KABARBURSA.COM - Awal Juni 2025, perdagangan pertama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memerah sepanjang sesi perdagangan kemarin.
Indeks ditutup melemah signifikan pada perdagangan Senin, 2 Juni 2025 kemarin, turun 110,75 poin atau 1,54 persen ke level 7.065,07. Sepanjang sesi, indeks sempat menyentuh level tertinggi harian di 7.152,91 dan terendah di 7.035,84. IHSG dibuka di posisi 7.134,49 memerah.
Berdasarkan analisis teknikal oleh Analis Kabarbursa.com, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan sinyal pelemahan teknikal setelah gagal menembus area resistance di kisaran 7.200.
Merujuk data, IHSG saat ini berada di level 7.062,53 dengan kemungkinan menguji dua area permintaan (demand area) di 7.059–6.951 dan 6.951–6.873. Jika tekanan jual terus berlanjut, potensi penurunan lanjutan ke kisaran 6.563 bahkan mendekati 6.000 tetap terbuka. Penyebabnya diprediksi karena menjelang hari besar Iduladha dan mencuatnya isu wabah COVID-19 kembali.
Meski demikian, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, mengaku masih optimistis bahwa IHSG tidak akan terjun bebas pada Juni 2025 ini.
"Terlalu mudah untuk bilang IHSG mau balik ke 6.000 lagi," kata Liza kepada Kabarbursa.com dikutip Selasa, 3 Juni 2025.
Ia menjelaskan IHSG diiproyeksikan akan bergerak sideways cenderung menguat sepanjang Juni 2025, dengan kisaran pergerakan di level 7.000 hingga 7.300. Potensi penembusan resistance 7.300 dinilai terbuka jika didukung oleh aliran dana asing, stimulus domestik, dan stabilitas nilai tukar rupiah.
Menurut dia, kecenderungan IHSG menguat selama Juni sejalan dengan pola historis sejak 2020 yang memperlihatkan tren positif di bulan tersebut. Selain itu, momentum akhir semester dan antisipasi laporan keuangan kuartal II dapat menjadi katalis tambahan bagi pasar saham.
Sentimen utama yang menopang pasar antara lain adalah stimulus fiskal pemerintah yang mulai bergulir sejak 5 Juni, termasuk diskon tarif listrik dan transportasi, bantuan subsidi upah, serta bantuan pangan.
Momentum libur panjang sekolah juga diperkirakan akan mendorong konsumsi rumah tangga, sektor transportasi, serta pariwisata.
Pemangkasan suku bunga penjaminan LPS dari 4,25 persen menjadi 4,00 persen turut menjadi sinyal pelonggaran likuiditas yang mendukung penyaluran kredit. Penurunan daya tarik deposito dan tabungan juga membuka ruang bagi investor untuk masuk ke instrumen pasar modal, seperti saham dan reksa dana.
Dari sisi kebijakan moneter, pemangkasan BI Rate menjadi 5,50 persen masih menjadi perhatian pelaku pasar, terutama menjelang FOMC Meeting bulan Juni–Juli. Jika The Fed bersikap lebih dovish atau memberi sinyal pemangkasan Fed Funds Rate lebih cepat, arus modal asing bisa meningkat ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Meski demikian, negosiasi tarif antara Amerika Serikat, China, dan Uni Eropa serta tensi geopolitik global masih menjadi risiko yang harus diwaspadai. Liza menekankan bahwa menjelang batas waktu 9 Juli, intensitas negosiasi perdagangan global akan meningkat, sehingga pelaku pasar harus tetap berhati-hati terhadap volatilitas yang bisa muncul.
"Katalis lain yang turut diperhitungkan adalah aksi window dressing menjelang penutupan semester I, serta akumulasi saham menjelang musim rilis laporan keuangan kuartal II," ujarnya.
Sektor-sektor defensif serta yang memiliki prospek laba kuat akan menjadi target akumulasi manajer investasi.
Penguatan rupiah juga turut menjadi faktor pendukung bagi pasar. Saat ini rupiah bergerak di kisaran Rp16.200 per dolar AS dan berpotensi menguat menuju Rp16.100 hingga Rp16.000. Peluang penguatan ini akan semakin besar jika nada dovish dari The Fed mengemuka atau jika data ekonomi AS menunjukkan pelemahan.
Liza mengatakan, Kiwoom Sekuritas juga menyoroti sejumlah sektor yang berpeluang menjadi unggulan pada Juni ini. Sektor konsumsi dan ritel seperti ICBP, MYOR, AMRT, dan UNVR diuntungkan oleh stimulus dan peningkatan konsumsi saat liburan. Sektor transportasi dan pariwisata seperti GIAA, BIRD, dan JSMR akan terdorong oleh lonjakan mobilitas masyarakat.
Perbankan dan multifinance seperti BBRI, BMRI, ARTO, dan BFIN diuntungkan oleh pelonggaran suku bunga dan potensi peningkatan permintaan kredit. Sektor properti dan semen seperti CTRA, SMRA, PWON, SMGR, dan PTPP mendapatkan manfaat dari penurunan cost of fund. Sementara sektor teknologi dan data center seperti TLKM, WIFI, dan DCII tetap relevan seiring percepatan transformasi digital. Sektor energi seperti ITMG, ADRO, AADI, dan PGEO didukung oleh prospek jangka menengah dari RUPTL PLN 2025–2034.
Liza menyatakan bahwa Juni 2025 menghadirkan kombinasi momentum positif dari stimulus fiskal, stabilitas moneter, dan prospek penguatan rupiah. Jika sentimen global turut mendukung, maka peluang IHSG untuk menembus 7.300 cukup terbuka.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa volatilitas eksternal dan ketidakpastian arah suku bunga global tetap menjadi faktor risiko. Rotasi sektor diperkirakan mengarah ke sektor konsumsi, keuangan, serta sektor-sektor yang berkaitan dengan mobilitas masyarakat.(*)

Gambar: Analisis teknikal oleh Analis Kabarbursa.com, untuk melihat prediksi Indeks Harga Saham Gabungan IHSG.
*Jurnalis Kabarbursa.com, Desty Luthfiani, ikut berkontribusi dalam penulisan naskah ini.