KABARBURSA.COM – PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menjadi perhatian analis.
Dua sekuritas besar, Sucor Sekuritas dan BCA Sekuritas, memberi rekomendasi beli dengan target yang sama.
Target itu menunjukkan potensi kenaikan lebih dari 50 persen dibanding harga pasar saat ini.
Proyeksi mengaitkannya dengan tren emas global dan ekspansi bisnis BRMS. Bagaimana cara emiten mencapai hal itu, akan bergantung pada strategi operasional dan pasar komoditas.
Tim riset BCA Sekuritas menekankan peran harga emas sebagai katalis besar. Rata-rata harga emas diproyeksikan USD3.350 per ons tahun ini, USD4.000 pada 2026, dan USD4.200 mulai 2027. Faktor pasokan terbatas dan pembelian emas oleh bank sentral menjadi pendorong utama.
Mereka menjelaskan beberapa alasan penting. Penemuan cadangan besar semakin jarang, biaya ekstraksi meningkat, dan risiko geopolitik masih berlangsung. Penurunan suku bunga dan pembelian emas ETF juga mengerek permintaan.
Pasokan emas global terbatas. Penemuan cadangan baru semakin jarang, dan biaya ekstraksi makin tinggi. Faktor ini menahan penawaran sekaligus mengerek prospek harga di masa depan.
“Emas tetap menjadi aset lindung nilai utama. Dengan BRMS yang seluruh pendapatannya dari emas dan perak, saham ini adalah proksi terbaik untuk tren bullish emas,” tulis tim riset BCA Sekuritas.
Sucor Sekuritas memandang BRMS berada di posisi tepat. Sebagai pure gold miner, BRMS sangat sensitif terhadap fluktuasi harga emas. Hal ini membuat sahamnya diproyeksikan menerima katalis positif yang lebih besar.
Ekspansi BRMS dan Penopang Gorontalo Minerals
Sucor Sekuritas menilai ekspansi BRMS akan membawa lonjakan kinerja. Dalam laporan Senin, 15 September 2025, analis Andreas Yordan Tarigan menegaskan strategi perusahaan cukup jelas.
“BRMS menawarkan profil risiko-return yang asimetris. Dengan rencana ekspansi multi-tahap yang sudah didanai, perusahaan berpotensi mencetak lonjakan laba dalam dua hingga tiga tahun ke depan,” tulis Andreas, dikutip Selasa, 16 September 2025.
Cadangan terbukti BRMS mencapai 5 juta ons emas. Jumlah itu menempatkan perusahaan dalam jajaran pemilik aset emas terbesar di Indonesia. Ekspansi multi-tahap dilakukan untuk mempercepat monetisasi cadangan tersebut.
Salah satu penopang utama adalah proyek Gorontalo Minerals. Proyek ini memiliki cadangan tembaga 1,2 miliar pon serta sumber daya 2,6 miliar pon. Potensi sistem porphyry yang besar di lokasi tersebut menambah daya tarik jangka panjang.
Menurut Andreas, Gorontalo Minerals dapat menjadi katalis tambahan bagi BRMS. “Jika eksplorasi lanjutan membuahkan hasil, BRMS berpeluang bertransformasi menjadi produsen emas-tembaga skala besar,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa diversifikasi ini akan memperkuat ketahanan perusahaan menghadapi siklus harga komoditas.
Sucor menyoroti tambahan katalis dari pasar modal global. Masuknya BRMS ke dalam indeks VanEck Gold Miners (GDX) meningkatkan visibilitas. Hal ini juga mendukung peningkatan likuiditas di bursa internasional.
Menurut proyeksi Sucor, pendapatan BRMS pada 2025 sebesar USD236 juta. Angka ini berpotensi naik menjadi USD418 juta pada 2027. Laba bersih juga diperkirakan melonjak dari USD50 juta ke USD124 juta dalam periode sama.
Andreas menambahkan bahwa Return on Equity (ROE) BRMS bisa mencapai 21 persen pada 2026. Ia menyebut penurunan EV/EBITDA ke 2,5 kali di 2027 membuka peluang rerating valuasi.
“Valuasi BRMS masih jauh lebih rendah dibanding perusahaan tambang emas global,” katanya.
Kinerja ekspansi Gorontalo Minerals diperkirakan ikut mendorong pertumbuhan. Ketika fase produksi tembaga dimulai, arus kas perusahaan akan lebih stabil. Investor menilai proyek ini sebagai katalis tambahan di luar emas.
Sucor menekankan bahwa semua langkah ekspansi telah mendapat pendanaan. Ini mengurangi risiko penundaan proyek. Dukungan finansial memberi keyakinan tambahan atas proyeksi kinerja yang disampaikan.
Peningkatan aset dan eksposur global menjadi keuntungan strategis. BRMS mendapat akses lebih besar ke investor institusi. Momentum ini dinilai mempercepat transformasi menjadi pemain emas skala internasional.
Di samping itu, proyeksi BCA Sekuritas menyebutkan valuasi 2026F Price to Earnings (P/E) 56,1 kali dan EV/EBITDA 35,4 kali. Angka ini menyusut pada 2029F menjadi P/E 12,6 kali dan EV/EBITDA 7,8 kali.
“Penurunan valuasi bukan karena pelemahan, melainkan lonjakan pendapatan dan laba bersih yang agresif,” tulis tim riset BCA Sekuritas.
Lonjakan Kinerja Dipacu Tambang Bawah Tanah
Selain ekspansi horizontal, strategi tambang bawah tanah menjadi kunci. BRMS mulai mengembangkan operasi dengan kadar emas lebih tinggi. Produksi dari tambang bawah tanah diproyeksikan mengerek penjualan emas hampir empat kali lipat hingga 2029.
BCA Sekuritas memperkirakan penjualan emas BRMS mencapai 276,6 ribu ons pada 2029. Dari sisi pendapatan, angka ini berbanding lurus dengan proyeksi USD1,2 miliar. Sementara itu, EBITDA diperkirakan naik menjadi USD711,7 juta.
“Laba bersih BRMS berpotensi menembus USD497,8 juta pada 2029. Kinerja ini melonjak 6,6 kali lipat dibanding posisi 2025, sejalan dengan efisiensi tambang bawah tanah,” tulis tim riset BCA Sekuritas.
Catatan itu juga menekankan bahwa valuasi Price to Earnings (P/E) bisa turun ke 12,6 kali pada 2029.
Produksi emas dengan kadar lebih tinggi meningkatkan margin. Biaya produksi lebih rendah memberi ruang profitabilitas lebih besar. Efisiensi ini penting untuk menjaga kinerja ketika harga emas volatil.
Investasi di tambang bawah tanah sudah dipersiapkan bertahap. Pengerjaan infrastruktur dan fasilitas pendukung dilakukan sejak 2024. Target komersial penuh diproyeksikan tercapai dalam lima tahun ke depan.
Dengan struktur biaya lebih efisien, BRMS memperkuat daya saing. Laba bersih lebih berkelanjutan bahkan di fase koreksi harga emas. Hal ini penting untuk menjaga kepercayaan investor jangka panjang.
Tambang bawah tanah menjadi tulang punggung pertumbuhan ke depan. Proyek ini diproyeksikan meningkatkan cadangan emas terukur. Sementara itu, kapasitas pengolahan juga disesuaikan agar mampu mengimbangi kenaikan volume produksi.
Strategi ekspansi ini sejalan dengan tren global. Banyak perusahaan tambang beralih ke metode bawah tanah karena kualitas bijih lebih baik. BRMS menggunakan pendekatan yang sama untuk memaksimalkan cadangan emasnya.
Lonjakan volume penjualan emas berdampak langsung pada arus kas. Dengan pendapatan USD1,2 miliar, BRMS bisa mengalokasikan modal untuk proyek baru. Peningkatan kapasitas juga membuka peluang akuisisi di sektor emas. (*)