38,8 persen dari pagu. Pendapatan negara hingga Agustus mencapai Rp1.638,7 triliun, sementara outlook defisit tahun penuh diperkirakan Rp662 triliun atau 2,78 persen PDB.

Jika dirata-rata, belanja negara 2022–2024 mencapai 101 persen dari target. Pendapatan negara dalam periode yang sama konsisten melampaui 113 persen target, memberikan ruang fiskal untuk belanja lebih besar.

Defisit rata-rata selama tiga tahun terakhir berada di level 1,95 persen PDB. Angka ini jauh di bawah ambang batas 3 persen yang disyaratkan Undang-Undang Keuangan Negara, menegaskan disiplin fiskal pemerintah.

Dengan pagu belanja Rp3.842,7 triliun, peluang realisasi APBN 2026 mencapai 100 persen sangat tinggi. Bahkan kemungkinan melampaui pagu tetap terbuka, sehingga kontribusi belanja terhadap PDB bisa bergerak di kisaran 14–15 persen.

Simulasi Pertama: Realisasi 100 Persen

Jika realisasi belanja 2026 mencapai Rp3.842,7 triliun, kontribusinya sekitar 14,7 persen terhadap PDB Rp26.200 triliun. Asumsi ini konsisten dengan kinerja belanja tahun 2022–2024 yang rata-rata terealisasi 101 persen dari target.

Pada 2022, belanja negara Rp3.090,8 triliun atau 99,5 persen dari Perpres 98/2022. Tahun 2023 melonjak menjadi Rp3.121,9 triliun atau 102 persen dari APBN, dan 2024 kembali di atas target dengan Rp3.350,3 triliun atau 100,8 persen dari pagu.

Dengan pola itu, alokasi Rp164,7 triliun untuk ketahanan pangan setara 0,6 persen PDB. Dana ini menopang sektor poultry, agribisnis, cold storage, dan distribusi logistik yang sudah terbukti penting di periode sebelumnya.

Energi menyerap Rp402,4 triliun atau 1,5 persen PDB, dan historisnya selalu mendapat tambahan saat harga energi melonjak. Dana ini menutup subsidi energi fosil, listrik, dan EBT sehingga memberi katalis bagi emiten batubara, migas, dan energi baru.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Rp335 triliun setara 1,3 persen PDB, dan cenderung terealisasi tinggi seperti program perlindungan sosial di 2022–2023. Anggaran ini menggerakkan industri makanan olahan (ICBP, INDF), minuman (ULTJ, MYOR), dan jaringan distribusi ritel.

Pendidikan memperoleh Rp769,1 triliun atau 2,9 persen PDB, menjadikannya pos terbesar dalam APBN. Kinerja belanja pendidikan selama ini konsisten tinggi, memberi peluang bagi jasa pendidikan, digital learning, dan telekomunikasi (TLKM, EXCL).

Kesehatan menerima Rp244 triliun atau 0,9 persen PDB. Tren realisasi 2022–2023 menunjukkan sektor ini sering menembus target, sehingga peluang lebih besar bagi rumah sakit (MIKA, HEAL), farmasi (KAEF, INAF), dan alat kesehatan.

Perlindungan sosial menelan Rp508,2 triliun atau 1,9 persen PDB, dan historisnya 2022–2024 selalu terealisasi lebih tinggi karena kebutuhan respons cepat. Program ini menjadi katalis bagi perbankan (BBRI, BMRI), fintech, dan jaringan ritel yang menyalurkan bansos.

Dengan skenario baseline ini, APBN 2026 memberi sinyal kuat bagi sektor pangan, energi, consumer goods, pendidikan, kesehatan, dan perbankan. Investor dapat mengandalkan pola historis bahwa realisasi belanja penuh hampir selalu tercapai.

Simulasi Kedua: Realisasi di Atas 100 Persen

Jika belanja negara 2026 melebihi target Rp3.842,7 triliun, maka total bisa tembus Rp3.900 triliun. Kontribusinya naik menjadi sekitar 14,9 persen PDB, mengikuti tren realisasi yang kerap melampaui pagu di tiga tahun terakhir.

Pada 2022, realisasi belanja K/L mencapai 114,1 persen dari Perpres 98/2022 karena tambahan untuk kesehatan dan perlindungan sosial. Tahun 2023, belanja K/L kembali tembus 115,2 persen dari APBN, sementara pada 2024 naik lebih jauh hingga 120,6 persen dari target awal.

Tambahan belanja biasanya terkonsentrasi pada sektor yang membutuhkan respons cepat. Energi, perlindungan sosial, kesehatan, dan pendidikan berulang kali menjadi pos yang mendapat kelebihan realisasi.

Energi berpotensi menerima tambahan Rp50–70 triliun, sehingga kontribusinya bisa naik menjadi 1,7 persen PDB. Pola ini sejalan dengan 2022 dan 2023 ketika subsidi energi dan kompensasi melonjak jauh di atas target akibat harga energi global.

Perlindungan sosial dapat menyerap tambahan Rp30–40 triliun, mendekatkan kontribusinya ke 2,1 persen PDB. Seperti pada 2022, bansos ekstra disalurkan untuk mitigasi krisis pangan dan kenaikan harga BBM.

Kesehatan dan pendidikan juga berpotensi mendapat tambahan masing-masing Rp20 triliun. Tren ini mengikuti 2023–2024 saat anggaran kesehatan diperbesar untuk JKN dan pendidikan untuk mendukung Pemilu serta peningkatan SDM.

Dengan skenario ini, total belanja negara bisa melampaui baseline dan memberi multiplier lebih besar. Investor sebaiknya menaruh perhatian khusus pada sektor energi, perlindungan sosial, kesehatan, dan pendidikan yang historisnya selalu mendapat top-up anggaran.

Baik realisasi 100 persen maupun lebih, pola historis menunjukkan APBN cenderung ekspansif. Hal ini menjadikan sektor-sektor prioritas sebagai motor cuan yang konsisten di pasar saham.

Dengan rekam jejak belanja negara yang konsisten di atas target, peluang APBN 2026 terealisasi penuh bahkan lebih sangat besar. 

Bagi investor, ini menjadi dasar yang solid bahwa pangan, energi, consumer goods, pendidikan, kesehatan, dan perbankan akan tetap menjadi motor utama cuan di pasar modal. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya