KABARBURSA.COM - Harga saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) terpantau anjlok sejak awal 2026 atau secara year to date (ytd). Namun di balik tekanan tersebut, asing justru masih aktif melakukan akumulasi.
Kinerja saham AMRT masih berada dalam tekanan sepanjang tahun berjalan. Secara ytd, saham ini melemah 22,53 persen.
Mengutip data perdagangan Stockbit Sekuritas, Secara year to date (YTD), saham emiten ritel tersebut tercatat melemah sebesar 22,53 persen yang bergerak dalam rentang harga Rp1.370 hingga Rp2.020.
Dalam tiga bulan terakhir, saham AMRT juga mencatatkan pelemahan sebesar 23,12 persen. Sementara dalam periode enam bulan, koreksi bahkan mencapai 28,50 persen.
Dalam rentang satu tahun, kinerja harga sajam AMRT juga belum menggembirakan. Saham ini tercatat turun sebesar 29,49 persen dengan rentang pergerakan antara Rp1.370 hingga Rp2.640.
Tekanan yang lebih dalam terlihat dalam periode tiga tahun, saham AMRT telah terkoreksi hingga 44,36 persen dari level tertingginya di kisaran Rp3.650.
Meski demikian, dalam jangka yang lebih panjang, AMRT masih mencatatkan kinerja positif. Dalam periode lima tahun, saham ini masih membukukan kenaikan sebesar 56,12 persen, dengan rentang harga dari Rp870 hingga Rp3.650. Bahkan dalam periode sepuluh tahun, kenaikan saham AMRT mencapai 163,79 persen.
Sementara itu, dalam jangka pendek, pergerakan saham AMRT mulai menunjukkan tanda stabilisasi. Dalam satu bulan terakhir, saham ini mencatatkan kenaikan sebesar 4,79 persen, dengan rentang harga antara Rp1.370 hingga Rp1.595.
Namun, dalam periode satu minggu dan satu hari terakhir, pergerakan harga cenderung stagnan tanpa perubahan signifikan.
AMRT Masih Diincar Asing
Meski mengalami tekanan, saham AMRT masih diakumulasi oleh investor asing sepanjang tahun 2026. Merujuk data broker summary Stockbit, pada periode 2 Januari hingga 15 April 2026, aliran dana asing terpantau lebih banyak masuk dibandingkan keluar.
Dalam periode tersebut, broker ZP menjadi penampung dana asing terbesar dengan nilai akumulasi mencapai Rp265,6 miliar atau setara 1,6 juta lot. Rata-rata harga pembelian berada di level Rp1.685 per saham.
Diposisi kedua ditempati oleh broker AK yang mencatatkan pembelian sebesar Rp111,5 miliar dengan volume 725,4 ribu lot di harga rata-rata Rp1.587.
Selain itu, broker DX juga tercatat aktif mengoleksi saham AMRT dengan nilai transaksi Rp85,1 miliar atau sekitar 540,4 ribu lot di harga rata-rata Rp1.576.
Broker lain seperti YU dan BB juga menunjukkan akumulasi signifikan masing-masing sebesar Rp29,9 miliar dan Rp24,3 miliar. Menariknya, rata-rata harga beli BB tercatat di level Rp1.824, lebih tinggi dibandingkan broker sebelumnya.
Di sisi lain, tekanan jual tetap muncul meski tidak sebesar akumulasi. Broker RX menjadi penjual terbesar dengan nilai Rp175,4 miliar, diikuti oleh CC sebesar Rp74,9 miliar dan KZ Rp64,2 miliar.
Jika melihat perbandingan nilai transaksi, total pembelian oleh broker top jauh melampaui nilai penjualan. Secara historis, pola akumulasi asing seperti ini kerap menjadi sinyal awal dari tren kenaikan harga yang lebih panjang, terutama jika didukung oleh fundamental yang solid.
AMRT sendiri dikenal sebagai emiten ritel dengan jaringan luas dan pertumbuhan yang relatif stabil.
Dengan momentum ini, pelaku pasar akan mencermati apakah akumulasi asing dapat berlanjut dalam waktu dekat atau justru mulai berbalik menjadi distribusi. Namun untuk saat ini, data menunjukkan bahwa kepercayaan investor asing terhadap AMRT masih terjaga.
Ke depan, pergerakan saham AMRT berpotensi tetap menarik untuk diperhatikan, terutama jika didukung oleh katalis tambahan seperti pertumbuhan penjualan dan ekspansi jaringan. Aksi akumulasi yang konsisten menjadi indikasi bahwa saham ini masih berada dalam radar investor besar sebagai pilihan investasi jangka menengah hingga panjang.
Direkomendasikan Analis
Sentimen positif terhadap saham AMRT masih terjaga kuat. Hal ini berdasarkan data dari konsensus analis Stockbit yang didominasi rekomendasi beli.
Berdasarkan data tersebut, dari total 31 analis yang memberikan penilaian terhadap saham AMRT, sebanyak 29 analis merekomendasikan beli, sementara hanya 2 analis yang memberikan rekomendasi tahan dan tidak ada yang menyarankan jual.
Komposisi tersebut menunjukkan tingkat kepercayaan yang sangat tinggi dari pelaku pasar institusi terhadap prospek jangka menengah hingga panjang AMRT.
Optimisme tersebut juga terlihat dari target harga yang dipatok analis. Secara rata-rata, target harga saham AMRT berada di level Rp2.401 per saham. Angka ini bisa mengindikasikan potensi naik yang cukup signifikan dibandingkan dengan harga perdagangan terakhir, Rabu, 15 April 2026 yang berada di level Rp1.530.
Sementara itu, estimasi target harga tertinggi mencapai Rp2.900 per saham. Di sisi lain, target harga terendah berada di level Rp1.510, atau mendekati harga pasar saat ini.
Dengan demikian, secara risk-reward, saham AMRT dinilai masih menawarkan potensi upside yang menarik dengan risiko downside yang relatif terbatas. Kondisi ini menjadi salah satu faktor utama yang mendorong mayoritas analis mempertahankan rekomendasi beli.
Secara fundamental, AMRT diuntungkan oleh posisinya sebagai salah satu pemain utama di sektor ritel kebutuhan sehari-hari. Jaringan gerai yang luas serta penetrasi hingga ke wilayah non-perkotaan memberikan keunggulan kompetitif yang sulit ditandingi.
Meski demikian, pelaku pasar tetap perlu mencermati sejumlah risiko, seperti potensi tekanan daya beli masyarakat akibat inflasi serta dinamika biaya operasional yang dapat mempengaruhi margin keuntungan. Namun, dengan dominasi rekomendasi beli dari analis, pasar tampaknya menilai risiko tersebut masih dalam batas yang dapat dikelola.
Catat Kinerja Gemilang pada 2025
AMRT sukses membukukan kinerja keuangan yang gemilang sepanjang tahun buku 2025. Pendapatan dan laba bersih emiten ini mengalami pertumbuhan.
Merujuk data laporan keuangan yang dipublikasikan, AMRT meraup pendapatan sebesar Rp126,73 triliun pada 2025, meningkat dibandingkan Rp118,22 triliun pada tahun sebelumnya.
Laba bruto AMRT di tahun lalu menembus angka Rp27,75 triliun, naik dari Rp25,36 triliun pada 2024.Tetapi, tekanan masih terlihat dengan catatan beban penjualan yang mencapai Rp21,96 triliun serta beban umum dan administrasi sebesar Rp2,43 triliun.
Kendati begitu, AMRT tatap bisa membukukan laba sebelum pajak sebesar Rp4,38 triliun, lebih tinggi dari Rp4,01 triliun pada tahun sebelumnya
Sementara itu, laba bersih AMRT pada 2025 tercatat Rp3,41 triliun. Angka ini tumbuh dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp3,14 triliun.
Pindah ke neraca, total aset AMRT meningkat menjadi Rp42,57 triliun pada akhir 2025, dibandingkan Rp38,79 triliun pada tahun sebelumnya. Peningkatan aset didukung oleh kenaikan persediaan yang mencapai Rp13,34 triliun serta pertumbuhan aset tetap menjadi Rp9,75 triliun, seiring ekspansi gerai dan investasi infrastruktur operasional.
Di sisi lain, total liabilitas tercatat sebesar Rp23,19 triliun, naik dari Rp21,10 triliun pada 2024. Sementara itu, ekuitas perseroan juga mengalami peningkatan menjadi Rp19,38 triliun, dibandingkan Rp17,69 triliun pada tahun sebelumnya.
AMRT menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah tekanan margin bisnis ritel yang cenderung tipis. Dari sisi likuiditas, AMRT mencatat current ratio sebesar 1,07 kali. Angka ini menunjukkan bahwa aset lancar perseroan masih cukup untuk menutup kewajiban jangka pendeknya. Namun, quick ratio yang berada di level 0,42 kali.
Sementara itu, struktur permodalan AMRT tergolong konservatif. Debt to equity ratio (DER) tercatat hanya sebesar 0,15 kali.
Dari sisi profitabilitas, AMRT menunjukkan performa yang relatif solid. Return on equity (ROE) tercatat sebesar 18,93 persen. Sementara itu, return on assets (ROA) berada di level 8,01 persen.
Namun demikian, gross profit margin tercatat sebesar 23,10 persen, sementara operating profit margin berada di level 4,97 persen. Adapun net profit margin hanya sebesar 3,40 persen.
Di sisi lain, AMRT juga tetap konsisten memberikan imbal hasil kepada pemegang saham. Dividend payout ratio tercatat sebesar 41,53 persen, dengan dividend yield sebesar 2,23 persen. (*)